Minggu, 29 Maret 2026

DEIKSIS

 

BAB 3: DEIKSIS

Pernah nggak kamu mendengar seseorang berkata, “Saya akan ke sana besok”, lalu kamu bingung—“ke mana?”, “besok yang kapan?”, atau bahkan “siapa saya?” 😄

Nah, fenomena seperti ini dalam kajian pragmatik disebut deiksis. Deiksis adalah salah satu konsep penting yang menunjukkan bahwa makna bahasa sangat bergantung pada konteks.

Dalam bab ini, kita akan membahas deiksis dengan cara yang santai, supaya mudah dipahami tapi tetap “kena” secara konsep.

 

Buku  PRAGMATIK


3.1 Pengertian Deiksis

Secara sederhana, deiksis adalah kata atau ungkapan yang maknanya bergantung pada konteks pembicaraan—terutama siapa yang berbicara, kapan, dan di mana.

Istilah “deiksis” sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti “menunjuk” atau “menandai”. Jadi, kata-kata deiktik itu seperti “penunjuk arah” dalam bahasa.

Contoh:

“Saya sedang di sini sekarang.”

Kalimat ini terlihat jelas, tapi sebenarnya penuh dengan unsur deiktik:

  • “Saya” → siapa penuturnya
  • “di sini” → lokasi penutur
  • “sekarang” → waktu saat berbicara

Tanpa mengetahui konteksnya, kita tidak bisa memahami makna secara lengkap.

Dengan kata lain, deiksis mengingatkan kita bahwa bahasa itu tidak pernah berdiri sendiri—selalu “menempel” pada situasi.

 

3.2 Jenis Deiksis (Persona, Tempat, Waktu, Sosial, Wacana)

Dalam pragmatik, deiksis dibagi menjadi beberapa jenis. Yuk kita bahas satu per satu dengan contoh sederhana.

 

1. Deiksis Persona (Person Deixis)

Deiksis persona berkaitan dengan orang yang terlibat dalam komunikasi.

Contoh kata:

  • Saya, aku (orang pertama)
  • Kamu, Anda (orang kedua)
  • Dia, mereka (orang ketiga)

Contoh kalimat:

“Saya akan membantu kamu.”

Makna “saya” dan “kamu” akan berubah tergantung siapa yang berbicara dan kepada siapa.

 

2. Deiksis Tempat (Place Deixis)

Deiksis tempat menunjukkan lokasi relatif terhadap penutur.

Contoh kata:

  • Di sini
  • Di sana
  • Ke situ

Contoh:

“Tolong duduk di sini.”

“Di sini” bisa berarti kursi tertentu, ruangan tertentu, atau bahkan kota tertentu—tergantung konteksnya.

 

3. Deiksis Waktu (Time Deixis)

Deiksis waktu berkaitan dengan kapan suatu peristiwa terjadi.

Contoh kata:

  • Sekarang
  • Besok
  • Kemarin

Contoh:

“Saya akan datang besok.”

Makna “besok” tergantung kapan kalimat itu diucapkan.

 

4. Deiksis Sosial (Social Deixis)

Deiksis sosial berkaitan dengan hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur.

Contoh:

  • Penggunaan “Anda” vs “kamu”
  • “Bapak/Ibu” vs nama langsung

Contoh kalimat:

“Apakah Anda sudah makan, Pak?”

Penggunaan “Anda” dan “Pak” menunjukkan rasa hormat dan jarak sosial.

 

5. Deiksis Wacana (Discourse Deixis)

Deiksis wacana merujuk pada bagian tertentu dalam pembicaraan atau teks.

Contoh:

  • “Seperti yang saya katakan tadi…”
  • “Hal ini sangat penting…”

Contoh:

“Pernyataan itu perlu kita perhatikan.”

Kata “itu” merujuk pada sesuatu yang sudah disebut sebelumnya dalam wacana.

 

3.3 Fungsi Deiksis

Setelah memahami jenis-jenisnya, sekarang kita bahas: sebenarnya, apa sih fungsi deiksis dalam komunikasi?

 

1. Menentukan Referensi Secara Tepat

Deiksis membantu kita mengetahui siapa, di mana, dan kapan sesuatu terjadi.

Tanpa deiksis, komunikasi akan terasa kaku dan kurang efisien.

 

2. Membuat Bahasa Lebih Efisien

Bayangkan kalau setiap kali kita berbicara harus menyebutkan semuanya secara lengkap.

Alih-alih:

“Saya akan ke rumah Andi yang berada di Jalan Mawar nomor 5 besok tanggal 10…”

Kita cukup bilang:

“Saya akan ke sana besok.”

Lebih praktis, kan?

 

3. Menghubungkan Bahasa dengan Konteks

Deiksis adalah “jembatan” antara bahasa dan situasi nyata. Ia membantu ujaran menjadi relevan dengan kondisi saat itu.

 

4. Menunjukkan Hubungan Sosial

Melalui deiksis sosial, kita bisa menunjukkan:

  • Kesopanan
  • Keakraban
  • Hierarki sosial

 

5. Membantu Kohesi dalam Wacana

Deiksis wacana membantu menghubungkan satu bagian teks dengan bagian lainnya, sehingga komunikasi menjadi lebih runtut dan mudah dipahami.

 

Penutup

Deiksis mungkin terlihat sederhana—hanya kata seperti “saya”, “di sini”, atau “besok”. Tapi di balik kesederhanaannya, deiksis punya peran besar dalam menentukan makna.

Tanpa deiksis, komunikasi akan kehilangan arah. Kita tidak tahu siapa yang dibicarakan, di mana, dan kapan sesuatu terjadi.

Dengan memahami deiksis, kita jadi lebih:

  • Peka terhadap konteks
  • Cermat dalam memahami makna
  • Efektif dalam berkomunikasi

Jadi, lain kali kalau kamu mendengar kata “di sana” atau “besok”, ingat ya—maknanya tidak sesederhana yang terlihat 😉

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tindak Tutur (Speech Acts)

  BAGIAN II: CABANG-CABANG LINGUISTIK Bab 7: Pragmatik Tindak Tutur (Speech Acts)   Dalam komunikasi sehari-hari, manusia tidak hanya m...