Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik Volume 2, Nomor 3, Maret 2026
Bahasa dan Warna: |
Bahasa dan Warna: Apakah Orang dengan Nama Warna Lebih Sedikit Melihat Warna Secara Berbeda?
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana cara orang lain melihat dunia? Pertanyaan ini bukan hanya tentang perbedaan opini, tetapi tentang persepsi visual yang paling mendasar. Sejak pertengahan abad ke-20, para ahli bahasa dan psikolog telah lama terpesona oleh sebuah pertanyaan menarik: apakah bahasa yang kita gunakan memengaruhi cara kita melihat warna? Jika suatu bahasa hanya memiliki sedikit kosakata untuk menyebut warna, apakah penuturnanya secara harfiah melihat dunia dengan warna yang lebih sedikit atau berbeda? Artikel ini akan mengupas tuntas perdebatan ilmiah seputar hipotesis relativitas linguistik dalam ranah warna, mempertemukan argumen universalisme dan relativisme, serta menelusuri bukti-bukti terbaru dari studi lintas bahasa dan ilmu saraf.
Perdebatan Klasik: Universalisme vs. Relativisme
Diskusi tentang bahasa dan persepsi warna tidak bisa dilepaskan dari Hipotesis Sapir-Whorf, sebuah teori yang menyatakan bahwa struktur bahasa memengaruhi cara penuturnya memahami dunia
. Versi kuat dari hipotesis ini, yang dikenal sebagai determinisme linguistik, menyatakan bahwa bahasa menentukan pikiran. Namun, sebagian besar ilmuwan saat ini lebih cenderung pada versi lemah, yaitu relativitas linguistik, di mana bahasa hanya memengaruhi atau membiasakan penuturnya untuk memberikan perhatian lebih pada aspek-aspek tertentu dari realitas
.
Di satu sisi, kaum universalis berpendapat bahwa persepsi warna bersifat biologis dan universal karena semua manusia memiliki perangkat fisiologis mata dan otak yang sama. Puncak dari pandangan ini adalah penelitian Brent Berlin dan Paul Kay pada tahun 1969. Mereka menemukan bahwa meskipun jumlah istilah warna berbeda-beda di setiap bahasa, terdapat pola universal yang teratur. Bahasa dengan hanya dua istilah warna hampir selalu membedakan gelap (mencakup hitam dan biru) dan terang (mencakup putih dan kuning). Jika suatu bahasa memiliki tiga istilah, istilah ketiga adalah merah. Pola ini berlanjut hingga ke sebelas istilah warna dasar universal: putih, hitam, merah, hijau, kuning, biru, cokelat, ungu, merah jambu, oranye, dan abu-abu
. Menurut pandangan ini, seorang petani di pedalaman Afrika dan seorang desainer grafis di New York pada dasarnya melihat spektrum warna yang sama, hanya saja mereka menamainya secara berbeda.
Di sisi lain, kaum relativis percaya bahwa kategorisasi warna sangat dipengaruhi oleh budaya dan bahasa. Bahasa tidak hanya memberi label pada warna yang sudah ada, tetapi secara aktif membentuk bagaimana kita mengelompokkan dan mengingatnya. Studi klasik yang mendukung pandangan ini datang dari penelitian terhadap suku Dani di Papua. Bahasa Dani hanya memiliki dua istilah warna dasar, yaitu mili untuk warna gelap-dingin dan mola untuk warna terang-hangat. Ketika diuji, penutur Dani lebih mudah mengingat warna-warna yang sangat berbeda secara kultural (seperti merah) dibandingkan warna-warna yang serupa, menunjukkan bahwa tanpa label yang tepat, ingatan mereka terhadap nuansa warna menjadi kurang tajam
.
Bukti dari Masyarakat dengan Kosakata Warna Terbatas
Untuk menjawab pertanyaan apakah orang dengan nama warna lebih sedikit melihat warna secara berbeda, para peneliti beralih ke masyarakat adat yang memiliki sistem penamaan warna yang jauh lebih sederhana dibandingkan bahasa Barat. Penelitian Roberson dan rekan-rekannya terhadap suku Berinmo di Papua Nugini dan suku Himba di Namibia, yang sama-sama memiliki lima istilah warna dasar, memberikan bukti kuat. Mereka menemukan bahwa penutur Berinmo menunjukkan persepsi kategoris (categorical perception), di mana mereka lebih cepat dan akurat membedakan dua warna yang berada di sisi berbeda dari batas kategoris dalam bahasa mereka, meskipun secara fisik jarak antar warnanya sama. Sebaliknya, mereka kesulitan membedakan warna yang berada dalam kategori yang sama. Yang menarik, batas kategoris ini berbeda dengan batas kategoris penutur Inggris. Di mana penutur Inggris dengan jelas membedakan biru dan hijau, penutur Berinmo tidak melihat perbedaan kategoris di batas itu, tetapi memiliki batas kategoris lain yang tidak dikenali oleh penutur Inggris. Ini menunjukkan bahwa kategorisasi bahasa membentuk cara mereka "melihat" kesamaan dan perbedaan warna
.
Di ranah Indonesia sendiri, terdapat studi menarik yang meneliti persepsi warna masyarakat Sunda. Sebuah skripsi di Universitas Indonesia pada tahun 2010 mencoba memetakan nama-nama warna dalam bahasa Sunda menggunakan 216 kartu warna. Penelitian ini mengklasifikasikan istilah-istilah tersebut ke dalam fokus warna dasar berdasarkan kerangka Berlin dan Kay. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana penutur Sunda mengelompokkan spektrum warna kontinu ke dalam kategori-kategori diskrit yang disediakan oleh bahasa mereka
. Penelitian serupa juga dilakukan pada bahasa Indonesia, yang mencoba memetakan medan makna ranah warna dan mengelompokkan istilah-istilah turunannya . Lebih jauh lagi, studi komparatif antara bahasa Indonesia dan Jepang menunjukkan bahwa meskipun memiliki warna dasar yang serupa (hitam, putih, merah, biru, kuning), jumlah dan jenis warna sekunder sangat berbeda—86 dalam bahasa Jepang versus 61 dalam bahasa Indonesia—yang mencerminkan pengaruh lingkungan dan budaya masing-masing
. Perbedaan dalam kekayaan kosakata ini secara hipotetis dapat memengaruhi kepekaan penutur terhadap nuansa warna tertentu.
Peran Bahasa dalam Otak: Bukti Eksperimental
Bagaimana cara membuktikan bahwa perbedaan ini bukan sekadar perbedaan kultural, tetapi benar-benar memengaruhi proses kognitif dan persepsi? Para ilmuwan mengembangkan eksperimen cerdas untuk menguji hal ini. Salah satu metode yang paling terkenal adalah penggunaan tugas interferensi verbal (verbal interference task). Logikanya sederhana: jika label bahasa benar-benar digunakan oleh otak untuk membedakan warna, maka jika sistem bahasa "diganggu" dengan tugas lain, efek kategoris itu akan hilang.
Sebuah studi tahun 2002 memberikan bukti awal yang penting. Ketika penutur Inggris melakukan tugas membedakan warna, mereka menunjukkan keunggulan untuk warna yang melintasi batas kategori (misalnya, membedakan hijau dan biru) dibandingkan warna yang masih dalam satu kategori (misalnya, dua jenis hijau yang berbeda). Namun, ketika mereka diminta melakukan tugas interferensi verbal (seperti mengingat deretan angka) sambil membedakan warna, keunggulan lintas-kategori itu menghilang. Ini mengindikasikan bahwa tanpa akses ke label verbal, otak kehilangan "kriteria" untuk dengan cepat memisahkan warna-warna tersebut
.
Penemuan ini diperkuat oleh penelitian yang melibatkan penutur Rusia. Bahasa Rusia memiliki dua istilah dasar yang berbeda untuk biru: goluboy untuk biru muda dan siniy untuk biru tua. Penelitian menunjukkan bahwa penutur Rusia lebih cepat membedakan warna biru muda dan biru tua dibandingkan penutur Inggris yang hanya menyebut keduanya sebagai "blue". Sekali lagi, efek ini hilang ketika mereka diberi tugas interferensi verbal, menunjukkan bahwa keuntungan persepsi mereka bergantung pada ketersediaan label bahasa yang aktif di otak
.
Namun, relativisme linguistik bukannya tanpa kritik. Sebuah studi tahun 2011 yang dipublikasikan di Journal of Vision gagal mereplikasi temuan bahwa efek kategoris hanya terjadi di lapang pandang kanan (yang diproses oleh belahan otak kiri tempat pusat bahasa berada). Dengan menggunakan metode yang lebih ketat dan analisis statistik yang lebih kuat, mereka menyimpulkan bahwa kecepatan dalam membedakan warna lebih ditentukan oleh perbedaan fisik antar warna (seperti yang dimodelkan oleh sistem warna lawan atau opponent-colors model) daripada oleh batas-batas kategoris bahasa. Mereka berargumen bahwa persepsi warna pada dasarnya adalah proses visual yang terjadi di tahap awal pemrosesan otak, dan bahasa mungkin hanya berperan dalam tugas-tugas memori atau pascapersepsi
.
Fleksibilitas Kognitif: Kasus Penutur Bilingual
Bukti paling menarik di era modern justru datang dari studi tentang penutur bilingual. Jika bahasa memengaruhi persepsi, apa yang terjadi pada seseorang yang menguasai dua bahasa dengan sistem kategorisasi warna yang berbeda? Penelitian terkini menunjukkan bahwa penutur bilingual tidak sekadar "menggabungkan" dua cara pandang, tetapi secara aktif dapat mengalihkan persepsi mereka tergantung pada bahasa yang sedang aktif digunakan.
Sebuah studi tahun 2024 menguji penutur bilingual Lituania-Norwegia. Bahasa Lituania, seperti Rusia, membedakan biru tua dan biru muda, sementara bahasa Norwegia, seperti Inggris, hanya memiliki satu kata untuk biru. Hasilnya sangat menakjubkan: ketika para bilingual ini diberikan tugas interferensi verbal dalam bahasa Lituania, mereka menunjukkan efek kategoris yang kuat untuk warna biru. Namun, ketika tugas interferensi diberikan dalam bahasa Norwegia, efek kategoris itu lenyap
. Ini adalah demonstrasi kuat bahwa bahasa bukan hanya lensa statis yang kita pakai seumur hidup, melainkan sebuah filter kognitif yang dapat "dinyalakan" dan "dimatikan" tergantung pada konteks linguistik.
Temuan serupa juga terlihat pada bilingual Italia-Prancis. Bahasa Italia memiliki dua kata untuk biru, yaitu blu (biru tua) dan azzurro (biru muda), sementara bahasa Prancis hanya menggunakan bleu untuk keduanya. Dalam tugas diskriminasi warna, bilingual Italia-Prancis cenderung menunjukkan perilaku yang mirip dengan penutur Italia, yang menunjukkan dominasi kategori bahasa ibu mereka. Namun, mereka juga menunjukkan fleksibilitas yang mencerminkan pengaruh dari bahasa kedua mereka
. Fleksibilitas ini diperkirakan melibatkan peningkatan fungsi eksekutif otak, seperti kontrol inhibisi dan fleksibilitas kognitif, yang terus-menerus dilatih karena kedua bahasa selalu aktif dan harus dipilih sesuai konteks
.
Warna, Budaya, dan Masa Depan Penelitian
Penelitian terkini menunjukkan bahwa batas antara pengaruh bahasa dan budaya mungkin tidak sejelas yang kita kira. Sebuah studi yang membandingkan penutur Spanyol di Spanyol dan di Uruguay menemukan efek yang menarik. Meskipun sama-sama berbahasa Spanyol, penutur Uruguay yang secara kultural lebih sering menggunakan kata "celeste" (sebuah istilah non-dasar untuk biru langit) menunjukkan kepekaan persepsi yang lebih besar di batas antara biru muda dan biru tua dibandingkan penutur Spanyol dari Spanyol
. Hal ini mengindikasikan bahwa frekuensi penggunaan sebuah kata dalam komunitas, yang dipengaruhi oleh faktor budaya dan sejarah, dapat menciptakan efek relativitas linguistik bahkan dalam bahasa yang sama. Warna biru langit, yang sangat ikonik dalam budaya Uruguay (misalnya, pada bendera dan seragam sepak bola nasional), menjadi lebih menonjol secara perseptual bagi mereka
.
Lalu, apa jawaban dari pertanyaan awal kita: Apakah orang dengan nama warna lebih sedikit melihat warna secara berbeda?
Berdasarkan bukti ilmiah terkini, jawabannya adalah ya, tetapi tidak secara drastis. Mereka tidak buta terhadap warna yang tidak mereka namai. Sistem visual manusia tetap mampu membedakan jutaan warna. Namun, bahasa menyediakan kategori-kategori mental yang memudahkan otak untuk memproses, mengingat, dan mengomunikasikan informasi warna tersebut. Ketika sebuah bahasa hanya memiliki sedikit istilah warna, penuturnya mungkin kurang peka terhadap perbedaan halus di dalam satu kategori yang sama, atau mereka mungkin mengembangkan kepekaan terhadap batas-batas kategoris lain yang tidak kita miliki
.
Kesimpulan
Perdebatan antara bahasa dan warna telah berkembang jauh dari sekadar "apakah" menjadi "bagaimana" dan "kapan" bahasa memengaruhi persepsi. Kini, dengan bantuan ilmu saraf kognitif, kita mulai memahami bahwa bahasa bukanlah penjara yang membatasi pikiran, melainkan seperangkat alat yang dapat digunakan otak untuk menavigasi dunia. Saat kita belajar nama sebuah warna, kita tidak hanya belajar sebuah kata; kita sedang melatih otak kita untuk melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda. Jadi, lain kali Anda melihat langit senja yang berwarna jingga kemerahan, ingatlah bahwa pengalaman "melihat" Anda mungkin sedikit berbeda dengan pengalaman nenek moyang kita yang hanya mengenal "terang" dan "gelap"—dan itu adalah bukti menakjubkan dari kekuatan bahasa dalam membentuk pengalaman manusia.
Daftar Pustaka
Berlin, B., & Kay, P. (1991). Basic color terms: Their universality and evolution. University of California Press. (Karya asli diterbitkan 1969)
Pérez-Gay Juárez, F., Sicotte, T., Thériault, C., & Harnad, S. (2019). Category learning can alter perception and its neural correlates. PLoS ONE, 14(12).
Roberson, D., Davidoff, J., & Shapiro, L. (2002). Color categories are not universal: New evidence from traditional and western cultures. 9th Congress of the International Colour Association, *4421*, 37–40.
Rusmawati, P. D. (2010). Persepsi warna masyarakat bahasa Sunda melalui nama-nama warna dalam bahasa Sunda [Skripsi sarjana, Universitas Indonesia]. Universitas Indonesia Library.
Simoncelli, C., & Kihlstedt, M. (2025). Lexical color categories in balanced proficient bilinguals: The case of blue. Bilingualism: Language and Cognition, 1–17.
Sinkeviciute, A., Mayor, J., Vulchanova, M. D., & Kartushina, N. (2024). Active language modulates color perception in bilinguals. Language Learning, 74(S1), 40–71.
Witzel, C., & Gegenfurtner, K. R. (2011). Color names, color categories, and color-cued visual search: Sometimes, color perception is not categorical. Journal of Vision, 11(12), 1–21.
👇👇👇 beli bukunya untuk materi lebih dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar