Senin, 05 Januari 2026

Kata dan Bentuk Kata

 Kata dan Bentuk Kata

3.2 Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan

Pendahuluan

Kata dan Bentuk Kata


Dalam kajian morfologi, pembahasan mengenai bentuk dasar dan bentuk turunan menempati posisi yang sangat sentral. Kedua konsep ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana kata dibentuk, dikembangkan, dan dimanfaatkan dalam sistem bahasa. Tanpa pemahaman yang jelas tentang bentuk dasar dan bentuk turunan, analisis terhadap proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan akan menjadi kabur dan tidak sistematis.

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, penutur sering kali menggunakan bentuk turunan tanpa menyadari bentuk dasar yang melandasinya. Misalnya, kata menuliskan, penulisan, dan tertulis semuanya berakar pada bentuk dasar tulis. Fenomena ini menunjukkan bahwa bentuk dasar berfungsi sebagai fondasi morfologis yang memungkinkan terbentuknya berbagai variasi kata dengan makna dan fungsi gramatikal yang berbeda.

Bagian ini membahas secara komprehensif konsep bentuk dasar dan bentuk turunan dalam morfologi, mencakup definisi, karakteristik, jenis-jenis bentuk dasar, proses pembentukan bentuk turunan, serta implikasinya dalam analisis linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

3.2.1 Pengertian Bentuk Dasar

Bentuk dasar adalah bentuk kata yang menjadi landasan bagi pembentukan kata lain melalui proses morfologis. Dalam banyak literatur linguistik, bentuk dasar sering dikaitkan dengan istilah base, stem, atau root, meskipun ketiganya tidak selalu identik secara konseptual.

Menurut Bauer (2003), bentuk dasar (base) adalah satuan morfologis yang dapat menerima proses morfologis lebih lanjut. Artinya, bentuk dasar tidak harus selalu berupa morfem tunggal, tetapi dapat berupa kata yang sudah mengalami proses morfologis sebelumnya, selama masih memungkinkan terjadinya proses lanjutan.

Dalam konteks bahasa Indonesia, bentuk dasar sering dipahami sebagai kata yang belum mengalami afiksasi, seperti:

·         baca

·         tulis

·         adil

·         rumah

Namun, secara teoretis, bentuk dasar tidak selalu identik dengan “kata tanpa imbuhan”. Kata berjalan, misalnya, dapat menjadi bentuk dasar untuk membentuk kata berjalanlah atau berjalanan dalam konteks tertentu.

Dengan demikian, bentuk dasar dapat didefinisikan sebagai bentuk linguistik yang menjadi titik awal atau pijakan dalam proses pembentukan kata.

 

3.2.2 Bentuk Dasar, Akar, dan Pangkal Kata

Dalam morfologi, penting untuk membedakan beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian, tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbeda, yaitu akar (root), pangkal (stem), dan bentuk dasar (base).

1.      Akar (Root)
Akar adalah morfem paling inti yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut secara morfologis. Misalnya, tulis dalam menuliskan merupakan akar kata.

2.      Pangkal (Stem)
Pangkal adalah bentuk yang menjadi dasar bagi proses infleksi. Dalam kata berlarian, bentuk berlari dapat dianggap sebagai pangkal bagi sufiks -an.

3.      Bentuk Dasar (Base)
Bentuk dasar adalah istilah paling luas, mencakup semua bentuk yang dapat menjadi dasar bagi proses morfologis, baik berupa akar maupun bentuk yang sudah berafiks.

Katamba (1993) menegaskan bahwa istilah base bersifat fungsional, bukan struktural. Suatu bentuk disebut bentuk dasar bukan karena strukturnya, melainkan karena perannya dalam suatu proses morfologis.

 

3.2.3 Pengertian Bentuk Turunan

Bentuk turunan adalah bentuk kata yang dihasilkan melalui proses morfologis dari bentuk dasar. Proses ini dapat berupa afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, atau kombinasi dari beberapa proses sekaligus.

Menurut Aronoff dan Fudeman (2011), bentuk turunan (derived forms) merupakan hasil dari proses derivasi yang mengubah makna leksikal dan/atau kategori gramatikal suatu kata. Misalnya:

·         bacapembaca

·         adilkeadilan

·         ajarpengajaran

Bentuk turunan tidak hanya memperluas kosakata, tetapi juga mencerminkan produktivitas sistem morfologi suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia, sistem afiksasi yang kaya memungkinkan pembentukan bentuk turunan dalam jumlah besar dari satu bentuk dasar.

 

3.2.4 Proses Pembentukan Bentuk Turunan

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses penambahan afiks pada bentuk dasar. Afiks dapat berupa prefiks, sufiks, infiks, atau konfiks.

Contoh:

·         tulismenulis

·         tulispenulisan

·         adilketidakadilan

Afiksasi merupakan proses paling produktif dalam pembentukan bentuk turunan bahasa Indonesia (Alwi et al., 2014).

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses pengulangan bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian.

Contoh:

·         bukubuku-buku

·         larilari-lari

Reduplikasi dapat menghasilkan makna jamak, intensitas, atau variasi makna lain tergantung konteks.

3. Pemajemukan

Pemajemukan adalah penggabungan dua atau lebih bentuk dasar untuk membentuk satu kata baru.

Contoh:

·         rumah sakit

·         kepala sekolah

Dalam banyak kasus, bentuk turunan hasil pemajemukan memiliki makna yang tidak selalu dapat diturunkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya.

 

3.2.5 Hubungan Makna antara Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan

Hubungan antara bentuk dasar dan bentuk turunan bersifat sistematis, tetapi tidak selalu transparan. Dalam beberapa kasus, makna bentuk turunan dapat diprediksi dari bentuk dasarnya, seperti:

·         ajarpengajar

Namun, dalam kasus lain, terjadi pergeseran makna:

·         tangantangan kanan (makna metaforis)

·         kepalakepala sekolah

Haspelmath dan Sims (2010) menyebut fenomena ini sebagai semantic extension, yaitu perluasan makna yang terjadi akibat proses morfologis dan leksikalisasi.

 

3.2.6 Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan dalam Analisis Morfologi

Dalam analisis morfologi, identifikasi bentuk dasar dan bentuk turunan memiliki beberapa fungsi penting:

1.      Menentukan struktur internal kata

2.      Mengidentifikasi proses morfologis yang terlibat

3.      Menjelaskan hubungan bentuk dan makna

4.      Membedakan derivasi dan infleksi

Kesalahan dalam menentukan bentuk dasar dapat menyebabkan analisis morfologis yang keliru, terutama dalam penelitian linguistik dan pengajaran bahasa.

 

3.2.7 Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa

Dalam pembelajaran bahasa, pemahaman tentang bentuk dasar dan bentuk turunan membantu peserta didik:

·         Mengembangkan kosakata secara sistematis

·         Memahami makna kata baru

·         Meningkatkan kesadaran morfologis

Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis berkontribusi signifikan terhadap kemampuan membaca dan menulis, terutama dalam pembelajaran bahasa kedua (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Bentuk dasar dan bentuk turunan merupakan konsep fundamental dalam morfologi yang menjelaskan bagaimana kata dibangun dan dikembangkan dalam bahasa. Bentuk dasar berfungsi sebagai fondasi, sedangkan bentuk turunan merupakan hasil kreativitas sistem morfologis bahasa. Melalui pemahaman yang baik terhadap kedua konsep ini, analisis linguistik menjadi lebih akurat, dan pembelajaran bahasa dapat dilakukan secara lebih efektif dan bermakna.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...