Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
4.1 Pengertian Afiksasi
Pendahuluan
| Pengertian Afiksasi |
Afiksasi merupakan salah satu proses morfologis paling penting dan paling produktif dalam bahasa Indonesia. Melalui afiksasi, penutur bahasa dapat membentuk kata baru, mengubah kelas kata, memperluas makna, serta menyesuaikan fungsi gramatikal kata sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Hampir seluruh aktivitas berbahasa, baik dalam ranah lisan maupun tulis—termasuk bahasa media, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmiah—tidak dapat dilepaskan dari proses afiksasi.
Dalam kajian linguistik, afiksasi tidak hanya dipahami sebagai penambahan imbuhan pada kata dasar, tetapi juga sebagai mekanisme sistemik yang mencerminkan struktur internal bahasa. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian afiksasi menjadi landasan konseptual yang sangat penting sebelum membahas jenis-jenis afiks, fungsi afiks, dan pola afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Bagian ini secara khusus membahas pengertian afiksasi dari perspektif morfologi, mencakup definisi afiksasi, posisi afiks dalam struktur kata, hubungan afiksasi dengan bentuk dasar, serta peran afiksasi dalam sistem gramatikal bahasa Indonesia.
4.1.1 Morfologi dan Proses Pembentukan Kata
Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Menurut Katamba (1993), morfologi berfokus pada bagaimana kata dibangun dari satuan yang lebih kecil, yaitu morfem, serta bagaimana perubahan bentuk tersebut memengaruhi makna dan fungsi gramatikal.
Dalam morfologi, terdapat beberapa proses pembentukan kata utama, antara lain:
1. Afiksasi
2. Reduplikasi
3. Pemajemukan
4. Pemendekan
Di antara proses-proses tersebut, afiksasi merupakan proses yang paling sistematis dan paling produktif dalam bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya afiks yang tersedia serta luasnya variasi kata turunan yang dapat dihasilkan dari satu bentuk dasar.
4.1.2 Pengertian Afiksasi
Secara umum, afiksasi dapat didefinisikan sebagai proses morfologis yang melibatkan penambahan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau bentuk kata baru. Aronoff dan Fudeman (2011) menyatakan bahwa afiksasi adalah salah satu mekanisme utama dalam derivasi dan infleksi, yaitu proses yang menghasilkan perubahan makna leksikal dan/atau fungsi gramatikal.
Dalam konteks bahasa Indonesia, Alwi et al. (2014) mendefinisikan afiksasi sebagai proses pembubuhan imbuhan pada bentuk dasar, baik di awal, di tengah, maupun di akhir kata. Imbuhan tersebut disebut afiks, sedangkan hasil dari proses afiksasi disebut kata berafiks.
Dengan demikian, afiksasi dapat dipahami sebagai:
proses pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar sehingga menghasilkan bentuk kata baru yang memiliki makna dan/atau fungsi gramatikal tertentu.
4.1.3 Afiks dan Bentuk Dasar
Dalam afiksasi, terdapat dua unsur utama yang selalu terlibat, yaitu afiks dan bentuk dasar. Afiks adalah morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri, sedangkan bentuk dasar adalah satuan morfologis yang menjadi landasan pembentukan kata.
Contoh:
· tulis → menulis
· ajar → pengajaran
· adil → ketidakadilan
Dalam contoh tersebut, tulis, ajar, dan adil berfungsi sebagai bentuk dasar, sedangkan me-, pe- -an, dan ke- -an merupakan afiks.
Menurut Bauer (2003), bentuk dasar dalam afiksasi tidak selalu berupa morfem tunggal. Bentuk dasar dapat berupa kata yang sudah mengalami proses morfologis sebelumnya, selama bentuk tersebut masih dapat menerima afiks tambahan.
4.1.4 Afiksasi sebagai Proses Derivasi dan Infleksi
Dalam linguistik, afiksasi sering dikaitkan dengan dua jenis proses utama, yaitu derivasi dan infleksi.
1. Afiksasi Derivatif
Afiksasi derivatif adalah afiksasi yang menghasilkan kata baru dengan makna
leksikal baru dan sering kali mengubah kelas kata.
Contoh:
o baca (verba) → pembaca (nomina)
o indah (adjektiva) → keindahan (nomina)
2. Afiksasi Inflektif
Afiksasi inflektif adalah afiksasi yang tidak menghasilkan kata baru, tetapi
hanya menandai fungsi gramatikal tertentu, seperti aspek, diatesis, atau relasi
sintaktis.
Dalam bahasa Indonesia, afiks inflektif tidak seproduktif bahasa-bahasa flektif, tetapi dapat ditemukan dalam prefiks seperti di- pada verba pasif.
Haspelmath dan Sims (2010) menegaskan bahwa perbedaan derivasi dan infleksi bersifat gradual, bukan mutlak, terutama dalam bahasa yang kaya afiksasi seperti bahasa Indonesia.
4.1.5 Karakteristik Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
Afiksasi dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik utama, antara lain:
1. Produktivitas Tinggi
Satu bentuk dasar dapat menghasilkan banyak kata turunan melalui afiksasi.
Contoh:
o ajar → mengajar, pengajar, pelajaran, pengajaran
2. Relatif Transparan Secara Morfologis
Hubungan antara bentuk dasar dan kata berafiks umumnya masih dapat dikenali.
3. Berfungsi Sintaktis dan Semantis
Afiksasi tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga memengaruhi fungsi
sintaktis dan makna leksikal.
Menurut Sneddon et al. (2010), karakteristik ini menjadikan afiksasi sebagai ciri khas utama morfologi bahasa Indonesia.
4.1.6 Afiksasi dan Kelas Kata
Afiksasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelas kata. Banyak afiks dalam bahasa Indonesia secara spesifik berfungsi membentuk kelas kata tertentu.
Contoh:
· Afiks pembentuk verba: me-, di-, ber-
· Afiks pembentuk nomina: pe-, ke- -an, -an
· Afiks pembentuk adjektiva: ter-, ke- -an
Hubungan ini menunjukkan bahwa afiksasi merupakan mekanisme utama dalam klasifikasi kata dan pengembangan kosakata bahasa Indonesia.
4.1.7 Afiksasi dalam Penggunaan Bahasa Nyata
Dalam penggunaan bahasa nyata, afiksasi hadir di hampir semua ragam bahasa, mulai dari bahasa percakapan hingga bahasa akademik. Namun, tingkat kebakuan dan kompleksitas afiksasi dapat berbeda-beda.
· Bahasa media cenderung menggunakan afiksasi yang ringkas dan komunikatif.
· Bahasa pendidikan menggunakan afiksasi yang baku dan sistematis.
· Bahasa ilmiah banyak memanfaatkan nominalisasi melalui afiksasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa afiksasi tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kontekstual dan fungsional.
4.1.8 Implikasi Afiksasi bagi Kajian Linguistik dan Pendidikan
Pemahaman yang baik tentang afiksasi memiliki implikasi luas, antara lain:
1. Mempermudah analisis morfologis
2. Meningkatkan kesadaran gramatikal pembelajar bahasa
3. Membantu pengembangan kosakata secara sistematis
4. Menjadi dasar pengajaran tata bahasa berbasis linguistik
Dalam konteks pendidikan bahasa, afiksasi merupakan materi inti yang membantu peserta didik memahami bagaimana kata dibentuk dan digunakan secara tepat.
Penutup
Afiksasi merupakan proses morfologis fundamental dalam bahasa Indonesia yang memungkinkan pembentukan kata secara produktif dan sistematis. Melalui afiksasi, bahasa Indonesia mampu mengekspresikan berbagai makna, fungsi gramatikal, dan hubungan sintaktis secara efisien.
Sebagai konsep dasar dalam morfologi, pengertian afiksasi menjadi fondasi penting untuk memahami jenis-jenis afiks, pola pembubuhan afiks, serta peran afiksasi dalam penggunaan bahasa nyata. Oleh karena itu, kajian afiksasi tidak hanya relevan bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami struktur bahasa Indonesia secara ilmiah.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.
Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.
Sneddon, J. N., Adelaar, A., Djenar, D. N., & Ewing, M. C. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar