Senin, 12 Januari 2026

Mengurai Bentuk dan Makna: Jenis-Jenis Reduplikasi dalam Bahasa Indonesia

Mengurai Bentuk dan Makna: Jenis-Jenis Reduplikasi dalam Bahasa Indonesia

Blog: Pusat Referensi Linguistik

Pengantar: Fenomena Pengulangan yang Tak Sederhana

Jenis-Jenis Reduplikasi

Reduplikasi, atau proses morfologis yang melibatkan pengulangan seluruh atau sebagian bentuk dasar kata, adalah salah satu ciri khas paling menonjol dalam bahasa Indonesia dan banyak bahasa Nusantara lainnya. Bagi penutur awam, pengulangan seperti “buku-buku”, “rumah-rumah”, atau “lari-lari” mungkin terlihat sebagai hal yang sederhana. Namun, di balik kesederhanaan bentuknya, tersimpan kekayaan makna, fungsi gramatikal, dan variasi struktural yang sangat kompleks. Bab ini akan mengajak kita menyelami lebih dalam, khususnya pada bagian 5.2: Jenis-Jenis Reduplikasi. Pemahaman terhadap klasifikasi reduplikasi ini bukan hanya penting untuk analisis linguistik, tetapi juga untuk penggunaan bahasa yang lebih cermat dan apresiasi terhadap keunikan sistem kebahasaan kita.

1. Reduplikasi Berdasarkan Bentuk Struktural

Klasifikasi pertama dan paling mendasar adalah berdasarkan bentuk atau struktur pengulangannya. Kategori ini melihat seberapa banyak dan bagaimana bagian dari bentuk dasar yang diulang.

a. Reduplikasi Penuh (Dwilingga)

Ini adalah jenis yang paling mudah dikenali, di mana seluruh bentuk dasar (bisa berupa morfem dasar atau akar kata) diulang tanpa perubahan.

·         Contoh: bukubuku-buku, makanmakan-makan, cantikcantik-cantik.

·         Fungsi: Sangat beragam, dapat menyatakan jamak (buku-buku), intensitas (cantik-cantik), saling/resiprokal (pukul-memukul dalam bentuknya yang lain), atau tindakan yang dilakukan sambil lalu (makan-makan).

b. Reduplikasi Sebagian (Dwipurwa)

Hanya sebagian dari bentuk dasar, biasanya suku kata pertama, yang diulang. Suku kata yang diulang ini sering kali mendapatkan vokal /e/ (schwa) atau vokal tetap.

·         Contoh: lelaki (dari dasar laki), tetangga (dari dasar tangga), sesama (dari dasar sama), jejajar (dari dasar jajar).

·         Fungsi: Sering membentuk kata benda dan dapat mengandung makna “satu” atau “sejenis” (sesama = orang yang sama; sejenis). Perlu dicatat bahwa banyak kata hasil reduplikasi sebagian yang telah mengalami leksikalisasi (menjadi kata mandiri) sehingga keterkaitannya dengan bentuk dasar tidak selalu disadari penutur, seperti pada lelaki dan tetangga (Chaer, 2012).

c. Reduplikasi dengan Afiksasi (Dwilingga Salin Suara atau Reduplikasi Berimbuhan)

Proses reduplikasi terjadi bersamaan dengan penambahan afiks (awalan, akhiran, sisipan, atau kombinasinya). Bentuk dasar dapat diulang seluruhnya atau mengalami perubahan fonem.

·         Contoh:

o    Ber- + redup: ber-lari-lari, ber-main-main.

o    MeN- + redup: me-mukul-mukul, me-lihat-lihat.

o    Redup + -an: makan-makanan, lari-larian.

o    Redup + -nya: baik-baiknya, cepat-cepatnya.

·         Fungsi: Makna menjadi lebih spesifik. Bermain-main menyatakan aktivitas dilakukan untuk bersenang-senang, tidak serius. Memukul-mukul dapat berarti tindakan berulang atau dilakukan pada beberapa objek. Akhiran -an pada reduplikasi sering membentuk kata benda (makan-makanan) atau memberi nuansa kolektif/tidak sungguh-sungguh (lari-larian).

d. Reduplikasi dengan Perubahan Fonem (Dwilingga Salin Suara)
Seluruh bentuk dasar diulang, namun terjadi perubahan pada salah satu fonem (biasanya vokal atau konsonan) pada salah satu unsurnya.

·         Contoh: gerak-gerik (perubahan vokal: a-i), lalu-lalang (perubahan vokal: u-a), sayur-mayur (perubahan konsonan: s-m), ramah-tamah (perubahan konsonan: r-t).

·         Fungsi: Jenis ini hampir selalu mengalami leksikalisasi dan membentuk kata baru dengan makna yang sering kali idiomatis atau menyatakan keberagaman dalam satu kategori (sayur-mayur = aneka macam sayuran) (Sneddon, 1996).

2. Reduplikasi Berdasarkan Kategori Kata dan Fungsi Gramatikal

Selain struktur, reduplikasi juga diklasifikasikan berdasarkan perubahan kelas kata atau fungsi gramatikal yang dihasilkan.

a. Reduplikasi Nomina

Bertujuan membentuk atau memodifikasi makna kata benda.

·         Contoh: rumah-rumah (jamak), anak-anakan (tiruan/boneka), mobil-mobilan (mainan berbentuk mobil).

·         Fungsi: Menyatakan jamak, tiruan, atau menyerupai.

b. Reduplikasi Verba

Bertujuan membentuk atau memodifikasi makna kata kerja.

·         Contoh: melihat-lihat (melakukan kegiatan sambil lalu/tidak intens), tidur-tidur (berbuat seolah-olah, pura-pura), pukul-memukul (saling memukul).

·         Fungsi: Menyatakan tindakan bersifat tidak intensif, bersifat resiprokal, atau dilakukan berkali-kali.

c. Reduplikasi Adjektiva (Kata Sifat)

Bertujuan memodifikasi makna kata sifat.

·         Contoh: besar-besar (jamak: hal-hal yang besar), tinggi-tinggi (intensitas: sangat tinggi), kecil-kecilan (bersifat tidak sesungguhnya/sambilan).

·         Fungsi: Menguatkan/mengintensifkan makna, menyatakan jamak pada sifat, atau memberikan makna “agak” (terutama dengan akhiran -an).

d. Reduplikasi Numeralia (Kata Bilangan)

·         Contoh: dua-dua (berdua-dua, dalam kelompok berdua), satu-satu (satu per satu).

·         Fungsi: Menyatakan distributif atau cara dalam kelompok.

3. Reduplikasi Berdasarkan Makna Semantik

Klasifikasi ini fokus pada nuansa makna yang ditimbulkan oleh proses reduplikasi.

a. Reduplikasi Bermakna Jamak
Fungsi paling produktif. Berlaku untuk nomina (pohon-pohon), adjektiva (merah-merah = banyak yang merah), dan verba tertentu.

·         Catatan: Reduplikasi bukan satu-satunya penanda jamak dalam bahasa Indonesia, yang konteksnya juga sangat berperan (Alwi et al., 2003).

b. Reduplikasi Bermakna Intensitas atau Penguatan
Banyak ditemui pada adjektiva (cantik-cantik, pandai-pandai) dan beberapa verba (menangis-nangis = menangis tersedu-sedu).

c. Reduplikasi Bermakna Resiprokal (Saling)
Biasanya pada verba dengan pola V-meV atau ber-V-V.

·         Contoh: saling pukul-memukul, ber-tinju-tinju (saling meninju).

d. Reduplikasi Bermakna “Menyerupai” atau “Agak”
Sering ditandai dengan akhiran -an.

·         Contoh: kebarat-baratan (bersifat atau berperilaku seperti orang Barat), kuning-kuningan (agak kuning).

e. Reduplikasi Bermakna Keberagaman atau Kolektivitas

·         Contoh: sayur-mayur (beragam sayur), buah-buahan (koleksi berbagai buah).

f. Reduplikasi Bermakna Tidak Sungguh-Sungguh atau Sambilan

·         Contoh: baca-baca (membaca sekadar pengisi waktu), kerja-kerjakan (mengerjakan sesuatu sebagai sambilan).

Implikasi dan Tantangan dalam Kajian Reduplikasi

Memahami jenis-jenis reduplikasi memiliki implikasi praktis. Dalam pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), misalnya, pemahaman bahwa makan-makan berbeda dengan makan sangatlah krusial. Demikian pula dalam penerjemahan, karena tidak semua bahasa memiliki sistem reduplikasi yang seluas bahasa Indonesia.

Tantangannya terletak pada batas yang kadang kabur. Banyak bentuk reduplikasi, khususnya yang telah leksikalisasi seperti tanggung jawab (bukan tanggung-tanggung jawab) atau mondar-mandir, harus dihafal sebagai kosakata mandiri. Selain itu, produktivitas setiap jenis berbeda. Reduplikasi penuh dan berimbuhan sangat produktif (masih bisa menghasilkan kata baru), sementara reduplikasi dengan perubahan fonem sudah tidak produktif lagi (Kridalaksana, 2007).

Kesimpulan

Jenis-jenis reduplikasi dalam bahasa Indonesia memperlihatkan betapa proses pengulangan ini bukan sekadar alat gramatikal yang kaku, melainkan sumber kreativitas bahasa yang dinamis. Dari menyatakan jumlah hingga menciptakan nuansa makna yang halus, reduplikasi adalah bukti efisiensi dan keindahan sistem morfologi bahasa kita. Dengan memahami klasifikasi berdasarkan struktur, fungsi, dan makna, kita dapat lebih menghargai setiap “kata yang berulang” yang kita ucapkan dan tulis, serta menggunakan alat linguistik yang powerful ini dengan lebih tepat guna. Sebagai pusat referensi linguistik, pemahaman mendalam tentang reduplikasi adalah kunci untuk membuka salah satu peti harta karun kebahasaan Nusantara yang paling berkilau.

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.

Chaer, A. (2012). Linguistik umum. Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2007). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Sneddon, J. N. (1996). Indonesian: A comprehensive grammar. Routledge.

 

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...