Selasa, 14 Juli 2026

Tanda Baca (Pungtuasi): Fungsi dan Kesalahan Umum Penggunaan Titik, Koma, Titik Dua, dan Lainnya

 

Artikel ini membahas secara mendalam Bab 3 tentang Aspek Mikro Kebahasaan I, khususnya tanda baca (pungtuasi), dalam konteks Buku Ajar Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di perguruan tinggi. Fokus pembahasan mencakup fungsi dan kesalahan umum penggunaan titik, koma, titik dua, serta tanda baca lainnya berdasarkan pedoman EYD Edisi V/PUEBI terbaru, disertai dengan contoh konkret dan analisis temuan penelitian.

 

Bab 3: Aspek Mikro Kebahasaan I: Ejaan dan Diksi (Pilihan Kata)

3.2 Tanda Baca (Pungtuasi): Fungsi dan Kesalahan Umum Penggunaan Titik, Koma, Titik Dua, dan Lainnya

Pendahuluan: Mengapa Tanda Baca Begitu Penting?

Dalam dunia akademik, kemampuan menulis karya ilmiah yang baik dan benar merupakan salah satu kompetensi inti yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan kebahasaan tersebut. Setelah memahami aturan ejaan dasar seperti penggunaan huruf kapital dan penulisan kata, langkah berikutnya yang tidak kalah krusial adalah penguasaan tanda baca atau pungtuasi.

Tanda baca adalah elemen mikro kebahasaan yang sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar terhadap kejelasan dan ketepatan makna sebuah tulisan. Ejaan, seperti didefinisikan oleh para ahli, adalah penggambaran bunyi bahasa dalam tulisan yang mencakup aspek huruf, penulisan kata, dan tanda baca . Tanda baca berfungsi sebagai rambu-rambu lalu lintas dalam tulisan; ia mengatur jeda, intonasi, dan struktur kalimat sehingga pembaca dapat memahami pesan yang disampaikan dengan tepat .

Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan penggunaan tanda baca masih mendominasi tulisan akademik mahasiswa. Sebuah studi di Universitas Negeri Medan mengungkapkan bahwa kesalahan tanda baca adalah jenis kesalahan yang paling dominan ditemukan dalam proposal penelitian mahasiswa . Temuan serupa juga dilaporkan dalam analisis skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, di mana kesalahan penggunaan titik, koma, titik koma, dan tanda hubung masih sering dijumpai . Penelitian pada mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) juga menunjukkan bahwa kesalahan paling sering terjadi pada penggunaan tanda koma, titik, tanda kutip, tanda hubung, serta penggunaan tanda seru dan tanda tanya yang tidak sesuai konteks formal penulisan akademik . Fakta ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang fungsi dan aturan tanda baca belum sepenuhnya terinternalisasi dengan baik di kalangan akademisi.

Oleh karena itu, subbab ini akan mengupas secara mendalam fungsi dan kesalahan umum dari berbagai tanda baca, dengan fokus utama pada titik (.), koma (,), titik dua (:), dan beberapa tanda baca lain yang sering digunakan dalam penulisan akademik, sesuai dengan pedoman terbaru dalam EYD Edisi V/PUEBI.

3.2.1 Tanda Titik (.)

Tanda titik adalah tanda baca yang paling dasar dan paling sering digunakan, namun juga paling sering disalahgunakan. Berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, terdapat beberapa aturan penting terkait penggunaan tanda titik .

1. Mengakhiri Kalimat Pernyataan
Fungsi utama tanda titik adalah untuk mengakhiri kalimat yang berupa pernyataan (kalimat deklaratif). Contoh: "Mahasiswa wajib mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia." Kesalahan yang sering terjadi adalah penggunaan titik di akhir kalimat yang bukan pernyataan, misalnya setelah judul atau kepala surat, atau setelah kalimat tanya dan seru . Contoh yang keliru: "Selamat pagi!." Seharusnya cukup "Selamat pagi!".

2. Penulisan Singkatan dan Gelar
Tanda titik digunakan dalam penulisan singkatan nama orang, gelar akademik, atau jabatan. Misalnya: "Dr.", "M.Hum.", "S.E.", "Jl." (jalan). Namun, perlu diperhatikan bahwa EYD Edisi V/PUEBI memiliki ketentuan khusus. Jika singkatan tersebut tidak diikuti oleh nama atau keterangan lain, tanda titik tetap digunakan. Contoh: "Prof. Dr. Soedarto" .

3. Angka dan Bilangan
Tanda titik berfungsi sebagai pemisah ribuan dan jutaan serta penanda angka desimal. Contoh: "Rp1.500.000,00" dan "berat badan 65,5 kg". Kesalahan umum terjadi ketika penulis menggunakan titik sebagai pemisah ribuan tetapi lupa menggunakannya pada angka desimal, atau sebaliknya .

3.2.2 Tanda Koma (,)

Tanda koma adalah tanda baca yang memiliki banyak fungsi, sehingga tingkat kesalahan penggunaannya pun tinggi. Dalam analisis kesalahan berbahasa pada artikel mahasiswa PPG prajabatan, kesalahan penggunaan koma menempati urutan pertama . Beberapa fungsi dan kesalahan umumnya adalah:

1. Memisahkan Unsur dalam Suatu Rincian
Koma digunakan untuk memisahkan unsur-unsur yang setara dalam suatu perincian. Contoh: "Saya membeli buku, pena, dan kertas." . Aturan penulisan koma sebelum kata dan pada rincian terakhir (disebut Oxford comma) dalam bahasa Indonesia bersifat opsional, namun disarankan untuk menghindari ambiguitas.

2. Memisahkan Anak Kalimat dan Induk Kalimat
Jika anak kalimat (anak kalimat keterangan) berada di awal kalimat, maka anak kalimat tersebut dipisahkan dengan induk kalimat menggunakan tanda koma. Contoh: "Jika hujan turun, kami tidak akan pergi ke kampus." . Sebaliknya, jika induk kalimat berada di awal, tanda koma tidak diperlukan. Contoh: "Kami tidak akan pergi ke kampus jika hujan turun."

3. Mengapit Keterangan Tambahan atau Sapaan
Koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan (aposisi) atau kata sapaan. Contoh: "Saya, mahasiswa baru, sedang belajar ejaan." atau "Halo, teman-teman!" . Kesalahan umum terjadi ketika penulis menghilangkan koma pada sapaan, sehingga mengubah makna. Perbedaan antara "Ayo makan, Ayah!" (mengajak Ayah makan) dan "Ayo makan Ayah!" (dapat diartikan sebagai tindakan kanibalisme) menunjukkan betapa krusialnya tanda baca ini .

3.2.3 Tanda Titik Dua (:)

Tanda titik dua memiliki fungsi khusus yang sering menimbulkan kebingungan.

1. Mengawali Rincian atau Pemerian
Fungsi utama titik dua adalah untuk mengakhiri pernyataan lengkap yang diikuti oleh rangkaian atau pemerian. Contoh: "Kami membutuhkan perlengkapan berikut: buku tulis, pulpen, dan penghapus." . Aturan pentingnya adalah bahwa bagian sebelum titik dua haruslah merupakan klausa atau kalimat yang sudah utuh. Kesalahan umum adalah menempatkan titik dua setelah kata kerja yang seharusnya langsung diikuti oleh objek. Contoh yang keliru: "Barang-barang yang dibeli adalah: sabun, sampo, dan pasta gigi." Seharusnya: "Ia membeli beberapa barang: sabun, sampo, dan pasta gigi." .

2. Memisahkan Waktu dan Menandai Dialog
Titik dua digunakan untuk memisahkan angka jam dan menit (contoh: "pukul 08:30") serta untuk menandai dialog atau percakapan dalam naskah drama (contoh: "Ani: “Kamu mau ikut ke pasar?”") .

3.2.4 Tanda Baca Lainnya dalam Konteks Akademik

Selain tiga tanda baca utama di atas, beberapa tanda baca lain juga sering digunakan dan memiliki aturan spesifik yang perlu diperhatikan.

1. Tanda Titik Koma (;)
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung tanda koma atau untuk mengakhiri perincian yang berupa klausa. Menurut PUEBI, titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa, dan sebelum perincian terakhir dibubuhi kata dan . Contoh: "Peserta seminar berasal dari berbagai daerah; Jakarta, Bandung, dan Surabaya; serta beberapa kota lainnya."

2. Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (‒)
Kedua tanda ini sering tertukar. Tanda hubung memiliki fungsi yang lebih terbatas, seperti untuk penulisan kata ulang (buku-buku), penulisan kata gabungan (rektor-kampus), dan penulisan tanggal (*12-04-2025*). Sementara itu, tanda pisah (yang lebih panjang dari tanda hubung) digunakan untuk membatasi keterangan atau penjelasan tambahan di tengah kalimat, seperti pada tanda baca kurung . Berdasarkan penelitian pada media massa, masih ditemukan beberapa penerapan tanda hubung yang fungsinya belum diatur secara eksplisit dalam PUEBI, menunjukkan bahwa perkembangan penggunaan bahasa terus terjadi .

Penutup: Meningkatkan Kesadaran akan Pentingnya Pungtuasi

Penggunaan tanda baca yang tepat bukanlah sekadar urusan formalitas, melainkan fondasi dari komunikasi ilmiah yang efektif. Kesalahan pungtuasi tidak hanya mencerminkan kurangnya penguasaan kaidah kebahasaan, tetapi juga dapat mengganggu alur argumentasi dan kredibilitas penulis . Penelitian menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa dan tenaga kependidikan yang belum memperhatikan ejaan dan tanda baca secara baik dan benar dalam penulisan karya ilmiah maupun surat dinas .

Oleh karena itu, penguasaan materi tentang tanda baca dalam MKWK Bahasa Indonesia menjadi sangat vital. Mahasiswa tidak hanya perlu memahami aturan teoritisnya, tetapi juga membiasakan diri untuk menerapkannya dengan teliti dalam setiap tulisan. Setelah memahami ejaan dan tanda baca, langkah selanjutnya adalah mempelajari diksi atau pilihan kata yang tepat untuk menghasilkan tulisan yang tidak hanya benar secara gramatikal, tetapi juga efektif dan komunikatif.

 

Daftar Pustaka

Kurniasari, D. (2015). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

Lubis, B., Chairunisa, H., Purba, V. S., Batubara, M. S. A., Rangkuti, S. R., Sagala, N. S. K., Siregar, A. A. A., & Pasaribu, R. (2024). Analisis kesalahan berbahasa pada proposal penelitian mahasiswa Universitas Negeri Medan. Jurnal Riset dan Pengembangan Pendidikan, 7(4). 

Retnosari, I. E. (2024). Pungtuasi pada artikel mahasiswa PPG prajabatan. Jurnal Bahasa, Susastra, dan Pembelajarannya, 11(1). 

Tim Huta Publisher. (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Yogyakarta: Huta Publisher. 

Universitas Khairun. (2021). Analisis kesalahan penulisan pungtuasi dalam penyusunan skripsi mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...