Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
4.3 Sufiks
Pendahuluan
| Sufiks |
Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, sufiks atau akhiran merupakan salah satu jenis afiks yang memiliki peran penting dalam pembentukan kata. Jika prefiks dilekatkan di awal bentuk dasar, sufiks justru dibubuhkan di bagian akhir. Meskipun secara jumlah tidak sebanyak prefiks, sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat strategis, terutama dalam pembentukan nomina, verba, dan adjektiva, serta dalam pengembangan makna dan fungsi gramatikal kata.
Kata-kata seperti tulisan, bacaan, harapkan, besarnya, dan manusiawi menunjukkan bagaimana sufiks bekerja secara sistematis untuk mengubah kelas kata, memperluas makna, atau menandai relasi sintaktis tertentu. Dalam bahasa akademik dan pendidikan, penggunaan sufiks bahkan sangat dominan, terutama dalam pembentukan istilah abstrak dan nominalisasi.
Bagian ini membahas secara komprehensif konsep sufiks dalam bahasa Indonesia, mencakup pengertian sufiks, karakteristik morfologisnya, jenis-jenis sufiks utama, fungsi dan makna sufiks, serta implikasinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.
4.3.1 Pengertian Sufiks
Sufiks adalah afiks yang dilekatkan pada bagian akhir bentuk dasar. Dalam linguistik, sufiks termasuk morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya memiliki makna atau fungsi apabila bergabung dengan bentuk dasar tertentu.
Menurut Katamba (1993), sufiks merupakan afiks yang secara struktural berada di posisi kanan bentuk dasar dan berfungsi membentuk kata baru atau menandai fungsi gramatikal tertentu. Dalam bahasa Indonesia, sufiks umumnya bersifat derivatif, meskipun dalam konteks tertentu juga memiliki fungsi inflektif.
Alwi et al. (2014) mendefinisikan sufiks sebagai imbuhan akhir yang dibubuhkan pada kata dasar untuk membentuk kata turunan dengan makna atau kelas kata tertentu. Dengan demikian, sufiks dapat dipahami sebagai:
afiks yang dibubuhkan di belakang bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau menandai hubungan gramatikal tertentu.
4.3.2 Karakteristik Sufiks dalam Bahasa Indonesia
Sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik utama, antara lain:
1.
Melekat
pada akhir bentuk dasar
Posisi sufiks selalu berada di sisi kanan bentuk dasar.
2.
Produktif
dalam pembentukan nomina
Banyak sufiks digunakan untuk membentuk nomina abstrak atau konkret.
3.
Sering
berfungsi derivatif
Sufiks umumnya mengubah makna leksikal dan/atau kelas kata.
4.
Berperan
dalam nominalisasi
Bahasa Indonesia sangat bergantung pada sufiks untuk membentuk istilah akademik
dan ilmiah.
Menurut Bauer (2003), karakteristik ini menjadikan sufiks sebagai elemen penting dalam pengembangan kosakata dan wacana ilmiah.
4.3.3 Jenis-Jenis Sufiks dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki sejumlah sufiks yang produktif dan sering digunakan. Berikut pembahasan sufiks-sufiks utama.
1. Sufiks -an
Sufiks -an merupakan salah satu sufiks paling produktif dalam bahasa Indonesia. Sufiks ini umumnya membentuk nomina dari verba atau adjektiva.
Contoh:
· tulis → tulisan
· baca → bacaan
· bangun → bangunan
Secara semantis, sufiks -an dapat menyatakan:
· Hasil perbuatan
· Alat
· Tempat
Sneddon et al. (2010) menyebut -an sebagai sufiks multifungsi karena variasi makna yang dihasilkannya.
2. Sufiks -kan
Sufiks -kan berfungsi membentuk verba transitif kausatif atau aplikatif.
Contoh:
· besar → besarkan
· ingat → ingatkan
Sufiks ini sering digunakan untuk menandai bahwa subjek menyebabkan terjadinya suatu peristiwa terhadap objek. Dalam analisis sintaksis, sufiks -kan berkaitan erat dengan peningkatan valensi verba.
3. Sufiks -i
Sufiks -i membentuk verba transitif yang menyatakan tindakan berulang, lokasi, atau sasaran tertentu.
Contoh:
· isi → isi → mengisi → mengisi-i
· hiasi
· lengkapi
Sufiks -i sering dibandingkan dengan -kan, dan perbedaan penggunaannya menjadi salah satu topik penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia (Alwi et al., 2014).
4. Sufiks -nya
Sufiks -nya memiliki fungsi yang lebih beragam dibandingkan sufiks lain. Sufiks ini dapat berfungsi sebagai:
· Penanda posesif
· Penanda penegasan
· Pembentuk nomina tertentu
Contoh:
· bukunya
· indahnya pemandangan
Secara morfologis, -nya sering dianggap berada di batas antara morfologi dan sintaksis.
5. Sufiks -wan / -wati
Sufiks -wan dan -wati digunakan untuk membentuk nomina yang merujuk pada pelaku atau profesi.
Contoh:
· seni → seniman
· olahraga → olahragawan
Sufiks ini memiliki nuansa formal dan sering digunakan dalam bahasa tulis dan bahasa resmi.
6. Sufiks -isme / -isasi
Sufiks -isme dan -isasi banyak digunakan dalam pembentukan istilah ilmiah dan akademik.
Contoh:
· nasionalisme
· modernisasi
Menurut Halliday (2004), penggunaan sufiks ini mencerminkan kecenderungan nominalisasi dalam bahasa ilmiah.
4.3.4 Sufiks dan Perubahan Kelas Kata
Sufiks berperan besar dalam mengubah kelas kata, terutama:
· Verba → Nomina
· Adjektiva → Nomina
· Nomina → Verba
Contoh:
· ajar → ajaran
· bersih → kebersihan
Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut proses ini sebagai derivasi leksikal yang memperkaya sistem kosakata bahasa.
4.3.5 Sufiks dalam Bahasa Media dan Pendidikan
Dalam bahasa media, sufiks sering digunakan untuk menciptakan kata yang ringkas dan komunikatif, seperti tayangan, laporan, dan penayangan. Dalam bahasa pendidikan, sufiks mendominasi pembentukan istilah abstrak seperti pemahaman, penguasaan, dan penilaian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sufiks berperan penting dalam membentuk gaya bahasa dan tingkat formalitas suatu teks.
4.3.6 Implikasi Pembelajaran Sufiks
Pemahaman sufiks membantu peserta didik:
1. Memahami struktur kata kompleks
2. Mengembangkan kosakata akademik
3. Meningkatkan kemampuan menulis
Kesadaran morfologis terhadap sufiks terbukti berkontribusi terhadap kemampuan literasi, terutama dalam konteks pendidikan formal (Carlisle, 2000).
Penutup
Sufiks merupakan komponen penting dalam sistem afiksasi bahasa Indonesia. Melalui sufiks, bahasa Indonesia mampu membentuk kata turunan yang kaya makna dan fungsi gramatikal, terutama dalam ranah akademik dan pendidikan. Pemahaman yang mendalam mengenai sufiks menjadi fondasi penting untuk kajian morfologi lanjutan serta pengajaran bahasa yang efektif dan berbasis linguistik.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604
Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.
Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.
Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar