Jumat, 23 Januari 2026

Dinamika Morfologi: Membedah Akronim sebagai Inovasi Pembentukan Kata

Dinamika Morfologi

Dalam studi linguistik, khususnya pada cabang morfologi, kita sering terpaku pada proses-proses tradisional seperti afiksasi atau reduplikasi. Namun, perkembangan zaman dan kebutuhan akan efisiensi komunikasi telah melahirkan fenomena yang sangat produktif dalam bahasa Indonesia: Akronim. Sebagai bagian dari Bab 7 mengenai "Proses Morfologis Lain", akronim menempati posisi unik karena ia merupakan jembatan antara efisiensi bahasa dan kreativitas fonologis.

1. Definisi dan Hakikat Akronim

Secara teknis, akronim adalah hasil dari proses abreviasi (pemendekan) yang menggabungkan huruf, suku kata, atau bagian lain dari sebuah deret kata, yang kemudian diperlakukan dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang wajar (Kridalaksana, 2009). Inilah yang membedakan akronim dari singkatan biasa. Jika singkatan seperti KTP dilafalkan per huruf (/ka-te-pe/), maka akronim seperti Daring dilafalkan sebagai satu kesatuan fonetis (/da-ring/).

Harimurti Kridalaksana, dalam karyanya Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia, menekankan bahwa akronim bukan sekadar pemotongan asal-asalan. Ada tuntutan agar hasil pemendekan tersebut memenuhi syarat fonotaktik bahasa Indonesia—artinya, bunyi yang dihasilkan harus sesuai dengan pola suku kata yang lazim di telinga penutur asli agar mudah diingat dan diucapkan.

2. Mengapa Akronim Begitu Populer di Indonesia?

Fenomena akronim di Indonesia sering disebut sebagai "penyakit akronimitis" oleh beberapa kritikus bahasa, namun dari sudut pandang linguistik, ini adalah bukti vitalitas bahasa. Ada beberapa alasan mengapa proses morfologis ini sangat subur:

1.      Ekonomi Bahasa: Sesuai dengan hukum least effort (usaha minimal), manusia cenderung mencari cara tersingkat untuk menyampaikan konsep yang kompleks. Menyebut Puskesmas jauh lebih efisien daripada Pusat Kesehatan Masyarakat.

2.      Eufemisme dan Estetika: Akronim sering digunakan untuk menghaluskan istilah atau membuatnya terdengar lebih profesional dan modern.

3.      Identitas Institusional: Lembaga pemerintahan dan militer di Indonesia memiliki tradisi panjang dalam menciptakan akronim sebagai bagian dari identitas korporat mereka.

 

3. Klasifikasi Akronim dalam Bahasa Indonesia

Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan klasifikasi morfologis standar, akronim dibagi menjadi tiga kategori utama:

3.1 Akronim Nama Diri (Gabungan Huruf Awal)

Ini adalah akronim yang dibentuk dari huruf awal setiap kata dalam nama instansi atau lembaga. Meskipun hanya mengambil huruf awal, ia tetap dilafalkan sebagai kata.

·         LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

·         LAN (Lembaga Administrasi Negara)

·         PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia)

3.2 Akronim Nama Diri (Gabungan Suku Kata)

Jenis ini lebih kreatif karena mengambil suku kata atau fragmen kata untuk membentuk nama yang bermakna atau mudah diingat.

·         Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)

·         Kowani (Kongres Wanita Indonesia)

·         Suramadu (Surabaya–Madura)

3.3 Akronim Bukan Nama Diri

Ini adalah akronim yang merujuk pada konsep umum, objek, atau proses, dan biasanya ditulis dengan huruf kecil seluruhnya.

·         Rudal (Peluru Kendali)

·         Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

·         Daring (Dalam Jaringan)

·         Luring (Luar Jaringan)

 

4. Proses Morfofonemik dalam Pembentukan Akronim

Pembentukan akronim melibatkan proses pemenggalan yang secara morfologis sangat menarik. Tidak seperti afiksasi yang memiliki aturan baku (seperti meN- menjadi mem- jika bertemu huruf p), akronim lebih bersifat arbitrer (manasuka) namun tetap mengikuti rasa bahasa.

A. Penggabungan Suku Kata Awal + Suku Kata Awal

Contoh: Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Di sini, setiap kata diwakili oleh suku kata pertamanya. Proses ini menciptakan kata baru dengan pola KV-KV-KV-KVK yang sangat alami dalam struktur bahasa Melayu/Indonesia.

B. Penggabungan Fragmen Kata yang Tumpang Tindih

Beberapa akronim dibuat dengan mencari irisan bunyi yang sama. Contohnya dalam istilah populer (meskipun bersifat informal) seperti Capers (Cari Pesona).

C. Penyesuaian Bunyi (Asimilasi)

Dalam pembentukan akronim profesional, sering kali terjadi modifikasi kecil agar bunyi tidak janggal. Chaer (2012) menyatakan bahwa proses ini sering kali mengabaikan batas-batas morfem demi mengejar kemudahan artikulasi.

 

5. Dampak Akronim terhadap Tata Bahasa dan Komunikasi

Sebagai "Pusat Referensi Linguistik", kita harus melihat bahwa akronim membawa dampak ganda. Di satu sisi, ia memperkaya kosakata. Kata-kata seperti Sembako (Sembilan Bahan Pokok) kini sudah dianggap sebagai kata dasar baru dalam mental leksikon penutur Indonesia.

Namun, di sisi lain, penggunaan akronim yang berlebihan dapat menciptakan hambatan semantik. Jika sebuah akronim diciptakan secara instan tanpa sosialisasi (misalnya dalam laporan birokrasi yang sangat spesifik), pendengar yang tidak berada dalam lingkaran tersebut akan mengalami kegagalan pemahaman. Ini yang disebut sebagai linguistic elitism, di mana hanya orang-orang tertentu yang memahami "kode" tersebut.

 

6. Aturan Penulisan Akronim Menurut Kaidah Formal

Bagi para penulis dan editor, memahami cara penulisan akronim sangatlah krusial:

1.      Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik (Contoh: BIG, BIN).

2.      Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata ditulis dengan huruf awal kapital (Contoh: Bulog, Bappenas).

3.      Akronim bukan nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kecil (Contoh: puskesmas, rapim).

 

7. Kesimpulan

Akronim adalah manifestasi dari kreativitas linguistik penutur bahasa Indonesia. Sebagai bagian dari proses morfologis non-afiksasi, akronim membuktikan bahwa bahasa tidaklah statis. Ia bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat akan kecepatan dan efisiensi. Bagi pengelola blog linguistik, memahami akronim berarti memahami bagaimana masyarakat kita berpikir dan mengategorikan dunia melalui pemendekan bentuk-bentuk bahasa.

 

Daftar Pustaka

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.

Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

Samsuri. (1988). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.

Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Tarigan, H. G. (2011). Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.

Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...