Kata dan Bentuk Kata
Dalam kajian morfologi, bahasa media dan bahasa pendidikan menyediakan lahan yang sangat kaya untuk studi kasus. Keduanya memperlihatkan dinamika pembentukan kata, variasi bentuk kata, inovasi morfologis, hingga penyimpangan dari kaidah baku. Perbedaan tujuan komunikatif antara media dan pendidikan menyebabkan perbedaan strategi morfologis yang digunakan, terutama dalam pemilihan kata, pembentukan kata turunan, serta penggunaan kelas kata tertentu.
Bagian ini membahas studi kasus penggunaan kata dan bentuk kata dalam bahasa media dan bahasa pendidikan, dengan fokus pada fenomena morfologis yang menonjol, implikasinya terhadap pemahaman bahasa, serta relevansinya bagi kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.
3.4.1 Bahasa Media sebagai Laboratorium Morfologi
Bahasa media sering disebut sebagai “bahasa antara”, yaitu berada di antara bahasa baku dan bahasa nonbaku. Media massa dituntut untuk menyampaikan informasi secara cepat, ringkas, dan menarik, sehingga sering kali melakukan eksploitasi terhadap sistem morfologi bahasa.
Menurut Fairclough (1995), bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana konstruksi realitas sosial. Dalam konteks ini, pembentukan kata menjadi strategi penting untuk membingkai makna dan menarik perhatian pembaca.
Inovasi Bentuk Kata dalam Media
Media sering memunculkan kata-kata baru melalui proses morfologis seperti:
· Afiksasi kreatif: pemberlakuan, pengetatan, pelonggaran
· Pemendekan dan akronim: PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), PPKM
· Pemajemukan baru: banjir informasi, politik identitas
Kata-kata tersebut umumnya berangkat dari bentuk dasar yang sudah dikenal, tetapi dikembangkan menjadi bentuk turunan dengan makna yang kontekstual dan aktual. Dalam perspektif morfologi, fenomena ini menunjukkan produktivitas sistem afiksasi bahasa Indonesia (Bauer, 2003).
3.4.2 Pergeseran Makna dan Kelas Kata dalam Bahasa Media
Salah satu ciri khas bahasa media adalah terjadinya pergeseran makna dan kelas kata. Kata yang secara tradisional termasuk dalam satu kelas kata dapat mengalami perluasan fungsi akibat tuntutan gaya jurnalistik.
Contoh:
· viral (adjektiva) → memviralkan (verba)
· tren (nomina) → ngetren (verba informal)
· konten (nomina) → mengontenkan (verba)
Proses ini menunjukkan bagaimana bentuk kata dalam media tidak hanya mengalami derivasi, tetapi juga reanalisis kelas kata. Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut fenomena ini sebagai category-changing derivation, yang mencerminkan fleksibilitas sistem morfologi dalam merespons kebutuhan komunikasi.
3.4.3 Bahasa Media dan Tantangan Kebakuan
Dari sudut pandang pendidikan bahasa, bahasa media sering dipandang problematis karena:
1. Mengaburkan batas antara bahasa baku dan nonbaku
2. Mempercepat penyebaran bentuk kata tidak baku
3. Mempengaruhi kebiasaan berbahasa peserta didik
Namun, dari perspektif linguistik deskriptif, bahasa media justru merepresentasikan dinamika alami bahasa. Alwi et al. (2014) menegaskan bahwa kebakuan bahasa bukanlah sifat inheren bahasa, melainkan hasil kesepakatan sosial dan institusional.
Oleh karena itu, studi morfologi terhadap bahasa media perlu dilakukan secara kritis dan seimbang, tidak semata-mata normatif, tetapi juga analitis.
3.4.4 Bahasa Pendidikan dan Standarisasi Bentuk Kata
Berbeda dengan bahasa media, bahasa pendidikan berfungsi sebagai penjaga dan penyebar norma kebahasaan. Buku teks, modul pembelajaran, dan dokumen akademik umumnya menggunakan bahasa baku yang telah distandardisasi.
Dalam konteks morfologi, bahasa pendidikan dicirikan oleh:
· Penggunaan bentuk kata baku
· Konsistensi afiksasi sesuai kaidah
· Penghindaran bentuk nonstandar dan slang
Contoh:
· pembelajaran (bukan pembelajaan)
· penilaian (bukan nilaiin)
· ketidaksesuaian (bukan nggak sesuai)
Standarisasi ini penting untuk membangun kesadaran morfologis peserta didik, terutama dalam memahami hubungan antara bentuk dasar dan bentuk turunan.
3.4.5 Studi Kasus: Kata Turunan dalam Buku Teks Pendidikan
Buku teks pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dan perguruan tinggi, menunjukkan kecenderungan penggunaan kata turunan yang bersifat abstrak dan akademik.
Contoh kata yang sering muncul:
· pemahaman
· pengembangan
· implementasi
· evaluasi
Kata-kata tersebut umumnya dibentuk melalui afiksasi dan pemajemukan, dengan tingkat kompleksitas morfologis yang relatif tinggi. Menurut Halliday (2004), bahasa pendidikan cenderung menggunakan nominalisasi, yaitu proses mengubah verba atau adjektiva menjadi nomina abstrak untuk membangun wacana ilmiah.
Dari sudut pandang morfologi, nominalisasi ini memperkaya kosakata akademik, tetapi juga dapat menjadi hambatan pemahaman bagi peserta didik jika tidak disertai penjelasan yang memadai.
3.4.6 Dampak Bahasa Media terhadap Bahasa Pendidikan
Interaksi antara bahasa media dan bahasa pendidikan bersifat dua arah. Di satu sisi, bahasa pendidikan memengaruhi bahasa media melalui istilah-istilah teknis dan akademik. Di sisi lain, bahasa media memengaruhi bahasa pendidikan melalui popularisasi bentuk kata tertentu.
Contoh nyata:
· Istilah literasi digital, hoaks, dan disrupsi awalnya banyak digunakan di media, kemudian masuk ke dalam wacana pendidikan dan kurikulum.
· Bentuk kata seperti pembelajaran daring dan kelas virtual menjadi bagian dari bahasa pendidikan setelah masif digunakan di media.
Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara bahasa media dan bahasa pendidikan bersifat permeabel, terutama pada tingkat leksikal dan morfologis.
3.4.7 Implikasi bagi Kajian Morfologi
Studi kasus bahasa media dan pendidikan memberikan sejumlah implikasi penting bagi kajian morfologi:
1. Menunjukkan produktivitas dan fleksibilitas sistem pembentukan kata
2. Mengungkap hubungan antara bentuk kata dan konteks sosial
3. Menegaskan peran institusi dalam standarisasi bahasa
4. Menjadi dasar pengembangan bahan ajar linguistik yang kontekstual
Haspelmath dan Sims (2010) menekankan bahwa morfologi tidak dapat dilepaskan dari penggunaan bahasa nyata (language use). Oleh karena itu, analisis bentuk kata dalam media dan pendidikan sangat relevan untuk memperkaya kajian teoretis sekaligus aplikatif.
3.4.8 Implikasi Pedagogis
Dalam pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia dan bahasa asing, studi kasus ini dapat dimanfaatkan untuk:
· Meningkatkan kesadaran morfologis siswa
· Melatih kemampuan membedakan bentuk baku dan tidak baku
· Mengembangkan literasi kritis terhadap bahasa media
Guru dan dosen dapat menggunakan teks media sebagai bahan ajar untuk menganalisis proses pembentukan kata, lalu membandingkannya dengan penggunaan kata dalam teks pendidikan. Pendekatan ini menjembatani teori linguistik dengan praktik berbahasa nyata.
Penutup
Studi kasus bahasa media dan pendidikan menunjukkan bahwa kata dan bentuk kata tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi dan konteks sosial. Bahasa media merepresentasikan inovasi dan dinamika morfologis, sementara bahasa pendidikan berperan sebagai penjaga norma dan kebakuan.
Melalui kajian morfologi, perbedaan dan interaksi antara kedua ragam bahasa ini dapat dipahami secara lebih objektif dan ilmiah. Pemahaman ini penting tidak hanya bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik, pembuat kebijakan bahasa, dan masyarakat luas dalam menghadapi tantangan kebahasaan di era digital.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Fairclough, N. (1995). Media discourse. Edward Arnold.
Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.
Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar