Selasa, 03 Maret 2026

Emosi dalam Bahasa: Mengapa Mengumpat dalam Bahasa Ibu Terasa Lebih "Lega"?

 Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik  Volume 2, Nomor 3,  Maret  2026

Emosi dalam Bahasa:


Emosi dalam Bahasa: Mengapa Mengumpat dalam Bahasa Ibu Terasa Lebih "Lega"?

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana reaksi emosional Anda bisa berbeda ketika mendengar atau mengucapkan makian dalam bahasa yang berbeda? Bagi penutur bilingual atau multibahasa, ada pengalaman yang hampir universal: mengumpat dalam bahasa ibu terasa jauh lebih "kena", lebih "lega", dan lebih memuaskan secara emosional dibandingkan mengumpat dalam bahasa kedua yang dipelajari di kemudian hari. Mengapa sebuah kata makian yang sama—yang secara harfiah berarti hal yang sama—bisa terasa seperti pukulan telak dalam satu bahasa, namun hanya seperti percikan kecil dalam bahasa lain? Artikel ini akan mengupas tuntas fenomena ini dari perspektif psikolinguistik dan neurosains kognitif, mengungkap bagaimana bahasa ibu terhubung secara unik dengan pusat emosi di otak kita.

Bahasa Ibu vs. Bahasa Kedua: Perbedaan Pengalaman Emosional

Fenomena bahwa bahasa ibu memiliki bobot emosional yang lebih besar telah lama menjadi bahan perbincangan di kalangan peneliti. Catherine Caldwell-Harris, psikolog dari Boston University, mulai mendalami topik ini dari sebuah pengamatan sederhana namun mendalam. Seorang kolega pascadoktoralnya dari Turki suatu kali berkomentar, "Saya bisa menceritakan lelucon seks dalam bahasa Inggris, tetapi saya tidak bisa menceritakan lelucon seks dalam bahasa Turki." Pernyataan ini memicu penyelidikan lebih lanjut tentang mengapa kata-kata tabu dalam bahasa ibu terasa begitu berbeda

.

Penelitian menunjukkan bahwa kata-kata makian bukan sekadar kosakata biasa. Mereka termasuk dalam kategori "kata tabu" yang sarat dengan muatan emosional dan sosial. Ketika kita mempelajari bahasa kedua, terutama di ruang kelas yang steril dari konteks emosional, kata-kata tersebut sering kali hanya dipelajari sebagai definisi kamus, tanpa dibarengi dengan pengalaman emosional yang mendalam. Catherine Caldwell-Harris menggunakan analogi yang menarik: kata makian dalam bahasa asing ibarat "uang mainan". Kita bisa menggunakannya tanpa harus membayar "harga emosional" yang sebenarnya

.

Bukti Fisiologis: Apa Kata Respons Kulit?

Untuk membuktikan secara ilmiah perbedaan dampak emosional ini, Caldwell-Harris dan timnya melakukan eksperimen dengan menggunakan pengukuran konduktansi kulit (skin conductance), sebuah metode yang mengukur respons fisiologis tubuh terhadap rangsangan emosional. Semakin tinggi tingkat gairah emosional, semakin banyak keringat yang diproduksi oleh kelenjar keringat, yang pada gilirannya meningkatkan konduktansi listrik pada kulit.

Hasilnya sangat signifikan. Ketika partisipan bilingual mendengar kata-kata tabu dalam bahasa ibu mereka, konduktansi kulit mereka melonjak tajam. Sebaliknya, ketika mendengar kata-kata tabu yang sama dalam bahasa kedua yang mereka kuasai, respons fisiologisnya jauh lebih rendah. Yang menarik, efek ini tidak hanya terjadi pada kata makian, tetapi juga pada ungkapan emosional lainnya seperti kata-kata sayang, misalnya "I love you"

. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Jean-Marc Dewaele, profesor bilingualisme di Birkbeck, University of London, yang menggunakan teknologi lie detector dan menemukan bahwa penutur secara konsisten kurang sensitif terhadap kata makian yang mereka dengar dalam bahasa kedua

.

Pembelajaran dalam Konteks: Mengapa "Idiot" Bisa Terasa Lebih Kasar?

Salah satu temuan menarik dari penelitian Dewaele adalah bahwa penutur bahasa kedua cenderung salah dalam menilai tingkat ketabuan suatu kata. Dalam surveinya terhadap penutur bahasa Inggris yang sangat mahir sebagai bahasa kedua, mereka diminta untuk mengurutkan kata-kata makian bahasa Inggris berdasarkan kekuatan tabu-nya. Hasilnya, mereka cenderung melebih-lebihkan ketabuan kata-kata yang relatif ringan seperti "idiot", namun justru meremehkan ketabuan kata-kata yang jauh lebih kuat

.

Fenomena ini berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai "kompetensi sosiopragmatik". Meskipun seseorang dapat menghafal definisi kamus dari sebuah kata makian, butuh pengalaman bertahun-tahun dalam komunitas penutur asli untuk memahami secara utuh nilai-nilai kultural yang melekat pada kata tersebut—kapan kata itu pantas diucapkan, kepada siapa, dan dalam konteks apa

. Tanpa kompetensi ini, penggunaan kata makian dalam bahasa kedua sering kali terasa canggung, tidak tepat, atau bahkan berisiko menimbulkan pelanggaran yang tidak disengaja.

Seorang penutur asli Amerika yang tinggal di London, misalnya, pernah secara tidak sengaja menyinggung perasaan sebuah keluarga Inggris karena ia tidak menyadari betapa kuatnya dampak emosional dari ungkapan "taking the piss" di Inggris

. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam bahasa yang sama (Inggris), perbedaan variasi regional pun dapat menciptakan kesenjangan pemahaman emosional.

Dasar Neurologis: Otak Memproses Makian secara Berbeda

Pertanyaannya kemudian, apakah ada dasar neurologis yang menjelaskan mengapa kata makian dalam bahasa ibu diproses secara berbeda di otak? Penelitian neurosains memberikan jawaban yang menarik. Studi oleh Diana Van Lancker Sidtis (2006) mengkaji bagaimana otak memproses ungkapan non-literal yang akrab bagi penutur asli, seperti idiom, peribahasa, makian, dan formula bicara lainnya

.

Yang menarik adalah temuan bahwa jenis-jenis ungkapan ini, termasuk makian, tampaknya disimpan dan diproses secara berbeda dibandingkan dengan bahasa "baru" yang kita pelajari. Pasien dengan afasia (gangguan bahasa akibat kerusakan otak) yang kehilangan kemampuan untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru yang kreatif, ternyata masih mampu mengucapkan kata-kata makian dan formula bicara otomatis lainnya dengan fasih. Fenomena "ucapan otomatis" yang bertahan ini menunjukkan bahwa makian dan ungkapan formulaik lainnya mungkin diproses oleh sistem neurologis yang berbeda—kemungkinan yang lebih primitif dan terkait erat dengan sistem limbik, pusat emosi otak—dibandingkan dengan bahasa proposisional yang dipelajari secara sadar

.

Studi elektroensefalografi (EEG) oleh Katherine Sendek (2020) dari College of Wooster semakin memperkuat temuan ini. Dalam penelitiannya, ia membandingkan respons otak penutur asli bahasa Inggris Amerika terhadap kata-kata tabu Amerika (yang akrab) dan kata-kata tabu Inggris (yang diakui sebagai kata tabu tetapi tidak memiliki signifikansi sosial yang sama). Hasilnya, hanya kata-kata tabu Amerika yang menunjukkan peningkatan pada komponen LPC (Late Positive Complex), sebuah gelombang otak yang terkait dengan pemrosesan emosional yang eksplisit. Meskipun partisipan secara kognitif tahu bahwa kata-kata tabu Inggris itu "kasar", otak mereka tidak memprosesnya dengan kedalaman emosional yang sama karena kata-kata tersebut tidak diperoleh melalui interaksi sosial langsung

.

Makian sebagai Pereda Nyeri

Salah satu fungsi paling menarik dari mengumpat adalah kemampuannya untuk meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit. Penelitian oleh Stephens, Atkins, dan Kingston (2009) menunjukkan bahwa mengumpat dapat meningkatkan toleransi terhadap stimulus yang menyakitkan dan meningkatkan detak jantung

. Dalam eksperimen klasik, partisipan diminta merendam tangan mereka dalam air es sambil mengulang-ulang kata makian pilihan mereka. Dibandingkan dengan saat mereka mengucapkan kata netral (misalnya, deskriptor untuk sebuah meja), mereka mampu menahan tangan di air es lebih lama saat mengumpat.

Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu teorinya adalah bahwa mengumpat memicu respons "fight-or-flight" (lawan atau lari), yang melepaskan adrenalin dan secara alami meningkatkan ambang rasa sakit. Teori lain menyebutkan bahwa makian berfungsi sebagai katarsis, pelepasan emosional yang meredakan ketegangan. Namun, Caldwell-Harris mengajukan catatan penting: efek pengalihan perhatian juga bisa berperan. Banyak hal yang meningkatkan toleransi rasa sakit, seperti meditasi, tersenyum, atau bergandengan tangan dengan pasangan, sehingga efek makian mungkin tidak sepenuhnya unik

.

Yang lebih menarik lagi adalah bahwa efek pereda nyeri dari makian tampaknya berkurang jika seseorang terlalu sering mengumpat dalam kehidupan sehari-hari. Stephens dan Umland (2011) menemukan bahwa bagi mereka yang frekuensi kesehariannya tinggi dalam mengumpat, efektivitas makian sebagai respons terhadap rasa sakit menjadi berkurang. Ini menunjukkan adanya efek desensitisasi. Semakin sering kita menggunakan "amunisi emosional" ini, semakin tumpul dampaknya

. Ini bisa menjadi alasan lain mengapa orang tua melarang anak-anak mereka mengumpat—bukan hanya karena tidak sopan, tetapi juga untuk menjaga agar "kata-kata emas" ini tetap efektif saat benar-benar dibutuhkan.

Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah yang penting adalah kata yang diucapkan atau tindakan bersuara itu sendiri? Penelitian oleh Swee dan Schirmer (2015) menjawab pertanyaan ini dengan cemerlang. Mereka menemukan bahwa toleransi rasa sakit hanya meningkat jika orang yang mengalami rasa sakit itu sendiri yang bersuara. Mendengar rekaman suara sendiri atau suara orang lain yang mengerang kesakitan tidak memberikan efek yang sama. Jadi, ada sesuatu yang spesifik tentang tindakan memproduksi suara—terutama kata makian yang sarat emosi—yang berfungsi sebagai mekanisme koping

.

Bahasa Ibu: Fondasi Kognitif dan Emosional

Mengapa bahasa ibu memiliki hubungan istimewa dengan emosi? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana dan kapan kita mempelajarinya. Bahasa ibu adalah bahasa yang kita serap sejak dalam kandungan, melalui interaksi dengan ibu dan orang-orang terdekat. Kata-kata pertama yang kita dengar dan ucapkan sarat dengan konteks emosional: kata-kata sayang dari ibu, peringatan dari ayah, tawa riang dari kakak. Bahasa ibu tertanam dalam jaringan memori otobiografi dan emosional kita yang paling dalam.

Sebaliknya, bahasa kedua sering dipelajari di kemudian hari, di ruang kelas, melalui buku teks dan latihan grammar yang steril. Meskipun kita bisa mencapai kefasihan yang sangat tinggi, bahasa kedua mungkin tidak pernah sepenuhnya terhubung dengan sistem limbik kita dengan cara yang sama seperti bahasa ibu. Kata-kata dalam bahasa kedua tetap berada di level "kognitif"—kita tahu artinya, kita tahu konteks penggunaannya, tetapi kita tidak merasakannya dengan intensitas yang sama.

Ini relevan dengan apa yang dibahas oleh Muhammad Sadiq Mohd Salihoddin dalam tulisannya di JendelaDBP tentang pentingnya bahasa ibunda. Ia mengutip Hipotesis Perkembangan Kesalingbergantungan James Cummins (1979) yang menyatakan bahwa kekukuhan bahasa ibunda justru memudahkan penguasaan bahasa kedua

. Bahasa ibunda adalah fondasi di mana semua pembelajaran dan pemrosesan emosional selanjutnya dibangun. Tanpa fondasi yang kuat, kita berisiko terperangkap dalam kondisi "semilingualisme"—tidak menguasai bahasa pertama dengan baik, dan juga tidak kompeten dalam bahasa kedua

. Dalam konteks emosi, fondasi yang kuat dalam bahasa ibunda inilah yang membuat makian dalam bahasa ibu terasa begitu "nyata" dan "lega".

Implikasi Praktis: Mengapa Ini Penting?

Memahami perbedaan emosional antara bahasa ibu dan bahasa kedua memiliki implikasi praktis yang luas. Dalam terapi psikologi, misalnya, banyak pasien bilingual merasa lebih nyaman membicarakan emosi dan trauma mereka dalam bahasa kedua karena jarak emosional yang ditawarkannya. Sebaliknya, momen-momen katarsis yang paling dalam sering kali hanya dapat dicapai dalam bahasa ibu.

Dalam konteks sosial, pemahaman ini juga penting untuk menghindari kesalahpahaman antar budaya. Apa yang dianggap sebagai makian ringan dalam satu bahasa bisa menjadi penghinaan berat dalam bahasa lain. Dewaele menekankan bahwa penting untuk menyadari bahwa meskipun mudah mempelajari definisi kata-kata tabu, butuh pengalaman bertahun-tahun untuk memahami di mana dan kapan (jika sama sekali) kata itu pantas digunakan

.

Di sisi lain, fenomena appropriasi kata makian bahasa Inggris di negara-negara seperti Swedia menunjukkan dinamika yang menarik. Kristy Beers Fägersten (2024) dari Universitas Södertörn meneliti bagaimana kata makian bahasa Inggris telah menyebar ke seluruh dunia dan diadopsi oleh penutur bahasa lain, menciptakan sistem dua tingkat di mana kata makian bahasa Inggris memenuhi fungsi pragmatis yang berbeda dan dapat hidup berdampingan dengan padanannya dalam bahasa Swedia. Namun, penggunaannya sering kali bertentangan dengan norma-norma makian di budaya sumber maupun budaya target, yang menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kata-kata makian ini dan potensi mereka untuk mempertahankan "keganasan" emosionalnya

.

Kesimpulan

Mengapa mengumpat dalam bahasa ibu terasa lebih lega? Jawabannya terletak pada perpaduan unik antara faktor fisiologis, neurologis, dan pengalaman hidup. Bahasa ibu adalah bahasa yang kita pelajari dalam dekapan hangat orang-orang tercinta, bahasa yang menemani kita melewati suka dan duka pertama dalam hidup. Kata-kata makian dalam bahasa ibu bukan sekadar rangkaian fonem, tetapi gudang emosi yang tersimpan dalam jaringan saraf paling primitif di otak kita. Saat kita mengumpat dalam bahasa ibu, kita tidak hanya mengucapkan kata-kata—kita melepaskan tekanan emosional yang telah lama terpendam, dengan "harga emosional" yang nyata dan memuaskan. Jadi, lain kali Anda tanpa sengaja menjatuhkan palu di jempol kaki dan sebuah makian dalam bahasa ibu meluncur deras, sadarilah bahwa Anda sedang menyaksikan keajaiban linguistik dan neurologis: bukti bahwa bahasa dan emosi adalah dua sisi dari koin yang sama, dan bahwa bahasa ibu akan selalu menjadi rumah pertama dan paling nyaman bagi perasaan kita yang paling dalam.

 

Daftar Pustaka

Brown, E. A. (2010, Januari 10). The good side of bad words. BU Today. Boston University.

Caldwell-Harris, C. (2010). Swearing and emotional responses in bilinguals. Dalam Brown, E. A., The good side of bad words. BU Today.

Cummins, J. (1979). Linguistic interdependence and the educational development of bilingual children. Review of Educational Research, 49(2), 222–251.

Davis, M. (2013, Juni 30). The perils of swearing in a foreign language. Birkbeck Events Blog. Birkbeck, University of London.

Dewaele, J.-M. (2013). Language preferences for swearing among maximally proficient multilinguals. Dalam Davis, M., The perils of swearing in a foreign language. Birkbeck Events Blog.

Fägersten, K. B. (2024, Juni 14). The ecosystem of swearing: How intra- and interpersonal variability sustains the power of offensive language [Ceramah]. Laboratoire de linguistique formelle, CNRS, Paris, Prancis.

Leake, H. (2016, Juli 20). Can a word that's profane help with pain? NOIjam. Noigroup.

Mohd Salihoddin, M. S. (2025, Desember 17). Kesan terhadap peminggiran bahasa ibunda. JendelaDBP. Dewan Bahasa dan Pustaka.

Sendek, K. (2020). The impact of acquisition context on the affective perception of taboo words (Senior Independent Study Thesis No. 9189). College of Wooster.

Sidtis, D. V. L. (2006). Where in the brain is nonliteral language? Metaphor and Symbol, 21(4), 213–244.

Stephens, R., Atkins, J., & Kingston, A. (2009). Swearing as a response to pain. NeuroReport, 20(10), 1056–1060.

Stephens, R., & Umland, C. (2011). Swearing as a response to pain – Effect of daily swearing frequency. The Journal of Pain, 12(12), 1274–1281.

Swee, G., & Schirmer, A. (2015). On the importance of being vocal: Saying "ow" improves pain tolerance. The Journal of Pain, 16(4), 326–334.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Emosi dalam Bahasa: Mengapa Mengumpat dalam Bahasa Ibu Terasa Lebih "Lega"?

  Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik  Volume 2, Nomor 3,  Maret  2026 Emosi dalam Bahasa: Emosi dalam Bahasa: Mengapa Mengumpat ...