Sabtu, 18 Juli 2026

Syarat-Syarat Kalimat Efektif: Kesepadanan Struktur, Keparalelan Bentuk, Ketegasan Penekanan, Kehematan Kata, dan Kelogisan Penalaran

 

Artikel ini membahas secara mendalam Bab 4 tentang Aspek Mikro Kebahasaan II, khususnya syarat-syarat kalimat efektif, dalam konteks Buku Ajar Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di perguruan tinggi. Fokus pembahasan mencakup lima syarat utama: kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan penekanan, kehematan kata, dan kelogisan penalaran, dilengkapi dengan contoh konkret dan analisis temuan penelitian terkini.

 

Bab 4: Aspek Mikro Kebahasaan II: Kalimat Efektif dalam Tulisan Ilmiah

4.2 Syarat-Syarat Kalimat Efektif: Kesepadanan Struktur, Keparalelan Bentuk, Ketegasan Penekanan, Kehematan Kata, dan Kelogisan Penalaran

Pendahuluan: Membangun Kalimat yang Benar dan Efektif

Setelah memahami konsep dasar dan urgensi kalimat efektif dalam karya ilmiah, mahasiswa perlu mendalami syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kalimat yang disusun benar-benar efektif. Sebuah kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, atau perasaan penulis kepada pembaca secara tepat, sesuai dengan maksud yang diinginkan . Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Berdasarkan berbagai sumber acuan, syarat-syarat kalimat efektif mencakup kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan penekanan, kehematan kata, dan kelogisan penalaran . Penelitian pada artikel jurnal ilmiah mahasiswa menunjukkan bahwa kesalahan paling umum terjadi pada aspek kesatuan gagasan, koherensi, dan penekanan . Sementara itu, penelitian pada skripsi mahasiswa menemukan bahwa aspek kepaduan dan kebernalaran merupakan dua aspek tertinggi yang tidak terpenuhi dalam kalimat tidak efektif . Fakta ini menunjukkan bahwa penguasaan syarat-syarat kalimat efektif masih menjadi tantangan bagi mahasiswa.

4.2.1 Kesepadanan Struktur

Syarat pertama kalimat efektif adalah kesepadanan struktur, yaitu keseimbangan antara gagasan dengan struktur bahasa yang dipakai . Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. Beberapa ciri kesepadanan struktur adalah sebagai berikut :

a. Kalimat Memiliki Subjek dan Predikat yang Jelas

Setiap kalimat minimal harus memiliki subjek dan predikat yang jelas. Ketidakjelasan subjek dan predikat akan membuat kalimat menjadi tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek .

Contoh kalimat yang tidak sepadan: "Di rumah saya selalu belajar dengan giat agar mendapatkan materi dan ilmu yang bermanfaat." Pada kalimat ini, kata depan *di-* mendahului subjek sehingga makna menjadi kabur; subjek berubah menjadi keterangan . Perbaikannya: "Saya selalu belajar dengan giat agar mendapatkan materi dan ilmu yang bermanfaat."

b. Tidak Terdapat Subjek Ganda

Kalimat efektif tidak boleh memiliki subjek ganda dalam satu kalimat . Contoh yang salah: "Penyusunan laporan penelitian ini saya dibantu oleh tenaga kependidikan." . Perbaikannya: "Dalam menyusun laporan penelitian ini, saya dibantu oleh tenaga kependidikan." Contoh lain: "Saya terlambat sehingga saya dihukum oleh guru BP berdiri dan hormat ke tiang bendera." Pada kalimat ini terjadi subjek ganda yang sama fungsinya; sebaiknya digabungkan atau dihilangkan salah satunya . Perbaikannya: "Saya terlambat sehingga dihukum oleh guru BP berdiri dan hormat ke tiang bendera."

c. Kata Penghubung Intrakalimat Tidak Digunakan pada Kalimat Tunggal

Kata seperti sehingga dan sedangkan adalah kata yang selalu dipakai dalam kalimat majemuk . Contoh yang salah: "Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama." . Perbaikannya: "Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama." Kata-kata lain yang tidak boleh mengawali kalimat tunggal adalah agar, ketika, karena, sebelum, sesudah, walaupun, dan meskipun .

d. Predikat Tidak Didahului Kata yang

Contoh yang salah: "Putri yang berasal dari Gunung Kidul." . Perbaikannya: "Putri berasal dari Gunung Kidul." .

4.2.2 Keparalelan Bentuk

Syarat kedua kalimat efektif adalah keparalelan atau kesejajaran bentuk. Keparalelan adalah adanya unsur-unsur yang sama derajat, pola, atau susunan kata dan frasa yang digunakan dalam suatu kalimat . Jika bentuk pertama menggunakan kata benda (nomina), maka bentuk berikutnya juga harus menggunakan kata benda. Jika menggunakan kata kerja (verba), bentuk berikutnya juga harus menggunakan kata kerja .

Contoh kalimat yang tidak paralel: "Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang." Kalimat ini tidak memiliki kesejajaran karena bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda: pengecatan (nomina), memasang (verba), pengujian (nomina), dan pengaturan (nomina) . Perbaikannya: "Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang." .

Contoh lain: "Ibu menyuruh saya untuk menghemat dan punya tabungan agar kelak saya dapat kuliah." Bentuk pertama menghemat (verba) tidak sejajar dengan tabungan (nomina). Perbaikannya: "Ibu menyuruh saya untuk menghemat dan menabung agar kelak saya dapat kuliah." .

4.2.3 Ketegasan Penekanan

Syarat ketiga adalah ketegasan atau penekanan, yaitu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat . Kalimat yang efektif harus jelas menunjukkan ide, gagasan, atau informasi apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat :

a. Meletakkan Kata yang Ditonjolkan di Awal Kalimat

Contoh: "Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya." Penekanannya adalah Presiden mengharapkan .

b. Membuat Urutan Kata yang Bertahap

Contoh yang salah: "Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar." . Perbaikannya: "Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar." .

c. Melakukan Pengulangan Kata (Repetisi)

Contoh: "Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka." .

d. Melakukan Pertentangan terhadap Ide yang Ditonjolkan

Contoh: "Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur." .

e. Mempergunakan Partikel Penekanan

Contoh: "Saudaralah yang harus bertanggung jawab." .

4.2.4 Kehematan Kata

Syarat keempat adalah kehematan kata, yaitu menggunakan kata-kata secara hemat, tetapi tidak mengurangi makna atau mengubah informasi . Kehematan berarti menghindari kata-kata yang tidak perlu, tidak menggunakan kata yang mubazir, tidak mengulang pokok bahasan, dan tidak membagi jamak dengan kata yang sudah jamak . Beberapa kriteria kehematan adalah sebagai berikut :

a. Menghilangkan Pengulangan Subjek

Contoh yang salah: "Karena dia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu." . Perbaikannya: "Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu." . Atau: "Karena dia datang terlambat, dia tidak sempat mengikuti acara pembukaan." Perbaikannya: "Karena datang terlambat, dia tidak sempat mengikuti acara pembukaan." .

b. Menghindari Penjamakan Kata yang Sudah Jamak

Contoh yang salah: "Seluruh anak-anak berlarian di taman dengan gembira." Kata seluruh merujuk pada jumlah banyak (jamak), sedangkan anak-anak sudah merujuk pada jumlah yang lebih dari satu. Perbaikannya: "Anak-anak berlarian di taman dengan gembira." .

c. Menghindari Kesinoniman Kata dalam Kalimat

Contoh yang salah: "Saya sangat suka sekali memakan buah-buahan..." Kata sangat dan sekali memiliki fungsi yang sama, sehingga salah satunya dapat dihilangkan . Perbaikannya: "Saya suka memakan buah-buahan..." .

4.2.5 Kelogisan Penalaran

Syarat kelima adalah kelogisan bahasa, yaitu kalimat yang disusun harus memiliki makna yang logis atau masuk akal . Ide dalam kalimat harus dapat diterima oleh akal sehat dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku . Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

a. Kalimat Pasif dan Aktif Harus Jelas

Contoh yang tidak logis: "Yanuar dimakan bakso saat hujan turun hari ini." . Perbaikannya: "Yanuar memakan bakso saat hujan turun hari ini." .

b. Subjek dan Keterangan Harus Jelas

Contoh yang tidak logis: "Di sekolahan para guru sedang mendiskusikan masalah pengajaran yang terjadi." . Perbaikannya: "Para guru mendiskusikan masalah pengajaran yang terjadi di sekolahan." .

c. Pengantar Kalimat dan Predikat Harus Jelas

Contoh yang tidak tepat: "Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini." Karena waktu tidak dapat dipersingkat, perbaikannya: "Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini." .

Penutup: Menguasai Syarat Kalimat Efektif sebagai Kunci Tulisan Ilmiah Berkualitas

Pemahaman dan penguasaan terhadap lima syarat kalimat efektif—kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan penekanan, kehematan kata, dan kelogisan penalaran—merupakan kunci untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan syarat-syarat ini .

Kesalahan dalam kesepadanan struktur, seperti penggunaan kata depan di depan subjek atau subjek ganda, menyebabkan kalimat kehilangan kejelasan. Ketidakparalelan bentuk membuat kalimat menjadi rancu dan sulit dipahami. Lemahnya penekanan gagasan utama menyebabkan pembaca kesulitan menangkap inti pesan. Pemborosan kata melalui pengulangan subjek atau penggunaan sinonim ganda membuat kalimat bertele-tele. Sementara itu, ketidaklogisan penalaran, seperti kalimat pasif yang tidak masuk akal, merusak kredibilitas argumen ilmiah .

Oleh karena itu, pembelajaran syarat-syarat kalimat efektif dalam MKWK Bahasa Indonesia perlu dirancang secara intensif, dengan pelatihan menulis dan penyuntingan yang berkelanjutan. Dengan menguasai syarat-syarat ini, mahasiswa akan mampu menghasilkan tulisan yang tidak hanya benar secara gramatikal, tetapi juga jelas, padu, dan logis—ciri-ciri tulisan ilmiah yang berkualitas.

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Tasai, S. A. (2008). Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo. 

Nababan, E. B., Rianto, Kusuma, D., Rizkina, T., & Sastromihardjo, A. (2025). Analisis kesalahan sintaksis pada artikel jurnal ilmiah mahasiswa. Polyglot: Jurnal Ilmiah, 21(1), 51-68. 

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 

Ridhahani, F. (2020). Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa. Banjarmasin: UIN Antasari Press. 

Suherli. (2010). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...