Pelajari ragam Bahasa Indonesia berdasarkan situasi komunikasi, meliputi ragam formal (baku), semiformal, dan nonformal. Artikel ini membahas pengertian, ciri-ciri, fungsi, contoh penggunaan, serta pentingnya memilih ragam bahasa yang tepat dalam dunia akademik, profesional, dan kehidupan sehari-hari sebagai materi Bab 2 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia.
Bab 2: Ragam
Bahasa Indonesia
2.3 Ragam Bahasa
Berdasarkan Situasi: Ragam Formal (Baku), Semiformal, dan Nonformal
Pendahuluan
Bahasa
merupakan alat komunikasi yang bersifat dinamis dan adaptif. Dalam kehidupan
sehari-hari, seseorang tidak selalu menggunakan bentuk bahasa yang sama ketika
berkomunikasi dengan orang lain. Cara berbicara kepada dosen tentu berbeda
dengan cara berbicara kepada teman sebaya. Demikian pula, bahasa yang digunakan
dalam penulisan artikel ilmiah berbeda dengan bahasa yang digunakan saat
mengirim pesan singkat melalui aplikasi percakapan. Perbedaan tersebut
menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh situasi
komunikasi.
Dalam
kajian sosiolinguistik, variasi bahasa berdasarkan situasi dikenal sebagai ragam
bahasa situasional. Ragam ini muncul karena adanya perbedaan tujuan
komunikasi, hubungan antara penutur dan lawan tutur, tingkat keformalan
kegiatan, serta media yang digunakan. Oleh sebab itu, kemampuan memilih ragam
bahasa yang sesuai dengan situasi merupakan salah satu indikator kompetensi
berbahasa yang baik.
Bagi
mahasiswa, pemahaman mengenai ragam bahasa berdasarkan situasi sangat penting
karena berkaitan erat dengan aktivitas akademik, seperti presentasi, penulisan
karya ilmiah, komunikasi dengan dosen, hingga interaksi di lingkungan kampus.
Selain itu, ketika memasuki dunia kerja, kemampuan menyesuaikan penggunaan
bahasa dengan konteks profesional menjadi salah satu keterampilan komunikasi
yang sangat dibutuhkan.
Artikel
ini membahas ragam Bahasa Indonesia berdasarkan situasi, yaitu ragam formal
(baku), ragam semiformal, dan ragam nonformal, beserta karakteristik, fungsi,
contoh penggunaan, serta relevansinya dalam kehidupan modern.
Pengertian Ragam
Bahasa Berdasarkan Situasi
Ragam
bahasa berdasarkan situasi adalah variasi penggunaan bahasa yang disesuaikan
dengan kondisi komunikasi tertentu. Situasi komunikasi mencakup berbagai aspek,
seperti:
- tujuan komunikasi;
- hubungan antara penutur
dan lawan tutur;
- tempat berlangsungnya
komunikasi;
- tingkat keformalan
kegiatan;
- media komunikasi yang
digunakan.
Semakin
resmi suatu situasi, semakin tinggi pula tuntutan penggunaan bahasa yang sesuai
dengan kaidah Bahasa Indonesia. Sebaliknya, dalam situasi yang santai dan
akrab, penggunaan bahasa menjadi lebih fleksibel.
Secara
umum, ragam bahasa berdasarkan situasi dibedakan menjadi tiga kelompok utama,
yaitu:
- ragam formal (baku);
- ragam semiformal;
- ragam nonformal.
Masing-masing
memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda.
Ragam Formal
(Baku)
Pengertian
Ragam
formal atau ragam baku adalah bentuk penggunaan Bahasa Indonesia yang mengikuti
norma dan kaidah kebahasaan secara lengkap. Ragam ini digunakan dalam situasi
resmi yang memerlukan ketepatan, kejelasan, dan kesantunan berbahasa.
Ragam
formal menjadi standar dalam berbagai kegiatan kenegaraan, pendidikan,
administrasi, hukum, serta komunikasi akademik.
Ciri-Ciri Ragam
Formal
Beberapa
karakteristik utama ragam formal meliputi:
- menggunakan kosakata
baku;
- mengikuti Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI/EBI);
- menggunakan struktur
kalimat yang efektif;
- menghindari singkatan
yang tidak baku;
- menggunakan bahasa yang
objektif dan santun;
- tidak menggunakan
bahasa gaul atau slang.
Selain
itu, ragam formal mengutamakan ketepatan makna sehingga meminimalkan
kemungkinan terjadinya salah tafsir.
Contoh Penggunaan
Ragam
formal digunakan dalam:
- pidato kenegaraan;
- surat resmi;
- karya ilmiah;
- jurnal akademik;
- laporan penelitian;
- skripsi, tesis, dan
disertasi;
- rapat resmi;
- seminar ilmiah;
- dokumen hukum;
- peraturan
perundang-undangan.
Contoh Kalimat
Kurang
tepat:
"Besok
tugasnya jangan lupa ya."
Ragam
formal:
"Seluruh
mahasiswa diwajibkan menyerahkan tugas paling lambat pada tanggal yang telah
ditentukan."
Kalimat
kedua lebih sesuai digunakan dalam pengumuman resmi.
Ragam Semiformal
Pengertian
Ragam
semiformal merupakan bentuk penggunaan bahasa yang berada di antara ragam
formal dan ragam nonformal. Ragam ini tetap memperhatikan kesantunan dan
kejelasan, tetapi tidak seketat ragam formal.
Ragam
semiformal banyak digunakan dalam komunikasi profesional sehari-hari maupun
kegiatan akademik yang bersifat interaktif.
Karakteristik
Ragam
semiformal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- menggunakan Bahasa
Indonesia yang baik;
- struktur kalimat
relatif sederhana;
- pilihan kata lebih
komunikatif;
- tetap menjaga
kesopanan;
- memungkinkan penggunaan
istilah populer selama sesuai konteks.
Ragam
ini menjadi pilihan yang tepat ketika penutur ingin menciptakan suasana
komunikasi yang lebih akrab tanpa kehilangan profesionalisme.
Contoh Penggunaan
Ragam
semiformal digunakan dalam:
- diskusi kelas;
- presentasi mahasiswa;
- rapat internal
organisasi;
- komunikasi melalui
surat elektronik profesional;
- webinar;
- pelatihan;
- komunikasi antara dosen
dan mahasiswa di luar forum resmi.
Contoh Kalimat
"Terima
kasih atas masukannya. Kami akan memperbaiki bagian tersebut sebelum laporan
dikumpulkan."
Kalimat
tersebut menggunakan bahasa yang sopan, tetapi tetap terasa komunikatif.
Ragam Nonformal
Pengertian
Ragam
nonformal adalah bentuk penggunaan bahasa yang digunakan dalam situasi santai,
akrab, dan tidak resmi.
Pada
ragam ini, penutur lebih bebas menggunakan variasi bahasa sesuai hubungan
sosial dengan lawan bicara.
Karakteristik
Ragam
nonformal memiliki beberapa ciri.
- Menggunakan bahasa
sehari-hari.
- Kalimat relatif
sederhana.
- Tidak selalu mengikuti
kaidah bahasa baku secara ketat.
- Sering menggunakan
singkatan.
- Banyak dipengaruhi
bahasa daerah maupun bahasa gaul.
Ragam
nonformal berfungsi mempererat hubungan sosial antarpenutur.
Contoh Penggunaan
Ragam
nonformal digunakan dalam:
- percakapan keluarga;
- komunikasi dengan
teman;
- media sosial;
- pesan singkat;
- percakapan santai;
- kegiatan rekreasi.
Contoh Kalimat
"Nanti
kita ketemu di kampus, ya."
atau
"Tugasnya
udah selesai belum?"
Kalimat
tersebut wajar digunakan dalam komunikasi antarteman, tetapi kurang tepat
digunakan dalam dokumen resmi.
Perbandingan
Ketiga Ragam Bahasa
Perbedaan
ragam formal, semiformal, dan nonformal dapat dilihat pada tabel berikut.
|
Aspek |
Formal |
Semiformal |
Nonformal |
|
Situasi |
Resmi |
Setengah resmi |
Santai |
|
Kaidah bahasa |
Sangat ketat |
Cukup ketat |
Fleksibel |
|
Kosakata |
Baku |
Baku dan populer |
Sehari-hari |
|
Kalimat |
Sistematis |
Komunikatif |
Sederhana |
|
Bahasa gaul |
Tidak digunakan |
Sangat terbatas |
Sering digunakan |
|
Tujuan |
Ketepatan informasi |
Efektivitas komunikasi |
Keakraban |
Tabel
tersebut menunjukkan bahwa tidak ada ragam bahasa yang lebih baik daripada yang
lain. Ketepatan penggunaan bergantung pada konteks komunikasi.
Ilustrasi
Penggunaan Ragam Bahasa
Perhatikan
contoh berikut.
Situasi 1: Sidang
Skripsi
Mahasiswa
berkata:
"Berdasarkan
hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara variabel X dan variabel Y."
Bahasa
tersebut menggunakan ragam formal.
Situasi 2:
Presentasi Kelompok
Mahasiswa
berkata:
"Pada
bagian ini kami akan menjelaskan hasil penelitian secara lebih rinci."
Bahasa
tersebut termasuk ragam semiformal.
Situasi 3:
Percakapan dengan Teman
Mahasiswa
berkata:
"Eh,
nanti habis kelas kita makan, yuk!"
Bahasa
tersebut merupakan ragam nonformal.
Ketiga
kalimat tersebut sama-sama benar karena digunakan pada situasi yang berbeda.
Pentingnya Memilih
Ragam Bahasa yang Tepat
Kemampuan
memilih ragam bahasa merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.
Pemilihan
ragam yang tepat memberikan beberapa manfaat.
1. Menghindari
Kesalahpahaman
Bahasa
yang sesuai konteks akan mempermudah lawan bicara memahami pesan yang
disampaikan.
2. Menunjukkan
Profesionalisme
Dalam
dunia kerja, penggunaan bahasa formal mencerminkan sikap profesional.
Sebaliknya,
penggunaan bahasa gaul dalam surat resmi dapat memberikan kesan kurang
profesional.
3. Menjaga
Kesantunan
Penggunaan
ragam bahasa yang tepat menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara.
Misalnya,
mahasiswa sebaiknya menggunakan bahasa formal atau semiformal ketika
berkomunikasi dengan dosen.
4. Mendukung
Keberhasilan Akademik
Mahasiswa
yang mampu menggunakan ragam bahasa formal akan lebih mudah menyusun:
- makalah;
- laporan penelitian;
- artikel ilmiah;
- skripsi.
Kemampuan
ini menjadi bagian penting dari literasi akademik.
Tantangan
Penggunaan Ragam Bahasa di Era Digital
Perkembangan
media digital membawa perubahan besar terhadap penggunaan bahasa.
Saat
ini masyarakat sering berkomunikasi melalui:
- media sosial;
- aplikasi percakapan;
- forum daring;
- surat elektronik;
- konferensi video.
Akibatnya,
batas antara ragam formal dan nonformal kadang menjadi kabur.
Sebagai
contoh, sebagian mahasiswa menggunakan singkatan atau emotikon dalam surat
elektronik kepada dosen, padahal komunikasi tersebut seharusnya menggunakan
ragam semiformal atau formal.
Fenomena
ini menunjukkan pentingnya literasi digital dalam penggunaan Bahasa Indonesia.
Peran Mahasiswa
dalam Mengembangkan Budaya Berbahasa
Sebagai
insan akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan ragam
bahasa secara tepat.
Beberapa
upaya yang dapat dilakukan antara lain:
- menggunakan bahasa
formal dalam karya ilmiah;
- menggunakan ragam
semiformal saat presentasi;
- tetap menjaga
kesantunan dalam komunikasi digital;
- membiasakan penggunaan
kosakata baku;
- menghargai lawan bicara
melalui pilihan bahasa yang sesuai.
Kemampuan
tersebut akan menjadi modal penting ketika memasuki dunia profesional.
Penutup
Ragam
Bahasa Indonesia berdasarkan situasi terdiri atas ragam formal (baku),
semiformal, dan nonformal. Ketiganya memiliki fungsi, karakteristik, dan ruang
penggunaan yang berbeda. Ragam formal digunakan dalam komunikasi resmi yang
menuntut ketepatan dan kepatuhan terhadap kaidah kebahasaan. Ragam semiformal
menjadi jembatan antara komunikasi resmi dan santai sehingga banyak digunakan
dalam dunia akademik maupun profesional. Sementara itu, ragam nonformal
digunakan dalam komunikasi sehari-hari yang mengutamakan keakraban dan
fleksibilitas.
Pemahaman mengenai
ketiga ragam tersebut sangat penting bagi mahasiswa sebagai bagian dari
kompetensi berbahasa. Kemampuan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan situasi
akan meningkatkan efektivitas komunikasi, mencerminkan profesionalisme, serta
memperkuat budaya literasi di lingkungan akademik maupun masyarakat. Di era
digital, ketika batas antara komunikasi formal dan nonformal semakin dinamis,
kemampuan beradaptasi tanpa mengabaikan kaidah Bahasa Indonesia menjadi
keterampilan yang semakin penting untuk dimiliki oleh setiap warga negara.
Daftar Pustaka
- Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan
Bahasa Indonesia (EBI). Jakarta: Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Jakarta: Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Chaer, A. (2019). Linguistik Umum (Edisi
Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
- Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- Mustakim. (2020). Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Indonesia di Era Digital. Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa.
- Saddhono, K., &
Rohmadi, M. (2018). Pengantar
Sosiolinguistik: Teori dan Konsep Dasar. Surakarta: Yuma
Pustaka.
- Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
- Yendra. (2018). Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik).
Yogyakarta: Deepublish.
- Zaim, M. (2020). Sosiolinguistik: Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Kencana.
- UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New
Social Contract for Education. Paris: UNESCO.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar