Sabtu, 11 Juli 2026

Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi: Ragam Formal (Baku), Semiformal, dan Nonformal

Pelajari ragam Bahasa Indonesia berdasarkan situasi komunikasi, meliputi ragam formal (baku), semiformal, dan nonformal. Artikel ini membahas pengertian, ciri-ciri, fungsi, contoh penggunaan, serta pentingnya memilih ragam bahasa yang tepat dalam dunia akademik, profesional, dan kehidupan sehari-hari sebagai materi Bab 2 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia.

Bab 2: Ragam Bahasa Indonesia

2.3 Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi: Ragam Formal (Baku), Semiformal, dan Nonformal

Pendahuluan

Bahasa merupakan alat komunikasi yang bersifat dinamis dan adaptif. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak selalu menggunakan bentuk bahasa yang sama ketika berkomunikasi dengan orang lain. Cara berbicara kepada dosen tentu berbeda dengan cara berbicara kepada teman sebaya. Demikian pula, bahasa yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah berbeda dengan bahasa yang digunakan saat mengirim pesan singkat melalui aplikasi percakapan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sangat dipengaruhi oleh situasi komunikasi.

Dalam kajian sosiolinguistik, variasi bahasa berdasarkan situasi dikenal sebagai ragam bahasa situasional. Ragam ini muncul karena adanya perbedaan tujuan komunikasi, hubungan antara penutur dan lawan tutur, tingkat keformalan kegiatan, serta media yang digunakan. Oleh sebab itu, kemampuan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan situasi merupakan salah satu indikator kompetensi berbahasa yang baik.

Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai ragam bahasa berdasarkan situasi sangat penting karena berkaitan erat dengan aktivitas akademik, seperti presentasi, penulisan karya ilmiah, komunikasi dengan dosen, hingga interaksi di lingkungan kampus. Selain itu, ketika memasuki dunia kerja, kemampuan menyesuaikan penggunaan bahasa dengan konteks profesional menjadi salah satu keterampilan komunikasi yang sangat dibutuhkan.

Artikel ini membahas ragam Bahasa Indonesia berdasarkan situasi, yaitu ragam formal (baku), ragam semiformal, dan ragam nonformal, beserta karakteristik, fungsi, contoh penggunaan, serta relevansinya dalam kehidupan modern.

Pengertian Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi

Ragam bahasa berdasarkan situasi adalah variasi penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan kondisi komunikasi tertentu. Situasi komunikasi mencakup berbagai aspek, seperti:

  • tujuan komunikasi;
  • hubungan antara penutur dan lawan tutur;
  • tempat berlangsungnya komunikasi;
  • tingkat keformalan kegiatan;
  • media komunikasi yang digunakan.

Semakin resmi suatu situasi, semakin tinggi pula tuntutan penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Sebaliknya, dalam situasi yang santai dan akrab, penggunaan bahasa menjadi lebih fleksibel.

Secara umum, ragam bahasa berdasarkan situasi dibedakan menjadi tiga kelompok utama, yaitu:

  1. ragam formal (baku);
  2. ragam semiformal;
  3. ragam nonformal.

Masing-masing memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda.

Ragam Formal (Baku)

Pengertian

Ragam formal atau ragam baku adalah bentuk penggunaan Bahasa Indonesia yang mengikuti norma dan kaidah kebahasaan secara lengkap. Ragam ini digunakan dalam situasi resmi yang memerlukan ketepatan, kejelasan, dan kesantunan berbahasa.

Ragam formal menjadi standar dalam berbagai kegiatan kenegaraan, pendidikan, administrasi, hukum, serta komunikasi akademik.

Ciri-Ciri Ragam Formal

Beberapa karakteristik utama ragam formal meliputi:

  • menggunakan kosakata baku;
  • mengikuti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI/EBI);
  • menggunakan struktur kalimat yang efektif;
  • menghindari singkatan yang tidak baku;
  • menggunakan bahasa yang objektif dan santun;
  • tidak menggunakan bahasa gaul atau slang.

Selain itu, ragam formal mengutamakan ketepatan makna sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya salah tafsir.

Contoh Penggunaan

Ragam formal digunakan dalam:

  • pidato kenegaraan;
  • surat resmi;
  • karya ilmiah;
  • jurnal akademik;
  • laporan penelitian;
  • skripsi, tesis, dan disertasi;
  • rapat resmi;
  • seminar ilmiah;
  • dokumen hukum;
  • peraturan perundang-undangan.

Contoh Kalimat

Kurang tepat:

"Besok tugasnya jangan lupa ya."

Ragam formal:

"Seluruh mahasiswa diwajibkan menyerahkan tugas paling lambat pada tanggal yang telah ditentukan."

Kalimat kedua lebih sesuai digunakan dalam pengumuman resmi.

Ragam Semiformal

Pengertian

Ragam semiformal merupakan bentuk penggunaan bahasa yang berada di antara ragam formal dan ragam nonformal. Ragam ini tetap memperhatikan kesantunan dan kejelasan, tetapi tidak seketat ragam formal.

Ragam semiformal banyak digunakan dalam komunikasi profesional sehari-hari maupun kegiatan akademik yang bersifat interaktif.

Karakteristik

Ragam semiformal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • menggunakan Bahasa Indonesia yang baik;
  • struktur kalimat relatif sederhana;
  • pilihan kata lebih komunikatif;
  • tetap menjaga kesopanan;
  • memungkinkan penggunaan istilah populer selama sesuai konteks.

Ragam ini menjadi pilihan yang tepat ketika penutur ingin menciptakan suasana komunikasi yang lebih akrab tanpa kehilangan profesionalisme.

Contoh Penggunaan

Ragam semiformal digunakan dalam:

  • diskusi kelas;
  • presentasi mahasiswa;
  • rapat internal organisasi;
  • komunikasi melalui surat elektronik profesional;
  • webinar;
  • pelatihan;
  • komunikasi antara dosen dan mahasiswa di luar forum resmi.

Contoh Kalimat

"Terima kasih atas masukannya. Kami akan memperbaiki bagian tersebut sebelum laporan dikumpulkan."

Kalimat tersebut menggunakan bahasa yang sopan, tetapi tetap terasa komunikatif.

Ragam Nonformal

Pengertian

Ragam nonformal adalah bentuk penggunaan bahasa yang digunakan dalam situasi santai, akrab, dan tidak resmi.

Pada ragam ini, penutur lebih bebas menggunakan variasi bahasa sesuai hubungan sosial dengan lawan bicara.

Karakteristik

Ragam nonformal memiliki beberapa ciri.

  • Menggunakan bahasa sehari-hari.
  • Kalimat relatif sederhana.
  • Tidak selalu mengikuti kaidah bahasa baku secara ketat.
  • Sering menggunakan singkatan.
  • Banyak dipengaruhi bahasa daerah maupun bahasa gaul.

Ragam nonformal berfungsi mempererat hubungan sosial antarpenutur.

Contoh Penggunaan

Ragam nonformal digunakan dalam:

  • percakapan keluarga;
  • komunikasi dengan teman;
  • media sosial;
  • pesan singkat;
  • percakapan santai;
  • kegiatan rekreasi.

Contoh Kalimat

"Nanti kita ketemu di kampus, ya."

atau

"Tugasnya udah selesai belum?"

Kalimat tersebut wajar digunakan dalam komunikasi antarteman, tetapi kurang tepat digunakan dalam dokumen resmi.

Perbandingan Ketiga Ragam Bahasa

Perbedaan ragam formal, semiformal, dan nonformal dapat dilihat pada tabel berikut.

Aspek

Formal

Semiformal

Nonformal

Situasi

Resmi

Setengah resmi

Santai

Kaidah bahasa

Sangat ketat

Cukup ketat

Fleksibel

Kosakata

Baku

Baku dan populer

Sehari-hari

Kalimat

Sistematis

Komunikatif

Sederhana

Bahasa gaul

Tidak digunakan

Sangat terbatas

Sering digunakan

Tujuan

Ketepatan informasi

Efektivitas komunikasi

Keakraban

Tabel tersebut menunjukkan bahwa tidak ada ragam bahasa yang lebih baik daripada yang lain. Ketepatan penggunaan bergantung pada konteks komunikasi.

Ilustrasi Penggunaan Ragam Bahasa

Perhatikan contoh berikut.

Situasi 1: Sidang Skripsi

Mahasiswa berkata:

"Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y."

Bahasa tersebut menggunakan ragam formal.

Situasi 2: Presentasi Kelompok

Mahasiswa berkata:

"Pada bagian ini kami akan menjelaskan hasil penelitian secara lebih rinci."

Bahasa tersebut termasuk ragam semiformal.

Situasi 3: Percakapan dengan Teman

Mahasiswa berkata:

"Eh, nanti habis kelas kita makan, yuk!"

Bahasa tersebut merupakan ragam nonformal.

Ketiga kalimat tersebut sama-sama benar karena digunakan pada situasi yang berbeda.

Pentingnya Memilih Ragam Bahasa yang Tepat

Kemampuan memilih ragam bahasa merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.

Pemilihan ragam yang tepat memberikan beberapa manfaat.

1. Menghindari Kesalahpahaman

Bahasa yang sesuai konteks akan mempermudah lawan bicara memahami pesan yang disampaikan.

2. Menunjukkan Profesionalisme

Dalam dunia kerja, penggunaan bahasa formal mencerminkan sikap profesional.

Sebaliknya, penggunaan bahasa gaul dalam surat resmi dapat memberikan kesan kurang profesional.

3. Menjaga Kesantunan

Penggunaan ragam bahasa yang tepat menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara.

Misalnya, mahasiswa sebaiknya menggunakan bahasa formal atau semiformal ketika berkomunikasi dengan dosen.

4. Mendukung Keberhasilan Akademik

Mahasiswa yang mampu menggunakan ragam bahasa formal akan lebih mudah menyusun:

  • makalah;
  • laporan penelitian;
  • artikel ilmiah;
  • skripsi.

Kemampuan ini menjadi bagian penting dari literasi akademik.

Tantangan Penggunaan Ragam Bahasa di Era Digital

Perkembangan media digital membawa perubahan besar terhadap penggunaan bahasa.

Saat ini masyarakat sering berkomunikasi melalui:

  • media sosial;
  • aplikasi percakapan;
  • forum daring;
  • surat elektronik;
  • konferensi video.

Akibatnya, batas antara ragam formal dan nonformal kadang menjadi kabur.

Sebagai contoh, sebagian mahasiswa menggunakan singkatan atau emotikon dalam surat elektronik kepada dosen, padahal komunikasi tersebut seharusnya menggunakan ragam semiformal atau formal.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi digital dalam penggunaan Bahasa Indonesia.

Peran Mahasiswa dalam Mengembangkan Budaya Berbahasa

Sebagai insan akademik, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan ragam bahasa secara tepat.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:

  • menggunakan bahasa formal dalam karya ilmiah;
  • menggunakan ragam semiformal saat presentasi;
  • tetap menjaga kesantunan dalam komunikasi digital;
  • membiasakan penggunaan kosakata baku;
  • menghargai lawan bicara melalui pilihan bahasa yang sesuai.

Kemampuan tersebut akan menjadi modal penting ketika memasuki dunia profesional.

Penutup

Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan situasi terdiri atas ragam formal (baku), semiformal, dan nonformal. Ketiganya memiliki fungsi, karakteristik, dan ruang penggunaan yang berbeda. Ragam formal digunakan dalam komunikasi resmi yang menuntut ketepatan dan kepatuhan terhadap kaidah kebahasaan. Ragam semiformal menjadi jembatan antara komunikasi resmi dan santai sehingga banyak digunakan dalam dunia akademik maupun profesional. Sementara itu, ragam nonformal digunakan dalam komunikasi sehari-hari yang mengutamakan keakraban dan fleksibilitas.

Pemahaman mengenai ketiga ragam tersebut sangat penting bagi mahasiswa sebagai bagian dari kompetensi berbahasa. Kemampuan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan situasi akan meningkatkan efektivitas komunikasi, mencerminkan profesionalisme, serta memperkuat budaya literasi di lingkungan akademik maupun masyarakat. Di era digital, ketika batas antara komunikasi formal dan nonformal semakin dinamis, kemampuan beradaptasi tanpa mengabaikan kaidah Bahasa Indonesia menjadi keterampilan yang semakin penting untuk dimiliki oleh setiap warga negara.

Daftar Pustaka

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  • Chaer, A. (2019). Linguistik Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Mustakim. (2020). Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia di Era Digital. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Saddhono, K., & Rohmadi, M. (2018). Pengantar Sosiolinguistik: Teori dan Konsep Dasar. Surakarta: Yuma Pustaka.
  • Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Yendra. (2018). Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik). Yogyakarta: Deepublish.
  • Zaim, M. (2020). Sosiolinguistik: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Kencana.
  • UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris: UNESCO.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...