Kamis, 16 Juli 2026

Kata Serapan dan Istilah Keilmuan: Proses Pembentukan Istilah di Perguruan Tinggi

 
Artikel ini membahas secara mendalam Bab 3 tentang Aspek Mikro Kebahasaan I, khususnya kata serapan dan istilah keilmuan, dalam konteks Buku Ajar Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di perguruan tinggi. Fokus pembahasan mencakup proses pembentukan istilah di lingkungan akademik, mulai dari penyerapan, penerjemahan, hingga pembentukan istilah baru, disertai dengan contoh konkret dan analisis tantangan dalam peristilahan.
 

BAB 3: ASPEK MIKRO KEBAHASAAN I: EJAAN DAN DIKSI (PILIHAN KATA)

3.4 Kata Serapan dan Istilah Keilmuan: Proses Pembentukan Istilah di Perguruan Tinggi

Pendahuluan: Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmu Pengetahuan
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan adalah ketersediaan istilah yang memadai untuk mengungkapkan konsep-konsep ilmiah yang terus berkembang. Perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, dan hubungan antarbangsa menuntut lahirnya kata-kata baru untuk menjelaskan konsep-konsep baru yang muncul . Di sinilah peran kata serapan dan istilah keilmuan menjadi sangat strategis dalam dunia akademik, terutama di perguruan tinggi.
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa yang dinamis, produktif, dan universal, terus menerima kosakata baru melalui proses penyerapan dari berbagai bahasa asing dan bahasa daerah . Proses ini tidak hanya memperkaya khazanah perbendaharaan kata bahasa Indonesia, tetapi juga memungkinkan para akademisi untuk mengkomunikasikan temuan dan gagasan ilmiah mereka dengan lebih efektif.
Dalam konteks Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia, pemahaman tentang kata serapan dan istilah keilmuan menjadi sangat penting. Mahasiswa sebagai calon ilmuwan dan profesional dituntut untuk tidak hanya mampu menggunakan istilah-istilah ilmiah dengan tepat, tetapi juga memahami proses pembentukan dan pembakuan istilah tersebut. Subbab ini akan mengupas secara mendalam berbagai proses pembentukan istilah di perguruan tinggi, mulai dari penyerapan, penerjemahan, hingga pembentukan istilah baru.

3.4.1 Pengertian Kata Serapan dan Istilah Keilmuan

Sebelum membahas proses pembentukannya, penting untuk memahami perbedaan antara kata serapan dan istilah keilmuan.
Kata Serapan adalah kata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, baik dengan atau tanpa penyesuaian ejaan dan lafal . Proses penyerapan ini terjadi karena adanya kebutuhan untuk mengisi kekosongan kosakata dalam bahasa Indonesia, terutama untuk konsep-konsep baru yang belum memiliki padanan kata yang tepat.
Istilah Keilmuan, di sisi lain, adalah kata atau frasa yang memiliki makna absolut dan spesifik dalam bidang ilmu tertentu . Berbeda dengan kata umum yang membutuhkan konteks kalimat untuk menentukan artinya, istilah keilmuan dibuat seakurat mungkin untuk menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi ilmiah . Istilah ini mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, fisika, ekonomi, hingga ilmu sosial dan humaniora .

3.4.2 Proses Pembentukan Istilah: Landasan Teoretis

Pembentukan istilah keilmuan dalam bahasa Indonesia tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat pedoman resmi yang mengatur proses ini, yaitu Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1988 dan terus disempurnakan hingga kini . PUPI memuat empat bagian besar: (1) Ketentuan Umum, (2) Proses Pembentukan Istilah, (3) Aspek Tata Bahasa Peristilahan, dan (4) Aspek Semantik Peristilahan .
Berdasarkan PUPI, terdapat urutan prioritas dalam pembentukan istilah yang berasal dari bahasa asing :
1.     Pembentukan istilah didasarkan pada kata bahasa Indonesia yang lazim dipakai.
2.     Pembentukan istilah didasarkan pada kata bahasa Indonesia yang sudah tidak lazim lagi dipakai (menghidupkan kembali kata-kata arkais).
3.     Pembentukan istilah didasarkan pada kata bahasa serumpun (Melayu) yang lazim dipakai.
4.     Pembentukan istilah didasarkan pada kata bahasa serumpun yang sudah tidak lazim lagi dipakai.
5.     Pembentukan istilah didasarkan pada penerjemahan (mencari padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia).
6.     Pembentukan istilah didasarkan pada penyerapan dengan atau tanpa penyesuaian ejaan dan lafal.
Selain keenam cara tersebut, istilah yang dipilih juga harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu ungkapan yang tepat, paling singkat, tidak berkonotasi buruk, dan sedap didengar . Urutan prioritas ini menunjukkan bahwa penyerapan langsung dari bahasa asing adalah pilihan terakhir, setelah semua upaya menemukan padanan dalam bahasa Indonesia, bahasa serumpun, atau melalui penerjemahan telah dilakukan.

3.4.3 Proses Penyerapan Kata Asing

Meskipun menjadi pilihan terakhir dalam urutan prioritas, proses penyerapan (adopsi) merupakan cara yang paling umum digunakan dalam pembentukan istilah keilmuan di Indonesia. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa proses penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal adalah yang paling banyak dipilih pengguna bahasa dalam membentuk istilah .
a. Penyerapan dengan Penyesuaian Ejaan dan Lafal
Proses ini melibatkan perubahan bentuk kata asing agar sesuai dengan kaidah ejaan dan sistem bunyi bahasa Indonesia. Beberapa contoh yang terdokumentasi dalam penelitian :
Bluetooth menjadi blutut (penyesuaian ejaan dan lafal secara signifikan)
Standard menjadi standar (penghilangan huruf konsonan akhir dan penyesuaian vokal)
Teoretisch (Belanda) menjadi teoretis (perubahan th menjadi *t* dan isch menjadi is)
Praktijk (Belanda) menjadi praktek (perubahan ij menjadi *e*)
Duplexer menjadi duplekser (penyesuaian ejaan)
Stylus menjadi stilus (penyesuaian ejaan)
Penelitian tentang penggunaan kata serapan dalam skripsi mahasiswa di bidang sosial humaniora menunjukkan bahwa bentuk baku seperti standar (96,5%) dan praktik lebih dominan digunakan dibandingkan bentuk tidak baku seperti standart atau praktek . Hal ini mengindikasikan bahwa sosialisasi bentuk baku melalui KBBI dan pembelajaran di perguruan tinggi cukup berhasil.
b. Penyerapan Tanpa Penyesuaian
Beberapa kata asing diserap ke dalam bahasa Indonesia tanpa perubahan ejaan maupun lafal yang berarti. Ini terjadi terutama pada istilah-istilah yang sudah sangat dikenal dan digunakan secara luas, seperti on-line yang tetap populer meskipun bentuk baku daring telah diperkenalkan, atau istilah-istilah teknologi seperti e-learning, website, dan influencer . Penelitian pada koran Kompas menemukan bahwa meskipun padanan bahasa Indonesia seperti pembelajaran daring atau saluran tersedia, penggunaan bentuk asing seperti e-learning dan channel masih sangat dominan karena dianggap lebih sederhana dan bergengsi .

3.4.4 Proses Penerjemahan

Penerjemahan merupakan upaya mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk konsep asing. Proses ini lebih sesuai dengan semangat pembinaan bahasa Indonesia karena memanfaatkan kekayaan kosakata yang sudah ada .
Beberapa contoh penerjemahan yang berhasil :
Self assessment menjadi ulangan/ujian mandiri
Comment on assignment menjadi komentar atas tugas
Default menjadi asali (penerjemahan dengan kesesuaian bentuk dan makna)
Design menjadi rancangan (meskipun kata desain lebih populer)
Namun, penerjemahan tidak selalu berhasil sepenuhnya. Terkadang padanan yang dihasilkan terasa kurang tepat atau kurang praktis dibandingkan bentuk serapan. Misalnya, swab test yang seharusnya dapat diterjemahkan menjadi uji usap, namun istilah serapan swab test justru lebih dikenal masyarakat .

3.4.5 Proses Gabungan: Penyerapan dan Penerjemahan

Dalam praktiknya, pembentukan istilah sering melibatkan gabungan antara penyerapan dan penerjemahan. Proses ini menghasilkan istilah yang menggabungkan unsur serapan dengan unsur terjemahan .
Contoh-contoh gabungan :
Correspondence education menjadi pendidikan korespondensi (gabungan penyerapan korespondensi dengan penerjemahan pendidikan)
Call setup menjadi setup panggilan (gabungan penyerapan setup dengan penerjemahan panggilan)
Asynchronous Time Division Multiplexing menjadi Multipleksing Divisi Waktu Asinkron (gabungan penyerapan beberapa istilah dengan penerjemahan lainnya)

3.4.6 Pembentukan Istilah Baru dari Kosakata Nusantara

Salah satu langkah kreatif dalam pembentukan istilah adalah menggali kembali kosakata dari bahasa-bahasa daerah di Nusantara atau bahasa serumpun (Melayu) yang sudah tidak lazim digunakan . Langkah ini termasuk dalam prioritas ke-2 dan ke-4 dalam PUPI.
Beberapa contoh kreatif :
Untuk membedakan tingkatan konflik, digunakan kata-kata dari bahasa Jawa Kuno:
o Caraka: perselisihan atau silang pendapat pada taraf wacana
o Sawala: pertengkaran yang mulai disertai ancaman
o Yuda: permusuhan yang sudah berwujud tindakan kekerasan bersenjata
Kata gambut diserap dari bahasa Banjar untuk menggantikan peat
Kata nyeri dari bahasa Sunda untuk menggantikan pain
Pendekatan ini tidak hanya memperkaya bahasa Indonesia, tetapi juga melestarikan kekayaan bahasa daerah sebagai sumber peristilahan.

3.4.7 Tantangan dalam Peristilahan di Perguruan Tinggi

Meskipun telah ada pedoman yang jelas, pembentukan dan pembakuan istilah keilmuan di perguruan tinggi menghadapi berbagai tantangan.
Pertama, ketidaksesuaian antara pedoman dan praktik. Penelitian menunjukkan bahwa banyak akademisi dan institusi pendidikan menggunakan istilah yang tidak sesuai dengan pedoman resmi. Contohnya, penggunaan kata stratejik oleh Universitas Indonesia, padahal bentuk baku yang tercantum dalam KBBI dan Glosarium Bidang Ilmu adalah strategik atau strategis . Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara rumusan Badan Bahasa dan praktik di lapangan.
Kedua, perbedaan definisi antara pakar bahasa dan pakar ilmu. Terkadang definisi istilah dalam KBBI berbeda dengan pemahaman para akademisi di bidang ilmu tertentu . Hal ini dapat menimbulkan kebingungan dan resistensi terhadap istilah baku.
Ketiga, dominasi bahasa Inggris. Sejak tahun 1980-an, bahasa Inggris menjadi sumber utama penyerapan istilah, menggantikan bahasa Belanda yang dominan pada periode sebelumnya . Arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang cepat membuat istilah-istilah Inggris masuk dengan sangat cepat, seringkali sebelum padanan Indonesianya terbentuk atau disosialisasikan.
Keempat, perbedaan tingkat pembentukan istilah berdasarkan latar belakang. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok mahasiswa dan profesional adalah yang paling aktif membentuk istilah sendiri, sementara kelompok pascasarjana dan praktisi justru lebih rendah dalam pembentukan istilah . Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran dan kemampuan berkreasi dalam peristilahan bervariasi antar kelompok.
Penutup: Peran Perguruan Tinggi dalam Pengembangan Peristilahan
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pembentukan dan pembakuan istilah keilmuan bahasa Indonesia. Sebagai pusat ilmu pengetahuan dan inovasi, kampus menjadi tempat lahirnya konsep-konsep baru yang membutuhkan penamaan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penguasaan materi tentang kata serapan dan istilah keilmuan dalam MKWK Bahasa Indonesia menjadi sangat penting.
Mahasiswa tidak hanya perlu memahami proses pembentukan istilah, tetapi juga didorong untuk berkontribusi secara aktif dalam pengembangan peristilahan. Seperti yang dikemukakan oleh pakar antropologi ragawi Prof. T. Jacob, keberanian untuk berkreasi dan merekacipta istilah baru—dengan tetap berpegang pada kaidah kebahasaan—adalah semangat yang perlu dituladani dan ditularkan oleh lebih banyak pakar di berbagai bidang ilmu .
Dengan pemahaman yang mendalam tentang ejaan, diksi, dan peristilahan, mahasiswa akan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya benar secara bahasa, tetapi juga memperkaya khazanah bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
 

Daftar Pustaka

Darnis, A. D. (2012). Ketermanfaatan pedoman pembentukan istilah bagi pengguna bahasa Indonesia: Studi kasus pada pengguna bidang teknologi informasi. [Skripsi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia]. Repositori Kemdikbud.
Marpaung, A. M. (2024, November 26). Mengapa stratejik? Kompas, hlm. 5.
Nugerdyo, B. W. (2007). Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah dalam ilmu hubungan antarbangsa. Jurnal Hubungan Internasional, 2(2), 365-372.
Pitrianti, S., & Perdana, T. I. (2022). Analisis kata serapan asing pada koran Kompas serta pemanfaatannya sebagai bahan pembelajaran kosakata di sekolah. Jurnal Literasi, 6(1), 48-59.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Salma, N. F., Utari, F. A., Mareta, D. S., Sitianingrum, P., Izzati, N. A., & Anggraeni, N. D. (2024). Analisis penggunaan kata serapan dalam laporan praktikum mahasiswa. Jurnal Bahasa Daerah Indonesia, 3(3), 1-9.
Setiawan, D. (2021). Integrasi ilmu dan agama dalam paradigma keilmuan Islam. [Disertasi, UIN Suska Riau].
Sugono, D. (2015). Pengembangan kosakata bahasa Indonesia dalam menyikapi tantangan zaman. [Makalah]. Repositori Kemdikbud.
Sugono, D. (2018). Perencanaan bahasa pada abad ke-21: Kendala dan tantangan. Dalam Perencanaan bahasa pada abad ke-21 (hlm. 45-68). Repositori Kemdikbud.
Tim Penyusun. (2016). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...