BAB 10:
PRAGMATIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Kalau selama ini kita mengenal pembelajaran bahasa hanya sebatas tata
bahasa (grammar), kosa kata, atau kemampuan membaca dan menulis, maka pragmatik
hadir sebagai “penyempurna” yang membuat pembelajaran bahasa jadi lebih hidup
dan realistis. Pragmatik mengajarkan kita bahwa berbahasa itu bukan hanya soal
benar atau salah, tapi juga soal tepat atau tidak tepat dalam konteks tertentu.
Di dunia nyata, orang tidak hanya dinilai dari seberapa benar susunan
kalimatnya, tetapi juga dari bagaimana cara ia menyampaikan maksudnya. Nah, di
sinilah pragmatik menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa, termasuk
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
10.1 Pragmatik
dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pragmatik berperan penting dalam
membentuk kemampuan komunikasi yang efektif dan santun. Siswa tidak hanya
diajarkan bagaimana menyusun kalimat yang benar, tetapi juga bagaimana
menggunakan bahasa secara tepat sesuai situasi.
1. Dari “Benar” ke “Tepat”
Selama ini, banyak pembelajaran bahasa fokus pada aspek “benar” secara
gramatikal. Misalnya:
- “Saya
ingin makan” → benar
- “Makan
saya ingin” → tidak benar
Namun, pragmatik mengajak kita melihat lebih jauh:
- Apakah
kalimat itu tepat digunakan dalam situasi tertentu?
- Apakah
kalimat itu sopan?
- Apakah
sesuai dengan lawan bicara?
Contoh:
- “Saya mau
makan sekarang” → benar, tapi mungkin terdengar kurang sopan jika
ditujukan kepada guru
- “Permisi,
saya ingin izin makan sekarang” → lebih tepat dalam konteks formal
2. Mengajarkan Tindak Tutur
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa juga perlu memahami berbagai
jenis tindak tutur, seperti:
- Meminta
- Menolak
- Mengucapkan
terima kasih
- Memberi
saran
Contoh sederhana:
- Menolak
ajakan teman
- “Tidak
mau!” (langsung, tapi kurang sopan)
- “Maaf,
saya tidak bisa ikut hari ini” (lebih santun)
Di sini siswa belajar bahwa satu maksud bisa disampaikan dengan berbagai
cara, dan pilihan cara tersebut sangat berpengaruh terhadap hubungan sosial.
3. Kesantunan Berbahasa
Budaya Indonesia sangat menjunjung tinggi kesantunan. Oleh karena itu,
pembelajaran pragmatik sangat relevan untuk membentuk karakter siswa.
Misalnya:
- Menggunakan
kata “tolong”, “mohon”, “terima kasih”
- Menghindari
nada perintah yang kasar
- Menyesuaikan
bahasa dengan usia dan status lawan bicara
Dengan memahami pragmatik, siswa tidak hanya pintar berbahasa, tetapi juga
beretika dalam berkomunikasi.
4. Memahami Makna Tersirat
Salah satu tantangan dalam komunikasi adalah memahami makna yang tidak
diucapkan secara langsung.
Contoh:
- Guru
berkata: “Sepertinya kelas ini masih kurang rapi.”
Siswa yang memahami pragmatik akan menangkap bahwa itu bukan sekadar
pernyataan, tetapi juga perintah halus untuk merapikan kelas.
Kemampuan seperti ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
10.2 Strategi
Pembelajaran Berbasis Konteks
Agar pragmatik bisa dipahami dengan baik, pendekatan pembelajaran yang
digunakan juga harus tepat. Salah satu pendekatan yang paling efektif adalah
pembelajaran berbasis konteks (contextual learning).
Pendekatan ini menekankan bahwa bahasa harus dipelajari dalam situasi
nyata, bukan sekadar teori.
1. Menggunakan Situasi Nyata
Guru bisa menghadirkan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari, seperti:
- Percakapan
di pasar
- Dialog di
sekolah
- Interaksi
di media sosial
Dengan begitu, siswa bisa langsung melihat bagaimana bahasa digunakan dalam
konteks yang sebenarnya.
2. Role Play (Bermain Peran)
Metode ini sangat efektif untuk mengajarkan pragmatik.
Contoh kegiatan:
- Siswa
berperan sebagai pembeli dan penjual
- Siswa
berperan sebagai siswa dan guru
- Siswa
berlatih wawancara kerja
Melalui role play, siswa belajar:
- Memilih
kata yang tepat
- Menggunakan
intonasi yang sesuai
- Menyesuaikan
bahasa dengan situasi
Dan yang paling penting, mereka belajar sambil praktik langsung.
3. Analisis Dialog
Guru juga bisa memberikan contoh dialog, lalu meminta siswa menganalisis:
- Apa maksud
sebenarnya dari setiap ujaran
- Apakah
sudah sopan atau belum
- Bagaimana
seharusnya diperbaiki
Ini melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus pemahaman pragmatik.
4. Diskusi dan Refleksi
Setelah kegiatan, penting untuk mengajak siswa berdiskusi:
- Kenapa
suatu ungkapan dianggap sopan?
- Dalam
situasi apa ungkapan itu tidak tepat?
Refleksi ini membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam.
5. Memanfaatkan Media Digital
Di era sekarang, guru bisa memanfaatkan:
- Video
percakapan
- Konten
media sosial
- Podcast
atau rekaman dialog
Media ini sangat kaya akan contoh pragmatik, termasuk penggunaan bahasa
informal, humor, dan sindiran.
10.3
Implementasi di Kelas
Setelah memahami konsep dan strategi, pertanyaannya adalah: bagaimana
mengimplementasikan pragmatik dalam pembelajaran di kelas?
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan.
1. Integrasi dalam Materi
Pembelajaran
Pragmatik tidak harus diajarkan sebagai mata pelajaran terpisah. Ia bisa
diintegrasikan dalam berbagai materi, seperti:
- Teks
dialog
- Teks
negosiasi
- Teks
pidato
- Teks
cerpen
Guru tinggal menambahkan fokus pada aspek penggunaan bahasa dalam konteks.
2. Penilaian Berbasis Kinerja
Penilaian pragmatik tidak cukup hanya dengan tes tertulis. Perlu ada
penilaian berbasis praktik, seperti:
- Presentasi
- Simulasi
percakapan
- Role play
Dengan cara ini, guru bisa melihat langsung kemampuan siswa dalam
menggunakan bahasa secara nyata.
3. Memberikan Umpan Balik
Umpan balik sangat penting dalam pembelajaran pragmatik.
Misalnya:
- “Kalimatmu
sudah benar, tapi akan lebih sopan jika ditambahkan kata ‘tolong’.”
- “Cara kamu
menolak sudah bagus, tapi bisa dibuat lebih halus.”
Umpan balik seperti ini membantu siswa berkembang secara bertahap.
4. Menyesuaikan dengan Tingkat
Siswa
Pendekatan pragmatik harus disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan
siswa.
- SD → fokus
pada kesopanan dasar
- SMP →
mulai memahami konteks dan variasi bahasa
- SMA →
analisis lebih kompleks, termasuk makna tersirat dan implikatur
Dengan penyesuaian ini, pembelajaran menjadi lebih efektif.
5. Membangun Lingkungan Bahasa
yang Baik
Lingkungan kelas juga sangat berpengaruh. Guru bisa:
- Menjadi
contoh dalam berbahasa santun
- Mendorong
siswa untuk saling menghargai dalam komunikasi
- Membiasakan
penggunaan bahasa yang baik dalam interaksi sehari-hari
Dengan lingkungan yang mendukung, siswa akan lebih mudah menerapkan
pragmatik secara alami.
Penutup
Pragmatik dalam pembelajaran bahasa bukan sekadar tambahan, tetapi
kebutuhan. Tanpa pragmatik, pembelajaran bahasa akan terasa kaku dan jauh dari
realitas kehidupan.
Melalui pragmatik, siswa belajar bahwa:
- Bahasa
adalah alat komunikasi sosial
- Makna
tidak selalu tersurat
- Cara
menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri
Dengan pendekatan berbasis konteks dan implementasi yang tepat di kelas,
pembelajaran bahasa akan menjadi lebih hidup, relevan, dan bermakna.
Akhirnya, tujuan utama pembelajaran bahasa bukan hanya membuat siswa
“pandai berbicara”, tetapi juga “bijak dalam berkomunikasi”. Dan di sinilah
pragmatik memainkan peran yang sangat penting.
