Kamis, 22 Januari 2026

Memahami Abreviasi: Dinamika Pemendekan Kata dalam Linguistik Indonesia

Memahami Abreviasi

Dalam studi morfologi, pembentukan kata tidak hanya terjadi melalui proses afiksasi (pemberian imbuhan), reduplikasi (pengulangan), atau komposisi (penggabungan). Terdapat fenomena unik yang disebut dengan proses morfologis non-konvensional, salah satunya adalah abreviasi.

Seiring dengan tuntutan efisiensi komunikasi, baik dalam ragam tulis maupun lisan, abreviasi menjadi instrumen penting bagi penutur bahasa untuk menyampaikan pesan yang panjang dalam bentuk yang lebih ringkas tanpa menghilangkan esensi maknanya.

1. Definisi dan Hakikat Abreviasi

Secara etimologis, abreviasi berasal dari bahasa Latin abbreviare yang berarti "memperpendek". Dalam linguistik, abreviasi adalah proses penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga menjadi bentuk baru yang berstatus sebagai kata.

Kridalaksana (2009) mendefinisikan abreviasi sebagai proses pemendekan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga menjadi bentuk baru yang berstatus kata. Hasil dari proses ini disebut dengan kependekan. Penting untuk dicatat bahwa meskipun bentuknya memendek, identitas semantisnya tetap merujuk pada bentuk utuhnya.

Mengapa Abreviasi Terjadi?

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya abreviasi:

·         Prinsip Ekonomi Bahasa: Manusia cenderung menggunakan upaya sekecil mungkin (energi artikulasi minimal) untuk mencapai hasil komunikasi yang maksimal.

·         Kebutuhan Teknis: Dalam jurnalistik atau penulisan ilmiah, keterbatasan ruang (kolom) menuntut penggunaan bentuk ringkas.

·         Identitas Sosial: Penggunaan akronim tertentu sering kali menjadi penanda kelompok sosial atau profesi tertentu (misalnya istilah militer atau birokrasi).

 

2. Klasifikasi Abreviasi dalam Bahasa Indonesia

Berdasarkan struktur pembentukannya, abreviasi dapat dibagi menjadi beberapa kategori utama: singkatan, akronim, kontraksi, fragmen (penggalan), dan lambang huruf.

2.1 Singkatan (Abbreviation)

Singkatan adalah hasil pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak.

·         Singkatan Nama Orang/Gelar: S.Pd. (Sarjana Pendidikan), H. (Haji).

·         Singkatan Nama Lembaga: PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

·         Singkatan Umum: dll. (dan lain-lain), hlm. (halaman).

Ciri khas singkatan adalah cara bacanya yang dilakukan dengan melafalkan huruf demi huruf (eja), seperti BCA dibaca /be-ce-a/.

2.2 Akronim (Acronym)

Berbeda dengan singkatan, akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.

·         Akronim Nama Diri: LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia).

·         Akronim Bukan Nama Diri: Daring (Dalam Jaringan), Rudal (Peluru Kendali), Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Proses pembentukan akronim lebih fleksibel dibanding singkatan karena harus mempertimbangkan aspek fonotaktik (kesesuaian bunyi) agar enak didengar dan mudah diucapkan.

2.3 Penggalan (Clipping/Fragmentation)

Penggalan adalah proses abreviasi yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem tersebut melalui penanggalan bagian lainnya. Biasanya, bagian yang diambil adalah suku kata awal atau akhir yang paling distingtif.

·         Lab dari Laboratorium.

·         Perpus dari Perpustakaan.

·         Pak dari Bapak.

·         Bu dari Ibu.

Dalam bahasa percakapan, penggalan sangat sering digunakan untuk menciptakan suasana yang lebih akrab (informal).

2.4 Kontraksi (Contraction)

Kontraksi adalah proses pemendekan yang meringkaskan leksem dasar atau gabungan leksem dengan cara menghilangkan beberapa huruf atau bunyi di tengah.

·         Tak dari Tidak.

·         Begitu dari Bagai + Itu.

·         Laba-laba dari Lelaba.

2.5 Lambang Huruf

Lambang huruf adalah singkatan yang bersifat internasional dan standar, biasanya digunakan dalam satuan ukur, timbangan, atau unsur kimia. Bentuk ini tidak diikuti tanda titik.

·         kg (kilogram).

·         Au (Aurum/Emas).

·         Rp (Rupiah).

 

3. Analisis Morfofonemik dalam Abreviasi

Abreviasi bukan sekadar memotong kata secara sembarangan. Terdapat pola-pola morfofonemik yang sering muncul:

1.      Pola Suku Kata Pertama: Mengambil suku kata pertama dari setiap unsur (Contoh: Orba dari Orde Baru).

2.      Pola Gabungan Suku Kata: Mengambil bagian awal kata pertama dan bagian akhir kata kedua (Contoh: Asbun dari Asal Bunyi).

3.      Pola Huruf Pertama (Inisial): Hanya mengambil huruf pertama (Contoh: KTP dari Kartu Tanda Penduduk).

 

4. Problematika Abreviasi dalam Bahasa Indonesia

Meskipun mempermudah komunikasi, abreviasi juga menimbulkan beberapa masalah linguistik:

A. Ambiguitas

Beberapa kependekan bisa merujuk pada lebih dari satu bentuk utuh. Contohnya, PM bisa berarti Perdana Menteri, Polisi Militer, atau Personal Message. Konteks kalimat sangat menentukan dalam hal ini.

B. Over-Abbreviation (Hiper-Abreviasi)

Kecenderungan masyarakat Indonesia, terutama di media sosial, untuk memendekkan hampir semua kata (seperti yg, tdk, otw) terkadang mengaburkan kaidah tata bahasa baku. Jika tidak dikendalikan, hal ini dapat menurunkan kemampuan literasi generasi muda terhadap bentuk kata yang baku.

C. Estetika dan Eufemisme

Seringkali abreviasi digunakan untuk memperhalus istilah yang dianggap kasar atau terlalu panjang. Namun, sering juga digunakan untuk menciptakan istilah birokrasi yang justru membingungkan masyarakat awam.

 

5. Kesimpulan

Abreviasi adalah bukti bahwa bahasa bersifat dinamis dan adaptif. Sebagai proses morfologis, ia menawarkan efisiensi tanpa mengorbankan fungsi komunikatif. Namun, sebagai pengguna bahasa yang baik, kita harus memahami kapan menggunakan singkatan dalam situasi formal dan kapan menggunakan bentuk utuh untuk menjaga kejelasan pesan.

Pusat Referensi Linguistik memandang bahwa pemahaman terhadap Bab 7 tentang Proses Morfologis Lain ini penting bagi mahasiswa, peneliti, maupun praktisi bahasa untuk memetakan bagaimana kosakata baru lahir dan berkembang dalam ekosistem bahasa Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Chaedar Alwasilah, A. (2011). Linguistik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa.

Chafe, W. L. (1970). Meaning and the Structure of Language. Chicago: University of Chicago Press.

Keraf, G. (2008). Morfologi: Sebuah Tinjauan Deskriptif. Jakarta: Nusa Indah.

Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.

Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...