Morfem dan Satuan Gramatikal
2.1 Pengertian Morfem
Pendahuluan
Morfem dan Satuan Gramatikal
|
Dalam kajian morfologi, istilah morfem menempati posisi yang sangat sentral. Jika fonologi membahas bunyi bahasa dan sintaksis membahas hubungan antarkata dalam kalimat, maka morfologi berfokus pada struktur internal kata. Pada titik inilah morfem menjadi objek kajian utama, sebab morfem merupakan satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Tanpa memahami konsep morfem, pembahasan tentang pembentukan kata akan kehilangan pijakan teoretisnya.
Dalam Bahasa Indonesia, morfem memainkan peran penting dalam menjelaskan kekayaan bentuk kata dan variasi makna yang dihasilkan melalui proses morfologis. Banyak kata dalam Bahasa Indonesia tidak berdiri sebagai bentuk tunggal, melainkan sebagai hasil gabungan beberapa morfem yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tertentu. Oleh karena itu, pemahaman tentang pengertian morfem menjadi fondasi awal untuk mengkaji morfologi secara lebih mendalam.
Artikel ini akan membahas pengertian morfem secara komprehensif, mencakup definisi menurut para ahli, ciri-ciri morfem, serta posisi morfem sebagai satuan gramatikal dalam Bahasa Indonesia.
Pengertian Morfem Secara Etimologis dan Konseptual
Secara etimologis, istilah morfem berasal dari bahasa Yunani morphe yang berarti ‘bentuk’. Dalam linguistik, istilah ini digunakan untuk menyebut satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Makna yang dimaksud tidak selalu berupa makna leksikal, tetapi juga dapat berupa makna gramatikal.
Bloomfield (1933) mendefinisikan morfem sebagai bentuk linguistik terkecil yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa menghilangkan makna tersebut. Definisi ini menegaskan dua ciri utama morfem, yaitu memiliki makna dan bersifat minimal.
Dalam konteks linguistik Indonesia, Kridalaksana (2008) mendefinisikan morfem sebagai satuan gramatikal terkecil yang bermakna, yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut ke dalam satuan yang lebih kecil. Definisi ini menempatkan morfem sebagai dasar pembentukan kata dan sebagai unsur penting dalam sistem gramatikal bahasa.
Chaer (2015) menyatakan bahwa morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal, serta menjadi bahan dasar dalam proses pembentukan kata. Dengan demikian, morfem dapat berupa kata dasar maupun unsur terikat yang berfungsi membentuk makna gramatikal tertentu.
Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfem adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan berfungsi sebagai unsur pembentuk kata dalam sistem bahasa.
Morfem sebagai Satuan Gramatikal
Sebagai satuan gramatikal, morfem memiliki peran penting dalam membentuk struktur bahasa. Morfem tidak hanya membentuk kata, tetapi juga menentukan fungsi gramatikal kata tersebut dalam kalimat. Dalam Bahasa Indonesia, makna gramatikal sering kali diwujudkan melalui morfem terikat seperti afiks.
Sebagai contoh, kata baca merupakan satu morfem yang memiliki makna leksikal. Ketika ditambahkan prefiks me-, terbentuk kata membaca yang menunjukkan aktivitas atau perbuatan. Dalam hal ini, prefiks me- merupakan morfem gramatikal yang berfungsi menandai verba aktif.
Ramlan (2009) menegaskan bahwa morfem merupakan satuan gramatikal karena berperan dalam pembentukan makna gramatikal, seperti waktu, aspek, pelaku, dan relasi sintaktis. Oleh karena itu, morfem tidak dapat dilepaskan dari kajian tata bahasa secara keseluruhan.
Ciri-Ciri Morfem
Untuk membedakan morfem dari satuan bahasa lainnya, terdapat beberapa ciri utama yang melekat pada morfem.
Pertama, morfem merupakan satuan terkecil yang bermakna. Artinya, jika satuan tersebut dibagi lagi, maka maknanya akan hilang atau berubah. Sebagai contoh, kata rumah terdiri atas satu morfem. Jika dibagi menjadi ru dan mah, kedua bentuk tersebut tidak memiliki makna dalam Bahasa Indonesia.
Kedua, morfem dapat berupa bentuk bebas maupun terikat. Morfem bebas dapat berdiri sendiri sebagai kata, sedangkan morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain.
Ketiga, morfem memiliki fungsi gramatikal atau leksikal. Morfem leksikal mengandung makna konseptual, seperti air, tulis, dan jalan. Morfem gramatikal mengandung makna struktural, seperti me-, di-, dan -kan.
Keempat, morfem bersifat produktif, artinya dapat digunakan untuk membentuk kata-kata baru sesuai kaidah bahasa. Produktivitas ini menjadi salah satu ciri khas morfologi Bahasa Indonesia.
Ilustrasi Morfem dalam Bahasa Indonesia
Untuk memperjelas konsep morfem, berikut beberapa ilustrasi dalam Bahasa Indonesia.
Kata bermain terdiri atas dua morfem, yaitu ber- dan main. Morfem main merupakan morfem bebas dengan makna leksikal, sedangkan ber- merupakan morfem terikat yang memberikan makna gramatikal ‘melakukan aktivitas’.
Kata ketidakhadiran terdiri atas beberapa morfem, yaitu ke-, tidak, hadir, dan -an. Setiap morfem memiliki fungsi masing-masing dalam membentuk makna keseluruhan kata tersebut. Tanpa memahami struktur morfemisnya, makna kata kompleks seperti ini akan sulit dipahami secara mendalam.
Ilustrasi lain dapat dilihat pada kata pengajaran yang terdiri atas morfem pe-, ajar, dan -an. Ketiga morfem tersebut membentuk nomina yang merujuk pada proses atau hasil mengajar.
Perbedaan Morfem dan Kata
Dalam kajian linguistik, sering terjadi kebingungan antara konsep morfem dan kata. Meskipun keduanya berkaitan erat, morfem dan kata bukanlah konsep yang sama. Kata merupakan satuan gramatikal yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan, sedangkan morfem adalah unsur pembentuk kata.
Sebagai contoh, kata menuliskan merupakan satu kata, tetapi terdiri atas tiga morfem, yaitu me-, tulis, dan -kan. Dengan demikian, satu kata dapat terdiri atas satu atau lebih morfem.
Kridalaksana (2008) menekankan bahwa tidak semua morfem adalah kata, tetapi setiap kata pasti terdiri atas satu atau lebih morfem. Pernyataan ini memperjelas kedudukan morfem sebagai satuan dasar dalam morfologi.
Morfem dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman tentang morfem memiliki implikasi praktis yang signifikan. Dengan memahami morfem, peserta didik dapat memperluas kosakata, memahami makna kata secara lebih mendalam, serta menghindari kesalahan penggunaan imbuhan.
Pemahaman morfem juga membantu peserta didik dalam membaca teks ilmiah yang banyak menggunakan kata-kata kompleks dan abstrak. Dengan menguraikan struktur morfemis suatu kata, peserta didik dapat menafsirkan makna kata tersebut secara lebih akurat.
Chaer (2015) menyatakan bahwa pembelajaran morfologi yang berfokus pada morfem akan membantu peserta didik memahami sistem bahasa secara lebih logis dan sistematis.
Penutup
Pengertian morfem merupakan konsep dasar yang sangat penting dalam kajian morfologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia. Morfem sebagai satuan bahasa terkecil yang bermakna menjadi unsur utama dalam pembentukan kata dan makna gramatikal. Dengan memahami morfem, pembelajar bahasa dapat memahami struktur kata secara lebih mendalam dan sistematis.
Sebagai satuan gramatikal, morfem memiliki peran strategis dalam membentuk makna dan fungsi bahasa. Oleh karena itu, penguasaan konsep morfem tidak hanya penting bagi kajian linguistik teoretis, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Bloomfield, L. (1933). Language. New York, NY: Holt, Rinehart and Winston.
Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar