| Eksplorasi Pemendekan |
Dalam kajian linguistik, khususnya pada Bab 7 mengenai Proses Morfologis Lain, kita sering kali menemukan fenomena yang melampaui batas-batas afiksasi konvensional. Setelah membahas abreviasi dan akronim, fokus kita kini beralih pada 7.3 Pemendekan. Meskipun istilah "pemendekan" sering dianggap sebagai payung besar bagi semua jenis abreviasi, dalam konteks morfologi yang lebih spesifik, pemendekan merujuk pada proses reduksi bentuk leksem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil namun tetap mempertahankan makna aslinya secara utuh.
Artikel ini akan mengupas tuntas anatomi pemendekan, mengapa ia terjadi, dan
bagaimana perannya dalam memperkaya leksikon bahasa Indonesia.
1. Definisi dan Konsep Pemendekan
Pemendekan adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk kependekan dari
suatu leksem atau gabungan leksem (Kridalaksana, 2009). Secara teknis,
pemendekan berbeda dengan pemajemukan (komposisi). Jika komposisi menggabungkan
dua morfem untuk menciptakan makna baru, pemendekan justru memangkas struktur
fonologis dari morfem yang sudah ada untuk efisiensi.
Bentuk pemendekan ini bukan sekadar gejala bahasa santai atau
"slang". Dalam linguistik deskriptif, pemendekan diakui sebagai
proses pembentukan kata yang sah karena menghasilkan bentuk yang menetap dan
diakui oleh masyarakat bahasa. Verhaar (2012) menyebutkan bahwa proses ini
sering kali didorong oleh tuntutan pragmatis dalam komunikasi sehari-hari yang
mengutamakan kecepatan tanpa mengorbankan kejelasan informasi.
2. Klasifikasi Pemendekan dalam Bahasa Indonesia
Dalam artikel ini, kita akan membagi pemendekan menjadi beberapa tipologi
utama yang sering ditemui dalam penggunaan bahasa Indonesia, baik formal maupun
informal.
2.1 Penggalan (Clipping)
Penggalan adalah proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari
leksem asli dan menanggalkan bagian lainnya. Bagian yang dikekalkan biasanya
adalah bagian yang paling memiliki beban informasi atau yang secara fonologis
paling mudah diingat.
·
Penggalan Suku Awal:
Mengambil bagian depan kata.
o
Laboratorium menjadi
Lab.
o
Dokter menjadi Dok.
o
Demonstrasi menjadi Demo.
·
Penggalan Suku Akhir:
Mengambil bagian belakang kata.
o
Bapak menjadi Pak.
o
Ibu menjadi Bu.
o
Kakak menjadi Kak.
o
Adik menjadi Dik.
2.2 Kontraksi (Contraction)
Kontraksi terjadi ketika beberapa bunyi di tengah kata dihilangkan, sehingga
bagian depan dan belakang kata seolah "bertabrakan" dan membentuk
satu kesatuan baru.
·
Tidak menjadi Tak.
·
Bahwa menjadi Bahwasanya
(dalam proses perluasan) atau seringkali dikontraksikan dalam bahasa tutur.
·
Begitu yang berasal
dari gabungan bagai dan itu.
2.3 Fragmen Kata (Word Fragments)
Berbeda dengan penggalan sederhana, fragmen kata sering kali melibatkan
pemotongan yang lebih ekstrem yang kemudian dapat digabungkan kembali dalam
proses akronimisasi atau berdiri sendiri dalam konteks khusus. Misalnya, kata ponsel
yang merupakan gabungan fragmen telepon dan seluler.
3. Motivasi Sosiolinguistik di Balik Pemendekan
Mengapa penutur bahasa Indonesia sangat gemar melakukan pemendekan? Sebagai
pengelola blog Pusat Referensi Linguistik, kita perlu melihat fenomena
ini dari sudut pandang fungsional.
1. Ekonomi Bahasa (Economy of Expression): Sesuai dengan
hukum Zipf, kata-kata yang paling sering digunakan cenderung menjadi lebih
pendek. Penutur secara bawah sadar ingin meminimalkan energi artikulasi
(effort) saat berkomunikasi (Chafe, 1970).
2. Keakraban dan Solidaritas: Pemendekan seperti Kak,
Bang, atau Nda (dari Bunda) menciptakan jarak sosial yang lebih
dekat. Dalam sosiolinguistik, ini disebut sebagai penanda in-group atau
solidaritas kelompok.
3. Konteks Digital: Di era media sosial dan pesan instan,
pemendekan mencapai puncaknya. Keterbatasan karakter dan kecepatan mengetik mendorong
lahirnya bentuk-bentuk seperti yg (yang), sdh (sudah), dan bgt
(banget). Meskipun ini sering dianggap merusak tata bahasa, secara linguistik
ini adalah adaptasi terhadap medium komunikasi baru.
4. Proses Morfofonemik dalam Pemendekan
Proses pemendekan tidak terjadi secara acak. Ada pola-pola yang diikuti agar
kata tersebut tetap "terdengar" benar dalam struktur fonotaktik
bahasa Indonesia.
·
Pola KV
(Konsonan-Vokal): Pemendekan cenderung menyisakan struktur suku kata yang
sederhana.
·
Pola KVK: Jika kata
berakhir dengan konsonan, sering kali konsonan tersebut dipertahankan untuk
mempertegas identitas kata asal (Contoh: Prof dari Profesor).
Menurut Ramlan (2012), meskipun pemendekan tidak melalui proses afiksasi, ia
tetap memiliki struktur internal. Sebagai contoh, kata perpus
(perpustakaan) mengambil suku kata pertama dan kedua, namun memotong afiks -an
dan sisa akar katanya. Ini menunjukkan adanya proses seleksi kognitif dalam
otak penutur.
5. Dampak terhadap Sistem Leksikon
Salah satu hal yang paling menarik dari pemendekan adalah ketika bentuk
pendek tersebut "lepas" dari akar katanya dan menjadi lema (entry)
mandiri dalam kamus.
Contoh klasiknya adalah kata HP (Handphone) yang dalam bahasa
Indonesia sering disebut Hape. Secara fonetis, kita sudah memperlakukannya
sebagai satu kata utuh, bukan lagi sebagai singkatan huruf demi huruf. Begitu
juga dengan kata Info (Informasi). Kita jarang sekali berpikir tentang
kata "Informasi" saat seseorang berkata, "Minta infonya,
dong."
Hal ini menunjukkan bahwa pemendekan berkontribusi langsung pada pengayaan
kosakata. Bentuk pendek sering kali mengalami pergeseran makna atau penyempitan
makna dibanding bentuk aslinya.
6. Problematika dan Kritik Linguistik
Meskipun fungsional, pemendekan sering mendapat kritik dari kalangan purist
bahasa. Beberapa isu yang muncul antara lain:
1. Ambiguitas: Pemendekan yang berlebihan dapat menimbulkan
kerancuan. Misalnya, per bisa merujuk pada perusahaan, peraturan,
atau per semester.
2. Degradasi Formalitas: Penggunaan bentuk pendek dalam
dokumen resmi atau karya ilmiah dianggap tidak sopan atau tidak profesional.
Oleh karena itu, penting bagi pengguna bahasa untuk memahami register
(tingkat formalitas) bahasa.
3. Hambatan bagi Pembelajar BIPA: Bagi orang asing yang
belajar Bahasa Indonesia (BIPA), banyaknya pemendekan dalam percakapan
sehari-hari menjadi tantangan tersendiri karena bentuk-bentuk tersebut sering
tidak ditemukan dalam kamus standar.
7. Kesimpulan
Pemendekan dalam Bab 7.3 ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah
sistem yang sangat dinamis. Ia bukan sekadar kumpulan aturan kaku, melainkan
organisme hidup yang terus berevolusi demi kenyamanan penggunanya. Pemendekan
adalah jembatan antara struktur formal dan kebutuhan praktis.
Sebagai referensi linguistik, kita harus memandang pemendekan bukan sebagai
"perusakan" bahasa, melainkan sebagai mekanisme adaptasi. Dengan
memahami pola dan klasifikasinya, kita dapat menggunakan bahasa secara lebih
efektif dan tepat sasaran sesuai dengan situasinya.
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Chafe, W. L. (1970). Meaning and the Structure of Language. Chicago:
University of Chicago Press.
Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.
Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta:
CV Karyono.
Samsuri. (1988). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Tarigan, H. G. (2011). Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.
Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar