Sabtu, 24 Januari 2026

Eksplorasi Pemendekan: Strategi Reduksi Kata dalam Morfologi Indonesia

Eksplorasi Pemendekan


Dalam kajian linguistik, khususnya pada Bab 7 mengenai Proses Morfologis Lain, kita sering kali menemukan fenomena yang melampaui batas-batas afiksasi konvensional. Setelah membahas abreviasi dan akronim, fokus kita kini beralih pada 7.3 Pemendekan. Meskipun istilah "pemendekan" sering dianggap sebagai payung besar bagi semua jenis abreviasi, dalam konteks morfologi yang lebih spesifik, pemendekan merujuk pada proses reduksi bentuk leksem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil namun tetap mempertahankan makna aslinya secara utuh.

Artikel ini akan mengupas tuntas anatomi pemendekan, mengapa ia terjadi, dan bagaimana perannya dalam memperkaya leksikon bahasa Indonesia.

 

1. Definisi dan Konsep Pemendekan

Pemendekan adalah proses morfologis yang menghasilkan bentuk kependekan dari suatu leksem atau gabungan leksem (Kridalaksana, 2009). Secara teknis, pemendekan berbeda dengan pemajemukan (komposisi). Jika komposisi menggabungkan dua morfem untuk menciptakan makna baru, pemendekan justru memangkas struktur fonologis dari morfem yang sudah ada untuk efisiensi.

Bentuk pemendekan ini bukan sekadar gejala bahasa santai atau "slang". Dalam linguistik deskriptif, pemendekan diakui sebagai proses pembentukan kata yang sah karena menghasilkan bentuk yang menetap dan diakui oleh masyarakat bahasa. Verhaar (2012) menyebutkan bahwa proses ini sering kali didorong oleh tuntutan pragmatis dalam komunikasi sehari-hari yang mengutamakan kecepatan tanpa mengorbankan kejelasan informasi.

 

2. Klasifikasi Pemendekan dalam Bahasa Indonesia

Dalam artikel ini, kita akan membagi pemendekan menjadi beberapa tipologi utama yang sering ditemui dalam penggunaan bahasa Indonesia, baik formal maupun informal.

2.1 Penggalan (Clipping)

Penggalan adalah proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem asli dan menanggalkan bagian lainnya. Bagian yang dikekalkan biasanya adalah bagian yang paling memiliki beban informasi atau yang secara fonologis paling mudah diingat.

·         Penggalan Suku Awal: Mengambil bagian depan kata.

o    Laboratorium menjadi Lab.

o    Dokter menjadi Dok.

o    Demonstrasi menjadi Demo.

·         Penggalan Suku Akhir: Mengambil bagian belakang kata.

o    Bapak menjadi Pak.

o    Ibu menjadi Bu.

o    Kakak menjadi Kak.

o    Adik menjadi Dik.

2.2 Kontraksi (Contraction)

Kontraksi terjadi ketika beberapa bunyi di tengah kata dihilangkan, sehingga bagian depan dan belakang kata seolah "bertabrakan" dan membentuk satu kesatuan baru.

·         Tidak menjadi Tak.

·         Bahwa menjadi Bahwasanya (dalam proses perluasan) atau seringkali dikontraksikan dalam bahasa tutur.

·         Begitu yang berasal dari gabungan bagai dan itu.

2.3 Fragmen Kata (Word Fragments)

Berbeda dengan penggalan sederhana, fragmen kata sering kali melibatkan pemotongan yang lebih ekstrem yang kemudian dapat digabungkan kembali dalam proses akronimisasi atau berdiri sendiri dalam konteks khusus. Misalnya, kata ponsel yang merupakan gabungan fragmen telepon dan seluler.

 

3. Motivasi Sosiolinguistik di Balik Pemendekan

Mengapa penutur bahasa Indonesia sangat gemar melakukan pemendekan? Sebagai pengelola blog Pusat Referensi Linguistik, kita perlu melihat fenomena ini dari sudut pandang fungsional.

1.      Ekonomi Bahasa (Economy of Expression): Sesuai dengan hukum Zipf, kata-kata yang paling sering digunakan cenderung menjadi lebih pendek. Penutur secara bawah sadar ingin meminimalkan energi artikulasi (effort) saat berkomunikasi (Chafe, 1970).

2.      Keakraban dan Solidaritas: Pemendekan seperti Kak, Bang, atau Nda (dari Bunda) menciptakan jarak sosial yang lebih dekat. Dalam sosiolinguistik, ini disebut sebagai penanda in-group atau solidaritas kelompok.

3.      Konteks Digital: Di era media sosial dan pesan instan, pemendekan mencapai puncaknya. Keterbatasan karakter dan kecepatan mengetik mendorong lahirnya bentuk-bentuk seperti yg (yang), sdh (sudah), dan bgt (banget). Meskipun ini sering dianggap merusak tata bahasa, secara linguistik ini adalah adaptasi terhadap medium komunikasi baru.

 

4. Proses Morfofonemik dalam Pemendekan

Proses pemendekan tidak terjadi secara acak. Ada pola-pola yang diikuti agar kata tersebut tetap "terdengar" benar dalam struktur fonotaktik bahasa Indonesia.

·         Pola KV (Konsonan-Vokal): Pemendekan cenderung menyisakan struktur suku kata yang sederhana.

·         Pola KVK: Jika kata berakhir dengan konsonan, sering kali konsonan tersebut dipertahankan untuk mempertegas identitas kata asal (Contoh: Prof dari Profesor).

Menurut Ramlan (2012), meskipun pemendekan tidak melalui proses afiksasi, ia tetap memiliki struktur internal. Sebagai contoh, kata perpus (perpustakaan) mengambil suku kata pertama dan kedua, namun memotong afiks -an dan sisa akar katanya. Ini menunjukkan adanya proses seleksi kognitif dalam otak penutur.

 

5. Dampak terhadap Sistem Leksikon

Salah satu hal yang paling menarik dari pemendekan adalah ketika bentuk pendek tersebut "lepas" dari akar katanya dan menjadi lema (entry) mandiri dalam kamus.

Contoh klasiknya adalah kata HP (Handphone) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut Hape. Secara fonetis, kita sudah memperlakukannya sebagai satu kata utuh, bukan lagi sebagai singkatan huruf demi huruf. Begitu juga dengan kata Info (Informasi). Kita jarang sekali berpikir tentang kata "Informasi" saat seseorang berkata, "Minta infonya, dong."

Hal ini menunjukkan bahwa pemendekan berkontribusi langsung pada pengayaan kosakata. Bentuk pendek sering kali mengalami pergeseran makna atau penyempitan makna dibanding bentuk aslinya.

 

6. Problematika dan Kritik Linguistik

Meskipun fungsional, pemendekan sering mendapat kritik dari kalangan purist bahasa. Beberapa isu yang muncul antara lain:

1.      Ambiguitas: Pemendekan yang berlebihan dapat menimbulkan kerancuan. Misalnya, per bisa merujuk pada perusahaan, peraturan, atau per semester.

2.      Degradasi Formalitas: Penggunaan bentuk pendek dalam dokumen resmi atau karya ilmiah dianggap tidak sopan atau tidak profesional. Oleh karena itu, penting bagi pengguna bahasa untuk memahami register (tingkat formalitas) bahasa.

3.      Hambatan bagi Pembelajar BIPA: Bagi orang asing yang belajar Bahasa Indonesia (BIPA), banyaknya pemendekan dalam percakapan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri karena bentuk-bentuk tersebut sering tidak ditemukan dalam kamus standar.

 

7. Kesimpulan

Pemendekan dalam Bab 7.3 ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah sistem yang sangat dinamis. Ia bukan sekadar kumpulan aturan kaku, melainkan organisme hidup yang terus berevolusi demi kenyamanan penggunanya. Pemendekan adalah jembatan antara struktur formal dan kebutuhan praktis.

Sebagai referensi linguistik, kita harus memandang pemendekan bukan sebagai "perusakan" bahasa, melainkan sebagai mekanisme adaptasi. Dengan memahami pola dan klasifikasinya, kita dapat menggunakan bahasa secara lebih efektif dan tepat sasaran sesuai dengan situasinya.

 

Daftar Pustaka

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Chafe, W. L. (1970). Meaning and the Structure of Language. Chicago: University of Chicago Press.

Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.

Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

Samsuri. (1988). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Tarigan, H. G. (2011). Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.

Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...