Blog: Pusat Referensi Linguistik
Pengantar: Dari Unsur Tunggal ke Gabungan Bermakna
| Memahami Fondasi Makna |
Setelah menjelajahi dunia reduplikasi, perjalanan kita dalam morfologi bahasa Indonesia kini membawa kita pada sebuah konstruksi yang tak kalah penting dan menarik: kata majemuk. Bab 6.1: Pengertian Kata Majemuk ini menjadi fondasi untuk memahami bagaimana bahasa kita dengan cerdas menggabungkan dua kata dasar atau lebih untuk menciptakan sebuah makna baru yang sering kali unik dan tidak dapat sepenuhnya diturunkan dari makna unsur-unsur pembentuknya. Jika reduplikasi bekerja dengan pengulangan, pemajemukan bekerja dengan penggabungan. Fenomena ini ada di sekitar kita—dari
rumah sakit, kamar
mandi, hingga pemberi tahu—namun,
apa sebenarnya yang mendefinisikan sebuah gabungan kata sebagai "kata
majemuk", dan bagaimana membedakannya dari frasa biasa? Mari kita selami
pengertian dasarnya.1. Definisi Kata Majemuk: Lebih dari Sekadar Gabungan Kata
Kata majemuk (compound) dapat didefinisikan sebagai suatu konstruksi linguistik yang terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih (yang dapat berdiri sendiri) yang berfungsi sebagai satu kesatuan gramatikal dan semantis, serta sering memiliki makna yang terspesialisasi atau idiomatis.Mari kita uraikan
definisi ini dengan melihat perbedaan mendasar antara kata majemuk dan frasa
biasa, yang merupakan titik kritis dalam pemahaman konsep ini.
·
Kesatuan
Gramatikal: Kata majemuk cenderung bersifat seperti kata tunggal dalam
hal perilaku gramatikalnya. Sebagai contoh, dalam kata majemuk, unsur-unsur
pembentuknya biasanya tidak dapat disisipi atau dimodifikasi
secara terpisah.
o Kata Majemuk: rumah
sakit (untuk menyebut institusi kesehatan). Kita tidak bisa
mengatakan rumah yang sakit untuk merujuk pada institusi tersebut.
Unsur rumah dan sakit telah menyatu.
o Frasa: rumah
besar (bisa diubah menjadi rumah
yang sangat besar, rumah
itu besar, di mana rumah
dan besar relatif independen).
·
Kesatuan Semantis
(Idiomasitas): Ini adalah ciri terpenting. Makna kata majemuk sering
kali tidak bersifat komposisional, artinya tidak dapat
diramalkan secara sederhana dengan menjumlahkan makna setiap unsurnya. Maknanya
telah terleksikalisasi.
o Kata Majemuk: buah
tangan bukan berarti "tangan yang berupa buah",
melainkan "oleh-oleh". Matahari
(dari mata + hari) bukan berarti "mata dari hari",
melainkan nama benda langit (bintang).
o Frasa: meja
kayu masih bersifat komposisional: sebuah meja yang terbuat dari
kayu.
Seperti ditegaskan
oleh Kridalaksana (2009), kata majemuk merupakan "leksem yang terdiri dari
dua leksem atau lebih yang berfungsi sebagai satu leksem" (hal. 134).
Dengan kata lain, ia telah menjadi "kata baru" dalam kamus mental
penutur bahasa.
2. Ciri-Ciri Formal Kata Majemuk: Tanda-Tanda Pengenal
Selain dari aspek makna, beberapa ciri formal dapat membantu mengidentifikasi kata majemuk:a. Ketakterpisahan
(Inseparability): Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan oleh kata
lain. Misalnya, tanda tangan
(signature) tidak bisa diubah menjadi tanda yang tangan. Bandingkan
dengan frasa tanda bahaya yang dapat
menjadi tanda akan bahaya.
b. Ketakberubahan
Urutan (Fixed Order): Urutan unsurnya biasanya tetap. Bumi putra (sebutan untuk pribumi) tidak bisa
dibalik menjadi putra bumi dengan makna yang sama. Pembalikan mungkin
terjadi, tetapi akan menciptakan entri baru dengan makna berbeda (orang tua vs. tua
orang yang tidak gramatikal) atau malah tidak bermakna.
c. Pelafalan
dan Penulisan: Secara fonologis, sering kali terdapat pola tekanan
tertentu yang berbeda dari frasa. Dalam penulisan, ada keragaman: daftar kata
majemuk dalam bahasa Indonesia bisa ditulis terpisah (sapu tangan), dengan tanda hubung
(bumi-putra), atau dirangkai
(olahraga, matahari). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
(PUEBI) memberikan aturan, tetapi banyak bentuk yang telah mengalami proses
perangkaian seiring waktu (Alwi dkk., 2003). Ketidakkonsistenan penulisan ini
justru sering mencerminkan tingkat peleksikalan: semakin padu maknanya, semakin
cenderung ditulis serangkai (ibukota).
d. Penerimaan
Afiksasi: Afiks (awalan, akhiran) biasanya dilekatkan pada keseluruhan
kata majemuk, bukan pada salah satu unsurnya saja. Kita mengatakan me- + tanda
tangani menjadi menandatangani
(bukan menanda tangan), atau per-
+ tangan + -an pada keseluruhan tangan
kanan menjadi pertanganan-kanan
(orang yang dominan menggunakan tangan kanan).
3. Jenis Kata Majemuk Berdasarkan Kategori Kata Hasil
Kata majemuk dapat diklasifikasikan berdasarkan kelas kata yang dihasilkan:·
Nomina Majemuk:
Paling banyak jumlahnya. Contoh: kereta
api, orang tua,
daya juang.
·
Verba Majemuk:
Contoh: tandatangan, sembunyi-sembunyian, campur
tangan.
·
Adjektiva Majemuk:
Contoh: merah muda, buta huruf, ringan
tangan.
·
Numeralia Majemuk:
Contoh: tiga puluh, seratus satu.
4. Kontinum antara Frasa dan Kata Majemuk: Masalah Batas yang Kabur
Perlu dipahami bahwa pemisahan antara frasa dan kata majemuk bukanlah tembok yang kaku, melainkan sebuah kontinum. Satu konstruksi bisa bergerak dari status sebagai frasa bebas menuju kata majemuk yang sangat padu melalui proses yang disebut leksikalisasi atau univerbasi.Pertimbangkan skema
berikut:
Frasa Bebas → Frasa yang Terpaku/Idiomatis → Kata
Majemuk Longgar → Kata Majemuk Padu
Contoh:
anak sungai (masih bisa
dipahami secara harfiah: bagian sungai yang kecil) → anak emas (makna mulai idiomatis: orang/orang yang
sangat disayangi) → anak buah
(makna khusus: bawahan) → anakronisme
(sudah menjadi kata tunggal yang utuh, asal-usulnya tidak lagi disadari).
Proses ini
menunjukkan bahwa bahasa adalah sistem yang dinamis. Konstruksi seperti daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) yang awalnya adalah frasa,
kini dengan cepat berubah menjadi kata majemuk padu, bahkan cenderung menjadi
kata tunggal baru (Chaer, 2012).
5. Signifikansi Mempelajari Kata Majemuk
Memahami pengertian kata majemuk memiliki manfaat yang luas:·
Kebahasaan:
Memberikan wawasan tentang kreativitas dan produktivitas morfologi bahasa Indonesia.
Bahasa tidak hanya menciptakan kata baru dari afiksasi, tetapi juga dari
penggabungan leksem.
·
Pedagogis:
Membantu pengajar dan pelajar bahasa memahami mengapa kambing hitam tidak merujuk pada hewan berwarna
hitam, sehingga mencegah kesalahan pemahaman. Ini penting dalam pengajaran
kosakata.
·
Leksikografis:
Menjadi dasar bagi penyusun kamus dalam menentukan entri. Apakah jalan tol menjadi satu entri atau dua? Pemahaman
akan status kemajemukannya sangat menentukan.
·
Penerjemahan:
Kata majemuk sering kali bersifat unik budaya (gotong
royong, rasa sungkan)
dan membutuhkan strategi penerjemahan khusus, bukan penerjemahan harfiah.
Kesimpulan: Fondasi untuk Analisis yang Lebih Kompleks
Pengertian kata majemuk, dengan penekanan pada kesatuan semantis dan gramatikalnya, membuka pintu untuk kajian yang lebih mendalam. Ia adalah bukti bahwa makna dalam bahasa sering kali bersifat non-linear dan konvensional. Memahami bahwarumah sakit
adalah sebuah konsep tunggal, bukan sekadar rumah yang sakit, adalah langkah
pertama untuk mengapresiasi bagaimana bahasa membangun realitas konseptualnya
sendiri. Dalam bab-bab selanjutnya, kita akan membahas jenis-jenis, struktur,
dan makna kata majemuk secara lebih rinci. Namun, semua itu berlandaskan pada pemahaman
mendasar yang telah kita bangun di sini: kata majemuk adalah unit leksikal baru
yang lahir dari perkawinan dua bentuk dasar, mewarisi sifat dari orang tuanya,
namun memiliki jiwa dan identitas maknanya sendiri.Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo,
S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa
Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.
Chaer, A. (2012). Linguistik
umum. Rineka Cipta.
Kridalaksana, H.
(2009). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua).
Gramedia Pustaka Utama.
| E_Buku Morfologi |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar