Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
4.5 Konfiks
Pendahuluan
| Konfiks |
Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, afiksasi tidak hanya melibatkan prefiks, sufiks, dan infiks secara terpisah, tetapi juga kombinasi afiks yang bekerja secara simultan. Salah satu bentuk kombinasi tersebut dikenal dengan istilah konfiks. Konfiks merupakan ciri khas penting bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara, karena penggunaannya sangat produktif dan berperan besar dalam pembentukan kata turunan, terutama dalam ragam formal, akademik, dan ilmiah.
Kata-kata seperti keindahan, kesehatan, pelaksanaan, ketidakhadiran, dan pengajaran merupakan contoh nyata bagaimana konfiks bekerja sebagai satu kesatuan morfologis. Tanpa pemahaman konfiks, analisis morfologi bahasa Indonesia akan terasa timpang, karena sebagian besar kosakata abstrak dan istilah konseptual dibentuk melalui proses ini.
Bagian ini membahas konfiks secara komprehensif, mencakup pengertian, karakteristik, jenis-jenis konfiks utama dalam bahasa Indonesia, fungsi semantis dan gramatikalnya, tingkat produktivitas, serta implikasinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.
'
4.5.1 Pengertian Konfiks
Konfiks adalah gabungan dua afiks atau lebih yang dilekatkan secara bersamaan pada bentuk dasar, biasanya berupa prefiks dan sufiks, yang berfungsi sebagai satu kesatuan morfologis. Prefiks dan sufiks dalam konfiks tidak dapat dipisahkan tanpa menghilangkan atau mengubah makna kata.
Menurut Alwi et al. (2014), konfiks adalah imbuhan yang terdiri atas dua bagian yang secara serentak mengapit bentuk dasar. Dengan kata lain, konfiks bukan sekadar prefiks + sufiks biasa, melainkan satu unit afiksasi yang utuh.
Sebagai contoh, pada kata keindahan, konfiks ke-…-an harus hadir secara bersamaan. Bentuk keindah atau indahan tidak memiliki makna yang sama atau bahkan tidak gramatikal.
4.5.2 Ciri-Ciri Konfiks
Konfiks memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari afiks tunggal dan kombinasi afiks bebas.
1.
Bersifat
simultan
Prefiks dan sufiks muncul bersamaan dalam satu proses pembentukan kata.
2.
Tidak
dapat dipisahkan
Salah satu unsur konfiks tidak dapat berdiri sendiri tanpa mengubah makna.
3.
Produktif
Konfiks sangat produktif dalam bahasa Indonesia modern.
4.
Dominan
dalam pembentukan nomina abstrak
Banyak istilah konseptual dan akademik dibentuk melalui konfiks.
Bauer (2003) menegaskan bahwa konfiks dalam bahasa Indonesia merupakan contoh proses morfologis yang sangat sistematis dan stabil.
4.5.3 Perbedaan Konfiks dan Kombinasi Afiks
Penting untuk membedakan antara konfiks dan kombinasi afiks biasa. Kombinasi afiks biasa terjadi secara bertahap dan masing-masing afiks tetap memiliki makna independen.
Contoh:
· me- + -kan pada menuliskan → proses bertahap
Sebaliknya, konfiks bekerja sebagai satu kesatuan:
· ke-…-an pada kebersihan
Menurut Aronoff dan Fudeman (2011), perbedaan ini bersifat struktural dan semantis, bukan sekadar posisi afiks.
4.5.4 Jenis-Jenis Konfiks dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki beberapa konfiks utama yang sangat produktif. Berikut pembahasannya.
1. Konfiks ke-…-an
Konfiks ke-…-an merupakan konfiks paling produktif dalam bahasa Indonesia.
Contoh:
· indah → keindahan
· sehat → kesehatan
· hadir → kehadiran
Fungsi utama konfiks ini adalah membentuk nomina abstrak dari adjektiva atau verba.
2. Konfiks pe-…-an
Konfiks pe-…-an membentuk nomina yang berhubungan dengan proses, hasil, atau tempat terjadinya suatu perbuatan.
Contoh:
· ajar → pengajaran
· bangun → pembangunan
· laksana → pelaksanaan
Konfiks ini sangat dominan dalam bahasa administrasi, pendidikan, dan kebijakan publik.
3. Konfiks per-…-an
Konfiks per-…-an sering membentuk nomina yang bermakna kolektif, abstrak, atau institusional.
Contoh:
· aturan → peraturan
· kampung → perkampungan
Menurut Sneddon et al. (2010), konfiks ini memiliki nuansa formal yang kuat.
4. Konfiks ber-…-an
Konfiks ber-…-an membentuk verba resiprokal atau menyatakan keadaan saling melakukan.
Contoh:
· peluk → berpelukan
· pandangan → berpandangan
Konfiks ini menandai hubungan timbal balik antarpartisipan.
5. Konfiks ter-…-kan / ter-…-i
Dalam beberapa analisis, bentuk seperti ter-…-kan dianggap sebagai konfiks karena bekerja secara simultan.
Contoh:
· terkendalikan
· terhubungi
Namun, klasifikasi ini masih menjadi perdebatan dalam kajian linguistik.
4.5.5 Fungsi Semantis dan Gramatikal Konfiks
Konfiks memiliki fungsi utama sebagai:
1. Pembentuk nomina abstrak
2. Penanda proses atau keadaan
3. Pengubah kelas kata
4. Penanda relasi sintaktis tertentu
Halliday (2004) menekankan bahwa konfiks berperan penting dalam nominalisasi, terutama dalam bahasa ilmiah dan akademik.
4.5.6 Produktivitas Konfiks dalam Bahasa Modern
Konfiks tergolong sangat produktif dan terus berkembang. Kata-kata baru dalam bahasa Indonesia sering kali dibentuk menggunakan konfiks, terutama dalam:
· Bahasa kebijakan publik
· Bahasa pendidikan
· Bahasa media
Contoh:
· digitalisasi → pendigitalisasian
· global → pengglobalan
Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas sistem konfiks bahasa Indonesia.
4.5.7 Konfiks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam pembelajaran bahasa, konfiks memiliki nilai pedagogis yang tinggi karena:
· Membantu memahami struktur kata kompleks
· Mengembangkan kosakata akademik
· Meningkatkan kemampuan menulis formal
Kesadaran terhadap konfiks terbukti meningkatkan literasi akademik mahasiswa (Carlisle, 2000).
Penutup
Konfiks merupakan salah satu ciri paling menonjol dalam sistem afiksasi bahasa Indonesia. Dengan produktivitas yang tinggi dan fungsi semantis yang kaya, konfiks menjadi tulang punggung pembentukan kata abstrak dan istilah ilmiah. Pemahaman konfiks tidak hanya penting bagi kajian linguistik, tetapi juga krusial dalam pengajaran bahasa dan pengembangan kemampuan literasi akademik.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604
Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.
Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar