Rabu, 14 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.6 Fungsi dan Makna Afiks

Pendahuluan

Fungsi dan Makna Afiks


Afiksasi merupakan salah satu proses morfologis paling produktif dalam bahasa Indonesia. Melalui afiksasi, penutur dapat membentuk kata baru, memperluas makna leksikal, serta menandai hubungan gramatikal dalam kalimat. Namun, pembahasan afiksasi tidak akan lengkap tanpa memahami fungsi dan makna afiks itu sendiri. Afiks tidak hanya berperan sebagai alat pembentuk kata, tetapi juga sebagai penanda makna konseptual, relasi sintaktis, dan nuansa semantis tertentu.

Dalam praktik berbahasa, baik lisan maupun tulis, afiks berkontribusi besar terhadap kekayaan kosakata bahasa Indonesia. Bahasa ilmiah, bahasa pendidikan, bahasa media, dan bahasa birokrasi sangat bergantung pada afiks untuk membentuk istilah abstrak, konsep prosesual, dan relasi sebab-akibat. Oleh karena itu, kajian tentang fungsi dan makna afiks memiliki posisi strategis dalam linguistik, khususnya morfologi dan semantik.

Bagian ini membahas fungsi dan makna afiks dalam bahasa Indonesia secara sistematis, meliputi fungsi gramatikal, fungsi leksikal, makna afiks berdasarkan jenisnya, serta implikasi teoretis dan pedagogis dari penggunaan afiks.

 

4.6.1 Konsep Fungsi dan Makna dalam Afiksasi

Dalam linguistik, fungsi afiks merujuk pada peran struktural atau gramatikal afiks dalam pembentukan kata, sedangkan makna afiks berkaitan dengan kontribusi semantis yang ditambahkan afiks terhadap bentuk dasar.

Katamba (1993) menjelaskan bahwa afiks dapat berfungsi sebagai:

1.      Pembentuk kelas kata baru

2.      Penanda relasi gramatikal

3.      Pengubah atau penambah makna leksikal

Sementara itu, Aronoff dan Fudeman (2011) menegaskan bahwa makna afiks tidak selalu bersifat leksikal murni, melainkan sering kali bersifat gramatikal atau abstrak.

 

4.6.2 Fungsi Gramatikal Afiks

Salah satu fungsi utama afiks adalah fungsi gramatikal, yaitu menandai hubungan kata dalam struktur kalimat.

1. Penanda Kelas Kata

Afiks dapat mengubah kelas kata suatu bentuk dasar.

Contoh:

·         ajar (verba) → pengajaran (nomina)

·         indah (adjektiva) → keindahan (nomina)

Dalam contoh tersebut, afiks tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga mengubah fungsi sintaktis kata dalam kalimat.

2. Penanda Valensi Verba

Afiks seperti -kan dan -i berfungsi menandai jumlah dan jenis argumen yang terlibat dalam suatu peristiwa.

Contoh:

·         memberimemberikan

·         isimengisi

Menurut Alwi et al. (2014), afiks ini berperan penting dalam menentukan struktur objek dan pelengkap dalam kalimat.

3. Penanda Relasi Sintaktis

Afiks juga dapat menandai hubungan seperti kausatif, pasif, resiprokal, atau refleksif.

Contoh:

·         memecahkan (kausatif)

·         berpelukan (resiprokal)

 

4.6.3 Fungsi Leksikal Afiks

Selain fungsi gramatikal, afiks juga memiliki fungsi leksikal, yaitu membentuk leksem baru dengan makna tertentu.

Contoh:

·         tulispenulis

·         bacabacaan

Dalam konteks ini, afiks berperan sebagai pembentuk kosakata baru yang kemudian menjadi entri leksikal tersendiri dalam kamus (Bauer, 2003).

 

4.6.4 Makna Afiks Berdasarkan Jenisnya

Makna afiks dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis afiks yang digunakan.

 

1. Makna Prefiks

Prefiks umumnya memiliki makna yang berkaitan dengan:

·         Pelaku (pe-)

·         Proses (me-)

·         Keadaan (ber-, ter-)

Contoh:

·         pe-pelajar (orang yang belajar)

·         ber-berjalan (melakukan aktivitas)

Makna prefiks sering bersifat abstrak dan bergantung pada konteks sintaktis.

 

2. Makna Sufiks

Sufiks sering berfungsi membentuk:

·         Hasil (-an)

·         Objek atau sasaran (-kan, -i)

·         Penegasan atau kepemilikan (-nya)

Contoh:

·         bangunbangunan

·         ingatingatkan

Sneddon et al. (2010) menyebut sufiks sebagai afiks yang sangat penting dalam pembentukan nomina dan verba transitif.

 

3. Makna Infiks

Infiks dalam bahasa Indonesia memiliki makna yang relatif kabur dan tidak selalu produktif.

Contoh:

·         getargemetar

·         gigigerigi

Makna infiks sering kali bersifat leksikal dan historis, bukan gramatikal aktif.

 

4. Makna Konfiks

Konfiks biasanya membentuk makna:

·         Keadaan (ke-…-an)

·         Proses atau hasil (pe-…-an)

·         Kolektivitas atau institusi (per-…-an)

Contoh:

·         sehatkesehatan

·         bangunpembangunan

Halliday (2004) menekankan bahwa konfiks sangat berperan dalam nominalisasi bahasa ilmiah.

 

4.6.5 Afiks dan Makna Derivatif vs. Inflektif

Dalam kajian morfologi, makna afiks sering dibedakan menjadi derivatif dan inflektif.

·         Makna derivatif: menghasilkan kata baru dengan makna atau kelas kata berbeda.

·         Makna inflektif: menandai fungsi gramatikal tanpa membentuk leksem baru.

Bahasa Indonesia didominasi oleh afiks derivatif, sedangkan afiks inflektif relatif terbatas (Aronoff & Fudeman, 2011).

 

4.6.6 Fungsi Afiks dalam Bahasa Ilmiah dan Pendidikan

Dalam bahasa pendidikan dan akademik, afiks berfungsi untuk:

1.      Membentuk konsep abstrak

2.      Menyusun istilah teknis

3.      Meningkatkan kepadatan informasi

Contoh:

·         pemahaman

·         penguasaan

·         penilaian

Penggunaan afiks ini memungkinkan penyampaian ide kompleks secara ringkas dan sistematis.

 

4.6.7 Implikasi Linguistik dan Pedagogis

Pemahaman fungsi dan makna afiks memiliki implikasi penting, antara lain:

·         Membantu analisis struktur kata

·         Meningkatkan kesadaran morfologis

·         Mendukung kemampuan membaca dan menulis akademik

Carlisle (2000) menunjukkan bahwa kesadaran morfologis berkontribusi signifikan terhadap kemampuan literasi, terutama dalam konteks pendidikan formal.

 

Penutup

Fungsi dan makna afiks merupakan inti dari proses afiksasi dalam bahasa Indonesia. Afiks tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga mengatur relasi gramatikal, memperkaya makna leksikal, dan menopang perkembangan bahasa ilmiah serta pendidikan. Dengan memahami fungsi dan makna afiks secara mendalam, penutur dan pembelajar bahasa Indonesia dapat menggunakan bahasa secara lebih efektif, sistematis, dan bernuansa akademik.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...