| Dinamika Morfologi |
Dalam studi linguistik, khususnya pada cabang morfologi, kita sering terpaku pada proses-proses tradisional seperti afiksasi atau reduplikasi. Namun, perkembangan zaman dan kebutuhan akan efisiensi komunikasi telah melahirkan fenomena yang sangat produktif dalam bahasa Indonesia: Akronim. Sebagai bagian dari Bab 7 mengenai "Proses Morfologis Lain", akronim menempati posisi unik karena ia merupakan jembatan antara efisiensi bahasa dan kreativitas fonologis.
1. Definisi dan Hakikat Akronim
Secara teknis, akronim adalah hasil dari proses abreviasi (pemendekan) yang
menggabungkan huruf, suku kata, atau bagian lain dari sebuah deret kata, yang
kemudian diperlakukan dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang wajar
(Kridalaksana, 2009). Inilah yang membedakan akronim dari singkatan biasa. Jika
singkatan seperti KTP dilafalkan per huruf (/ka-te-pe/), maka akronim
seperti Daring dilafalkan sebagai satu kesatuan fonetis (/da-ring/).
Harimurti Kridalaksana, dalam karyanya Pembentukan Kata dalam Bahasa
Indonesia, menekankan bahwa akronim bukan sekadar pemotongan asal-asalan.
Ada tuntutan agar hasil pemendekan tersebut memenuhi syarat fonotaktik
bahasa Indonesia—artinya, bunyi yang dihasilkan harus sesuai dengan pola suku
kata yang lazim di telinga penutur asli agar mudah diingat dan diucapkan.
2. Mengapa Akronim Begitu Populer di Indonesia?
Fenomena akronim di Indonesia sering disebut sebagai "penyakit
akronimitis" oleh beberapa kritikus bahasa, namun dari sudut pandang
linguistik, ini adalah bukti vitalitas bahasa. Ada beberapa alasan mengapa
proses morfologis ini sangat subur:
1. Ekonomi Bahasa: Sesuai dengan hukum least effort
(usaha minimal), manusia cenderung mencari cara tersingkat untuk menyampaikan
konsep yang kompleks. Menyebut Puskesmas jauh lebih efisien daripada Pusat
Kesehatan Masyarakat.
2. Eufemisme dan Estetika: Akronim sering digunakan untuk
menghaluskan istilah atau membuatnya terdengar lebih profesional dan modern.
3. Identitas Institusional: Lembaga pemerintahan dan militer
di Indonesia memiliki tradisi panjang dalam menciptakan akronim sebagai bagian
dari identitas korporat mereka.
3. Klasifikasi Akronim dalam Bahasa Indonesia
Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan
klasifikasi morfologis standar, akronim dibagi menjadi tiga kategori utama:
3.1 Akronim Nama Diri (Gabungan Huruf Awal)
Ini adalah akronim yang dibentuk dari huruf awal setiap kata dalam nama
instansi atau lembaga. Meskipun hanya mengambil huruf awal, ia tetap dilafalkan
sebagai kata.
·
LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia)
·
LAN (Lembaga
Administrasi Negara)
·
PASI (Persatuan
Atletik Seluruh Indonesia)
3.2 Akronim Nama Diri (Gabungan Suku Kata)
Jenis ini lebih kreatif karena mengambil suku kata atau fragmen kata untuk
membentuk nama yang bermakna atau mudah diingat.
·
Bappenas (Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional)
·
Kowani (Kongres
Wanita Indonesia)
·
Suramadu
(Surabaya–Madura)
3.3 Akronim Bukan Nama Diri
Ini adalah akronim yang merujuk pada konsep umum, objek, atau proses, dan
biasanya ditulis dengan huruf kecil seluruhnya.
·
Rudal (Peluru
Kendali)
·
Iptek (Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi)
·
Daring (Dalam
Jaringan)
·
Luring (Luar
Jaringan)
4. Proses Morfofonemik dalam Pembentukan Akronim
Pembentukan akronim melibatkan proses pemenggalan yang secara morfologis
sangat menarik. Tidak seperti afiksasi yang memiliki aturan baku (seperti meN-
menjadi mem- jika bertemu huruf p), akronim lebih bersifat arbitrer
(manasuka) namun tetap mengikuti rasa bahasa.
A. Penggabungan Suku Kata Awal + Suku Kata Awal
Contoh: Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan). Di sini, setiap kata
diwakili oleh suku kata pertamanya. Proses ini menciptakan kata baru dengan
pola KV-KV-KV-KVK yang sangat alami dalam struktur bahasa Melayu/Indonesia.
B. Penggabungan Fragmen Kata yang Tumpang Tindih
Beberapa akronim dibuat dengan mencari irisan bunyi yang sama. Contohnya
dalam istilah populer (meskipun bersifat informal) seperti Capers (Cari
Pesona).
C. Penyesuaian Bunyi (Asimilasi)
Dalam pembentukan akronim profesional, sering kali terjadi modifikasi kecil
agar bunyi tidak janggal. Chaer (2012) menyatakan bahwa proses ini sering kali
mengabaikan batas-batas morfem demi mengejar kemudahan artikulasi.
5. Dampak Akronim terhadap Tata Bahasa dan
Komunikasi
Sebagai "Pusat Referensi Linguistik", kita harus melihat bahwa
akronim membawa dampak ganda. Di satu sisi, ia memperkaya kosakata. Kata-kata
seperti Sembako (Sembilan Bahan Pokok) kini sudah dianggap sebagai kata
dasar baru dalam mental leksikon penutur Indonesia.
Namun, di sisi lain, penggunaan akronim yang berlebihan dapat menciptakan hambatan
semantik. Jika sebuah akronim diciptakan secara instan tanpa sosialisasi
(misalnya dalam laporan birokrasi yang sangat spesifik), pendengar yang tidak
berada dalam lingkaran tersebut akan mengalami kegagalan pemahaman. Ini yang
disebut sebagai linguistic elitism, di mana hanya orang-orang tertentu
yang memahami "kode" tersebut.
6. Aturan Penulisan Akronim Menurut Kaidah
Formal
Bagi para penulis dan editor, memahami cara penulisan akronim sangatlah
krusial:
1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital tanpa tanda titik (Contoh: BIG, BIN).
2. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata ditulis
dengan huruf awal kapital (Contoh: Bulog, Bappenas).
3. Akronim bukan nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf
kecil (Contoh: puskesmas, rapim).
7. Kesimpulan
Akronim adalah manifestasi dari kreativitas linguistik penutur bahasa
Indonesia. Sebagai bagian dari proses morfologis non-afiksasi, akronim
membuktikan bahwa bahasa tidaklah statis. Ia bergerak mengikuti kebutuhan
masyarakat akan kecepatan dan efisiensi. Bagi pengelola blog linguistik,
memahami akronim berarti memahami bagaimana masyarakat kita berpikir dan
mengategorikan dunia melalui pemendekan bentuk-bentuk bahasa.
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2009). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. (2014). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Ramlan, M. (2012). Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta:
CV Karyono.
Samsuri. (1988). Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Tarigan, H. G. (2011). Pengajaran Morfologi. Bandung: Angkasa.
Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar