Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik Volume 2, Nomor 3, Maret 2026
Lupa Bahasa Ibu (Language Attrition): Mengapa Kita Bisa Lupa
Bahasa Sendiri?
Pusat Referensi Linguistik
Pernahkah Anda merasakan pengalaman ganjil ketika tiba-tiba
lupa sebuah kata dalam bahasa ibu Anda? Atau mungkin merasa lebih fasih
berbahasa asing dibanding bahasa sendiri? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Fenomena ini, yang dalam dunia linguistik dikenal sebagai language
attrition atau erosi bahasa, adalah pengalaman nyata yang dialami banyak
penutur multilingual di seluruh dunia.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang fenomena
lupa bahasa ibu, mengapa hal ini bisa terjadi, faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta implikasi psikologis dan sosial dari pengalaman ini.
Memahami Language Attrition: Bukan Sekadar Lupa Biasa
Language attrition didefinisikan sebagai penurunan kemampuan
berbahasa yang bersifat non-patologis pada seseorang yang sebelumnya telah
menguasai bahasa tersebut (Köpke & Schmid, 2004). Berbeda dengan gangguan
berbahasa akibat kondisi medis seperti afasia, attrition adalah proses alami
yang terjadi ketika seseorang berhenti menggunakan atau jarang terpapar pada
suatu bahasa .
Penelitian tentang language attrition sebenarnya telah
dimulai sejak tahun 1980-an, ketika para ahli mulai menyadari bahwa kemampuan
berbahasa tidak bersifat permanen. Freed dan Lambert (1982) mengkarakterisasi
fenomena ini sebagai kondisi ketika individu atau komunitas tutur mengalami
penurunan kemampuan berbahasa seiring tergantikannya suatu bahasa oleh bahasa
lain .
Penting untuk dipahami bahwa attrition berbeda dengan
"lupa total". Seperti dijelaskan oleh Dr. Pier Pischedda, dosen
Linguistik di University of Leeds, "Penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan dasar tentang bahasa tetap ada—penutur tidak kehilangan bahasa
sepenuhnya. Yang memudar adalah akses terhadap pengetahuan
tersebut" . Dengan kata lain, bahasa ibu Anda masih ada di suatu
tempat dalam sistem kognitif, tetapi jalur aksesnya melemah karena jarang
digunakan.
Mekanisme Kognitif di Balik Erosi Bahasa Ibu
Mengapa seseorang bisa "lupa" bahasa yang telah
digunakannya sejak kecil? Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa
mekanisme kognitif yang menjelaskan fenomena ini.
1. Inhibisi Aktif dalam Pembelajaran Bahasa Kedua
Studi menarik yang dilakukan oleh Levy dan Anderson (2007)
mengungkapkan temuan kontra-intuitif: lupa terhadap bahasa ibu justru bisa
menjadi strategi adaptif dalam mempelajari bahasa baru. Dalam penelitian
mereka, partisipan penutur asli bahasa Inggris yang mempelajari bahasa Spanyol
diminta menyebutkan nama objek berulang kali dalam bahasa Spanyol. Hasilnya,
semakin sering mereka mengulang kata dalam bahasa Spanyol, semakin sulit mereka
mengingat padanan kata tersebut dalam bahasa Inggris .
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika kita belajar bahasa
baru, otak secara aktif menekan atau menghambat representasi bahasa ibu yang
lebih mudah diakses agar tidak mengganggu produksi bahasa target. Levy
menjelaskan bahwa "first-language attrition provides a striking example of
how it can be adaptive to (at least temporarily) forget things one has
learned" .
2. Pergeseran Jalur Neural
Dari perspektif neurobiologis, penggunaan bahasa yang
konsisten membangun dan memperkuat jalur-jalur neural tertentu. Ketika
seseorang berhenti menggunakan suatu bahasa, jalur-jalur ini melemah karena
prinsip "use it or lose it". Seperti dijelaskan oleh Pischedda,
"Jalur neural otak bergeser berdasarkan apa yang paling sering kita
gunakan" .
3. Teori Sistem Dinamis
Pendekatan yang lebih kontemporer memandang language
attrition melalui lensa teori sistem dinamis. Perspektif ini melihat bahwa
bahasa, baik pertama maupun kedua, bukanlah entitas statis yang tersimpan rapi
di otak, melainkan sistem yang terus beradaptasi dan berubah seiring interaksi
dengan lingkungan . Dalam kerangka ini, attrition dipahami sebagai
perubahan dalam interaksi dinamis antar bahasa yang dimiliki seseorang .
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Language Attrition
Tidak semua orang mengalami language attrition dengan cara
atau tingkat yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa berbagai faktor berinteraksi
dalam membentuk proses ini .
1. Frekuensi Penggunaan dan Paparan
Faktor yang paling jelas dan paling kuat adalah seberapa
sering seseorang menggunakan bahasa ibunya. Ketika seseorang pindah ke
lingkungan dengan bahasa dominan berbeda, kebutuhan untuk menggunakan bahasa
ibu berkurang drastis. Putnam dan Natvig (2025) menekankan pentingnya
"continued disuse of a language as a reliable factor in predicting and
measuring language attrition" .
Yang menarik, tidak semua aspek bahasa terpengaruh secara setara.
Kosakata (leksikon) terbukti menjadi domain yang paling rentan terhadap
attrition, sementara tata bahasa (grammar) relatif lebih resisten .
2. Tingkat Kemampuan Awal (Attained Proficiency)
Penelitian terkini menunjukkan bahwa tingkat penguasaan bahasa
sebelum proses attrition dimulai memainkan peran penting. Sebuah studi tahun
2025 menemukan bahwa "the attained proficiency served as an initial
factor, while the lengths of exposure to a foreign language reflected the
extent of language attrition" . Semakin solid penguasaan awal
seseorang terhadap bahasa ibunya, semakin besar kemungkinan bahasa tersebut
bertahan.
3. Usia
Usia saat seseorang berpindah lingkungan bahasa juga
berpengaruh signifikan. Anak-anak yang pindah sebelum masa remaja cenderung
lebih rentan mengalami attrition dibandingkan mereka yang pindah di usia
dewasa, karena sistem linguistik mereka masih dalam tahap perkembangan.
4. Faktor Afektif: Motivasi, Sikap, dan Identitas
Yang tidak kalah penting adalah faktor psikologis dan
sosial. Motivasi untuk mempertahankan bahasa ibu, sikap terhadap bahasa
tersebut, serta seberapa kuat identitas seseorang terikat dengan bahasa ibunya,
semua mempengaruhi tingkat attrition .
Dr. Pischedda dengan jujur menceritakan pengalaman
pribadinya sebagai penutur asli bahasa Italia yang tinggal 15 tahun di Inggris:
"What complicates language attrition is how deeply language is tied to
identity. Italian isn't just my first language—it's the voice of my upbringing.
To feel it slipping, even slightly, feels like a kind of betrayal" .
Pengakuan ini menunjukkan dimensi emosional yang kuat dari pengalaman
attrition.
Gejala dan Manifestasi Language Attrition
Bagaimana rasanya "lupa" bahasa ibu? Berikut
adalah gejala umum yang dilaporkan oleh mereka yang mengalami attrition:
Kesulitan mengakses kosakata: Ini adalah gejala paling umum
dan paling awal. Seseorang mungkin tiba-tiba blank mencari kata yang sederhana
dan familiar.
Beralih kode (code-switching) yang tidak disengaja: Tanpa
sadar menyisipkan kata dari bahasa dominan ke dalam bahasa ibu.
Aksen asing: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penutur
yang mengalami attrition dapat mengembangkan aksen asing dalam bahasa ibu
mereka.
Kesulitan dengan produksi bahasa formal: Seperti yang
dialami Dr. Pischedda, bahasa ibu mungkin masih terasa nyaman untuk percakapan
informal sehari-hari, tetapi terasa canggung untuk komunikasi formal atau
akademis .
Proses produksi bahasa yang lebih lambat: Membutuhkan waktu
lebih lama untuk merumuskan kalimat dalam bahasa ibu.
Yang menarik, kemampuan pemahaman (reseptif) umumnya lebih
bertahan dibanding kemampuan produksi (ekspresif). Seseorang mungkin masih bisa
memahami bahasa ibu dengan baik saat mendengar atau membaca, tetapi kesulitan
saat harus berbicara atau menulis .
Language Attrition dalam Konteks Indonesia
Sebagai negara dengan lebih dari 700 bahasa daerah,
Indonesia menghadapi tantangan unik terkait language attrition. Fenomena
pergeseran bahasa dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia, atau bahkan ke bahasa
asing, telah lama menjadi perhatian para linguistik di Tanah Air.
Penelitian di China, yang memiliki situasi kebahasaan
kompleks serupa dengan Indonesia, menekankan pentingnya memperhatikan attrition
pada bahasa ibu dan dialek. Sebuah studi oleh Pan dkk. (2025) menyoroti bahwa
dalam konteks multilingual, "母语和方言磨蚀研究不能忽视"
(penelitian tentang attrition bahasa ibu dan dialek tidak dapat
diabaikan) .
Generasi muda Indonesia yang tumbuh di kota-kota besar,
terpapar bahasa asing melalui media digital, dan menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa pengantar pendidikan, seringkali mengalami penurunan kemampuan
dalam bahasa daerah mereka. Ini adalah bentuk language attrition yang mungkin
terjadi diam-diam di sekitar kita.
Bisakah Bahasa yang "Terlupakan" Dipulihkan?
Kabar baiknya adalah language attrition tidak bersifat
permanen. Karena pengetahuan dasarnya masih ada, bahasa yang mengalami
attrition dapat "dihidupkan kembali" melalui re-eksposur dan praktik
aktif.
Beberapa strategi yang dapat membantu memulihkan bahasa ibu
antara lain:
Membaca secara aktif dalam bahasa ibu, terutama materi
dengan tingkat kesulitan yang menantang.
Mengonsumsi media seperti film, podcast, atau berita
dalam bahasa ibu.
Berbicara secara rutin dengan penutur lain, terutama
dalam berbagai konteks (tidak hanya percakapan sehari-hari).
Mempelajari kembali secara sadar aspek-aspek bahasa
yang terasa asing, seperti halnya belajar bahasa asing .
Dr. Pischedda mengingatkan para profesional bahasa untuk
tidak merasa gagal jika mengalami attrition: "To other language professionals:
it's okay if you forget a little. It's okay if you hesitate. It's okay if your
L1 or L2 feels rustier than it once did. That doesn't make you any less of a
linguist, a translator or a multilingual speaker" .
Kesimpulan: Attrition sebagai Bagian dari Dinamika Kebahasaan
Language attrition mengajarkan kita bahwa penguasaan bahasa
bukanlah pencapaian sekali jadi yang bersifat permanen. Bahasa adalah sistem
yang hidup, yang terus berubah dan beradaptasi seiring dengan perubahan diri
kita dan lingkungan kita.
Pemahaman tentang attrition juga mengingatkan kita akan
pentingnya usaha sadar untuk memelihara bahasa-bahasa yang kita miliki,
terutama bahasa ibu yang menjadi fondasi identitas dan akar budaya kita. Di era
globalisasi dengan mobilitas tinggi ini, kemampuan untuk mempertahankan bahasa
ibu di samping menguasai bahasa-bahasa lain adalah tantangan sekaligus
keterampilan yang berharga.
Sebagai penutup, mari kita renungkan kata-kata Dr.
Pischedda: "In a field that often celebrates acquisition and fluency, we
should also make space for the complex experiences of forgetting, and
relearning. Attrition isn't failure. It's a reflection of the ways our
linguistic selves grow" .
Pusat Referensi Linguistik adalah platform yang
didedikasikan untuk berbagi pengetahuan tentang ilmu linguistik, dari teori
fundamental hingga fenomena kebahasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ikuti terus
artikel kami untuk memperluas wawasan Anda tentang bahasa dan pikiran manusia.
Daftar Pustaka
Köpke, B., & Schmid, M. S. (2004). Language attrition:
The next phase. Dalam M. S. Schmid, B. Köpke, M. Keijzer, & L. Weilemar
(Ed.), First language attrition: Interdisciplinary perspectives on
methodological issues (hlm. 1-43). John Benjamins.
Levy, B. J., & Anderson, M. C. (2007). A new language
barrier: Why learning a new language may make you forget your old
one. Psychological Science. https://www.psychologicalscience.org/news/releases/a-new-language-barrier-why-learning-a-new-language-may-make-you-forget-your-old-one.html
Pan, K., Yang, L., & Chen, S. (2025). Review and
prospect of foreign language attrition research. Journal of Beijing
International Studies University, 47(5), 126-138.
Pischedda, P. (t.t.). Can you forget your first language? An
academic and personal reflection on 'language attrition'. CIOL
Voices. https://www.ciol.org.uk/can-you-forget-your-first-language
Putnam, M., & Natvig, D. (2025). Sociolinguistic
factors. Dalam An Introduction to Language Attrition. Taylor &
Francis.
Rui, L. (2015). Language attrition theory on English
language teaching. Proceedings of the 2015 International Conference on
Social Science and Technology Education, 327-331.
Schmid, M. S. (2011). Language attrition. Cambridge
University Press.
Schmid, M. S., & Köpke, B. (Ed.). (2019). The
Oxford handbook of language attrition. Oxford University Press.
[Penulis]. (2025). Interactions between attained proficiency
and length of exposure to lexical attrition of English as a second
language. Frontiers in Psychology, 16, 1586722. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1586722
[Penulis]. (2015). Language attrition: Where are we and
where are we going? Language and speech colloquium on attrition. Radboud
University.
[Penulis]. (2015). Research on language attrition in
China—Based on literature review. Journal of University of Electronic
Science and Technology of China (Social Sciences Edition). http://www.social.uestc.edu.cn
Tidak ada komentar:
Posting Komentar