| Memahami Abreviasi |
Dalam studi morfologi, pembentukan kata tidak hanya terjadi melalui proses afiksasi (pemberian imbuhan), reduplikasi (pengulangan), atau komposisi (penggabungan). Terdapat fenomena unik yang disebut dengan proses morfologis non-konvensional, salah satunya adalah abreviasi.
Seiring dengan tuntutan efisiensi komunikasi, baik dalam ragam tulis maupun
lisan, abreviasi menjadi instrumen penting bagi penutur bahasa untuk
menyampaikan pesan yang panjang dalam bentuk yang lebih ringkas tanpa
menghilangkan esensi maknanya.
1. Definisi dan Hakikat Abreviasi
Secara etimologis, abreviasi berasal dari bahasa Latin abbreviare
yang berarti "memperpendek". Dalam linguistik, abreviasi adalah
proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem
sehingga menjadi bentuk baru yang berstatus sebagai kata.
Kridalaksana (2009) mendefinisikan abreviasi sebagai proses pemendekan satu
atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga menjadi bentuk baru
yang berstatus kata. Hasil dari proses ini disebut dengan kependekan.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun bentuknya memendek, identitas semantisnya
tetap merujuk pada bentuk utuhnya.
Mengapa Abreviasi Terjadi?
Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya abreviasi:
·
Prinsip Ekonomi Bahasa:
Manusia cenderung menggunakan upaya sekecil mungkin (energi artikulasi minimal)
untuk mencapai hasil komunikasi yang maksimal.
·
Kebutuhan Teknis:
Dalam jurnalistik atau penulisan ilmiah, keterbatasan ruang (kolom) menuntut
penggunaan bentuk ringkas.
·
Identitas Sosial:
Penggunaan akronim tertentu sering kali menjadi penanda kelompok sosial atau
profesi tertentu (misalnya istilah militer atau birokrasi).
2. Klasifikasi Abreviasi dalam Bahasa Indonesia
Berdasarkan struktur pembentukannya, abreviasi dapat dibagi menjadi beberapa
kategori utama: singkatan, akronim, kontraksi, fragmen (penggalan), dan lambang
huruf.
2.1 Singkatan (Abbreviation)
Singkatan adalah hasil pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf,
baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak.
·
Singkatan Nama
Orang/Gelar: S.Pd. (Sarjana Pendidikan), H. (Haji).
·
Singkatan Nama Lembaga:
PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
·
Singkatan Umum: dll.
(dan lain-lain), hlm. (halaman).
Ciri khas singkatan adalah cara bacanya yang dilakukan dengan melafalkan
huruf demi huruf (eja), seperti BCA dibaca /be-ce-a/.
2.2 Akronim (Acronym)
Berbeda dengan singkatan, akronim adalah kependekan yang berupa gabungan
huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai
kata yang wajar.
·
Akronim Nama Diri:
LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), PASI (Persatuan Atletik Seluruh
Indonesia).
·
Akronim Bukan Nama Diri:
Daring (Dalam Jaringan), Rudal (Peluru Kendali), Iptek (Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi).
Proses pembentukan akronim lebih fleksibel dibanding singkatan karena harus
mempertimbangkan aspek fonotaktik (kesesuaian bunyi) agar enak didengar dan
mudah diucapkan.
2.3 Penggalan (Clipping/Fragmentation)
Penggalan adalah proses abreviasi yang mengekalkan salah satu bagian dari
leksem tersebut melalui penanggalan bagian lainnya. Biasanya, bagian yang
diambil adalah suku kata awal atau akhir yang paling distingtif.
·
Lab dari
Laboratorium.
·
Perpus dari
Perpustakaan.
·
Pak dari Bapak.
·
Bu dari Ibu.
Dalam bahasa percakapan, penggalan sangat sering digunakan untuk menciptakan
suasana yang lebih akrab (informal).
2.4 Kontraksi (Contraction)
Kontraksi adalah proses pemendekan yang meringkaskan leksem dasar atau
gabungan leksem dengan cara menghilangkan beberapa huruf atau bunyi di tengah.
·
Tak dari Tidak.
·
Begitu dari Bagai +
Itu.
·
Laba-laba dari
Lelaba.
2.5 Lambang Huruf
Lambang huruf adalah singkatan yang bersifat internasional dan standar,
biasanya digunakan dalam satuan ukur, timbangan, atau unsur kimia. Bentuk ini
tidak diikuti tanda titik.
·
kg (kilogram).
·
Au (Aurum/Emas).
·
Rp (Rupiah).
3. Analisis Morfofonemik dalam Abreviasi
Abreviasi bukan sekadar memotong kata secara sembarangan. Terdapat pola-pola
morfofonemik yang sering muncul:
1. Pola Suku Kata Pertama: Mengambil suku kata pertama dari
setiap unsur (Contoh: Orba dari Orde Baru).
2. Pola Gabungan Suku Kata: Mengambil bagian awal kata
pertama dan bagian akhir kata kedua (Contoh: Asbun dari Asal Bunyi).
3. Pola Huruf Pertama (Inisial): Hanya mengambil huruf
pertama (Contoh: KTP dari Kartu Tanda Penduduk).
4. Problematika Abreviasi dalam Bahasa Indonesia
Meskipun mempermudah komunikasi, abreviasi juga menimbulkan beberapa masalah
linguistik:
A. Ambiguitas
Beberapa kependekan bisa merujuk pada lebih dari satu bentuk utuh.
Contohnya, PM bisa berarti Perdana Menteri, Polisi Militer,
atau Personal Message. Konteks kalimat sangat menentukan dalam hal ini.
B. Over-Abbreviation (Hiper-Abreviasi)
Kecenderungan masyarakat Indonesia, terutama di media sosial, untuk
memendekkan hampir semua kata (seperti yg, tdk, otw)
terkadang mengaburkan kaidah tata bahasa baku. Jika tidak dikendalikan, hal ini
dapat menurunkan kemampuan literasi generasi muda terhadap bentuk kata yang
baku.
C. Estetika dan Eufemisme
Seringkali abreviasi digunakan untuk memperhalus istilah yang dianggap kasar
atau terlalu panjang. Namun, sering juga digunakan untuk menciptakan istilah
birokrasi yang justru membingungkan masyarakat awam.
5. Kesimpulan
Abreviasi adalah bukti bahwa bahasa bersifat dinamis dan adaptif. Sebagai
proses morfologis, ia menawarkan efisiensi tanpa mengorbankan fungsi
komunikatif. Namun, sebagai pengguna bahasa yang baik, kita harus memahami
kapan menggunakan singkatan dalam situasi formal dan kapan menggunakan bentuk
utuh untuk menjaga kejelasan pesan.
Pusat Referensi Linguistik memandang bahwa pemahaman terhadap Bab 7 tentang
Proses Morfologis Lain ini penting bagi mahasiswa, peneliti, maupun praktisi
bahasa untuk memetakan bagaimana kosakata baru lahir dan berkembang dalam
ekosistem bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Chaedar Alwasilah, A. (2011). Linguistik Suatu Pengantar. Bandung:
Angkasa.
Chafe, W. L. (1970). Meaning and the Structure of Language. Chicago:
University of Chicago Press.
Keraf, G. (2008). Morfologi: Sebuah Tinjauan Deskriptif. Jakarta:
Nusa Indah.
Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.
Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta:
CV Karyono.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar