![]() |
| Buku Linguistik Umum |
LINGUISTIK UMUM
BAGIAN I: LANDASAN DASAR
LINGUISTIK
Bab 1: Hakikat Bahasa dan
Linguistik
Pengertian Bahasa
Bahasa merupakan salah satu aspek paling fundamental dalam kehidupan
manusia. Tanpa bahasa, manusia akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan
pikiran, perasaan, gagasan, maupun dalam membangun hubungan sosial. Oleh karena
itu, pemahaman tentang bahasa menjadi sangat penting, terutama dalam kajian
linguistik sebagai ilmu yang secara sistematis mempelajari bahasa.
Dalam konteks linguistik umum, pembahasan mengenai pengertian bahasa menjadi
landasan utama sebelum melangkah ke aspek-aspek yang lebih kompleks. Artikel
ini akan menguraikan secara mendalam tentang hakikat bahasa, definisi bahasa
menurut para ahli, serta karakteristik bahasa sebagai sistem komunikasi
manusia.
1. Hakikat Bahasa
Secara umum, bahasa dapat dipahami sebagai alat komunikasi yang digunakan
manusia untuk berinteraksi satu sama lain. Namun, pengertian ini masih bersifat
sangat umum dan belum mencerminkan kompleksitas bahasa secara ilmiah.
Bahasa tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga merupakan sistem
simbol yang terstruktur, konvensional, dan bermakna. Melalui bahasa, manusia
dapat mengekspresikan ide, membangun pengetahuan, serta mempertahankan budaya
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hakikat bahasa mencakup beberapa aspek penting, yaitu:
- Bahasa
sebagai sistem
- Bahasa
sebagai simbol
- Bahasa
bersifat arbitrer
- Bahasa
bersifat konvensional
- Bahasa
bersifat produktif
- Bahasa bersifat
dinamis
- Bahasa
bersifat manusiawi
Aspek-aspek ini menunjukkan bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang sederhana,
melainkan fenomena kompleks yang melibatkan struktur, makna, serta penggunaan
dalam konteks sosial.
2. Pengertian Bahasa Menurut
Para Ahli
Para ahli linguistik telah memberikan berbagai definisi tentang bahasa, yang
masing-masing menyoroti aspek tertentu dari bahasa.
a. Ferdinand de Saussure
Saussure mendefinisikan bahasa sebagai sistem tanda (sign system) yang
terdiri atas hubungan antara signifier (penanda) dan signified
(petanda). Dalam pandangannya, bahasa adalah sistem yang terstruktur dan saling
terkait antarunsurnya.
Teori Ferdinand de Saussure mengenai bahasa sebagai sistem
tanda (sign system) merupakan salah satu fondasi utama ilmu
linguistik modern dan semiotika.
Agar konsep ini lebih mudah dipahami, mari kita bedah komponen utama
dari teori Saussure beserta contoh ilustrasi konkretnya.
1. Konsep Tanda Linguistik (Linguistic
Sign)
Saussure menjelaskan bahwa satu tanda bahasa (sign) tidak hanya
menghubungkan benda dengan nama, melainkan menghubungkan dua entitas mental
yang saling melekat ibarat dua sisi dari selembar kertas:
- Signifier (Penanda): Aspek fisik atau material
dari tanda, yaitu bentuk bunyi bahasa yang diucapkan atau simbol tulisan
yang terlihat.
- Signified (Petanda): Konsep, gagasan, makna,
atau gambaran mental yang muncul di dalam pikiran ketika mendengar atau
melihat signifier.
|
TANDA (SIGN |
||||
|
|
|
|
|
|
|
[ Signifier /
Penanda ] |
----> |
Bentuk bunyi /
tulisan |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
▲ │ (saling melekat
& tak terpisahkan ▼ |
|||
|
|
|
|
|
|
|
[ Signified /
Petanda ] |
----> |
Konsep mental /
arti |
||
2. Contoh Ilustrasi Konkret
Ilustrasi 1: Kata "Buku"
- Signifier (Penanda): Deretan bunyi suara /b-u-k-u/ yang didengar oleh telinga,
atau kombinasi huruf cetak B-U-K-U yang dilihat oleh mata pada halaman ini.
- Signified (Petanda): Gambaran mental di dalam
benak Anda tentang tumpukan kertas yang dijilid, memiliki sampul,
berisi tulisan atau gambar, dan digunakan untuk membaca atau menulis.
Catatan Penting: Signified bukanlah benda fisik bukunya
secara langsung di dunia nyata, melainkan konsep/pemikiran tentang buku
yang ada di dalam kepala penutur dan pendengar.
Ilustrasi 2: Sifat Arbitrer (Arbitrariness
of the Sign)
Salah satu prinsip utama Saussure adalah bahwa hubungan antara signifier
dan signified bersifat arbitrer (manasuka/tidak ada hubungan
alamiah secara langsung).
- Untuk menjelaskan konsep
objek yang sama (Petanda/Signified: hewan berkaki empat yang
menyalak dan setia):
- Orang Indonesia menyebut
bentuk bunyinya: "Anjing" (Penanda)
- Orang Inggris menyebut
bentuk bunyinya: "Dog" (Penanda)
- Orang Arab menyebut bentuk
bunyinya: "Kalb" (Penanda)
Hal ini membuktikan bahwa tidak ada alasan alami mengapa hewan tersebut
dinamai "anjing" atau "dog". Hubungan itu terbentuk murni
atas dasar kesepakatan sosial (konvensi) masyarakat penuturnya.
3. Bahasa sebagai Sistem yang
Terstruktur (Structure & Value)
Saussure mengumpamakan bahasa seperti permainan catur:
- Keterkaitan Antarunsur: Setiap bidak catur (raja,
menteri, kuda, pion) memiliki peran bukan karena bahan pembuatnya (kayu
atau plastik), melainkan karena hubungannya dengan bidak lain di papan
catur. Jika aturan atau fungsi satu bidak diubah, seluruh dinamika sistem
permainan ikut berubah.
- Nilai Tanda (Sign Value): Sebuah kata memiliki makna
bukan hanya karena merujuk pada konsep tertentu, tetapi karena perbedaannya
dengan kata-kata lain dalam sistem tersebut.
- Contoh: Kata "malam"
mendefinisikan maknanya karena ada batas penjelas yang membedakannya dari
"siang", "pagi", atau "sore".
Ringkasan Singkat
|
Komponen |
Pengertian |
Contoh Sederhana |
|
Signifier (Penanda) |
Bentuk fisik (bunyi ucapan / huruf tulisan) |
Tulisan P-O-H-O-N atau bunyi /p-o-h-o-n/ |
|
Signified (Petanda) |
Konsep mental /
gagasan di pikiran |
Bayangan tentang
tumbuhan berbatang kayu dan berdaun |
|
Sign (Tanda) |
Kesatuan utuh antara penanda dan petanda |
Pengertian utuh kata "Pohon" dalam benak masyarakat |
b. Noam Chomsky
Chomsky melihat bahasa sebagai sistem aturan (rule-governed system) yang
memungkinkan manusia menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Ia
menekankan pada kompetensi bahasa, yaitu kemampuan internal manusia dalam
memahami dan menghasilkan bahasa.
Teori Noam Chomsky mengenai bahasa sebagai sistem aturan (rule-governed system) memicu
revolusi besar dalam dunia linguistik dan psikolinguistik. Jika Saussure
melihat bahasa sebagai struktur tanda yang diamati secara sosial, Chomsky
melihat bahasa dari kacamata kognitif—sebagai kapasitas mental bawaan yang
dimiliki setiap manusia.
Agar konsep ini lebih mudah
dipahami, mari kita bedah gagasan inti Chomsky melalui penjelasan komprehensif
dan ilustrasi konkret berikut.
1. Konsep Utama:
Kreativitas Bahasa & Rule-Governed
System
Chomsky berpendapat bahwa
bahasa dikendalikan oleh seperangkat aturan tata bahasa mental yang sangat
sistematis. Berbekal aturan terbatas ini, otak manusia memiliki kapasitas luar
biasa untuk menciptakan dan memahami jumlah kalimat yang tak terbatas—bahkan kalimat yang
belum pernah didengar atau diucapkan sebelumnya sepanjang sejarah umat manusia.
2. Pembeda Kunci:
Kompetensi (Competence) vs.
Performa (Performance)
Dalam memahami kemampuan
bahasa manusia, Chomsky membaginya menjadi dua ranah utama:
·
Kompetensi (Competence):
o Pengetahuan bawah sadar (implicit knowledge) yang dimiliki seseorang mengenai
sistem aturan tata bahasa di dalam otaknya.
o Ini adalah kemampuan internal penutur asli untuk
membedakan kalimat yang "gramatikal" (benar secara kaidah) dan yang
"tidak gramatikal" (salah kaidah), meskipun mereka tidak sedang
belajar tata bahasa formal di kelas.
·
Performa (Performance):
o Penggunaan nyata dari bahasa tersebut dalam percakapan
sehari-hari.
o Performa sering kali tidak sempurna karena faktor fisik
atau psikologis (misalnya: kelelahan, gugup, atau terhalang gangguan suara,
sehingga seseorang bisa saja salah ucap atau terbata-bata).
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
Contoh Ilustrasi Konkret
Ilustrasi 1: Menghasilkan
Kalimat Baru (Kreativitas Bahasa)
Perhatikan kalimat berikut:
"Seekor kucing alien berwarna ungu sedang bermain
skateboard di atas awan sambil mendengarkan musik dangdut."
·
Analisis: Anda hampir pasti belum pernah mendengar kalimat tersebut diucapkan
oleh siapapun sebelumnya. Namun, detik ini ketika membacanya, Anda langsung
memahami maknanya secara utuh.
·
Mengapa bisa? Karena Anda memiliki kompetensi berupa aturan tata bahasa di kepala Anda.
Dengan aturan penggabungan kata (syntax) yang tertanam di otak, Anda bisa merangkai
kata-kata secara tak terbatas untuk membentuk kalimat baru yang belum pernah
ada sebelumnya.
Ilustrasi 2: Membedakan
Kalimat Benar dan Salah (Intuisi
Tata Bahasa)
Coba bandingkan dua kalimat
bahasa Indonesia berikut:
1.
"Anak itu membaca buku di
perpustakaan." (Kalimat A)
2.
"Membaca perpustakaan di
anak itu buku." (Kalimat B)
·
Analisis: Anak kecil atau penutur asli bahasa Indonesia langsung
tahu secara insting bahwa Kalimat A benar, sedangkan Kalimat B salah dan kacau.
·
Perspektif Chomsky: Penutur tidak perlu menghafal semua kalimat di dunia
untuk tahu mana yang benar. Otak manusia menggunakan sistem aturan bawaan
untuk langsung mendeteksi apakah susunan kata mematuhi kaidah struktur bahasa
atau tidak.
Ilustrasi 3: Kompetensi
vs. Performa dalam Kehidupan Sehari-hari
·
Kompetensi: Seorang dosen bahasa Indonesia sangat menguasai aturan
struktur kalimat yang baku, runtut, dan benar di dalam otaknya (kompetensi tetap utuh dan
sempurna).
·
Performa: Suatu hari, saat sedang berbicara di depan umum secara
mendadak, dosen tersebut mendadak salah ucap, terselip lidah, atau mengulang
kata ("E-e-m, jadi
maksud saya... ya itu...").
·
Kesimpulan: Kesalahan ucap tersebut hanyalah masalah performa (gangguan
fisik/mental sesaat), yang sama sekali tidak merusak atau menghilangkan kompetensi (pengetahuan
bahasa) yang tersimpan di kepalanya.
Ringkasan Singkat
|
|
Penjelasan Sederhana |
Contoh Ilustrasi |
|
Sistem Aturan (Rule-Governed) |
Kaidah mental penataan bahasa yang sistematis |
Pola Subjek + Predikat + Objek yang dipatuhi
secara otomatis |
|
Kompetensi (Competence) |
Pengetahuan internal & intuisi kebahasaan dalam otak |
Insting untuk tahu bahwa kalimat "Buku dibaca
Andi" itu benar, tapi "Dibaca buku Andi" kurang tepat |
|
Performa (Performance) |
Realisasi atau wujud nyata bahasa saat
diucapkan |
Praktik berbicara yang kadang diwarnai salah
ucap atau jeda |
c. Edward Sapir
Sapir mendefinisikan bahasa sebagai metode komunikasi manusia yang bersifat
non-instingtif, menggunakan simbol-simbol yang dihasilkan secara sukarela.
Teori Edward Sapir mengenai bahasa sebagai metode komunikasi non-instingtif
menggunakan simbol sukarela menyoroti aspek sosio-kultural dan psikologis
dari bahasa. Berbeda dengan pandangan struktural murni Saussure atau kognitif
Chomsky, Sapir memandang bahasa sebagai produk interaksi sosial dan budaya yang
dipelajari secara sadar, bukan diwariskan secara biologis sejak lahir.
Agar konsep ini lebih mudah
dipahami, mari kita bedah poin-poin krusial dari definisi tersebut beserta
contoh ilustrasi konkretnya.
1. Membedah Inti Definisi
Sapir
Definisi Sapir dapat dipecah
menjadi tiga pilar utama:
1.
Metode Komunikasi Manusia: Bahasa adalah instrumen utama yang digunakan manusia
untuk saling menyampaikan ide, emosi, dan keinginan.
2.
Bersifat Non-Instingtif: Bahasa bukan insting biologis bawaan lahir (seperti refleks
kedip mata, rasa lapar, atau tangisan bayi baru lahir). Bahasa adalah sesuatu
yang harus dipelajari dan
diperoleh melalui proses sosialisasi di tengah masyarakat.
3.
Simbol yang Dihasilkan secara
Sukarela: Penggunaan lambang/bunyi
bahasa dilakukan secara sadar dan sengaja (voluntarily produced symbols), bukan reaksi otomatis
tanpa sadar.
2. Contoh Ilustrasi Konkret
Ilustrasi 1: Non-Instingtif
(Bahasa Dipelajari, Bukan Bawaan Lahir)
·
Kontras dengan Hewan (Instingtif): Seekor burung tidak perlu "disekolahkan" atau
diajari oleh induknya untuk berkicau. Secara instingtif, kemampuan berkicau
burung sudah terpogram secara genetik di dalam otaknya. Walaupun seekor burung
dipisahkan dari kelompoknya sejak menetas, ia tetap bisa berkicau dengan pola
khas spesiesnya.
·
Kondisi Manusia
(Non-Instingtif): Bayi manusia memiliki
kapasitas biologis untuk belajar bahasa, tetapi ia tidak lahir langsung bisa berbicara.
o Jika seorang anak manusia dibesarkan di lingkungan
penutur Bahasa Indonesia, ia akan berbicara bahasa Indonesia.
o Namun, jika sejak bayi ia dibesarkan di lingkungan
penutur bahasa Inggris di Amerika, ia akan fasih berbahasa Inggris.
o Ini membuktikan bahwa wujud bahasa bukanlah insting
genetik yang otomatis aktif, melainkan kebiasaan sosial yang dipelajari dari
lingkungan.
Ilustrasi 2: Simbol yang
Dihasilkan secara Sukarela (Voluntary
Symbols)
·
Reaksi Otomatis (Bukan
Bahasa): Ketika seseorang tidak sengaja
terpukul atau tersiram air panas, ia akan berteriak "Aduh!" atau mengerang
kesakitan. Reaksi ini bersifat refleks dan instingtif—bahkan hewan pun bisa
mengeluarkan suara kesakitan saat terluka. Suara refleks ini bukan bahasa dalam
pengertian Sapir.
·
Simbol Bahasa Sukarela: Ketika seseorang dengan sadar memilih kata dan berkata
kepada temannya, "Tolong
ambilkan air hangat itu di meja," ia sedang menggunakan simbol bunyi yang dihasilkan
secara sukarela dan sengaja untuk mewakili maksud tertentu. Pilihan kata,
susunan kalimat, dan artikulasinya dikendalikan secara sadar oleh pikirannya.
Ilustrasi 3: Bahasa
sebagai Produk Kebiasaan Sosial
Sapir memandang bahasa
sebagai bagian dari kebudayaan manusia.
·
Ilustrasi: Masyarakat nelayan di pesisir pantai memiliki
perbendaharaan simbol bunyi (kosakata) yang sangat kaya untuk membedakan jenis-jenis
angin laut, gelombang, dan arah arus yang tidak dimiliki oleh orang yang hidup
di pegunungan.
·
Mengapa? Karena
simbol-simbol sukarela tersebut diciptakan dan disepakati secara sosial oleh
komunitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dalam cara hidup mereka
sehari-hari.
Ringkasan Singkat
|
Poin Definisi Sapir |
Penjelasan
Sederhana |
Contoh
Ilustrasi |
|
Non-Instingtif |
Harus dipelajari dari lingkungan sosial,
bukan otomatis ada sejak lahir |
Anak Indonesia bisa bahasa Indonesia karena
dibesarkan di Indonesia, bukan karena faktor genetik turunan |
|
Simbol Sukarela |
Dihasilkan secara sadar dan sengaja oleh akal budi |
Berbicara atau menulis pesan secara sadar untuk
menyampaikan maksud, berbeda dengan teriakan refleks karena kaget |
|
Metode Komunikasi |
Alat sosial untuk menghubungkan pikiran
antarmanusia dalam budaya tertentu |
Istilah-istilah khusus cuaca yang disepakati
oleh kelompok nelayan lokal |
d. Bloomfield
Bloomfield menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
digunakan oleh suatu masyarakat untuk bekerja sama dan berinteraksi.
Teori Leonard Bloomfield mengenai bahasa sebagai sistem lambang bunyi untuk bekerja
sama dan berinteraksi merupakan landasan utama aliran strukturalisme
Amerika (American Structuralism).
Berbeda dengan Chomsky yang fokus pada aspek mental-kognitif, Bloomfield
memandang bahasa secara objektif, empiris, dan sangat menekankan fungsi
sosialnya sebagai alat perilaku manusia (behaviorism).
Agar konsep ini lebih mudah
dipahami, mari kita bedah elemen-elemen penting dari definisi tersebut beserta
contoh ilustrasi konkretnya.
1. Membedah Inti Definisi
Bloomfield
Definisi Bloomfield dapat
dipecah menjadi tiga pilar utama:
1.
Sistem Lambang Bunyi: Bahasa berwujud bunyi-bunyi ujaran yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia, bukan coretan tulisan atau isyarat tangan semata.
Bunyi-bunyi ini disusun secara sistematis menjadi lambang yang memiliki makna.
2.
Digunakan oleh Suatu
Masyarakat: Bahasa bersifat komunal dan
disepakati oleh kelompok sosial tertentu agar bisa saling memahami.
3.
Alat untuk Bekerja Sama dan
Berinteraksi: Bahasa memiliki fungsi
praktis dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengoordinasikan tindakan
antarmanusia untuk mencapai tujuan bersama (stimulus dan respons sosial).
2. Contoh Ilustrasi Konkret
Ilustrasi 1: Bahasa
Berwujud Lambang Bunyi (Bukan Tulisan)
·
Pandangan Bloomfield: Menurut Bloomfield, bahasa primer adalah ucapan lisan, sedangkan
tulisan hanyalah representasi atau catatan sekunder dari bunyi bahasa.
·
Ilustrasi: Seorang anak kecil belajar berbicara jauh sebelum ia
mengenal huruf atau belajar menulis di sekolah. Ketika ia mendengar bunyi /i-bu/, bunyi tersebut
menjadi lambang bunyi yang disepakati untuk merujuk pada figur ibunya. Jika
suatu suku terpencil memiliki bahasa lisan tetapi tidak memiliki
aksara/tulisan, mereka tetap memiliki bahasa yang sempurna karena sistem
lambang bunyi mereka berfungsi secara utuh.
Ilustrasi 2: Bahasa
sebagai Stimulus dan Respons (Bekerja
Sama)
Bloomfield terkenal dengan
pendekatan behavioristiknya dalam melihat bagaimana bahasa bekerja dalam
interaksi sosial (dikenal dengan skenario Jack and Jill).
·
Ilustrasi Skenario Lapar:
1.
Situasi: Jill sedang berjalan bersama Jack di kebun. Jill melihat
sebuah pohon apel yang berbuah lebat dan ia merasa lapar (stimulus non-linguistik).
2.
Tindakan Bahasa: Jill mengeluarkan lambang bunyi (berbicara kepada Jack):
"Tolong ambilkan
apel itu untukku!"
3.
Respons: Jack mendengar bunyi tersebut, mengartikannya, lalu
bergerak memanjat pohon untuk memetik apel dan memberikannya kepada Jill (tindakan kerja sama).
·
Kesimpulan: Melalui rangkaian lambang bunyi, tindakan Jill yang
kelaparan berhasil diatasi melalui kerja sama fisik yang digerakkan oleh
komunikasi bahasa. Tanpa bahasa, Jack tidak akan tahu apa yang diinginkan oleh
Jill.
Ilustrasi 3: Sistem
Lambang yang Disepakati Masyarakat
·
Ilustrasi: Sekelompok orang di pasar tradisional menggunakan
lambang bunyi berupa kata "Rp10.000" dan penyebutan nama-nama sayur
(seperti "bayam", "kangkung") yang sudah disepakati bersama
oleh masyarakat penutur bahasa Indonesia. Penjual dan pembeli tidak perlu
saling menebak atau menggunakan bahasa tubuh yang rumit karena lambang bunyi
tersebut sudah memiliki makna yang baku dan dipahami bersama dalam ruang
lingkup masyarakat tersebut.
Ringkasan Singkat
|
Poin Definisi Bloomfield |
Penjelasan
Sederhana |
Contoh
Ilustrasi |
|
Sistem Lambang Bunyi |
Bahasa utamanya adalah bunyi lisan yang
bermakna, tulisan adalah turunan |
Bayi bisa berbicara (mengeluarkan bunyi) jauh
sebelum ia bisa menulis |
|
Digunakan Masyarakat |
Dimiliki dan disepakati bersama oleh kelompok penutur
tertentu |
Kosakata pasar yang dipahami seragam oleh pedagang dan
pembeli |
|
Alat Bekerja Sama |
Sarana praktis untuk memicu tindakan dan
koordinasi sosial |
Meminta tolong mengambilkan barang, memberi
instruksi kerja, atau bernegosiasi |
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa memiliki
beberapa unsur penting, yaitu:
- Sistem
- Lambang
atau simbol
- Bunyi
- Digunakan
oleh masyarakat
- Memiliki
makna
3. Bahasa sebagai Sistem
Bahasa disebut sebagai sistem karena terdiri dari unsur-unsur yang saling
berkaitan dan membentuk satu kesatuan. Sistem bahasa meliputi beberapa
tingkatan, antara lain:
- Fonologi: kajian tentang
bunyi bahasa
- Morfologi: kajian tentang
bentuk kata
- Sintaksis: kajian tentang
struktur kalimat
- Semantik: kajian tentang
makna
- Pragmatik: kajian tentang
penggunaan bahasa dalam konteks
Setiap tingkatan tersebut memiliki aturan tersendiri, namun tetap saling
berhubungan. Misalnya, perubahan bunyi (fonologi) dapat memengaruhi makna
(semantik).
4. Bahasa sebagai Simbol
Bahasa terdiri atas simbol-simbol yang mewakili sesuatu. Simbol ini bisa
berupa bunyi, kata, atau tulisan yang mengacu pada objek, konsep, atau gagasan
tertentu.
Contohnya, kata “rumah” tidak memiliki hubungan alami dengan benda fisik
yang disebut rumah. Hubungan antara kata dan objek tersebut bersifat simbolik
dan disepakati oleh masyarakat pengguna bahasa.
5. Sifat Arbitrer Bahasa
Salah satu ciri utama bahasa adalah sifatnya yang arbitrer, yaitu hubungan
antara simbol dan makna tidak bersifat wajib atau alami.
Sebagai contoh:
- Bahasa
Indonesia: “air”
- Bahasa
Inggris: “water”
- Bahasa
Arab: “maa’”
Ketiga kata tersebut merujuk pada objek yang sama, tetapi bentuknya berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa bersifat arbitrer dan bergantung pada
kesepakatan sosial.
6. Bahasa Bersifat
Konvensional
Meskipun bersifat arbitrer, bahasa juga bersifat konvensional, artinya
penggunaannya didasarkan pada kesepakatan bersama dalam suatu masyarakat.
Jika seseorang menggunakan kata di luar konvensi, maka komunikasi bisa
terganggu. Misalnya, jika seseorang menyebut “meja” sebagai “kursi”, maka akan
terjadi kesalahpahaman.
7. Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa memiliki sifat produktif, yaitu kemampuan untuk menghasilkan jumlah
kalimat yang tidak terbatas.
Dengan sejumlah kata dan aturan yang terbatas, manusia dapat menciptakan
kalimat baru yang belum pernah diucapkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan
fleksibilitas dan kreativitas bahasa.
Contohnya:
- “Saya
membaca buku.”
- “Saya
membaca buku baru di perpustakaan kemarin.”
- “Saya
membaca buku linguistik yang sangat menarik di perpustakaan kampus.”
Kalimat-kalimat tersebut berkembang dari struktur dasar yang sama, tetapi
dapat diperluas tanpa batas.
8. Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa selalu mengalami perubahan seiring waktu. Perubahan ini dapat terjadi
pada:
- Kosakata
- Pengucapan
- Struktur
kalimat
- Makna
Misalnya, kata “gawai” kini digunakan sebagai padanan dari “gadget”.
Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perkembangan
zaman dan teknologi.
9. Bahasa Bersifat Sosial
Bahasa tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Bahasa digunakan dalam
interaksi sosial dan mencerminkan budaya serta identitas suatu kelompok.
Setiap komunitas memiliki variasi bahasa yang berbeda, seperti:
- Dialek
- Ragam
bahasa formal dan informal
- Bahasa
daerah
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa memiliki fungsi sosial yang sangat penting
dalam kehidupan manusia.
10. Bahasa Bersifat
Manusiawi
Bahasa adalah kemampuan khas manusia. Hewan memang memiliki sistem
komunikasi, tetapi tidak sekompleks bahasa manusia.
Bahasa manusia memiliki ciri-ciri seperti:
- Struktur
yang kompleks
- Kemampuan
abstraksi
- Kreativitas
- Kemampuan
refleksi (membicarakan bahasa itu sendiri)
Oleh karena itu, bahasa menjadi salah satu pembeda utama antara manusia dan makhluk
lainnya.
11. Fungsi Bahasa
Selain sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki berbagai fungsi, antara
lain:
- Fungsi ekspresif:
menyampaikan perasaan
- Fungsi informatif:
menyampaikan informasi
- Fungsi direktif:
mempengaruhi orang lain
- Fungsi estetis: digunakan
dalam karya sastra
- Fungsi fatik: menjaga
hubungan sosial
Fungsi-fungsi ini menunjukkan bahwa bahasa memiliki peran yang sangat luas
dalam kehidupan manusia.
12. Relevansi Bahasa dalam
Kajian Linguistik
Dalam linguistik, bahasa tidak hanya dipelajari sebagai alat komunikasi,
tetapi juga sebagai objek ilmiah yang memiliki struktur dan aturan tertentu.
Kajian linguistik membantu kita untuk:
- Memahami
struktur bahasa
- Menganalisis
makna
- Menjelaskan
proses pemerolehan bahasa
- Mengembangkan
metode pengajaran bahasa
- Melestarikan
bahasa daerah
Bagi dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris berbasis
teknologi (seperti yang Anda teliti), pemahaman tentang hakikat bahasa menjadi
sangat penting. Hal ini karena metode pengajaran yang efektif harus didasarkan
pada pemahaman yang mendalam tentang bagaimana bahasa bekerja.
Kesimpulan
Bahasa merupakan sistem simbol yang kompleks, arbitrer, dan konvensional
yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Bahasa tidak hanya berfungsi
sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana berpikir, mengekspresikan
diri, dan membangun hubungan sosial.
Dalam kajian linguistik umum, pemahaman tentang pengertian bahasa menjadi
landasan utama untuk mempelajari aspek-aspek bahasa lainnya. Dengan memahami
hakikat bahasa, kita dapat lebih mudah mengkaji struktur, fungsi, serta
penggunaan bahasa dalam berbagai konteks.
Sebagai fenomena yang dinamis dan sosial, bahasa akan terus berkembang
mengikuti perubahan zaman. Oleh karena itu, kajian linguistik tetap relevan dan
penting untuk memahami peran bahasa dalam kehidupan manusia.
Daftar Isi: Seri Linguistik Umum 01 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar