Rabu, 18 Februari 2026

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA): Mengapa Orang Dewasa Lebih Sulit Belajar Bahasa Baru?

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA): Mengapa Orang Dewasa Lebih Sulit Belajar Bahasa Baru?

Pendahuluan

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA)


Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acquisition, disingkat SLA) adalah bidang kajian yang mempelajari bagaimana individu belajar bahasa selain bahasa pertama (L1). Fenomena ini menarik karena meskipun manusia secara universal mampu mempelajari bahasa pertama dengan cepat dan hampir tanpa usaha eksplisit, proses belajar bahasa kedua (L2) oleh orang dewasa seringkali tampak lebih lambat, penuh kesalahan, dan kurang “native-like”.

Pertanyaan kunci yang sering muncul adalah: mengapa orang dewasa lebih sulit belajar bahasa baru dibanding anak-anak? Artikel ini membahas teori-teori utama dalam SLA, faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, serta mengintegrasikan temuan penelitian terbaru dalam linguistik, psikologi kognitif, dan neurolinguistik.

Definisi dan Ruang Lingkup SLA

Pemerolehan Bahasa Kedua tidak hanya mencakup pembelajaran bahasa asing di kelas, tetapi juga pemerolehan bahasa tersebut dalam konteks imersi (sehari-hari), penggunaan formal dan informal, serta proses pembelajaran tidak sadar maupun sadar.

Menurut Ellis (2008), SLA adalah “the process by which a learner acquires additional languages beyond the first language” (hal. 2). Proses ini dipengaruhi oleh sistem bahasa yang sudah dimiliki (L1), pengalaman kognitif pembelajar, strategi pembelajaran, serta konteks sosial budaya tempat bahasa kedua dipelajari.

 

Perbedaan Antara Anak dan Dewasa dalam Pemerolehan Bahasa

1. Sensitive Period dan Window of Opportunity

Salah satu gagasan paling mendasar dalam studi linguistik tentang perbedaan usia adalah teori periode sensitif atau critical period hypothesis (CPH). Hipotesis ini mengusulkan bahwa ada rentang usia di mana otak manusia paling siap untuk memperoleh bahasa secara native-like.

Eric Lenneberg (1967), dalam karyanya tentang dasar biologis bahasa, menyatakan bahwa kemampuan bahasa mencapai puncaknya sebelum pubertas, setelah itu kemampuan akuisisi menjadi lebih terbatas. Banyak studi menunjukkan bahwa kemampuan penguasaan fonologi dan prosodi bahasa asing sangat dipengaruhi oleh usia saat mulai belajar bahasa tersebut (age of onset) (Johnson & Newport, 1989).

Namun demikian, meskipun periode sensitif menjelaskan beberapa perbedaan antara anak dan dewasa, bukan berarti orang dewasa tidak dapat belajar bahasa. Mereka masih dapat mencapai tingkat kemahiran tinggi — hanya saja seringkali dengan pola kesalahan tertentu dan aksen yang berbeda dari penutur asli.

 

2. Perbedaan Kognitif dalam Anak vs Dewasa

Perbedaan kognitif antara anak dan dewasa menjadi salah satu faktor penting mengapa SLA lebih sulit bagi dewasa. Beberapa poin utama:

·         Plasticity neural — Otak anak masih sangat plastis, sehingga lebih mudah menyesuaikan struktur neural untuk sistem bahasa baru. Pada dewasa, plastisitas neural menurun, membuat perubahan fonologis dan sintaksis lebih sulit dilakukan (Kuhl, 2004).

·         Strategi eksplisit vs implisit — Anak cenderung belajar bahasa secara implisit melalui paparan dan interaksi, sementara dewasa sering menggunakan strategi eksplisit (aturan, daftar kosakata, latihan tatabahasa). Pembelajaran eksplisit cenderung kurang efektif dalam membangun kompetensi native-like untuk aspek-aspek tertentu seperti intonasi dan sensitivitas kontekstual.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan SLA pada Dewasa

1. Transfer Bahasa Pertama (L1 Interference)

Pengaruh L1 terhadap L2 adalah salah satu faktor yang paling sering dibahas dalam SLA. Struktur fonologis, morfologis, dan sintaksis bahasa pertama sering memengaruhi strategi dan bentuk bahasa kedua yang dipelajari oleh orang dewasa. Fenomena ini disebut transfer atau interference.

Misalnya, penutur bahasa Indonesia yang belajar bahasa Inggris cenderung mengalami kesulitan dengan articles (a, an, the) karena dalam bahasa Indonesia articles tidak ada. Atau penutur bahasa Jepang yang belajar bahasa Inggris sering mengalami kesulitan dengan urutan kata karena struktur SOV berbeda dari struktur SVO yang dominan dalam bahasa Inggris (Ellis, 2008).

 

2. Faktor Afektif (Motivasi dan Takut Salah)

Faktor psikologis seperti motivasi, anxiety, dan kepercayaan diri terbukti berpengaruh signifikan dalam SLA. Gardner & MacIntyre (1993) menyatakan bahwa motivasi yang kuat berkorelasi positif dengan kemampuan SLA. Sebaliknya, rasa takut salah (fear of making mistakes) atau kecemasan komunikasi dapat menghambat risiko interaksi bahasa, sehingga mengurangi kesempatan praktik.

 

3. Kualitas dan Kuantitas Input

Input bahasa kedua merupakan bahan mentah yang perlu diproses oleh pembelajar. Children terpapar bahasa L1 secara natural melalui interaksi sosial sejak lahir, sedangkan banyak pembelajar dewasa hanya mendapatkan input terbatas di kelas atau dalam situasi komunikasi yang kurang kaya.

Krashen (1985) menekankan pentingnya comprehensible input — input yang sedikit lebih tinggi dari kemampuan saat ini — sebagai kunci dalam SLA. Tanpa paparan yang cukup dan bermakna, kemampuan bahasa kedua sulit berkembang secara optimal.

 

4. Kesadaran Metalinguistik

Salah satu keuntungan orang dewasa adalah kesadaran metalinguistik yang lebih tinggi: mereka mampu berpikir tentang bahasa sebagai objek analisis. Meski ini berguna dalam pembelajaran formal, kadang strategi ini justru dapat menghambat kemampuan memperoleh struktur bahasa secara intuitif seperti anak. Pembelajaran yang terlalu fokus pada aturan eksplisit tanpa konteks penggunaan nyata seringkali menghasilkan performa yang “terlihat benar” tetapi kurang fleksibel dalam penggunaan autentik (Ellis, 2008).

 

Aspek-Aspek SLA yang Dipengaruhi Usia

1. Fonologi dan Aksen

Salah satu aspek paling sensitif terhadap usia adalah fonologi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pembelajar dewasa sulit menciptakan native-like accent, terutama jika mereka mulai belajar setelah masa kanak-kanak (after puberty) (Flege, Munro, & MacKay, 1995). Hal ini dipengaruhi oleh:

·         Penutupan sensori awal — anak-anak lebih mampu menyesuaikan persepsi bunyi baru sebelum pola fonetik mereka matang.

·         Komitmen neural — jaringan saraf bahasa sudah “terikat” pada pola bunyi L1 sehingga sulit direstrukturisasi untuk pola bunyi L2 baru.

2. Tata Bahasa dan Morfologi

Secara umum, struktur tata bahasa dapat dipelajari oleh pembelajar dewasa, namun:

·         Mereka sering menunjukkan interlanguage — sistem bahasa sementara yang mencerminkan kombinasi L1 dan L2 serta strategi pembelajaran.

·         Kesalahan gramatikal yang konsisten dapat muncul karena pengaruh L1 atau generalisasi aturan yang tidak tepat.

Sebagai contoh, dalam membentuk bentuk lampau beraturan di bahasa Inggris, pembelajar dewasa sering kali menerapkan pola –ed secara berlebihan kepada verba yang tidak beraturan, yang mencerminkan proses perkembangan sejenis fenomena overregularization pada anak (Ellis, 2008).

3. Kosakata

Orang dewasa umumnya dapat mempelajari kosakata dengan lebih cepat melalui strategi eksplisit seperti penghafalan dan asosiasi. Namun, membangun jaringan semantik yang mendalam dan penggunaan kontekstual memerlukan pengalaman penggunaan bahasa yang lebih luas, yang sering kali kurang dalam pembelajaran formal.

 

Model-Model Teoretis dalam SLA

1. Monitor Model – Stephen Krashen

Krashen (1985) mempopulerkan Monitor Model, yang menyatakan bahwa SLA terjadi melalui dua proses utama:

·         Acquisition — pembelajaran tidak sadar melalui paparan input bermakna.

·         Learning — pembelajaran sadar melalui aturan formal.

Krashen berargumen bahwa kemampuan komunikatif yang digunakan dalam situasi nyata terutama berasal dari acquisition, sedangkan learning hanya berguna sebagai monitor atau alat perbaikan.

 

2. Interaction Hypothesis – Long

Interaksi dipandang sebagai mekanisme yang memfasilitasi pengolahan bahasa. Long (1996) menekankan bahwa negotiation of meaning — yaitu upaya untuk saling memahami serta klarifikasi dalam percakapan — memberikan input comprehensible yang lebih efektif daripada paparan pasif.

 

3. Output Hypothesis – Swain

Swain (1985) menekankan pentingnya output — yakni penggunaan bahasa oleh pembelajar — sebagai sarana pembelajaran. Menyusun dan menghasilkan ujra bahasa memaksa pembelajar untuk memproses informasi secara mendalam, memperbaiki kesalahan, dan mengkonsolidasikan struktur bahasa.

Strategi Optimal untuk Mempercepat SLA pada Dewasa

Berdasarkan penelitian SLA, beberapa strategi berikut telah terbukti efektif:

1. Paparan Input yang Autentik dan Kaya

Paparan bahasa sebenarnya seperti media, percakapan dengan penutur asli, serta materi audio–visual yang bermakna memungkinkan pembelajar untuk menangkap pola alami bahasa.

 

2. Interaksi Sosial yang Intensif

Interaksi nyata dengan penutur asli atau sesama pembelajar memperluas penggunaan negotiation of meaning serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri.

 

3. Penggunaan Output Berkualitas

Latihan berbicara dan menulis yang bermakna mendorong pemrosesan bahasa secara mendalam dan memperbaiki struktur internal bahasa pembelajar.

 

4. Kesadaran Budaya dan Konteks Sosial

Memahami konteks sosial dan budaya bahasa sasaran membantu dalam pemahaman pragmatik, kosakata idiomatis, serta nuansa penggunaan bahasa yang alami.

Kesimpulan

Pemerolehan Bahasa Kedua pada orang dewasa seringkali lebih sulit dibandingkan pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak karena kombinasi faktor biologis, kognitif, afektif, dan lingkungan. Meskipun orang dewasa memiliki kelebihan seperti kesadaran metalinguistik dan strategi eksplisit, tantangan biologis seperti penurunan plastisitas neural dan fenomena interference dari bahasa pertama tetap mempengaruhi proses SLA.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa dengan input comprehensible yang cukup, interaksi otentik, serta strategi belajar yang tepat, pembelajar dewasa tetap mampu mengembangkan kompetensi bahasa kedua yang tinggi — meskipun aksen native-like mungkin tidak selalu tercapai.

Pemahaman tentang mekanisme dan strategi dalam SLA menjadi penting tidak hanya bagi peneliti linguistik, tetapi juga bagi pendidik, pembelajar, dan pembuat kebijakan pendidikan bahasa di seluruh dunia.

Referensi

Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition (2nd ed.). Oxford University Press.

Flege, J. E., Munro, M. J., & MacKay, I. R. A. (1995). Effects of age of second-language learning on production of English consonants. Speech Communication, 16(1–2), 1–26.

Gardner, R. C., & MacIntyre, P. D. (1993). A student’s contributions to second-language learning. Part II: Affective variables. Language Teaching, 26(1), 1–11.

Johnson, J. S., & Newport, E. L. (1989). Critical period effects in second language learning: The influence of maturational state on the acquisition of English as a second language. Cognitive Psychology, 21(1), 60–99.

Krashen, S. D. (1985). The input hypothesis: Issues and implications. Longman.

Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.

Long, M. H. (1996). The role of the linguistic environment in second language acquisition. In W. C. Ritchie & T. K. Bhatia (Eds.), Handbook of second language acquisition (pp. 413–468). Academic Press.

Swain, M. (1985). Communicative competence: Some roles of comprehensible input and comprehensible output in its development. In S. Gass & C. Madden (Eds.), Input in second language acquisition (pp. 235–253). Newbury House.

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...