BAB 3: DEIKSIS
Pernah nggak kamu mendengar
seseorang berkata, “Saya akan ke sana besok”, lalu kamu bingung—“ke
mana?”, “besok yang kapan?”, atau bahkan “siapa saya?” 😄
Nah, fenomena seperti ini dalam kajian
pragmatik disebut deiksis. Deiksis adalah salah satu konsep penting yang
menunjukkan bahwa makna bahasa sangat bergantung pada konteks.
Dalam bab ini, kita akan membahas
deiksis dengan cara yang santai, supaya mudah dipahami tapi tetap “kena” secara
konsep.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
3.1 Pengertian Deiksis
Secara sederhana, deiksis
adalah kata atau ungkapan yang maknanya bergantung pada konteks
pembicaraan—terutama siapa yang berbicara, kapan, dan di mana.
Istilah “deiksis” sendiri berasal
dari bahasa Yunani yang berarti “menunjuk” atau “menandai”. Jadi, kata-kata
deiktik itu seperti “penunjuk arah” dalam bahasa.
Contoh:
“Saya sedang di sini sekarang.”
Kalimat ini terlihat jelas, tapi
sebenarnya penuh dengan unsur deiktik:
- “Saya” → siapa penuturnya
- “di sini” → lokasi penutur
- “sekarang” → waktu saat berbicara
Tanpa mengetahui konteksnya, kita
tidak bisa memahami makna secara lengkap.
Dengan kata lain, deiksis
mengingatkan kita bahwa bahasa itu tidak pernah berdiri sendiri—selalu
“menempel” pada situasi.
3.2 Jenis Deiksis (Persona, Tempat, Waktu, Sosial, Wacana)
Dalam pragmatik, deiksis dibagi
menjadi beberapa jenis. Yuk kita bahas satu per satu dengan contoh sederhana.
1. Deiksis Persona (Person Deixis)
Deiksis persona berkaitan dengan
orang yang terlibat dalam komunikasi.
Contoh kata:
- Saya, aku (orang pertama)
- Kamu, Anda (orang kedua)
- Dia, mereka (orang ketiga)
Contoh kalimat:
“Saya akan membantu kamu.”
Makna “saya” dan “kamu” akan berubah
tergantung siapa yang berbicara dan kepada siapa.
2. Deiksis Tempat (Place Deixis)
Deiksis tempat menunjukkan lokasi
relatif terhadap penutur.
Contoh kata:
- Di sini
- Di sana
- Ke situ
Contoh:
“Tolong duduk di sini.”
“Di sini” bisa berarti kursi
tertentu, ruangan tertentu, atau bahkan kota tertentu—tergantung konteksnya.
3. Deiksis Waktu (Time Deixis)
Deiksis waktu berkaitan dengan kapan
suatu peristiwa terjadi.
Contoh kata:
- Sekarang
- Besok
- Kemarin
Contoh:
“Saya akan datang besok.”
Makna “besok” tergantung kapan
kalimat itu diucapkan.
4. Deiksis Sosial (Social Deixis)
Deiksis sosial berkaitan dengan
hubungan sosial antara penutur dan lawan tutur.
Contoh:
- Penggunaan “Anda” vs “kamu”
- “Bapak/Ibu” vs nama langsung
Contoh kalimat:
“Apakah Anda sudah makan, Pak?”
Penggunaan “Anda” dan “Pak”
menunjukkan rasa hormat dan jarak sosial.
5. Deiksis Wacana (Discourse Deixis)
Deiksis wacana merujuk pada bagian
tertentu dalam pembicaraan atau teks.
Contoh:
- “Seperti yang saya katakan tadi…”
- “Hal ini sangat penting…”
Contoh:
“Pernyataan itu perlu kita
perhatikan.”
Kata “itu” merujuk pada sesuatu yang
sudah disebut sebelumnya dalam wacana.
3.3 Fungsi Deiksis
Setelah memahami jenis-jenisnya,
sekarang kita bahas: sebenarnya, apa sih fungsi deiksis dalam komunikasi?
1. Menentukan Referensi Secara Tepat
Deiksis membantu kita mengetahui
siapa, di mana, dan kapan sesuatu terjadi.
Tanpa deiksis, komunikasi akan
terasa kaku dan kurang efisien.
2. Membuat Bahasa Lebih Efisien
Bayangkan kalau setiap kali kita
berbicara harus menyebutkan semuanya secara lengkap.
Alih-alih:
“Saya akan ke rumah Andi yang berada
di Jalan Mawar nomor 5 besok tanggal 10…”
Kita cukup bilang:
“Saya akan ke sana besok.”
Lebih praktis, kan?
3. Menghubungkan Bahasa dengan Konteks
Deiksis adalah “jembatan” antara
bahasa dan situasi nyata. Ia membantu ujaran menjadi relevan dengan kondisi
saat itu.
4. Menunjukkan Hubungan Sosial
Melalui deiksis sosial, kita bisa
menunjukkan:
- Kesopanan
- Keakraban
- Hierarki sosial
5. Membantu Kohesi dalam Wacana
Deiksis wacana membantu
menghubungkan satu bagian teks dengan bagian lainnya, sehingga komunikasi
menjadi lebih runtut dan mudah dipahami.
Penutup
Deiksis mungkin terlihat
sederhana—hanya kata seperti “saya”, “di sini”, atau “besok”. Tapi di balik
kesederhanaannya, deiksis punya peran besar dalam menentukan makna.
Tanpa deiksis, komunikasi akan
kehilangan arah. Kita tidak tahu siapa yang dibicarakan, di mana, dan kapan
sesuatu terjadi.
Dengan memahami deiksis, kita jadi
lebih:
- Peka terhadap konteks
- Cermat dalam memahami makna
- Efektif dalam berkomunikasi
Jadi, lain kali kalau kamu mendengar
kata “di sana” atau “besok”, ingat ya—maknanya tidak sesederhana yang terlihat 😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar