Blog: Pusat Referensi Linguistik
Pengantar: Menjelajahi Ragam Bentuk Penggabungan
| Jenis-Jenis Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia |
Setelah membahas hakikat dan ciri-ciri kata majemuk, kita kini tiba pada eksplorasi yang lebih sistematis: bagaimana kata majemuk diklasifikasikan? Bab 6.3: Jenis Kata Majemuk ini akan memetakan berbagai pola penggabungan yang menghasilkan unit leksikal baru tersebut. Pengelompokan ini penting karena tidak semua kata majemuk dibentuk dengan cara yang sama. Dengan memahami jenis-jenisnya, kita dapat melihat pola produktivitas, hubungan gramatikal antar unsur, dan logika di balik pembentukan kosakata seperti
obat nyamuk,
tahan banting, dan mendayung udara. Artikel ini akan
mengelompokkan kata majemuk berdasarkan tiga perspektif utama: kategori
gramatikal hasil, hubungan semantis antar konstituen, dan keterikatannya dengan
afiksasi.1.
Klasifikasi Berdasarkan Kategori Kata Hasil
Klasifikasi paling
langsung adalah melihat kelas kata (part of speech) apa yang dihasilkan dari
proses pemajemukan. Ini menentukan fungsi kata majemuk tersebut dalam kalimat.
1.1
Nomina Majemuk (Kata Benda Majemuk)
Jenis ini paling
produktif dan banyak dijumpai. Fungsinya untuk menamai benda, konsep, atau
entitas baru.
·
Contoh:
o Benda konkret: rumah sakit,
meja tulis, kapal terbang, orang utan.
o Konsep abstrak: kebiasaan
hidup, buah pikiran,
bumi putra, hak asasi.
o Pekerjaan/peran: tukang
cukur, ibu kota,
anak buah.
·
Pola Umum:
Sering kali pola [N + N] (kapal terbang),
[N + A] (orang tua), atau [V
+ N] (alat hitung).
1.2
Verba Majemuk (Kata Kerja Majemuk)
Menyatakan suatu
tindakan atau proses yang telah terspesialisasi maknanya.
·
Contoh:
o tandatangan
(melakukan aktivitas memberi tanda tangan)
o campur tangan
(ikut serta/intervensi)
o angkat kaki
(pergi/meninggalkan)
o cuci mata
(jalan-jalan untuk melihat-lihat)
·
Pola Umum:
Pola [V + N] (angkat kaki),
[V + V] (lihat lihat), atau
[A + V] (rendah diri).
1.3
Adjektiva Majemuk (Kata Sifat Majemuk)
Berfungsi untuk
memerikan sifat atau kualitas yang kompleks.
·
Contoh:
o buta huruf
(tidak dapat membaca)
o ringan tangan
(suka menolong)
o keras kepala
(tidak mau mendengar nasihat)
o merah padam
(merah sekali)
·
Pola Umum:
Pola [A + N] (keras kepala),
[A + A] (merah muda), atau
[Num + A] (setengah hati).
1.4
Numeralia Majemuk (Kata Bilangan Majemuk)
Terutama untuk
menyatakan bilangan yang kompleks.
·
Contoh: tiga puluh, dua ratus, seribu sembilan ratus, seperdua.
·
Catatan:
Jenis ini sangat teratur dan komposisional, namun tetap dianggap majemuk karena
membentuk satu konsep bilangan utuh (Alwi et al., 2003).
2.
Klasifikasi Berdasarkan Hubungan Semantis Antar Unsur (Struktur Internal)
Ini adalah
klasifikasi yang paling analitis dan menarik secara linguistik. Ia melihat
relasi makna dan gramatikal apa yang menghubungkan unsur pertama (modifier) dan
unsur kedua (head) dalam kata majemuk. Sering kali, unsur kedua menjadi inti
(head) yang ditentukan oleh unsur pertama.
2.1
Modifikasi (Endosentris)
Unsur kedua adalah
inti (head), dan unsur pertama memodifikasi atau membatasinya. Sebagian besar kata
majemuk bahasa Indonesia masuk tipe ini.
·
Sub-jenis:
o Hubungan Pemilikan/Kepunyaan: baju besi (baju yang terbuat dari besi),
kantor pos (kantor untuk
urusan pos).
o Hubungan Tempat: kolam renang (kolam untuk berenang), tali sepatu (tali untuk sepatu).
o Hubungan Fungsi: obat nyamuk (obat untuk mengusir nyamuk), alat hitung.
o Hubungan Perbandingan/Sifat: kuda laut (hewan laut yang seperti
kuda), lidah buaya (tumbuhan
dengan daun seperti lidah buaya).
2.2
Koordinatif (Eksosentris)
Unsur-unsurnya setara
dan memiliki status yang sama. Gabungan keduanya menciptakan makna baru yang
mencakup kedua unsur tersebut atau menciptakan makna tersendiri.
·
Contoh:
o Menunjukkan Pasangan: suami istri, ibu bapak, dara dadi (gadis dan jejaka).
o Menunjukkan Aktivitas Bolak-balik: mondar mandir, hilir mudik, tarik ulur.
o Menunjukkan Kelengkapan: sayur mayur (berbagai sayuran), lauk pauk (berbagai lauk).
2.3
Apositif
Unsur kedua
mendeskripsikan atau mengaposisikan unsur pertama. Keduanya merujuk pada
entitas yang sama.
·
Contoh: kota Jakarta, Presiden Jokowi, tanaman singkong. Meski mirip frasa,
beberapa konstruksi ini telah mengalami leksikalisasi dan dianggap majemuk,
terutama jika membentuk nama diri atau istilah khusus.
2.4
Reduplikatif (Majemuk Semu)
Bentuk ini mirip
reduplikasi, namun dengan perubahan bunyi pada salah satu unsurnya. Ia sudah
sangat padu dan idiomatis.
·
Contoh: lalu lalang, gerak gerik, serba serbi, huru hara. Menurut Sneddon (2010),
konstruksi ini sering kali tidak dapat dianalisis secara komposisional lagi.
3. Klasifikasi
Berdasarkan Kehadiran Afiks
Kata majemuk juga
dapat dilihat dari ada tidaknya afiks yang melekat.
3.1
Kata Majemuk Murni (Tanpa Afiks)
Gabungan dua kata
dasar tanpa imbuhan. Contoh: jalan raya,
tahan banting, mata keranjang.
3.2
Kata Majemuk Berafiks
Afiksasi terjadi pada
salah satu unsur atau pada keseluruhan konstruksi. Afiksasi ini bisa terjadi
sebelum atau setelah proses pemajemukan.
·
Afiks pada Salah
Satu Unsur: per-tanda-an
+ alam → pertanda alam.
·
Afiks pada Seluruh
Konstruksi (Paling Khas): ber-
+ tangan ringan → bertangan ringan (suka mencuri). Di
sini, prefiks ber- melekat
pada keseluruhan kata majemuk tangan
ringan, membuktikan penyatuannya. Contoh lain: me- + tanda
tangani → menandatangani,
ke- + rendah hatian → kerendahhatian (Kridalaksana, 2007).
4.
Jenis Khusus: Kata Majemuk yang Mengalami Perubahan Kelas Kata
Beberapa kata majemuk
menarik karena hasilnya memiliki kategori kata yang berbeda dari konstituen
penyusunnya.
·
Verba dari Gabungan
Nomina: tandatangan
(V dari N+N), campur tangan (V
dari V+N).
·
Adjektiva dari
Gabungan Nomina: keras kepala
(A dari A+N).
·
Fenomena ini menunjukkan
bahwa pemajemukan, seperti afiksasi, adalah proses derivasional yang dapat
mengubah kategori kata.
5.
Tantangan dan Batas-batas yang Cair
Pengelompokan ini tidak
selalu mutlak. Satu kata majemuk bisa dilihat dari berbagai sudut.
·
Matahari: Dari segi
hasil = Nomina Majemuk. Dari segi hubungan = Modifikasi (mata dari hari), tetapi telah sangat leksikalisasi.
·
Tahan banting: Dari
segi hasil = bisa Adjektiva (kuat) atau Verba (dapat menahan bantingan). Dari
segi hubungan = bisa dilihat sebagai Modifikasi atau koordinatif.
Selain itu, terdapat kontinum
antara frasa dan kata majemuk. Sebuah konstruksi seperti jalan cepat mungkin masih berupa frasa
dalam konteks olahraga (lomba jalan cepat),
tetapi mulai mendekati kata majemuk ketika digunakan secara lebih idiomatis.
Produktivitas setiap jenis juga berbeda. Pola modifikasi [N+N] dan [N+A] sangat
produktif, sementara jenis reduplikatif sudah tidak produktif lagi (tidak menghasilkan
bentuk baru).
Kesimpulan:
Peta yang Memandu Pemahaman
Memahami jenis-jenis
kata majemuk ibarat memiliki peta untuk menjelajahi lanskap kosakata bahasa
Indonesia yang luas. Peta ini mengungkap bahwa di balik keanekaragaman bentuk,
terdapat pola-pola yang sistematis—baik dalam hal kategori, hubungan semantis,
maupun interaksinya dengan afiks.
Pengetahuan ini tidak
hanya bernilai teoritis, tetapi juga sangat aplikatif:
1.
Bagi Peneliti Bahasa:
Memberikan kerangka untuk menganalisis produktivitas dan perubahan morfologis.
2.
Bagi Pengajar dan Pelajar
Bahasa: Membantu dalam pengajaran kosakata dengan menjelaskan logika
di balik pembentukan kata-kata kompleks.
3.
Bagi Penerjemah dan
Penulis: Membantu memilih padanan yang tepat dengan memahami struktur
dan nuansa makna yang dibawa oleh setiap jenis.
Dengan demikian,
pengelompokan kata majemuk bukanlah sekadar kategorisasi yang kaku, melainkan
sebuah lensa analitis yang memungkinkan kita untuk mengapresiasi kecanggihan
dan kreativitas sistem morfologi bahasa Indonesia dalam menciptakan makna-makna
baru dari bahan-bahan leksikal yang sudah ada.
Daftar
Pustaka
Alwi, H.,
Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa
baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.
Kridalaksana, H.
(2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua).
Gramedia Pustaka Utama.
Sneddon, J. N.
(2010). Indonesian reference grammar (2nd ed.). Allen & Unwin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar