Senin, 19 Januari 2026

Mengurai Konstruksi: Jenis-Jenis Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia

Blog: Pusat Referensi Linguistik

Pengantar: Menjelajahi Ragam Bentuk Penggabungan

Jenis-Jenis Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia


Setelah membahas hakikat dan ciri-ciri kata majemuk, kita kini tiba pada eksplorasi yang lebih sistematis: bagaimana kata majemuk diklasifikasikan? Bab 6.3: Jenis Kata Majemuk ini akan memetakan berbagai pola penggabungan yang menghasilkan unit leksikal baru tersebut. Pengelompokan ini penting karena tidak semua kata majemuk dibentuk dengan cara yang sama. Dengan memahami jenis-jenisnya, kita dapat melihat pola produktivitas, hubungan gramatikal antar unsur, dan logika di balik pembentukan kosakata seperti obat nyamuk, tahan banting, dan mendayung udara. Artikel ini akan mengelompokkan kata majemuk berdasarkan tiga perspektif utama: kategori gramatikal hasil, hubungan semantis antar konstituen, dan keterikatannya dengan afiksasi.

1. Klasifikasi Berdasarkan Kategori Kata Hasil

Klasifikasi paling langsung adalah melihat kelas kata (part of speech) apa yang dihasilkan dari proses pemajemukan. Ini menentukan fungsi kata majemuk tersebut dalam kalimat.

1.1 Nomina Majemuk (Kata Benda Majemuk)

Jenis ini paling produktif dan banyak dijumpai. Fungsinya untuk menamai benda, konsep, atau entitas baru.

·         Contoh:

o    Benda konkret: rumah sakit, meja tulis, kapal terbang, orang utan.

o    Konsep abstrak: kebiasaan hidup, buah pikiran, bumi putra, hak asasi.

o    Pekerjaan/peran: tukang cukur, ibu kota, anak buah.

·         Pola Umum: Sering kali pola [N + N] (kapal terbang), [N + A] (orang tua), atau [V + N] (alat hitung).

1.2 Verba Majemuk (Kata Kerja Majemuk)

Menyatakan suatu tindakan atau proses yang telah terspesialisasi maknanya.

·         Contoh:

o    tandatangan (melakukan aktivitas memberi tanda tangan)

o    campur tangan (ikut serta/intervensi)

o    angkat kaki (pergi/meninggalkan)

o    cuci mata (jalan-jalan untuk melihat-lihat)

·         Pola Umum: Pola [V + N] (angkat kaki), [V + V] (lihat lihat), atau [A + V] (rendah diri).

1.3 Adjektiva Majemuk (Kata Sifat Majemuk)

Berfungsi untuk memerikan sifat atau kualitas yang kompleks.

·         Contoh:

o    buta huruf (tidak dapat membaca)

o    ringan tangan (suka menolong)

o    keras kepala (tidak mau mendengar nasihat)

o    merah padam (merah sekali)

·         Pola Umum: Pola [A + N] (keras kepala), [A + A] (merah muda), atau [Num + A] (setengah hati).

1.4 Numeralia Majemuk (Kata Bilangan Majemuk)

Terutama untuk menyatakan bilangan yang kompleks.

·         Contoh: tiga puluh, dua ratus, seribu sembilan ratus, seperdua.

·         Catatan: Jenis ini sangat teratur dan komposisional, namun tetap dianggap majemuk karena membentuk satu konsep bilangan utuh (Alwi et al., 2003).

2. Klasifikasi Berdasarkan Hubungan Semantis Antar Unsur (Struktur Internal)

Ini adalah klasifikasi yang paling analitis dan menarik secara linguistik. Ia melihat relasi makna dan gramatikal apa yang menghubungkan unsur pertama (modifier) dan unsur kedua (head) dalam kata majemuk. Sering kali, unsur kedua menjadi inti (head) yang ditentukan oleh unsur pertama.

2.1 Modifikasi (Endosentris)

Unsur kedua adalah inti (head), dan unsur pertama memodifikasi atau membatasinya. Sebagian besar kata majemuk bahasa Indonesia masuk tipe ini.

·         Sub-jenis:

o    Hubungan Pemilikan/Kepunyaan: baju besi (baju yang terbuat dari besi), kantor pos (kantor untuk urusan pos).

o    Hubungan Tempat: kolam renang (kolam untuk berenang), tali sepatu (tali untuk sepatu).

o    Hubungan Fungsi: obat nyamuk (obat untuk mengusir nyamuk), alat hitung.

o    Hubungan Perbandingan/Sifat: kuda laut (hewan laut yang seperti kuda), lidah buaya (tumbuhan dengan daun seperti lidah buaya).

2.2 Koordinatif (Eksosentris)

Unsur-unsurnya setara dan memiliki status yang sama. Gabungan keduanya menciptakan makna baru yang mencakup kedua unsur tersebut atau menciptakan makna tersendiri.

·         Contoh:

o    Menunjukkan Pasangan: suami istri, ibu bapak, dara dadi (gadis dan jejaka).

o    Menunjukkan Aktivitas Bolak-balik: mondar mandir, hilir mudik, tarik ulur.

o    Menunjukkan Kelengkapan: sayur mayur (berbagai sayuran), lauk pauk (berbagai lauk).

2.3 Apositif

Unsur kedua mendeskripsikan atau mengaposisikan unsur pertama. Keduanya merujuk pada entitas yang sama.

·         Contoh: kota Jakarta, Presiden Jokowi, tanaman singkong. Meski mirip frasa, beberapa konstruksi ini telah mengalami leksikalisasi dan dianggap majemuk, terutama jika membentuk nama diri atau istilah khusus.

2.4 Reduplikatif (Majemuk Semu)

Bentuk ini mirip reduplikasi, namun dengan perubahan bunyi pada salah satu unsurnya. Ia sudah sangat padu dan idiomatis.

·         Contoh: lalu lalang, gerak gerik, serba serbi, huru hara. Menurut Sneddon (2010), konstruksi ini sering kali tidak dapat dianalisis secara komposisional lagi.

3. Klasifikasi Berdasarkan Kehadiran Afiks

Kata majemuk juga dapat dilihat dari ada tidaknya afiks yang melekat.

3.1 Kata Majemuk Murni (Tanpa Afiks)

Gabungan dua kata dasar tanpa imbuhan. Contoh: jalan raya, tahan banting, mata keranjang.

3.2 Kata Majemuk Berafiks

Afiksasi terjadi pada salah satu unsur atau pada keseluruhan konstruksi. Afiksasi ini bisa terjadi sebelum atau setelah proses pemajemukan.

·         Afiks pada Salah Satu Unsur: per-tanda-an + alampertanda alam.

·         Afiks pada Seluruh Konstruksi (Paling Khas): ber- + tangan ringanbertangan ringan (suka mencuri). Di sini, prefiks ber- melekat pada keseluruhan kata majemuk tangan ringan, membuktikan penyatuannya. Contoh lain: me- + tanda tanganimenandatangani, ke- + rendah hatiankerendahhatian (Kridalaksana, 2007).

4. Jenis Khusus: Kata Majemuk yang Mengalami Perubahan Kelas Kata

Beberapa kata majemuk menarik karena hasilnya memiliki kategori kata yang berbeda dari konstituen penyusunnya.

·         Verba dari Gabungan Nomina: tandatangan (V dari N+N), campur tangan (V dari V+N).

·         Adjektiva dari Gabungan Nomina: keras kepala (A dari A+N).

·         Fenomena ini menunjukkan bahwa pemajemukan, seperti afiksasi, adalah proses derivasional yang dapat mengubah kategori kata.

5. Tantangan dan Batas-batas yang Cair

Pengelompokan ini tidak selalu mutlak. Satu kata majemuk bisa dilihat dari berbagai sudut.

·         Matahari: Dari segi hasil = Nomina Majemuk. Dari segi hubungan = Modifikasi (mata dari hari), tetapi telah sangat leksikalisasi.

·         Tahan banting: Dari segi hasil = bisa Adjektiva (kuat) atau Verba (dapat menahan bantingan). Dari segi hubungan = bisa dilihat sebagai Modifikasi atau koordinatif.

Selain itu, terdapat kontinum antara frasa dan kata majemuk. Sebuah konstruksi seperti jalan cepat mungkin masih berupa frasa dalam konteks olahraga (lomba jalan cepat), tetapi mulai mendekati kata majemuk ketika digunakan secara lebih idiomatis. Produktivitas setiap jenis juga berbeda. Pola modifikasi [N+N] dan [N+A] sangat produktif, sementara jenis reduplikatif sudah tidak produktif lagi (tidak menghasilkan bentuk baru).

Kesimpulan: Peta yang Memandu Pemahaman

Memahami jenis-jenis kata majemuk ibarat memiliki peta untuk menjelajahi lanskap kosakata bahasa Indonesia yang luas. Peta ini mengungkap bahwa di balik keanekaragaman bentuk, terdapat pola-pola yang sistematis—baik dalam hal kategori, hubungan semantis, maupun interaksinya dengan afiks.

Pengetahuan ini tidak hanya bernilai teoritis, tetapi juga sangat aplikatif:

1.      Bagi Peneliti Bahasa: Memberikan kerangka untuk menganalisis produktivitas dan perubahan morfologis.

2.      Bagi Pengajar dan Pelajar Bahasa: Membantu dalam pengajaran kosakata dengan menjelaskan logika di balik pembentukan kata-kata kompleks.

3.      Bagi Penerjemah dan Penulis: Membantu memilih padanan yang tepat dengan memahami struktur dan nuansa makna yang dibawa oleh setiap jenis.

Dengan demikian, pengelompokan kata majemuk bukanlah sekadar kategorisasi yang kaku, melainkan sebuah lensa analitis yang memungkinkan kita untuk mengapresiasi kecanggihan dan kreativitas sistem morfologi bahasa Indonesia dalam menciptakan makna-makna baru dari bahan-bahan leksikal yang sudah ada.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.

Kridalaksana, H. (2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Sneddon, J. N. (2010). Indonesian reference grammar (2nd ed.). Allen & Unwin.

 

 

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...