Analisis Linguistik pada Kasus Penipuan Online
Keyword: bahasa penipuan online
Pendahuluan
Perkembangan
teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Pesan singkat,
WhatsApp, email, media sosial, dan berbagai platform digital memungkinkan
seseorang berinteraksi dengan cepat tanpa harus bertemu secara langsung.
Kondisi ini memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus membuka ruang bagi
munculnya berbagai bentuk kejahatan berbasis komunikasi, salah satunya penipuan
online.
Dalam banyak
kasus, penipuan online tidak semata-mata bergantung pada teknologi. Bahasa
justru menjadi salah satu instrumen utama untuk membangun kepercayaan,
menciptakan kepanikan, memengaruhi keputusan, dan mendorong korban melakukan
tindakan tertentu. Pelaku dapat menyamar sebagai pegawai bank, petugas
ekspedisi, administrator platform digital, teman, anggota keluarga, bahkan
pejabat atau lembaga resmi. Bahasa kemudian digunakan untuk membuat identitas
palsu tersebut terlihat meyakinkan.
Di sinilah
linguistik forensik memiliki peranan penting. Linguistik forensik merupakan
penerapan ilmu bahasa pada persoalan yang berkaitan dengan hukum, penyidikan,
dan proses peradilan. Dalam konteks penipuan online, ahli atau analis
linguistik forensik dapat memeriksa pilihan kata, struktur kalimat, gaya
bahasa, tindak tutur, strategi persuasi, pola interaksi, hingga karakteristik
kebahasaan yang mungkin membantu mengidentifikasi pola komunikasi pelaku
(Coulthard & Johnson, 2007; Gibbons, 2003).
Penelitian
mengenai pesan scam menunjukkan adanya pola berulang seperti penyamaran
otoritas, ungkapan urgensi, strategi kesantunan, dan perintah untuk melakukan
tindakan tertentu. Pola tersebut digunakan untuk menciptakan kepercayaan atau
ketakutan sehingga korban terdorong mengambil keputusan dengan cepat.
A. Apa yang Dimaksud dengan Bahasa Penipuan Online?
Bahasa
penipuan online adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi digital untuk menyesatkan,
memanipulasi, atau membujuk seseorang agar melakukan tindakan yang
menguntungkan pelaku.
Misalnya,
seseorang menerima pesan:
“Selamat!
Nomor Anda terpilih sebagai penerima hadiah Rp10.000.000. Untuk menghindari
pembatalan otomatis, segera konfirmasi data melalui link berikut dalam waktu 30
menit.”
Jika
diperhatikan secara sederhana, pesan tersebut terlihat seperti informasi biasa.
Namun, dari perspektif linguistik forensik, terdapat beberapa unsur menarik:
- “Selamat!” → membangun suasana positif.
- “terpilih” → menciptakan kesan bahwa penerima mendapatkan
sesuatu secara khusus.
- “Rp10.000.000” → memberikan daya tarik ekonomi.
- “menghindari pembatalan” →
menciptakan ancaman kehilangan.
- “segera” → membangun urgensi.
- “30 menit” → membatasi waktu berpikir.
- “konfirmasi data” →
memberikan instruksi.
- “link berikut” → mengarahkan korban pada tindakan konkret.
Dengan
demikian, satu pesan pendek sebenarnya dapat memiliki struktur komunikasi yang
kompleks.
B. Praktik Analisis
Linguistik Forensik pada Penipuan Online
Analisis
linguistik forensik tidak cukup dilakukan dengan mengatakan bahwa sebuah pesan
“terlihat seperti penipuan”. Analisis harus dilakukan secara sistematis
berdasarkan bukti bahasa.
Secara
praktis, proses analisis dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.
1. Mengumpulkan dan Mendokumentasikan Data
Tahap
pertama adalah memperoleh data komunikasi yang relevan, misalnya:
- pesan WhatsApp;
- SMS;
- email;
- percakapan media sosial;
- komentar;
- pesan marketplace;
- transkrip percakapan telepon;
- pesan suara yang telah ditranskripsikan.
Data harus
dipertahankan dalam bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Waktu
pengiriman, urutan pesan, nama akun, penggunaan emoji, tanda baca, typo, dan
perubahan pesan dapat menjadi bagian dari konteks analisis.
Dalam
penelitian tentang phishing, tahapan penelitian juga mencakup dokumentasi,
klasifikasi, analisis, interpretasi bentuk dan makna, kemudian penarikan kesimpulan.
Ilustrasi:
Misalnya
penyidik memperoleh percakapan:
Pelaku:
“Selamat sore Bapak, kami dari bagian keamanan bank.”
Korban: “Ada apa ya?”
Pelaku: “Terdeteksi transaksi mencurigakan pada rekening Bapak.”
Korban: “Transaksi apa?”
Pelaku: “Untuk mencegah rekening diblokir, mohon verifikasi data sekarang.”
Data
tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa seseorang adalah
pelaku. Percakapan tersebut terlebih dahulu harus dianalisis secara linguistik
dan dikaitkan dengan bukti lainnya.
2. Mengidentifikasi Pola Persuasi
Salah satu
karakteristik utama bahasa penipuan online adalah penggunaan persuasi.
Pelaku
biasanya tidak langsung mengatakan:
“Berikan
uang Anda kepada saya.”
Bahasa yang
digunakan jauh lebih halus. Pelaku membangun situasi tertentu sehingga korban
merasa bahwa tindakan yang diminta adalah pilihan yang masuk akal.
Misalnya:
“Bapak tidak
perlu khawatir. Kami hanya perlu melakukan verifikasi agar rekening tetap
aman.”
Kalimat
tersebut secara linguistik mengandung strategi reassurance atau
pemberian rasa aman. Menariknya, kata “aman” digunakan ketika sebenarnya pelaku
sedang mengarahkan korban pada tindakan yang berpotensi membahayakan.
Penelitian
terbaru terhadap ratusan ribu pesan scam menunjukkan bahwa komunikasi penipuan
dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membangun kepercayaan,
menciptakan risiko, melakukan persuasi, mendorong kepatuhan, hingga eksploitasi
berulang (Li et al., 2026).
Dengan
demikian, analis tidak hanya bertanya:
“Apa yang
dikatakan pelaku?”
tetapi juga:
“Apa yang
ingin dilakukan pelaku melalui bahasa tersebut?”
Pertanyaan
kedua membawa analisis ke wilayah pragmatik dan tindak tutur.
C. Analisis Urgensi Palsu
Salah satu
ciri yang sangat penting dalam bahasa penipuan online adalah urgensi
palsu.
Urgensi
palsu merupakan strategi bahasa yang membuat korban merasa harus mengambil
keputusan segera.
Contohnya:
“Segera
lakukan verifikasi.”
“Batas waktu hanya 10 menit.”
“Jika tidak dikonfirmasi hari ini, akun akan diblokir.”
“Kesempatan terakhir.”
“Mohon segera dibalas.”
“Transaksi akan dibatalkan otomatis.”
Secara
linguistik, kata-kata seperti segera, sekarang, terakhir, hari ini, 10
menit, diblokir, dibatalkan, dan gagal berfungsi sebagai penanda
tekanan waktu atau konsekuensi.
Penelitian
mengenai komunikasi scam menunjukkan bahwa urgensi bukan sekadar ekspresi
emosi, tetapi dapat berfungsi sebagai strategi persuasi untuk mengurangi waktu
deliberasi korban dan meningkatkan kemungkinan korban mematuhi instruksi.
Ilustrasi
sederhana
Bandingkan
dua pesan berikut.
Pesan A:
“Silakan
melakukan verifikasi rekening melalui aplikasi resmi apabila diperlukan.”
Pesan B:
“SEGERA
verifikasi rekening Anda dalam 15 menit. Jika tidak, rekening akan DIBLOKIR!”
Pesan B
memiliki tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi. Penggunaan huruf kapital,
batas waktu, dan ancaman konsekuensi menciptakan situasi seolah-olah korban
tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.
Dalam
analisis forensik, unsur tersebut dapat dikategorikan sebagai strategi
linguistik untuk mendorong compliance atau kepatuhan.
D. Analisis Kesalahan Bahasa Khas Scam
Kesalahan
bahasa juga dapat menjadi objek penelitian linguistik forensik.
Pesan
penipuan terkadang menunjukkan:
- salah ejaan;
- struktur kalimat yang tidak alami;
- penggunaan tanda baca yang tidak konsisten;
- campuran bahasa;
- terjemahan mesin;
- penggunaan istilah yang tidak lazim dalam
institusi tertentu;
- pemilihan kata yang tidak sesuai dengan konteks;
- sapaan yang terlalu umum;
- repetisi tertentu.
Contoh:
“Pelanggan
yang terhormat, rekening anda telah di blokir sementara dikarenakan aktifitas
mencurigakan. Harap segera klik link untuk aktifkan kembali.”
Beberapa
aspek dapat diperiksa:
|
Unsur |
Temuan |
|
“di
blokir” |
bentuk
penulisan tidak baku; seharusnya “diblokir” |
|
“aktifitas” |
bentuk
baku adalah “aktivitas” |
|
“aktifkan
kembali” |
dapat
dianalisis dari konteks instruksi |
|
struktur
kalimat |
cenderung
menyerupai terjemahan langsung |
|
“klik
link” |
konstruksi
campuran yang lazim dalam komunikasi digital |
Namun, kesalahan
bahasa tidak boleh otomatis dianggap sebagai bukti bahwa sebuah pesan adalah
scam. Penutur asli juga dapat melakukan kesalahan ejaan. Oleh karena itu,
kesalahan bahasa harus dilihat sebagai salah satu indikator dan dibandingkan
dengan karakteristik lainnya.
Anafo dan
Ngula (2020), misalnya, menunjukkan bahwa struktur gramatikal dalam email scam
dapat dianalisis secara sistematis, termasuk bagaimana struktur klausa
digunakan untuk merepresentasikan tindakan dan hubungan antara pelaku dengan
korban.
E. Analisis Tindak Tutur
Analisis
tindak tutur merupakan salah satu metode yang sangat relevan dalam kasus
penipuan online.
Menurut
teori tindak tutur, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi,
tetapi juga untuk melakukan tindakan tertentu (Austin, 1962; Searle,
1969).
Dalam pesan
scam, kita dapat menemukan beberapa jenis tindak tutur.
1. Tindak tutur direktif
Bertujuan
membuat korban melakukan sesuatu.
Contoh:
“Klik link
berikut.”
“Kirim kode OTP Anda.”
“Isi formulir ini.”
“Transfer ke rekening tersebut.”
2. Tindak tutur asertif
Pelaku menyampaikan
informasi yang dikonstruksi seolah-olah benar.
Contoh:
“Rekening
Anda terdeteksi melakukan transaksi mencurigakan.”
3. Tindak tutur komisif
Pelaku
memberikan janji.
Contoh:
“Dana akan
masuk dalam waktu 10 menit setelah biaya administrasi dibayar.”
4. Tindak tutur ekspresif
Pelaku dapat
menggunakan bahasa yang menunjukkan simpati atau perhatian.
Contoh:
“Kami
memahami kekhawatiran Bapak.”
Padahal,
fungsi sebenarnya bisa saja untuk meningkatkan kepercayaan.
Dengan
demikian, analisis tindak tutur membantu peneliti memahami fungsi
komunikatif sebuah kalimat, bukan hanya bentuk gramatikalnya.
F. Analisis Struktur Wacana Penipuan
Selain kata
dan kalimat, linguistik forensik dapat melihat struktur wacana.
Pesan scam
sering mempunyai pola tertentu. Berdasarkan penelitian mengenai karakteristik
pesan scam, pola yang sering ditemukan antara lain sapaan → klaim → tekanan
waktu → ajakan bertindak.
Pola
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Sapaan
↓
Membangun identitas/otoritas
↓
Menyampaikan masalah atau keuntungan
↓
Menciptakan rasa takut/harapan
↓
Menciptakan urgensi
↓
Memberikan instruksi
↓
Mendorong korban melakukan tindakan
Contoh
“Selamat siang, kami dari layanan keamanan [nama lembaga].”
↓
“Kami mendeteksi aktivitas tidak biasa pada akun Anda.”
↓
“Untuk keamanan, akun Anda akan dibatasi.”
↓
“Mohon segera melakukan verifikasi dalam waktu 15 menit.”
↓
“Klik link berikut dan masukkan data Anda.”
Dari
perspektif wacana, pesan tersebut bukan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri.
Setiap bagian mempunyai fungsi untuk mengarahkan korban menuju tindakan
tertentu.
G. Analisis Pilihan Kata dan
Identitas Palsu
Pelaku
penipuan juga dapat menggunakan leksikon institusional untuk menciptakan
kesan profesional.
Contohnya:
- “verifikasi”;
- “keamanan”;
- “sistem”;
- “aktivitas mencurigakan”;
- “validasi”;
- “administrasi”;
- “konfirmasi”;
- “pemblokiran”;
- “prosedur”.
Kata-kata
tersebut sebenarnya merupakan kata yang normal. Persoalannya bukan terletak
pada kata itu sendiri, melainkan bagaimana kata tersebut digunakan dalam
konstruksi penipuan.
Misalnya:
“Sesuai
prosedur keamanan, mohon kirimkan kode OTP Anda.”
Secara linguistik,
frasa “sesuai prosedur keamanan” memberikan legitimasi terhadap
instruksi berikutnya. Padahal, instruksi meminta informasi yang semestinya
tidak diberikan.
Penelitian
Kasiya et al. (2025) menunjukkan pentingnya konsep believability dalam
bahasa penipuan: pesan fraud dibangun sedemikian rupa agar dapat dipercaya oleh
penerima.
H. Analisis Pola Interaksi
Dalam
penipuan online berbasis percakapan, analisis tidak berhenti pada satu pesan.
Peneliti dapat mengamati bagaimana pelaku merespons korban.
Misalnya:
Korban:
“Saya takut
ini penipuan.”
Pelaku:
“Bapak
benar, harus hati-hati. Karena itu kami melakukan verifikasi keamanan.”
Menariknya,
pelaku justru mengakui kekhawatiran korban. Secara pragmatik, respons tersebut
dapat berfungsi sebagai strategi untuk mengurangi kecurigaan.
Penelitian
tentang komunikasi fraud menunjukkan bahwa pelaku dapat menggunakan bahasa yang
tampaknya memberi korban waktu, tetapi sebenarnya mengalihkan perhatian korban
dari proses pengambilan keputusan menuju pelaksanaan instruksi.
Oleh karena
itu, dalam analisis percakapan, peneliti dapat melihat:
- siapa yang memulai percakapan;
- bagaimana identitas diperkenalkan;
- bagaimana pelaku membangun kepercayaan;
- bagaimana korban menunjukkan keraguan;
- bagaimana pelaku merespons keraguan;
- kapan tekanan mulai meningkat;
- kapan instruksi diberikan;
- bagaimana pelaku merespons penolakan.
I. Prosedur Praktis Analisis
Linguistik Forensik
Untuk
penelitian atau penyidikan, praktik analisis dapat dirumuskan menjadi delapan
langkah utama:
Langkah 1 —
Dokumentasi
Mengumpulkan
seluruh pesan dan mempertahankan konteks aslinya.
Langkah 2 —
Transkripsi
Jika data
berupa suara atau video, komunikasi ditranskripsikan secara sistematis.
Langkah 3 —
Segmentasi
Data dibagi
berdasarkan pesan, kalimat, klausa, atau giliran bicara.
Langkah 4 — Klasifikasi Linguistik
Peneliti
mengidentifikasi:
- kata;
- frasa;
- struktur kalimat;
- kesalahan bahasa;
- tindak tutur;
- sapaan;
- metafora;
- modalitas;
- penanda urgensi;
- strategi kesantunan.
Langkah 5 —
Analisis Pragmatik
Ditentukan
maksud dan fungsi setiap ujaran dalam konteks interaksi.
Langkah 6 —
Analisis Wacana
Peneliti
mengidentifikasi pola keseluruhan komunikasi, misalnya:
trust-building
→ fear/reward → urgency → instruction → compliance.
Langkah 7 —
Perbandingan
Jika
tersedia beberapa pesan atau tersangka komunikasi, karakteristik bahasa dapat
dibandingkan secara sistematis.
Langkah 8 —
Interpretasi Forensik
Hasil
linguistik kemudian dihubungkan dengan bukti lain. Kesimpulan harus disampaikan
secara hati-hati karena ciri bahasa tidak selalu identik dengan identitas
pelaku.
J. Contoh Analisis Kasus
Misalkan
terdapat pesan:
“Pelanggan
Yth, sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan pada rekening Anda. Untuk
menghindari pemblokiran permanen, segera lakukan verifikasi melalui link
berikut dalam 10 menit. Abaikan pesan ini jika Anda sudah melakukan
verifikasi.”
Analisis
sederhana dapat dibuat sebagai berikut:
|
Aspek |
Temuan |
Fungsi |
|
Sapaan |
“Pelanggan
Yth” |
menciptakan
kesan formal |
|
Otoritas |
“sistem
mendeteksi” |
menciptakan
legitimasi |
|
Ancaman |
“pemblokiran
permanen” |
menimbulkan
rasa takut |
|
Urgensi |
“10 menit” |
membatasi
waktu berpikir |
|
Direktif |
“segera
lakukan verifikasi” |
mendorong
kepatuhan |
|
CTA |
“link
berikut” |
mengarahkan
tindakan |
|
Strategi
perlindungan |
“Abaikan
pesan ini...” |
memberi
kesan prosedural |
Dari contoh
tersebut dapat dilihat bahwa bahasa penipuan online bekerja secara berlapis.
Pelaku tidak hanya menyampaikan informasi palsu, tetapi merancang komunikasi
agar korban merasa percaya, takut, terburu-buru, kemudian bertindak.
K. Kesimpulan
Praktik
analisis linguistik forensik pada kasus penipuan online menunjukkan bahwa bahasa
merupakan bagian penting dari mekanisme kejahatan digital. Penipuan tidak
selalu dilakukan melalui teknologi yang rumit; sering kali keberhasilannya
bergantung pada kemampuan pelaku menggunakan bahasa untuk memengaruhi perilaku
korban.
Pola
persuasi, urgensi palsu, klaim otoritas, pilihan kata yang menciptakan
ketakutan, perintah langsung, janji keuntungan, serta kesalahan bahasa tertentu
dapat menjadi objek analisis linguistik. Penelitian kontemporer bahkan
menunjukkan bahwa komunikasi scam dapat berkembang melalui beberapa tahap,
mulai dari membangun kepercayaan hingga mendorong korban melakukan tindakan dan
kemudian mengeksploitasinya kembali (Li et al., 2026).
Namun,
penting ditegaskan bahwa satu ciri bahasa tidak cukup untuk membuktikan
seseorang sebagai pelaku penipuan. Kesalahan ejaan, penggunaan bahasa
informal, atau struktur kalimat tertentu dapat ditemukan pula dalam komunikasi
normal. Karena itu, analisis linguistik forensik harus dilakukan secara
sistematis, kontekstual, dan sedapat mungkin dikombinasikan dengan bukti
digital serta bukti hukum lainnya.
Dengan
pendekatan tersebut, linguistik forensik tidak sekadar menjawab pertanyaan “apa
yang dikatakan pelaku?”, tetapi juga membantu menjawab pertanyaan yang
lebih penting: bagaimana bahasa digunakan untuk membangun kepercayaan,
menciptakan ketakutan, menghasilkan urgensi, dan mendorong korban melakukan
tindakan tertentu? Inilah yang menjadikan analisis bahasa penipuan online
sebagai salah satu praktik penting dalam perkembangan linguistik forensik di
era digital.
Daftar Pustaka
Anafo, C.,
& Ngula, R. S. (2020). On the grammar of scam: Transitivity, manipulation
and deception in scam emails. WORD, 66(1), 16–39.
https://doi.org/10.1080/00437956.2019.1708557
Austin, J.
L. (1962). How to do things with words. Oxford University Press.
Chiluwa, I.,
& Ajiboye, E. (2016). A speech act analysis of fraudulent emails. GEMA
Online Journal of Language Studies, 16(3), 31–46.
Coulthard,
M., & Johnson, A. (2007). An introduction to forensic linguistics:
Language in evidence. Routledge.
Gibbons, J.
(2003). Forensic linguistics: An introduction to language in the justice
system. Blackwell.
Kasiya, C.,
Kondowe, W., & Ndalama-Mtawali, D. (2025). The principle of believability
in the language of fraud text messages in Malawi: A forensic linguistic
analysis. Journal of Investigative Psychology and Offender Profiling, 22(2),
e70001. https://doi.org/10.1002/jip.70001
Li, D.,
Zheng, R., Liu, X. F., Ma, B., Sun, H., & Jiang, L. C. (2026). Linguistic
dynamics of online scam conversations: A multi-stage analysis based on the COLD
framework. Humanities and Social Sciences Communications, 13, 698. https://doi.org/10.1057/s41599-026-07052-y
Pradesi, D.
W., & Marlianingsih, N. (2025). Linguistic features of online scam
messages: A forensic analysis of deceptive communication language. JEdu:
Journal of English Education, 5(2), 65–74.
https://doi.org/10.30998/jedu.v5i2.14352
Searle, J.
R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language.
Cambridge University Press.
Toma, C. L.,
& Hancock, J. T. (2012). What lies beneath: The linguistic traces of
deception in online dating profiles. Journal of Communication, 62(1),
78–97.
Vrij, A.
(2008). Detecting lies and deceit: Pitfalls and opportunities (2nd ed.).
John Wiley & Sons.