Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia
Morfologi, sebagai cabang linguistik yang mengkaji struktur dan pembentukan kata, memiliki kontribusi besar dalam membentuk kompetensi berbahasa peserta didik. Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah tidak dapat dilepaskan dari perannya dalam membantu peserta didik memahami makna kata, memperluas kosakata, serta menggunakan bahasa secara tepat dan efektif. Oleh karena itu, morfologi tidak hanya berfungsi sebagai materi kebahasaan, tetapi juga sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia secara komprehensif.
Artikel ini membahas relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah dengan menyoroti perannya dalam pengembangan kompetensi berbahasa, kesesuaiannya dengan pendekatan pembelajaran berbasis teks, serta kontribusinya terhadap literasi dan pembentukan sikap berbahasa yang baik dan benar.
Morfologi sebagai Fondasi Kompetensi Kebahasaan
Dalam kurikulum sekolah, kompetensi kebahasaan mencakup kemampuan memahami dan menggunakan bahasa secara tepat sesuai kaidah. Morfologi memiliki relevansi langsung dengan kompetensi ini karena berkaitan dengan pembentukan dan penggunaan kata sebagai satuan dasar bahasa.
Chaer (2015) menyatakan bahwa penguasaan morfologi memungkinkan penutur memahami hubungan antara bentuk kata dan maknanya, baik makna leksikal maupun gramatikal. Dalam konteks kurikulum sekolah, pemahaman ini penting agar peserta didik tidak hanya mampu menggunakan kata secara intuitif, tetapi juga secara sadar dan sistematis.
Sebagai contoh, pemahaman tentang afiksasi membantu peserta didik membedakan makna dan fungsi kata menulis, penulis, tulisan, dan penulisan. Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata tersebut berpotensi dipahami sebagai bentuk yang terpisah tanpa hubungan makna yang jelas. Oleh karena itu, morfologi berfungsi sebagai fondasi konseptual dalam pembelajaran bahasa.
Relevansi Morfologi dengan Tujuan Kurikulum Bahasa Indonesia
Tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum sekolah adalah mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulis, menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa, serta membentuk sikap positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Morfologi memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan-tujuan tersebut.
Dalam komunikasi tulis, ketepatan morfologis menjadi indikator penting kualitas bahasa. Kesalahan penggunaan imbuhan, pemisahan kata depan di dan prefiks di-, serta pembentukan kata yang tidak sesuai kaidah sering kali muncul dalam tulisan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan morfologi merupakan prasyarat bagi keterampilan menulis yang efektif.
Kridalaksana (2008) menegaskan bahwa kata sebagai satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri memiliki peran sentral dalam pembentukan makna. Oleh karena itu, kurikulum yang menargetkan kompetensi berbahasa tidak dapat mengabaikan aspek morfologis sebagai bagian dari pembelajaran kebahasaan.
Morfologi dalam Kurikulum Berbasis Teks
Kurikulum Bahasa Indonesia modern mengadopsi pendekatan berbasis teks, di mana bahasa dipelajari melalui penggunaan dalam berbagai jenis teks. Dalam pendekatan ini, morfologi memiliki relevansi yang sangat tinggi karena setiap jenis teks memiliki ciri kebahasaan yang khas, termasuk ciri morfologis.
Teks laporan, misalnya, banyak menggunakan nomina abstrak hasil proses afiksasi seperti pengamatan, pengelompokan, dan pengukuran. Teks prosedur sering menggunakan verba pasif dan imperatif, sedangkan teks eksposisi dan argumentasi banyak memanfaatkan nominalisasi untuk menyatakan konsep abstrak.
Dengan memahami morfologi, peserta didik dapat mengenali pola kebahasaan dalam teks dan menggunakannya secara tepat ketika memproduksi teks. Ramlan (2009) menyatakan bahwa pemahaman proses morfologis membantu pembelajar memahami hubungan antara bentuk bahasa dan fungsi komunikatifnya dalam wacana.
Morfologi dan Pengembangan Kosakata Peserta Didik
Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah keterbatasan kosakata peserta didik. Morfologi memiliki relevansi yang signifikan dalam mengatasi tantangan ini karena menyediakan strategi sistematis untuk memperluas kosakata.
Dengan memahami pola pembentukan kata, peserta didik dapat mengembangkan kosakata secara produktif, bukan sekadar menghafal. Dari satu kata dasar, peserta didik dapat membentuk dan memahami berbagai kata turunan yang memiliki hubungan makna.
Sebagai ilustrasi, dari kata dasar nilai, peserta didik dapat memahami kata menilai, penilaian, dan bernilai. Pemahaman ini membantu peserta didik memahami teks akademik yang cenderung menggunakan bentuk kata kompleks dan abstrak.
Verhaar (2016) menyebutkan bahwa penguasaan morfologi memungkinkan penutur memanfaatkan potensi bahasa secara maksimal. Dalam kurikulum sekolah, hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan literasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Relevansi Morfologi dalam Pembelajaran Literasi
Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami, menganalisis, dan memproduksi teks secara kritis. Morfologi memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran literasi karena membantu peserta didik memahami makna kata dalam konteks teks.
Dalam membaca, pemahaman morfologi memungkinkan peserta didik menafsirkan makna kata baru berdasarkan struktur katanya. Hal ini sangat penting dalam membaca teks ilmiah dan informatif yang banyak menggunakan istilah teknis dan abstrak.
Dalam menulis, pemahaman morfologi membantu peserta didik memilih bentuk kata yang tepat sesuai tujuan komunikasi. Kesalahan morfologis dapat mengaburkan makna dan menurunkan kualitas teks. Oleh karena itu, morfologi berkontribusi langsung terhadap peningkatan literasi peserta didik.
Morfologi dan Pembentukan Sikap Berbahasa
Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah juga berkaitan dengan pembentukan sikap berbahasa yang baik dan bertanggung jawab. Pemahaman morfologi membantu peserta didik menyadari bahwa bahasa memiliki kaidah dan sistem yang perlu dihormati dalam penggunaannya.
Dalam konteks ini, morfologi berperan dalam menumbuhkan kesadaran berbahasa (language awareness). Peserta didik tidak hanya menggunakan bahasa secara spontan, tetapi juga memahami alasan di balik penggunaan bentuk tertentu. Sikap ini penting untuk membentuk generasi yang mampu menggunakan Bahasa Indonesia secara santun, efektif, dan bermartabat.
Tantangan dan Strategi Integrasi Morfologi dalam Kurikulum
Meskipun relevansinya tinggi, integrasi morfologi dalam kurikulum sekolah menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan pembelajaran morfologi yang bersifat mekanis dan berorientasi hafalan. Peserta didik sering diminta menghafal jenis imbuhan tanpa memahami fungsi dan konteks penggunaannya.
Untuk mengatasi hal tersebut, morfologi perlu diajarkan secara kontekstual dan integratif. Pembelajaran morfologi sebaiknya dikaitkan dengan teks, keterampilan berbahasa, dan situasi komunikasi nyata. Dengan pendekatan ini, morfologi tidak lagi dipandang sebagai materi yang sulit dan abstrak, tetapi sebagai alat yang membantu peserta didik berkomunikasi secara efektif.
Penutup
Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah sangatlah kuat dan tidak dapat diabaikan. Morfologi berperan sebagai fondasi kompetensi kebahasaan, pendukung pembelajaran berbasis teks, serta sarana pengembangan kosakata dan literasi peserta didik. Melalui pemahaman morfologi, peserta didik dapat menggunakan Bahasa Indonesia secara lebih tepat, efektif, dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, morfologi perlu ditempatkan secara strategis dalam kurikulum sekolah, tidak hanya sebagai materi kebahasaan, tetapi sebagai bagian integral dari pengembangan kompetensi berbahasa. Dengan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif, morfologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar