Blog: Pusat Referensi Linguistik
| Perbedaan Antara Pemajemukan dan Frasa |
Pengantar: Menepis Kabut Kekaburan
Dalam studi morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia, salah satu wilayah paling kompleks dan menarik adalah perbatasan antara kata majemuk dan frasa. Bab 6.4: Pemajemukan vs Frasa ini hadir untuk menjernihkan kerumitan tersebut. Bagi banyak penutur, perbedaan antara
rumah sakit dan rumah besar mungkin terasa intuitif,
namun ketika dihadapkan pada konstruksi seperti jalan cepat (sebagai olahraga) atau anak emas, batas itu mulai kabur.
Artikel ini akan mengupas perbedaan mendasar antara kedua konstruksi ini,
menjelaskan mengapa garis pemisahnya sering berupa kontinum, dan menyajikan
seperangkat alat uji praktis untuk membantu identifikasi. Pemahaman ini krusial
tidak hanya untuk analisis linguistik yang akurat, tetapi juga untuk pengajaran
bahasa, leksikografi, dan penerjemahan.1.
Landasan Teoritis: Dua Konstruksi yang Berbeda Hakikatnya
Secara teoretis, kata
majemuk (compound) dan frasa (phrase) berada pada level linguistik yang berbeda.
Kata majemuk adalah fenomena morfologis-leksikal.
Ia adalah proses pembentukan kata baru yang menghasilkan satu leksem atau unit
leksikal baru dalam kamus mental penutur (Booij, 2007). Sementara itu, frasa
adalah fenomena sintaksis. Ia adalah penggabungan kata-kata
yang sudah ada berdasarkan aturan tata bahasa untuk membentuk konstituen yang
lebih besar, tanpa menciptakan leksem baru (Sneddon, 2010).
Dengan kata lain:
·
Kata Majemuk:
obat nyamuk adalah SATU
KATA (leksem) dengan makna khusus.
·
Frasa: obat pahit adalah DUA KATA
yang digabungkan secara sintaksis untuk membuat makna sementara.
2. Tiga
Pilar Perbedaan: Semantis, Gramatikal, dan Fonologis
Perbedaan mendasar
dapat diuraikan melalui tiga pilar utama, yang telah disinggung sebelumnya
namun perlu diperdalam di sini.
2.1
Perbedaan Semantis: Idiomasitas vs. Komposisionalitas
Ini adalah uji utama
dan paling menentukan.
·
Kata Majemuk:
Memiliki makna idiomatis, terspesialisasi, dan tidak sepenuhnya dapat
diprediksi dari makna unsurnya. Maknanya telah terleksikalisasi.
o Contoh: Kambing
hitam bukan hewan, melainkan sosok yang dipersalahkan. Buah tangan bukan anggota tubuh,
melainkan oleh-oleh. Tangan kanan
bukan hanya tangan di sisi kanan, melainkan orang kepercayaan utama.
o Seperti ditegaskan Kridalaksana (2007), "Ciri terpenting
kata majemuk ialah bahwa keseluruhan konstruksi itu mempunyai makna khusus yang
tidak sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya" (hlm. 102).
·
Frasa:
Memiliki makna komposisional, yaitu maknanya dapat dipahami
secara langsung dari makna masing-masing unsurnya dan hubungan gramatikal di
antara mereka.
o Contoh: Kambing
putih (jika ada) berarti kambing berwarna putih. Buah mangga berarti buah dari pohon
mangga. Tangan kiri berarti
tangan yang terletak di sisi kiri tubuh.
2.2
Perbedaan Gramatikal: Ketakterpisahan vs. Fleksibilitas
Perilaku sintaksis
keduanya sangat bertolak belakang.
·
Kata Majemuk:
Menyatu dan Tidak Fleksibel.
o Uji Penyisipan (Inseparability): Unsur-unsurnya
tidak dapat disisipi kata lain (seperti yang, dan,
sangat) tanpa menghancurkan
makna idiomatisnya.
§ Rumah sakit
tidak bisa diubah menjadi rumah yang sakit dengan makna
"institusi kesehatan".
§ Orang tua
(parent) tidak sama dengan orang yang tua (elderly person).
o Uji Pembalikan (Fixed Order): Urutannya tetap.
Bumi putra tidak bisa
dibalik menjadi putra bumi. Hak
asasi tidak bisa menjadi asasi hak.
o Afiksasi Global: Afiks melekat pada keseluruhan
konstruksi. Contoh: me- + tanda tangani → menandatangani, bukan menanda tangan.
·
Frasa: Fleksibel
dan Dapat Dimodifikasi.
o Dapat Disisipi: Unsur-unsurnya dapat dipisahkan
dengan modifikasi.
§ Rumah besar
dapat menjadi rumah yang sangat besar,
rumah itu besar.
§ Mobil biru
dapat menjadi mobil berwarna biru tua.
o Urutan Dapat Berubah (dengan batasan): Untuk
beberapa frasa, urutan bisa berubah dengan mengubah struktur. Buku saya dapat diungkapkan sebagai milik saya buku itu, meski tidak
gramatikal secara langsung.
o Afiksasi Parsial: Afiks biasanya melekat pada
kata kepala (head) frasa. Contoh: me-
+ baca buku → membaca buku (bukan membacabuku).
2.3
Perbedaan Fonologis dan Grafis: Tanda-tanda Sekunder
Meski tidak selalu
konsisten, terdapat kecenderungan.
·
Pelafalan:
Kata majemuk sering memiliki satu puncak tekanan utama,
seperti kata tunggal (KÁPALterbang).
Frasa cenderung memiliki dua tekanan yang relatif independen (KÁPAL BÉSAR). Namun, ini sangat halus
dan bergantung pada dialek dan kecepatan bicara.
·
Penulisan:
Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) mencerminkan perbedaan ini, meski tidak
sempurna. Kata majemuk bisa ditulis terpisah (simpan pinjam), dengan tanda
hubung (dua-puluhan),
atau dirangkai (olahraga).
Frasa selalu ditulis terpisah. Ketidakkonsistenan (misal: kerja sama vs. kerjasama) justru menunjukkan proses
leksikalisasi yang sedang berlangsung.
3.
Wilayah Abu-abu: Kontinum Leksikalisasi
Di sinilah letak
kompleksitasnya. Bahasa adalah entitas yang dinamis, dan banyak kata majemuk
lahir dari frasa yang melalui proses leksikalisasi—proses di
mana gabungan kata yang sering digunakan bersama lambat laun menyatu maknanya
dan dianggap sebagai satu unit leksikal.
Bayangkan sebuah
garis kontinum:
Frasa Bebas --- Frasa Terpaku/Setengah Majemuk
--- Kata Majemuk Longgar --- Kata Majemuk Padu
·
Contoh Kontinum:
o Frasa Bebas: anak
sungai (masih literal: cabang sungai kecil). Dapat dimodifikasi: anak sungai yang dangkal.
o Frasa Terpaku: anak emas. Mulai idiomatis (orang yang sangat disayangi),
tetapi mungkin masih bisa dikatakan anak yang menjadi emas. Rentan
terhadap modifikasi.
o Kata Majemuk Longgar: anak buah. Makna khusus
(bawahan/subordinat). Uji penyisipan mulai gagal (anak yang buah?).
Ditulis terpisah.
o Kata Majemuk Padu: anakronisme. Sudah menjadi satu kata
utuh yang ditulis rangkap. Asal-usulnya (ana
= tidak, chronos = waktu)
tidak lagi disadari penutur biasa.
Konstruksi seperti olahraga, jas hujan, atau daring
(dalam jaringan) berada di
titik berbeda pada kontinum ini. Perdebatan ahli sering terjadi untuk
konstruksi di tengah-tengah, seperti jalan
cepat (olahraga) atau pukul
rata.
4.
Implikasi Praktis dan Signifikansi
Membedakan keduanya
bukan sekadar latihan akademis. Ia memiliki implikasi nyata:
1.
Pengajaran Bahasa (BIPA
& Sekolah): Guru harus mengajarkan kata majemuk sebagai
"kosakata baru", bukan sebagai frasa yang dapat dianalisis. Kesalahan
memahami rendah hati sebagai
"hati yang rendah" akan berakibat pada kesalahan komunikasi.
2.
Leksikografi (Penyusunan
Kamus): Penyusun kamus harus memutuskan apakah suatu konstruksi pantas
menjadi lema tersendiri. Kambing hitam
pasti menjadi lema, sedangkan kambing
putih mungkin tidak.
3.
Penerjemahan: Penerjemah
harus mengenali kata majemuk untuk menghindari terjemahan harfiah yang
menyesatkan (black goat untuk kambing
hitam). Ia harus mencari padanan budaya atau makna.
4.
Pemrosesan Bahasa Alami
(NLP): Untuk mesin pencari, penerjemah mesin, atau asisten virtual,
program komputer harus dapat mengenali kata majemuk sebagai satu unit agar
tidak salah menganalisis. Rumah sakit jiwa
adalah satu konsep, bukan rumah
yang sakit dan jiwa.
Kesimpulan:
Seperangkat Alat, Bukan Pembatas Kaku
Perbedaan antara
pemajemukan dan frasa pada akhirnya adalah perbedaan antara leksikon
(kamus) dan tata bahasa. Kata majemuk sudah masuk leksikon
sebagai item tetap, sementara frasa dibangun secara dinamis menggunakan aturan
tata bahasa.
Daripada melihatnya
sebagai dua kategori yang terpisah secara mutlak, lebih bermanfaat untuk
memandangnya sebagai kontinum dengan dua kutub yang jelas.
Seperangkat uji—terutama uji semantis (idiomasitas) dan uji gramatikal
(penyisipan)—memberikan alat yang kuat untuk menentukan sejauh mana suatu
konstruksi mendekati kutub "kata majemuk".
Dengan memahami
perbedaan ini, kita tidak hanya menjadi pengamat bahasa yang lebih cermat,
tetapi juga turut menghargai dinamika dan kreativitas bahasa Indonesia yang
terus-menerus memperkaya leksikonya dengan mempromosikan frasa-frasa yang
berguna naik pangkat menjadi kata majemuk yang mandiri.
Daftar
Pustaka
Alwi, H.,
Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa
baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.
Booij, G. (2007). The
grammar of words: An introduction to linguistic morphology (2nd ed.).
Oxford University Press.
Kridalaksana, H.
(2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua).
Gramedia Pustaka Utama.
Sneddon, J. N.
(2010). Indonesian reference grammar (2nd ed.). Allen & Unwin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar