Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
4.2 Prefiks
Pendahuluan
| Prefiks |
Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, prefiks atau awalan merupakan jenis afiks yang paling sering digunakan dan paling mudah dikenali oleh penutur bahasa. Prefiks berperan penting dalam pembentukan kata, khususnya dalam membentuk verba, nomina, dan adjektiva, serta dalam menandai hubungan gramatikal seperti diatesis aktif–pasif, aspek, dan relasi makna tertentu.
Penggunaan prefiks tidak hanya terbatas pada bahasa baku, tetapi juga sangat produktif dalam bahasa media, bahasa pendidikan, dan bahasa sehari-hari. Kata-kata seperti menulis, dibaca, berjalan, terlihat, dan pengajar menunjukkan betapa sentralnya peran prefiks dalam sistem bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan mengenai prefiks menjadi bagian penting dalam kajian afiksasi.
Bagian ini membahas secara komprehensif pengertian prefiks, karakteristik prefiks dalam bahasa Indonesia, jenis-jenis prefiks utama beserta fungsi dan maknanya, serta implikasinya dalam analisis linguistik dan pembelajaran bahasa.
4.2.1 Pengertian Prefiks
Prefiks adalah afiks yang dilekatkan pada bagian awal bentuk dasar. Dalam terminologi linguistik, prefiks termasuk morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya bermakna apabila melekat pada bentuk dasar tertentu.
Menurut Katamba (1993), prefiks adalah jenis afiks yang secara struktural berada di posisi kiri bentuk dasar dan berfungsi untuk membentuk kata baru atau menandai fungsi gramatikal tertentu. Dalam bahasa Indonesia, prefiks merupakan sarana utama pembentukan verba dan nomina turunan.
Alwi et al. (2014) mendefinisikan prefiks sebagai imbuhan awal yang berfungsi membentuk kata berafiks dengan makna dan kelas kata tertentu. Dengan demikian, prefiks dapat dipahami sebagai:
afiks yang dibubuhkan di depan bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau mengubah fungsi gramatikal kata tersebut.
4.2.2 Prefiks sebagai Unsur Morfologis
Sebagai unsur morfologis, prefiks memiliki beberapa karakteristik utama:
1.
Tidak
dapat berdiri sendiri
Prefiks seperti me-,
di-, atau ber- tidak memiliki
makna leksikal apabila berdiri sendiri.
2.
Melekat
secara sistematis pada bentuk dasar
Pembubuhan prefiks mengikuti aturan fonologis dan morfologis tertentu, misalnya
perubahan bentuk me-
menjadi men-, mem-, atau meng-.
3.
Berfungsi
derivatif dan/atau inflektif
Prefiks dapat membentuk kata baru (derivasi) atau menandai fungsi gramatikal
tanpa membentuk entri leksikal baru (infleksi).
Menurut Bauer (2003), karakteristik ini menunjukkan bahwa prefiks bukan sekadar unsur tambahan, tetapi bagian integral dari sistem pembentukan kata.
4.2.3 Jenis-Jenis Prefiks dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki sejumlah prefiks utama yang produktif dan sering digunakan. Berikut pembahasan prefiks-prefiks yang paling penting.
1. Prefiks me-
Prefiks me- merupakan prefiks verbal yang sangat produktif dan berfungsi membentuk verba aktif transitif.
Contoh:
· tulis → menulis
· baca → membaca
· ambil → mengambil
Prefiks me- mengalami variasi bentuk (alomorf) seperti mem-, men-, meng-, dan meny- tergantung pada fonem awal bentuk dasar. Sneddon et al. (2010) menjelaskan bahwa variasi ini merupakan hasil penyesuaian fonologis untuk mempermudah pengucapan.
Secara semantis, prefiks me- menandai:
· Tindakan aktif
· Pelaku sebagai subjek
· Hubungan transitif antara subjek dan objek
2. Prefiks di-
Prefiks di- merupakan pasangan gramatikal dari prefiks me- dan berfungsi membentuk verba pasif.
Contoh:
· ditulis
· dibaca
· diambil
Dalam bahasa Indonesia baku, di- sebagai prefiks harus dibedakan dari di sebagai preposisi. Prefiks di- ditulis serangkai dengan kata dasarnya, sedangkan preposisi di ditulis terpisah (Alwi et al., 2014).
Secara morfologis, prefiks di- bersifat lebih inflektif karena tidak selalu membentuk makna leksikal baru, melainkan mengubah struktur sintaktis kalimat.
3. Prefiks ber-
Prefiks ber- membentuk verba intransitif yang menyatakan:
· Keadaan
· Kepemilikan
· Aktivitas tanpa objek langsung
Contoh:
· berjalan
· berbicara
· beristri
Menurut Katamba (1993), prefiks ber- menunjukkan bahwa subjek terlibat langsung dalam keadaan atau aktivitas yang dinyatakan oleh verba.
4. Prefiks ter-
Prefiks ter- memiliki beberapa fungsi semantis, antara lain:
1. Menyatakan keadaan tidak disengaja
2. Menyatakan kemampuan atau kemungkinan
3. Menyatakan makna superlatif pada adjektiva
Contoh:
· terjatuh
· terbaca
· terindah
Prefiks ter- sering menimbulkan ambiguitas makna, sehingga penafsiran konteks menjadi sangat penting.
5. Prefiks pe-
Prefiks pe- berfungsi membentuk nomina, terutama yang merujuk pada pelaku atau alat.
Contoh:
· ajar → pengajar
· tulis → penulis
Prefiks ini memiliki variasi bentuk seperti pem-, pen-, dan peng- yang mengikuti aturan fonologis yang sama dengan prefiks me-.
6. Prefiks ke-
Prefiks ke- dalam bahasa Indonesia umumnya membentuk nomina atau adjektiva tertentu, terutama dalam kombinasi dengan sufiks -an.
Contoh:
· keadilan
· kebaikan
Dalam beberapa konteks, prefiks ke- juga digunakan untuk membentuk adjektiva numeralia seperti kedua atau ketiga.
4.2.4 Prefiks dan Perubahan Kelas Kata
Salah satu fungsi utama prefiks adalah mengubah kelas kata. Misalnya:
· Verba → Nomina (mengajar → pengajar)
· Adjektiva → Nomina (adil → keadilan)
Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut proses ini sebagai category-changing derivation, yaitu derivasi yang melibatkan perubahan kategori gramatikal.
4.2.5 Prefiks dalam Bahasa Media dan Pendidikan
Dalam bahasa media, prefiks sering digunakan secara kreatif untuk membentuk kata-kata baru seperti memviralkan atau berkonten. Sementara itu, dalam bahasa pendidikan, penggunaan prefiks cenderung lebih baku dan sistematis, misalnya pembelajaran, penilaian, dan pengembangan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa prefiks berfungsi tidak hanya sebagai alat gramatikal, tetapi juga sebagai sarana inovasi leksikal.
4.2.6 Implikasi Pembelajaran Prefiks
Pemahaman prefiks sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena:
1. Membantu penguasaan kosakata
2. Meningkatkan kesadaran struktur kata
3. Mempermudah pemahaman teks akademik
Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis, termasuk pemahaman prefiks, berkontribusi signifikan terhadap kemampuan membaca dan menulis (Carlisle, 2000).
Penutup
Prefiks merupakan jenis afiks yang paling produktif dan paling berperan dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Melalui prefiks, bahasa Indonesia mampu membentuk berbagai jenis kata, menandai relasi gramatikal, serta mengembangkan kosakata secara dinamis. Pemahaman yang baik mengenai prefiks menjadi dasar penting untuk mengkaji afiksasi secara lebih mendalam, baik dalam kajian linguistik maupun dalam praktik pembelajaran bahasa.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604
Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.
Sneddon, J. N., Adelaar, A., Djenar, D. N., & Ewing, M. C. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar