Kata dan Bentuk Kata
3.3 Kelas Kata dan Ciri Morfologisnya
Pendahuluan
| Kelas Kata dan Ciri Morfologisnya |
Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi dan sintaksis, konsep kelas kata (word classes atau parts of speech) merupakan salah satu pilar utama untuk memahami struktur dan fungsi bahasa. Kelas kata berfungsi sebagai alat klasifikasi yang membantu linguistis dan pembelajar bahasa mengidentifikasi perilaku kata dalam sistem gramatikal. Melalui kelas kata, kita dapat menjelaskan mengapa kata tertentu dapat menerima imbuhan tertentu, mengapa kata lain tidak, serta bagaimana kata berinteraksi dalam satuan sintaksis yang lebih besar.
Dalam bahasa Indonesia, pembahasan kelas kata sering kali diajarkan secara normatif, misalnya dengan pembagian nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Namun, dalam linguistik modern, kelas kata tidak hanya ditentukan oleh makna semantis, tetapi juga—dan terutama—oleh ciri morfologis dan sintaktis. Oleh karena itu, pembahasan kelas kata tidak dapat dilepaskan dari ciri-ciri morfologis yang melekat pada setiap kategori kata.
Bagian ini membahas secara komprehensif konsep kelas kata, prinsip penentuan kelas kata, serta ciri-ciri morfologis utama dari kelas kata dalam bahasa Indonesia, dengan merujuk pada kerangka linguistik modern dan tata bahasa baku.
3.3.1 Pengertian Kelas Kata
Kelas kata adalah pengelompokan kata berdasarkan kesamaan perilaku gramatikalnya. Crystal (2008) mendefinisikan kelas kata sebagai kategori leksikal yang dibedakan berdasarkan distribusi sintaktis dan kemungkinan proses morfologis yang dapat dikenakan padanya. Dengan kata lain, kelas kata tidak hanya berkaitan dengan “arti kata”, tetapi juga dengan bagaimana kata tersebut berfungsi dan berubah dalam struktur bahasa.
Dalam linguistik struktural dan generatif, kelas kata sering dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:
1. Kelas kata terbuka (open classes), seperti nomina dan verba, yang relatif mudah menerima anggota baru.
2. Kelas kata tertutup (closed classes), seperti pronomina dan preposisi, yang jumlah anggotanya terbatas dan relatif stabil.
Pembagian ini penting karena berkaitan dengan produktivitas morfologis dan dinamika perkembangan kosakata suatu bahasa (Aronoff & Fudeman, 2011).
3.3.2 Prinsip Penentuan Kelas Kata
Penentuan kelas kata dalam linguistik modern umumnya didasarkan pada tiga kriteria utama:
1. Kriteria Semantis
Berkaitan dengan makna leksikal kata, misalnya nomina sering dikaitkan dengan
konsep benda atau entitas.
2. Kriteria Sintaktis
Berkaitan dengan posisi dan fungsi kata dalam kalimat, seperti kemampuan
menjadi subjek atau predikat.
3. Kriteria Morfologis
Berkaitan dengan kemungkinan kata tersebut menerima proses morfologis tertentu,
seperti afiksasi atau reduplikasi.
Di antara ketiga kriteria tersebut, ciri morfologis memiliki peran penting karena bersifat lebih formal dan teramati secara langsung. Sebuah kata dapat diidentifikasi sebagai verba, misalnya, karena dapat menerima prefiks me- atau di- dalam bahasa Indonesia.
3.3.3 Nomina dan Ciri Morfologisnya
Nomina (kata benda) adalah kelas kata yang secara prototipikal merujuk pada entitas, baik konkret maupun abstrak. Dalam bahasa Indonesia, nomina memiliki sejumlah ciri morfologis khas.
Ciri Morfologis Nomina
1. Dapat menerima afiks pembentuk nomina, seperti pe-, ke- -an, dan -an.
o ajar → pengajar
o adil → keadilan
2. Dapat mengalami reduplikasi untuk menyatakan jamak.
o buku → buku-buku
3. Umumnya tidak dapat menerima afiks verbal seperti me- atau di-.
Menurut Alwi et al. (2014), ciri morfologis ini menjadi indikator utama untuk membedakan nomina dari kelas kata lain dalam bahasa Indonesia.
3.3.4 Verba dan Ciri Morfologisnya
Verba (kata kerja) merupakan kelas kata yang menyatakan perbuatan, proses, atau keadaan. Verba memiliki produktivitas morfologis yang tinggi, terutama dalam bahasa Indonesia.
Ciri Morfologis Verba
1. Dapat menerima prefiks verbal seperti me-, di-, ber-, dan ter-.
o tulis → menulis
o baca → dibaca
2. Dapat mengalami reduplikasi dengan makna iteratif atau intensif.
o lari → lari-lari
3. Dapat membentuk nomina atau adjektiva melalui proses derivasi.
o ajar → pengajaran
Verba menjadi pusat predikasi dalam kalimat, sehingga ciri morfologisnya sering berkaitan langsung dengan struktur sintaksis (Katamba, 1993).
3.3.5 Adjektiva dan Ciri Morfologisnya
Adjektiva (kata sifat) adalah kelas kata yang menyatakan kualitas atau keadaan suatu entitas. Dalam bahasa Indonesia, adjektiva memiliki ciri morfologis yang cukup khas.
Ciri Morfologis Adjektiva
1. Dapat menerima prefiks ter- untuk menyatakan superlatif.
o besar → terbesar
2. Dapat mengalami reduplikasi untuk menyatakan intensitas.
o baik → baik-baik
3. Dapat membentuk nomina abstrak melalui konfiks ke- -an.
o indah → keindahan
Haspelmath dan Sims (2010) menekankan bahwa adjektiva sering berada di antara nomina dan verba secara tipologis, sehingga ciri morfologisnya pun bersifat peralihan.
3.3.6 Adverbia dan Ciri Morfologisnya
Adverbia (kata keterangan) berfungsi untuk menerangkan verba, adjektiva, atau seluruh klausa. Secara morfologis, adverbia dalam bahasa Indonesia relatif kurang produktif dibandingkan kelas kata lain.
Ciri Morfologis Adverbia
1. Sebagian adverbia dibentuk melalui afiksasi.
o cepat → dengan cepat
2. Umumnya tidak menerima afiks verbal atau nominal.
3. Beberapa adverbia berasal dari adjektiva yang mengalami perubahan fungsi tanpa perubahan bentuk.
Keterbatasan proses morfologis ini menunjukkan bahwa adverbia lebih ditentukan oleh distribusi sintaktis dibandingkan oleh ciri morfologisnya.
3.3.7 Kelas Kata Tertutup dan Ciri Morfologisnya
Selain kelas kata utama, terdapat kelas kata tertutup seperti pronomina, preposisi, konjungsi, dan partikel. Kelas kata ini memiliki ciri morfologis yang sangat terbatas.
Ciri umum kelas kata tertutup antara lain:
· Tidak produktif secara morfologis
· Jarang atau tidak pernah menerima afiks
· Jumlah anggotanya relatif tetap
Menurut Bauer (2003), keterbatasan morfologis ini menjadi alasan utama mengapa kelas kata tertutup jarang mengalami penambahan anggota baru.
3.3.8 Peran Ciri Morfologis dalam Klasifikasi Kelas Kata
Ciri morfologis memainkan peran penting dalam:
1. Mengidentifikasi kelas kata secara objektif
2. Menganalisis struktur internal kata
3. Menjelaskan hubungan antara bentuk dan fungsi
4. Mendukung pengajaran tata bahasa berbasis linguistik
Dalam penelitian linguistik dan pembelajaran bahasa, analisis kelas kata berbasis ciri morfologis terbukti lebih konsisten dibandingkan pendekatan semata-mata semantis.
Penutup
Kelas kata dan ciri morfologisnya merupakan aspek fundamental dalam kajian morfologi. Melalui ciri morfologis, kata dapat diklasifikasikan secara sistematis dan objektif, sehingga hubungan antara bentuk, makna, dan fungsi gramatikal dapat dipahami secara lebih mendalam. Dalam bahasa Indonesia, afiksasi dan reduplikasi menjadi penanda utama kelas kata, terutama bagi kelas kata terbuka seperti nomina, verba, dan adjektiva.
Pemahaman yang baik mengenai kelas kata dan ciri morfologisnya tidak hanya penting bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik dan pembelajar bahasa dalam mengembangkan kesadaran gramatikal dan kompetensi berbahasa secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Crystal, D. (2008). A dictionary of linguistics and phonetics (6th ed.). Blackwell Publishing.
Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.
Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar