Jumat, 20 Februari 2026

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca


Afasia Broca adalah salah satu gangguan bahasa yang paling dikenal dalam studi neurologi dan linguistik. Gangguan ini menunjukkan bagaimana otak, bahasa, dan ekspresi berinteraksi secara kompleks. Pasien dengan Afasia Broca memahami bahasa dengan relatif baik, tetapi mengalami kesulitan dalam menghasilkan ucapan yang lancar dan sintaksis yang benar. Artikel ini membahas definisi, penyebab, karakteristik klinis, dampak pada kehidupan sehari-hari, serta pendekatan diagnostik dan terapi untuk Afasia Broca—dengan perspektif linguistik dan klinis.

 

Apa Itu Afasia?

Afasia adalah gangguan bahasa yang muncul akibat kerusakan pada area otak yang bertanggung jawab untuk produksi atau pemahaman bahasa. Gangguan ini biasanya terjadi setelah cedera otak, seperti stroke, trauma kepala, tumor, atau infeksi otak. Secara umum, afasia dapat memengaruhi berbicara, memahami bahasa lisan, membaca, dan menulis.

Menurut Hillis (2007), afasia bukan merupakan gangguan intelektual; pasien dapat memiliki kemampuan kognitif lain yang normal atau hampir normal, tetapi kemampuan bahasa mereka terpengaruh secara spesifik karena kerusakan pada jaringan otak yang mengontrol fungsi bahasa. Kerusakan ini biasanya terjadi pada hemisfer kiri otak, yang merupakan pusat dominan bahasa bagi kebanyakan orang.

Contoh nyata: Seorang pasien tahu apa yang ingin dia katakan, tetapi kata-kata tidak muncul secara tepat, atau ucapannya terputus-putus dan tidak teratur secara gramatikal. Kondisi ini menggambarkan afasia ekspresif seperti Afasia Broca.

Sejarah Penemuan Afasia Broca

Afasia Broca dinamai menurut Pierre Paul Broca, seorang dokter bedah Prancis pada abad ke-19 yang menemukan hubungan antara otak dan bahasa. Pada tahun 1861, Broca mempelajari pasien bernama “Tan” — dijuluki demikian karena itu satu-satunya suku kata yang mampu dia ucapkan. Setelah pasien meninggal, Broca menemukan kerusakan pada area posterior inferior lobus frontal kiri (yang kini dikenal sebagai area Broca). Dari temuannya, Broca menyimpulkan bahwa area ini berperan penting dalam produksi ucapan.

Menurut Dronkers, Wilkins, Van Valin, Redfern, dan Jaeger (2004), penelitian Broca menjadi titik awal untuk memahami hubungan anatomi otak dan fungsi bahasa. Penemuan ini membuka jalur studi neurologi bahasa yang sangat berpengaruh hingga saat ini.

 

Lokasi Otak yang Terlibat: Area Broca

Area Broca secara klasik terletak di lobus frontal kiri, tepatnya di Brodmann area 44 dan 45. Area ini merupakan bagian penting dari jaringan bahasa otak. Fungsi utamanya terkait dengan:

Perencanaan produksi ucapan.

Struktur gramatikal dan sintaksis.

Koordinasi gerakan motorik untuk artikulasi.

Kerusakan pada area ini bukan sekadar memengaruhi kemampuan mengucapkan kata, tetapi juga kemampuan memproses struktur kalimat kompleks. Hal ini membedakan Afasia Broca dari gangguan motorik lainnya seperti disartria, di mana masalah terjadi pada otot-otot yang digunakan untuk berbicara tanpa gangguan pada sistem bahasa itu sendiri.

 

Karakteristik Klinis Afasia Broca

Pasien dengan Afasia Broca menunjukkan pola gangguan bahasa yang khas. Umumnya, karakteristik klinisnya meliputi:

1. Ucapan Non-Fluent (Tidak Lancar)

Pasien berbicara dengan usaha yang besar, pengucapan yang lambat, terputus-putus, dan seringkali hanya menggunakan kata-kata inti tanpa imbuhan atau konektor yang lengkap. Contohnya:

“Ingin… pergi… pasar… beli… sayur.”

Struktur kalimat seperti ini disebut telegraphic speech, karena mirip seperti pesan telegram yang terpotong-potong namun tetap bermakna dasar.

2. Kesulitan dengan Grammar dan Sintaksis

Walaupun pasien memahami struktur kalimat, mereka sering tidak mampu menghasilkan kalimat dengan tata bahasa yang tepat. Kekurangan imbuhan, preposisi, dan konjungsi adalah hal umum.

3. Pemahaman relatif lebih baik

Berbeda dengan afasia sensorik (misalnya Afasia Wernicke), pasien Broca biasanya memahami pembicaraan orang lain dengan cukup baik, terutama jika kalimatnya sederhana dan tidak kompleks secara sintaksis (Kertesz, 2007).

4. Kesadaran Gangguan Bahasa

Pasien biasanya menyadari bahwa mereka tidak dapat berbicara dengan baik. Hal ini sering menyebabkan frustrasi, terutama ketika mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan tetapi tidak dapat mengungkapkannya secara lisan.

5. Biasanya tidak mengalami kesulitan memahami bahasa tulis sederhana

Pemahaman teks sederhana dan membaca dengan suara dalam kondisi ringan-sedang umumnya masih cukup terjaga, meskipun menulis dapat terdampak karena kebutuhan produksi bahasa yang mirip dengan berbicara (Benson & Ardila, 1996).

 

Mengapa Afasia Broca Terjadi? Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab utama Afasia Broca adalah kerusakan neurologis pada area bahasa di otak, khususnya area Broca di hemisfer kiri. Penyebab kerusakan ini antara lain:

1. Stroke

Ini adalah penyebab paling umum. Stroke iskemik atau hemoragik dapat merusak area Broca dalam waktu singkat, terutama jika pasokan darah ke area tersebut terganggu.

2. Cedera Kepala Traumatis

Pukulan kuat atau trauma pada kepala dapat menyebabkan kerusakan pada lobus frontal kiri yang memicu Afasia Broca.

3. Tumor Otak

Tumor yang menekan area Broca atau jaringan sekitarnya dapat mengganggu produksi bahasa secara bertahap.

4. Infeksi Cerebrovaskular atau Encephalitis

Infeksi otak dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan bahasa.

5. Degenerasi Neurologis

Beberapa penyakit neurodegeneratif dapat memengaruhi fungsi bahasa jika melibatkan area frontal kiri.

Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, merokok, dan usia lanjut sangat berkontribusi terhadap kemungkinan stroke, sehingga secara tidak langsung meningkatkan risiko Afasia Broca.

 

Diagnosis Afasia Broca

Diagnosis dilakukan oleh tim multidisipliner, biasanya melibatkan neurolog, ahli patologi wicara-bahasa (speech-language pathologist), dan psikiater atau neuropsikolog. Beberapa langkah diagnosa meliputi:

1. Wawancara Klinis Bahasa

Menggali kemampuan pasien berbahasa di berbagai konteks: berbicara spontan, menanggapi pertanyaan, menamai objek, membaca, menulis, dll.

2. Tes Bahasa Standar

Contohnya:

·         Boston Diagnostic Aphasia Examination (Kaplan, Goodglass, & Weintraub, 2001)

·         Western Aphasia Battery (Kertesz, 2007)
Tes ini membantu menentukan tipe afasia, tingkat keparahan, serta area kemampuan yang masih terjaga atau terpengaruh.

3. Pencitraan Otak

CT scan atau MRI digunakan untuk melihat lokasi kerusakan otak dan mengonfirmasi kerusakan area Broca.

Diagnosis yang akurat sangat penting untuk merancang intervensi terapi yang sesuai.

 

Pendekatan Terapi dan Rehabilitasi

Terapi Afasia Broca dirancang untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan bahasa dan mengembangkan strategi compensatory. Beberapa metode terapi meliputi:

1. Terapi Wicara dan Bahasa (Speech-Language Therapy)

Terapi ini berfokus pada latihan pengucapan, struktur kalimat, dan penggunaan bahasa sehari-hari. Ahli patologi wicara-bahasa akan menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap pasien.

2. Latihan Produksi Ucapan dan Sintaksis

Latihan ini bertujuan memperkuat kemampuan merangkai kata menjadi kalimat yang benar dan memperluas kosakata.

3. Terapi Komunikasi Alternatif dan Augmentatif (AAC)

Untuk pasien dengan produksi ucapan yang sangat terbatas, AAC—seperti papan gambar, alat komunikasi elektronik, atau bahkan aplikasi—bisa membantu mereka mengekspresikan ide tanpa harus berbicara.

4. Dukungan Psikososial

Frustrasi karena ketidakmampuan berkomunikasi sering menyebabkan gangguan emosional seperti depresi atau isolasi sosial. Dukungan psikologis membantu pasien dan keluarga menghadapi tantangan tersebut.

 

Dampak Afasia Broca dalam Kehidupan Sehari-hari

Afasia Broca bukan hanya gangguan bahasa; ia berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang:

1. Sosial

Kesulitan berkomunikasi menghambat interaksi sosial. Pasien mungkin cenderung menarik diri dari pembicaraan atau aktivitas yang sebelumnya mereka nikmati.

2. Pekerjaan

Kemampuan bahasa yang melemah memengaruhi komunikasi profesional dan produktivitas kerja. Bagi pekerja yang bergantung pada kemampuan verbal, hal ini bisa menjadi tantangan serius.

3. Emosional dan Psikologis

Rasa frustrasi, kehilangan peran sosial, dan kesedihan karena tidak mampu mengekspresikan diri dapat mengakibatkan kecemasan dan depresi (Wray, 2014).

4. Keluarga dan Lingkungan

Keluarga perlu menyesuaikan cara komunikasi, serta memberikan dukungan yang konsisten. Komunikasi efektif bukan hanya soal kata, tetapi aksen empati dan pengertian.

 

Kesimpulan

Afasia Broca menunjukkan hubungan yang dalam antara otak, bahasa, dan identitas manusia. Ketika area Broca mengalami kerusakan, kemampuan seseorang untuk mengekspresikan pikiran melalui bahasa menjadi sangat terbatas—meskipun pemahaman dan pikiran mereka tetap utuh. Studi mengenai afasia membantu kita memahami keterkaitan neurologis dan linguistik dalam komunikasi manusia.

Penanganan Afasia Broca melibatkan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan terapi wicara, dukungan emosional, dan adaptasi komunikasi berbasis kebutuhan individu. Dengan intervensi yang tepat, pasien afasia dapat mengalami peningkatan kemampuan berbahasa dan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

Benson, D. F., & Ardila, A. (1996). Aphasia: A clinical perspective. Oxford University Press.

Dronkers, N. F., Wilkins, D. P., Van Valin, R. D., Redfern, B. B., & Jaeger, J. J. (2004). Lesion analysis of the brain areas involved in language comprehension. Cognition, 92(1), 145–177.

Hillis, A. E. (2007). Aphasia: Progress in the last quarter of a century. Neurology, 69(2), 200–213.

Kaplan, E., Goodglass, H., & Weintraub, S. (2001). Boston Diagnostic Aphasia Examination (3rd ed.). Lippincott Williams & Wilkins.

Kertesz, A. (2007). Western Aphasia Battery–Revised (WAB-R). Pearson.

Wray, A. (2014). The social and emotional impact of aphasia: A guide for families. Jessica Kingsley Publishers.

 

Rabu, 18 Februari 2026

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA): Mengapa Orang Dewasa Lebih Sulit Belajar Bahasa Baru?

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA): Mengapa Orang Dewasa Lebih Sulit Belajar Bahasa Baru?

Pendahuluan

Pemerolehan Bahasa Kedua (SLA)


Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language Acquisition, disingkat SLA) adalah bidang kajian yang mempelajari bagaimana individu belajar bahasa selain bahasa pertama (L1). Fenomena ini menarik karena meskipun manusia secara universal mampu mempelajari bahasa pertama dengan cepat dan hampir tanpa usaha eksplisit, proses belajar bahasa kedua (L2) oleh orang dewasa seringkali tampak lebih lambat, penuh kesalahan, dan kurang “native-like”.

Pertanyaan kunci yang sering muncul adalah: mengapa orang dewasa lebih sulit belajar bahasa baru dibanding anak-anak? Artikel ini membahas teori-teori utama dalam SLA, faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, serta mengintegrasikan temuan penelitian terbaru dalam linguistik, psikologi kognitif, dan neurolinguistik.

Definisi dan Ruang Lingkup SLA

Pemerolehan Bahasa Kedua tidak hanya mencakup pembelajaran bahasa asing di kelas, tetapi juga pemerolehan bahasa tersebut dalam konteks imersi (sehari-hari), penggunaan formal dan informal, serta proses pembelajaran tidak sadar maupun sadar.

Menurut Ellis (2008), SLA adalah “the process by which a learner acquires additional languages beyond the first language” (hal. 2). Proses ini dipengaruhi oleh sistem bahasa yang sudah dimiliki (L1), pengalaman kognitif pembelajar, strategi pembelajaran, serta konteks sosial budaya tempat bahasa kedua dipelajari.

 

Perbedaan Antara Anak dan Dewasa dalam Pemerolehan Bahasa

1. Sensitive Period dan Window of Opportunity

Salah satu gagasan paling mendasar dalam studi linguistik tentang perbedaan usia adalah teori periode sensitif atau critical period hypothesis (CPH). Hipotesis ini mengusulkan bahwa ada rentang usia di mana otak manusia paling siap untuk memperoleh bahasa secara native-like.

Eric Lenneberg (1967), dalam karyanya tentang dasar biologis bahasa, menyatakan bahwa kemampuan bahasa mencapai puncaknya sebelum pubertas, setelah itu kemampuan akuisisi menjadi lebih terbatas. Banyak studi menunjukkan bahwa kemampuan penguasaan fonologi dan prosodi bahasa asing sangat dipengaruhi oleh usia saat mulai belajar bahasa tersebut (age of onset) (Johnson & Newport, 1989).

Namun demikian, meskipun periode sensitif menjelaskan beberapa perbedaan antara anak dan dewasa, bukan berarti orang dewasa tidak dapat belajar bahasa. Mereka masih dapat mencapai tingkat kemahiran tinggi — hanya saja seringkali dengan pola kesalahan tertentu dan aksen yang berbeda dari penutur asli.

 

2. Perbedaan Kognitif dalam Anak vs Dewasa

Perbedaan kognitif antara anak dan dewasa menjadi salah satu faktor penting mengapa SLA lebih sulit bagi dewasa. Beberapa poin utama:

·         Plasticity neural — Otak anak masih sangat plastis, sehingga lebih mudah menyesuaikan struktur neural untuk sistem bahasa baru. Pada dewasa, plastisitas neural menurun, membuat perubahan fonologis dan sintaksis lebih sulit dilakukan (Kuhl, 2004).

·         Strategi eksplisit vs implisit — Anak cenderung belajar bahasa secara implisit melalui paparan dan interaksi, sementara dewasa sering menggunakan strategi eksplisit (aturan, daftar kosakata, latihan tatabahasa). Pembelajaran eksplisit cenderung kurang efektif dalam membangun kompetensi native-like untuk aspek-aspek tertentu seperti intonasi dan sensitivitas kontekstual.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan SLA pada Dewasa

1. Transfer Bahasa Pertama (L1 Interference)

Pengaruh L1 terhadap L2 adalah salah satu faktor yang paling sering dibahas dalam SLA. Struktur fonologis, morfologis, dan sintaksis bahasa pertama sering memengaruhi strategi dan bentuk bahasa kedua yang dipelajari oleh orang dewasa. Fenomena ini disebut transfer atau interference.

Misalnya, penutur bahasa Indonesia yang belajar bahasa Inggris cenderung mengalami kesulitan dengan articles (a, an, the) karena dalam bahasa Indonesia articles tidak ada. Atau penutur bahasa Jepang yang belajar bahasa Inggris sering mengalami kesulitan dengan urutan kata karena struktur SOV berbeda dari struktur SVO yang dominan dalam bahasa Inggris (Ellis, 2008).

 

2. Faktor Afektif (Motivasi dan Takut Salah)

Faktor psikologis seperti motivasi, anxiety, dan kepercayaan diri terbukti berpengaruh signifikan dalam SLA. Gardner & MacIntyre (1993) menyatakan bahwa motivasi yang kuat berkorelasi positif dengan kemampuan SLA. Sebaliknya, rasa takut salah (fear of making mistakes) atau kecemasan komunikasi dapat menghambat risiko interaksi bahasa, sehingga mengurangi kesempatan praktik.

 

3. Kualitas dan Kuantitas Input

Input bahasa kedua merupakan bahan mentah yang perlu diproses oleh pembelajar. Children terpapar bahasa L1 secara natural melalui interaksi sosial sejak lahir, sedangkan banyak pembelajar dewasa hanya mendapatkan input terbatas di kelas atau dalam situasi komunikasi yang kurang kaya.

Krashen (1985) menekankan pentingnya comprehensible input — input yang sedikit lebih tinggi dari kemampuan saat ini — sebagai kunci dalam SLA. Tanpa paparan yang cukup dan bermakna, kemampuan bahasa kedua sulit berkembang secara optimal.

 

4. Kesadaran Metalinguistik

Salah satu keuntungan orang dewasa adalah kesadaran metalinguistik yang lebih tinggi: mereka mampu berpikir tentang bahasa sebagai objek analisis. Meski ini berguna dalam pembelajaran formal, kadang strategi ini justru dapat menghambat kemampuan memperoleh struktur bahasa secara intuitif seperti anak. Pembelajaran yang terlalu fokus pada aturan eksplisit tanpa konteks penggunaan nyata seringkali menghasilkan performa yang “terlihat benar” tetapi kurang fleksibel dalam penggunaan autentik (Ellis, 2008).

 

Aspek-Aspek SLA yang Dipengaruhi Usia

1. Fonologi dan Aksen

Salah satu aspek paling sensitif terhadap usia adalah fonologi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pembelajar dewasa sulit menciptakan native-like accent, terutama jika mereka mulai belajar setelah masa kanak-kanak (after puberty) (Flege, Munro, & MacKay, 1995). Hal ini dipengaruhi oleh:

·         Penutupan sensori awal — anak-anak lebih mampu menyesuaikan persepsi bunyi baru sebelum pola fonetik mereka matang.

·         Komitmen neural — jaringan saraf bahasa sudah “terikat” pada pola bunyi L1 sehingga sulit direstrukturisasi untuk pola bunyi L2 baru.

2. Tata Bahasa dan Morfologi

Secara umum, struktur tata bahasa dapat dipelajari oleh pembelajar dewasa, namun:

·         Mereka sering menunjukkan interlanguage — sistem bahasa sementara yang mencerminkan kombinasi L1 dan L2 serta strategi pembelajaran.

·         Kesalahan gramatikal yang konsisten dapat muncul karena pengaruh L1 atau generalisasi aturan yang tidak tepat.

Sebagai contoh, dalam membentuk bentuk lampau beraturan di bahasa Inggris, pembelajar dewasa sering kali menerapkan pola –ed secara berlebihan kepada verba yang tidak beraturan, yang mencerminkan proses perkembangan sejenis fenomena overregularization pada anak (Ellis, 2008).

3. Kosakata

Orang dewasa umumnya dapat mempelajari kosakata dengan lebih cepat melalui strategi eksplisit seperti penghafalan dan asosiasi. Namun, membangun jaringan semantik yang mendalam dan penggunaan kontekstual memerlukan pengalaman penggunaan bahasa yang lebih luas, yang sering kali kurang dalam pembelajaran formal.

 

Model-Model Teoretis dalam SLA

1. Monitor Model – Stephen Krashen

Krashen (1985) mempopulerkan Monitor Model, yang menyatakan bahwa SLA terjadi melalui dua proses utama:

·         Acquisition — pembelajaran tidak sadar melalui paparan input bermakna.

·         Learning — pembelajaran sadar melalui aturan formal.

Krashen berargumen bahwa kemampuan komunikatif yang digunakan dalam situasi nyata terutama berasal dari acquisition, sedangkan learning hanya berguna sebagai monitor atau alat perbaikan.

 

2. Interaction Hypothesis – Long

Interaksi dipandang sebagai mekanisme yang memfasilitasi pengolahan bahasa. Long (1996) menekankan bahwa negotiation of meaning — yaitu upaya untuk saling memahami serta klarifikasi dalam percakapan — memberikan input comprehensible yang lebih efektif daripada paparan pasif.

 

3. Output Hypothesis – Swain

Swain (1985) menekankan pentingnya output — yakni penggunaan bahasa oleh pembelajar — sebagai sarana pembelajaran. Menyusun dan menghasilkan ujra bahasa memaksa pembelajar untuk memproses informasi secara mendalam, memperbaiki kesalahan, dan mengkonsolidasikan struktur bahasa.

Strategi Optimal untuk Mempercepat SLA pada Dewasa

Berdasarkan penelitian SLA, beberapa strategi berikut telah terbukti efektif:

1. Paparan Input yang Autentik dan Kaya

Paparan bahasa sebenarnya seperti media, percakapan dengan penutur asli, serta materi audio–visual yang bermakna memungkinkan pembelajar untuk menangkap pola alami bahasa.

 

2. Interaksi Sosial yang Intensif

Interaksi nyata dengan penutur asli atau sesama pembelajar memperluas penggunaan negotiation of meaning serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri.

 

3. Penggunaan Output Berkualitas

Latihan berbicara dan menulis yang bermakna mendorong pemrosesan bahasa secara mendalam dan memperbaiki struktur internal bahasa pembelajar.

 

4. Kesadaran Budaya dan Konteks Sosial

Memahami konteks sosial dan budaya bahasa sasaran membantu dalam pemahaman pragmatik, kosakata idiomatis, serta nuansa penggunaan bahasa yang alami.

Kesimpulan

Pemerolehan Bahasa Kedua pada orang dewasa seringkali lebih sulit dibandingkan pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak karena kombinasi faktor biologis, kognitif, afektif, dan lingkungan. Meskipun orang dewasa memiliki kelebihan seperti kesadaran metalinguistik dan strategi eksplisit, tantangan biologis seperti penurunan plastisitas neural dan fenomena interference dari bahasa pertama tetap mempengaruhi proses SLA.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa dengan input comprehensible yang cukup, interaksi otentik, serta strategi belajar yang tepat, pembelajar dewasa tetap mampu mengembangkan kompetensi bahasa kedua yang tinggi — meskipun aksen native-like mungkin tidak selalu tercapai.

Pemahaman tentang mekanisme dan strategi dalam SLA menjadi penting tidak hanya bagi peneliti linguistik, tetapi juga bagi pendidik, pembelajar, dan pembuat kebijakan pendidikan bahasa di seluruh dunia.

Referensi

Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition (2nd ed.). Oxford University Press.

Flege, J. E., Munro, M. J., & MacKay, I. R. A. (1995). Effects of age of second-language learning on production of English consonants. Speech Communication, 16(1–2), 1–26.

Gardner, R. C., & MacIntyre, P. D. (1993). A student’s contributions to second-language learning. Part II: Affective variables. Language Teaching, 26(1), 1–11.

Johnson, J. S., & Newport, E. L. (1989). Critical period effects in second language learning: The influence of maturational state on the acquisition of English as a second language. Cognitive Psychology, 21(1), 60–99.

Krashen, S. D. (1985). The input hypothesis: Issues and implications. Longman.

Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.

Long, M. H. (1996). The role of the linguistic environment in second language acquisition. In W. C. Ritchie & T. K. Bhatia (Eds.), Handbook of second language acquisition (pp. 413–468). Academic Press.

Swain, M. (1985). Communicative competence: Some roles of comprehensible input and comprehensible output in its development. In S. Gass & C. Madden (Eds.), Input in second language acquisition (pp. 235–253). Newbury House.

 


 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...