Sabtu, 17 Januari 2026

Memahami Fondasi Makna: Pengertian dan Hakikat Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia

Blog: Pusat Referensi Linguistik 

Pengantar: Dari Unsur Tunggal ke Gabungan Bermakna

Memahami Fondasi Makna

Setelah menjelajahi dunia reduplikasi, perjalanan kita dalam morfologi bahasa Indonesia kini membawa kita pada sebuah konstruksi yang tak kalah penting dan menarik: kata majemuk. Bab 6.1: Pengertian Kata Majemuk ini menjadi fondasi untuk memahami bagaimana bahasa kita dengan cerdas menggabungkan dua kata dasar atau lebih untuk menciptakan sebuah makna baru yang sering kali unik dan tidak dapat sepenuhnya diturunkan dari makna unsur-unsur pembentuknya. Jika reduplikasi bekerja dengan pengulangan, pemajemukan bekerja dengan penggabungan. Fenomena ini ada di sekitar kita—dari rumah sakit, kamar mandi, hingga pemberi tahu—namun, apa sebenarnya yang mendefinisikan sebuah gabungan kata sebagai "kata majemuk", dan bagaimana membedakannya dari frasa biasa? Mari kita selami pengertian dasarnya.

1. Definisi Kata Majemuk: Lebih dari Sekadar Gabungan Kata

Kata majemuk (compound) dapat didefinisikan sebagai suatu konstruksi linguistik yang terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih (yang dapat berdiri sendiri) yang berfungsi sebagai satu kesatuan gramatikal dan semantis, serta sering memiliki makna yang terspesialisasi atau idiomatis.

Mari kita uraikan definisi ini dengan melihat perbedaan mendasar antara kata majemuk dan frasa biasa, yang merupakan titik kritis dalam pemahaman konsep ini.

·         Kesatuan Gramatikal: Kata majemuk cenderung bersifat seperti kata tunggal dalam hal perilaku gramatikalnya. Sebagai contoh, dalam kata majemuk, unsur-unsur pembentuknya biasanya tidak dapat disisipi atau dimodifikasi secara terpisah.

o    Kata Majemuk: rumah sakit (untuk menyebut institusi kesehatan). Kita tidak bisa mengatakan rumah yang sakit untuk merujuk pada institusi tersebut. Unsur rumah dan sakit telah menyatu.

o    Frasa: rumah besar (bisa diubah menjadi rumah yang sangat besar, rumah itu besar, di mana rumah dan besar relatif independen).

·         Kesatuan Semantis (Idiomasitas): Ini adalah ciri terpenting. Makna kata majemuk sering kali tidak bersifat komposisional, artinya tidak dapat diramalkan secara sederhana dengan menjumlahkan makna setiap unsurnya. Maknanya telah terleksikalisasi.

o    Kata Majemuk: buah tangan bukan berarti "tangan yang berupa buah", melainkan "oleh-oleh". Matahari (dari mata + hari) bukan berarti "mata dari hari", melainkan nama benda langit (bintang).

o    Frasa: meja kayu masih bersifat komposisional: sebuah meja yang terbuat dari kayu.

Seperti ditegaskan oleh Kridalaksana (2009), kata majemuk merupakan "leksem yang terdiri dari dua leksem atau lebih yang berfungsi sebagai satu leksem" (hal. 134). Dengan kata lain, ia telah menjadi "kata baru" dalam kamus mental penutur bahasa.

2. Ciri-Ciri Formal Kata Majemuk: Tanda-Tanda Pengenal

Selain dari aspek makna, beberapa ciri formal dapat membantu mengidentifikasi kata majemuk:

a. Ketakterpisahan (Inseparability): Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan oleh kata lain. Misalnya, tanda tangan (signature) tidak bisa diubah menjadi tanda yang tangan. Bandingkan dengan frasa tanda bahaya yang dapat menjadi tanda akan bahaya.

b. Ketakberubahan Urutan (Fixed Order): Urutan unsurnya biasanya tetap. Bumi putra (sebutan untuk pribumi) tidak bisa dibalik menjadi putra bumi dengan makna yang sama. Pembalikan mungkin terjadi, tetapi akan menciptakan entri baru dengan makna berbeda (orang tua vs. tua orang yang tidak gramatikal) atau malah tidak bermakna.

c. Pelafalan dan Penulisan: Secara fonologis, sering kali terdapat pola tekanan tertentu yang berbeda dari frasa. Dalam penulisan, ada keragaman: daftar kata majemuk dalam bahasa Indonesia bisa ditulis terpisah (sapu tangan), dengan tanda hubung (bumi-putra), atau dirangkai (olahraga, matahari). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memberikan aturan, tetapi banyak bentuk yang telah mengalami proses perangkaian seiring waktu (Alwi dkk., 2003). Ketidakkonsistenan penulisan ini justru sering mencerminkan tingkat peleksikalan: semakin padu maknanya, semakin cenderung ditulis serangkai (ibukota).

d. Penerimaan Afiksasi: Afiks (awalan, akhiran) biasanya dilekatkan pada keseluruhan kata majemuk, bukan pada salah satu unsurnya saja. Kita mengatakan me- + tanda tangani menjadi menandatangani (bukan menanda tangan), atau per- + tangan + -an pada keseluruhan tangan kanan menjadi pertanganan-kanan (orang yang dominan menggunakan tangan kanan).

3. Jenis Kata Majemuk Berdasarkan Kategori Kata Hasil

Kata majemuk dapat diklasifikasikan berdasarkan kelas kata yang dihasilkan:

·         Nomina Majemuk: Paling banyak jumlahnya. Contoh: kereta api, orang tua, daya juang.

·         Verba Majemuk: Contoh: tandatangan, sembunyi-sembunyian, campur tangan.

·         Adjektiva Majemuk: Contoh: merah muda, buta huruf, ringan tangan.

·         Numeralia Majemuk: Contoh: tiga puluh, seratus satu.

4. Kontinum antara Frasa dan Kata Majemuk: Masalah Batas yang Kabur

Perlu dipahami bahwa pemisahan antara frasa dan kata majemuk bukanlah tembok yang kaku, melainkan sebuah kontinum. Satu konstruksi bisa bergerak dari status sebagai frasa bebas menuju kata majemuk yang sangat padu melalui proses yang disebut leksikalisasi atau univerbasi.

Pertimbangkan skema berikut:
Frasa BebasFrasa yang Terpaku/IdiomatisKata Majemuk LonggarKata Majemuk Padu
Contoh:
anak sungai (masih bisa dipahami secara harfiah: bagian sungai yang kecil) → anak emas (makna mulai idiomatis: orang/orang yang sangat disayangi) → anak buah (makna khusus: bawahan) → anakronisme (sudah menjadi kata tunggal yang utuh, asal-usulnya tidak lagi disadari).

Proses ini menunjukkan bahwa bahasa adalah sistem yang dinamis. Konstruksi seperti daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan) yang awalnya adalah frasa, kini dengan cepat berubah menjadi kata majemuk padu, bahkan cenderung menjadi kata tunggal baru (Chaer, 2012).

5. Signifikansi Mempelajari Kata Majemuk

Memahami pengertian kata majemuk memiliki manfaat yang luas:

·         Kebahasaan: Memberikan wawasan tentang kreativitas dan produktivitas morfologi bahasa Indonesia. Bahasa tidak hanya menciptakan kata baru dari afiksasi, tetapi juga dari penggabungan leksem.

·         Pedagogis: Membantu pengajar dan pelajar bahasa memahami mengapa kambing hitam tidak merujuk pada hewan berwarna hitam, sehingga mencegah kesalahan pemahaman. Ini penting dalam pengajaran kosakata.

·         Leksikografis: Menjadi dasar bagi penyusun kamus dalam menentukan entri. Apakah jalan tol menjadi satu entri atau dua? Pemahaman akan status kemajemukannya sangat menentukan.

·         Penerjemahan: Kata majemuk sering kali bersifat unik budaya (gotong royong, rasa sungkan) dan membutuhkan strategi penerjemahan khusus, bukan penerjemahan harfiah.

Kesimpulan: Fondasi untuk Analisis yang Lebih Kompleks

Pengertian kata majemuk, dengan penekanan pada kesatuan semantis dan gramatikalnya, membuka pintu untuk kajian yang lebih mendalam. Ia adalah bukti bahwa makna dalam bahasa sering kali bersifat non-linear dan konvensional. Memahami bahwa rumah sakit adalah sebuah konsep tunggal, bukan sekadar rumah yang sakit, adalah langkah pertama untuk mengapresiasi bagaimana bahasa membangun realitas konseptualnya sendiri. Dalam bab-bab selanjutnya, kita akan membahas jenis-jenis, struktur, dan makna kata majemuk secara lebih rinci. Namun, semua itu berlandaskan pada pemahaman mendasar yang telah kita bangun di sini: kata majemuk adalah unit leksikal baru yang lahir dari perkawinan dua bentuk dasar, mewarisi sifat dari orang tuanya, namun memiliki jiwa dan identitas maknanya sendiri.

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.

Chaer, A. (2012). Linguistik umum. Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua). Gramedia Pustaka Utama.

 

E_Buku Morfologi


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...