Jumat, 10 Juli 2026

Ragam Bahasa Berdasarkan Sarana: Ragam Lisan dan Ragam Tulis

 

Pelajari perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis dalam Bahasa Indonesia. Artikel ini membahas pengertian, karakteristik, kelebihan, kelemahan, contoh penggunaan, serta penerapannya dalam dunia akademik dan profesional sebagai materi Bab 2 Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia.

Bab 2: Ragam Bahasa Indonesia

2.2 Ragam Bahasa Berdasarkan Sarana: Ragam Lisan dan Ragam Tulis

Pendahuluan

Bahasa merupakan alat komunikasi utama yang memungkinkan manusia menyampaikan gagasan, perasaan, informasi, dan pengetahuan kepada orang lain. Dalam praktiknya, komunikasi tidak selalu dilakukan dengan cara yang sama. Ada komunikasi yang berlangsung secara langsung melalui percakapan tatap muka atau media audio, dan ada pula komunikasi yang dilakukan melalui media tulisan, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Perbedaan media atau sarana komunikasi tersebut melahirkan dua bentuk utama penggunaan bahasa, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang menggunakan kedua ragam tersebut secara bergantian. Seorang mahasiswa, misalnya, dapat berdiskusi secara lisan dengan dosen di ruang kelas, kemudian menuliskan hasil diskusi tersebut dalam bentuk laporan atau makalah. Demikian pula seorang pegawai dapat menjelaskan suatu kebijakan melalui rapat secara lisan, lalu mendokumentasikannya dalam bentuk surat atau notulen rapat. Hal ini menunjukkan bahwa ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis memiliki fungsi yang saling melengkapi.

Pemahaman mengenai kedua ragam bahasa ini menjadi sangat penting dalam Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia karena berkaitan langsung dengan kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi secara efektif, baik dalam lingkungan akademik maupun profesional. Mahasiswa dituntut tidak hanya mampu berbicara dengan baik, tetapi juga mampu menulis secara benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia.

Artikel ini membahas pengertian, karakteristik, kelebihan, kekurangan, serta perbedaan antara ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis beserta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Ragam Bahasa Berdasarkan Sarana

Dalam kajian linguistik, ragam bahasa berdasarkan sarana adalah variasi bahasa yang dibedakan menurut media atau alat yang digunakan dalam proses komunikasi. Berdasarkan sarananya, Bahasa Indonesia dibedakan menjadi dua bentuk utama, yaitu:

  1. Ragam bahasa lisan, yaitu bahasa yang disampaikan melalui ujaran atau tuturan secara langsung maupun melalui media audio dan audiovisual.
  2. Ragam bahasa tulis, yaitu bahasa yang disampaikan melalui lambang-lambang grafis atau tulisan sehingga dapat dibaca oleh orang lain.

Perbedaan utama kedua ragam tersebut terletak pada cara penyampaian pesan, bukan pada bahasanya. Baik ragam lisan maupun ragam tulis tetap menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan media komunikasi yang digunakan.

Ragam Bahasa Lisan

Pengertian

Ragam bahasa lisan adalah bentuk penggunaan bahasa yang disampaikan melalui bunyi ujaran. Komunikasi berlangsung dengan memanfaatkan suara, intonasi, tekanan, jeda, ekspresi wajah, dan gerak tubuh (bahasa nonverbal).

Dalam komunikasi lisan, penutur dan lawan tutur biasanya berada dalam waktu yang sama, baik secara langsung maupun melalui media komunikasi seperti telepon, konferensi video, atau siaran radio.

Ciri-Ciri Ragam Bahasa Lisan

Ragam bahasa lisan memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.

1. Menggunakan Bunyi Bahasa

Informasi disampaikan melalui suara sehingga keberhasilan komunikasi sangat dipengaruhi oleh pelafalan, intonasi, tempo, dan artikulasi.

2. Bersifat Spontan

Dalam percakapan sehari-hari, penutur sering berbicara tanpa perencanaan yang matang. Oleh karena itu, pengulangan kata, jeda, atau perbaikan kalimat sering terjadi.

Contoh:

"Jadi... eh... maksud saya begini...."

Fenomena seperti ini wajar dalam komunikasi lisan.

3. Didukung Unsur Nonverbal

Makna komunikasi tidak hanya berasal dari kata-kata, tetapi juga dari:

  • ekspresi wajah;
  • kontak mata;
  • gerakan tangan;
  • posisi tubuh;
  • intonasi suara.

Misalnya, kalimat "Baik, saya mengerti" dapat memiliki makna berbeda tergantung pada intonasi yang digunakan.

4. Konteks Sangat Membantu

Karena penutur dan pendengar biasanya berada dalam situasi yang sama, banyak informasi tidak perlu dijelaskan secara rinci.

Contoh:

"Taruh saja di sana."

Kata di sana dapat dipahami karena kedua pihak melihat lokasi yang dimaksud.

Kelebihan Ragam Bahasa Lisan

Beberapa kelebihan ragam bahasa lisan antara lain:

  • komunikasi berlangsung cepat;
  • memungkinkan umpan balik secara langsung;
  • memudahkan klarifikasi apabila terjadi kesalahpahaman;
  • lebih ekspresif karena didukung unsur nonverbal;
  • efektif untuk diskusi dan negosiasi.

Kelemahan Ragam Bahasa Lisan

Di sisi lain, ragam bahasa lisan juga memiliki beberapa keterbatasan.

  • Informasi mudah terlupakan jika tidak direkam.
  • Sulit dijadikan bukti resmi.
  • Rentan terhadap salah dengar.
  • Sangat bergantung pada kondisi pendengar dan situasi komunikasi.

Ragam Bahasa Tulis

Pengertian

Ragam bahasa tulis adalah bentuk penggunaan bahasa yang disampaikan melalui tulisan. Dalam ragam ini, komunikasi dilakukan menggunakan lambang grafis berupa huruf, angka, tanda baca, dan unsur kebahasaan lainnya.

Berbeda dengan komunikasi lisan, penulis dan pembaca tidak harus berada pada tempat maupun waktu yang sama.

Ciri-Ciri Ragam Bahasa Tulis

1. Menggunakan Sistem Tulisan

Semua informasi harus dituangkan secara lengkap melalui kata-kata dan tanda baca.

Tidak ada bantuan intonasi maupun ekspresi wajah.

2. Mengikuti Kaidah Kebahasaan

Ragam tulis menuntut penggunaan:

  • ejaan yang benar;
  • tanda baca yang tepat;
  • pilihan kata yang sesuai;
  • struktur kalimat yang efektif.

Kesalahan kecil dalam penulisan dapat mengubah makna kalimat.

3. Bersifat Lebih Terencana

Penulis memiliki kesempatan untuk:

  • menyusun ide;
  • mengedit tulisan;
  • memperbaiki kesalahan;
  • memilih kata yang paling tepat.

Karena itu, bahasa tulis umumnya lebih sistematis dibandingkan bahasa lisan.

4. Informasi Harus Lengkap

Pembaca tidak dapat langsung bertanya kepada penulis.

Oleh sebab itu, semua informasi penting harus dijelaskan secara jelas dan rinci.

Kelebihan Ragam Bahasa Tulis

Ragam bahasa tulis memiliki sejumlah keunggulan.

  • Dapat disimpan dalam waktu lama.
  • Menjadi dokumen resmi.
  • Mudah dipelajari kembali.
  • Menjangkau pembaca dalam waktu dan tempat yang berbeda.
  • Memiliki nilai hukum apabila digunakan dalam dokumen resmi.

Kelemahan Ragam Bahasa Tulis

Beberapa kelemahannya adalah:

  • tidak memungkinkan umpan balik secara langsung;
  • membutuhkan waktu lebih lama dalam penyusunan;
  • berpotensi menimbulkan salah tafsir jika kalimat tidak jelas;
  • memerlukan penguasaan kaidah bahasa yang baik.

Perbedaan Ragam Bahasa Lisan dan Ragam Bahasa Tulis

Perbedaan kedua ragam tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Aspek

Ragam Bahasa Lisan

Ragam Bahasa Tulis

Media

Bunyi ujaran

Tulisan

Sarana

Suara

Huruf dan tanda baca

Umpan balik

Langsung

Tidak langsung

Intonasi

Sangat penting

Digantikan tanda baca

Bahasa tubuh

Ada

Tidak ada

Ketelitian bahasa

Lebih fleksibel

Harus mengikuti kaidah

Dokumentasi

Sulit disimpan

Mudah didokumentasikan

Penyusunan

Cenderung spontan

Lebih terencana

Perbedaan ini menunjukkan bahwa masing-masing ragam memiliki karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi.

Contoh Ragam Bahasa Lisan dan Ragam Bahasa Tulis

Contoh Ragam Bahasa Lisan

Seorang dosen berkata kepada mahasiswa:

"Besok tugasnya dikumpulkan sebelum jam sembilan, ya."

Kalimat tersebut cukup dipahami karena disampaikan secara langsung.

Contoh Ragam Bahasa Tulis

Dalam pengumuman resmi ditulis:

"Seluruh mahasiswa diwajibkan menyerahkan tugas paling lambat pukul 09.00 WIB pada hari Senin, 15 September 2026 melalui sistem pembelajaran daring."

Kalimat tersebut lebih lengkap karena pembaca tidak dapat meminta penjelasan secara langsung.

Ragam Bahasa dalam Dunia Akademik

Dalam lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa harus mampu menggunakan kedua ragam bahasa secara tepat.

Ragam Lisan Digunakan Pada:

  • presentasi;
  • seminar;
  • sidang skripsi;
  • diskusi kelas;
  • wawancara penelitian.

Ragam Tulis Digunakan Pada:

  • makalah;
  • laporan praktikum;
  • proposal penelitian;
  • artikel ilmiah;
  • skripsi;
  • tesis.

Kemampuan menguasai kedua ragam tersebut merupakan bagian penting dari kompetensi akademik.

Ragam Bahasa di Era Digital

Perkembangan teknologi digital menyebabkan batas antara ragam lisan dan ragam tulis semakin fleksibel.

Sebagai contoh:

  • pesan suara (voice note) merupakan ragam lisan yang dikirim melalui media digital;
  • pesan singkat (chat) merupakan ragam tulis, tetapi sering menggunakan gaya bahasa lisan;
  • webinar memadukan komunikasi lisan dengan materi presentasi tertulis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi memengaruhi cara masyarakat menggunakan bahasa.

Namun demikian, dalam konteks akademik dan profesional, penggunaan ragam bahasa tetap harus memperhatikan norma kebahasaan. Misalnya, bahasa yang digunakan dalam surat elektronik resmi tentu berbeda dengan bahasa dalam percakapan di media sosial.

Pentingnya Memilih Ragam Bahasa yang Tepat

Kemampuan memilih ragam bahasa sesuai konteks merupakan salah satu indikator kompetensi berbahasa.

Mahasiswa perlu memahami bahwa:

  • karya ilmiah menggunakan ragam tulis baku;
  • presentasi ilmiah menggunakan ragam lisan formal;
  • komunikasi sehari-hari dapat menggunakan ragam yang lebih santai sesuai situasi.

Pemilihan ragam yang tepat akan meningkatkan efektivitas komunikasi sekaligus menunjukkan profesionalisme penutur atau penulis.

Penutup

Ragam bahasa berdasarkan sarana terdiri atas ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Keduanya memiliki karakteristik, fungsi, serta kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ragam bahasa lisan mengandalkan bunyi ujaran, intonasi, dan unsur nonverbal sehingga komunikasi berlangsung lebih spontan dan interaktif. Sebaliknya, ragam bahasa tulis mengandalkan sistem tulisan, ejaan, dan tanda baca sehingga penyampaian informasi harus dilakukan secara lebih lengkap, sistematis, dan mengikuti kaidah kebahasaan.

Dalam dunia pendidikan, khususnya pada jenjang perguruan tinggi, penguasaan kedua ragam bahasa menjadi kompetensi yang sangat penting. Mahasiswa dituntut mampu berbicara secara efektif dalam diskusi dan presentasi sekaligus menulis karya ilmiah yang memenuhi standar akademik. Di era digital, meskipun bentuk komunikasi semakin beragam, prinsip penggunaan ragam bahasa yang sesuai dengan tujuan, media, dan situasi tetap harus menjadi pedoman. Dengan demikian, Bahasa Indonesia dapat terus berfungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif, ilmiah, dan profesional di berbagai bidang kehidupan.

Daftar Pustaka

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  • Chaer, A. (2019). Linguistik Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Mustakim. (2020). Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia di Era Digital. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Saddhono, K., & Rohmadi, M. (2018). Pengantar Sosiolinguistik: Teori dan Konsep Dasar. Surakarta: Yuma Pustaka.
  • Sumarsono. (2017). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Yendra. (2018). Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik). Yogyakarta: Deepublish.
  • Zaim, M. (2020). Sosiolinguistik: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Kencana.
  • UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris: UNESCO.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...