BAB 4: TINDAK TUTUR
Pernah nggak kamu sadar kalau saat
kita berbicara, sebenarnya kita nggak cuma “mengucapkan kata”, tapi juga melakukan
sesuatu?
Misalnya:
“Saya janji akan datang.”
Kalimat ini bukan sekadar informasi,
tapi juga tindakan—yaitu berjanji. Nah, dalam pragmatik, fenomena ini
dikenal dengan istilah tindak tutur (speech acts).
Di bab ini, kita akan kupas konsep
tindak tutur dengan cara santai, supaya kamu bisa memahami bagaimana bahasa
bukan hanya alat komunikasi, tapi juga alat aksi.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
4.1 Teori Tindak Tutur
Konsep tindak tutur pertama kali
diperkenalkan oleh J. L. Austin dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh John
Searle.
Menurut Austin, ketika seseorang
berbicara, ia sebenarnya melakukan tiga hal sekaligus. Bahasa bukan hanya untuk
menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan tindakan sosial.
Contoh sederhana:
“Tolong tutup pintunya.”
Kalimat ini bukan hanya rangkaian
kata, tapi juga tindakan meminta. Artinya, setiap ujaran memiliki
“fungsi” tertentu dalam komunikasi.
Teori ini kemudian menjadi dasar
penting dalam kajian pragmatik, terutama dalam memahami bagaimana maksud
penutur bisa berbeda dari sekadar makna literal kalimat.
4.2 Jenis Tindak Tutur (Lokusi, Ilokusi, Perlokusi)
Menurut teori Austin, tindak tutur
dibagi menjadi tiga jenis utama. Yuk kita bahas satu per satu.
1. Tindak Lokusi (Locutionary Act)
Tindak lokusi adalah tindakan
mengucapkan sesuatu secara literal—apa yang benar-benar dikatakan.
Contoh:
“Hari ini hujan.”
Ini hanya pernyataan biasa tentang
kondisi cuaca. Fokusnya ada pada struktur dan makna literal kalimat.
2. Tindak Ilokusi (Illocutionary Act)
Tindak ilokusi adalah maksud atau
tujuan di balik ujaran tersebut.
Contoh:
“Hari ini hujan.”
Dalam konteks tertentu, kalimat ini
bisa bermakna:
- Mengingatkan agar membawa payung
- Mengajak untuk tidak keluar rumah
- Bahkan sebagai alasan untuk membatalkan rencana
Di sinilah inti pragmatik
bekerja—memahami maksud di balik kata.
3. Tindak Perlokusi (Perlocutionary Act)
Tindak perlokusi adalah efek atau
dampak yang ditimbulkan pada pendengar.
Contoh:
“Hari ini hujan.”
Efeknya bisa:
- Pendengar mengambil payung
- Pendengar membatalkan perjalanan
- Pendengar merasa kecewa
Jadi, perlokusi berkaitan dengan apa
yang terjadi setelah ujaran itu didengar.
Ringkasan
Sederhana
|
Jenis
Tindak Tutur |
Fokus
Utama |
Contoh |
|
Lokusi |
Apa yang dikatakan |
“Pintunya terbuka.” |
|
Ilokusi |
Maksud penutur |
Meminta menutup pintu |
|
Perlokusi |
Dampak pada pendengar |
Pendengar menutup pintu |
4.3 Klasifikasi Tindak Tutur (Searle)
Kalau Austin membagi tindak tutur
berdasarkan prosesnya, maka John Searle mengelompokkan tindak tutur berdasarkan
fungsi komunikatifnya.
Berikut klasifikasi utama menurut
Searle:
1. Asertif (Assertives)
Digunakan untuk menyatakan sesuatu
yang dianggap benar oleh penutur.
Contoh:
- “Hari ini panas sekali.”
- “Dia sudah datang.”
Fungsinya: menyampaikan informasi
atau keyakinan.
2. Direktif (Directives)
Digunakan untuk membuat orang lain
melakukan sesuatu.
Contoh:
- “Tolong tutup pintunya.”
- “Ambilkan buku itu.”
Fungsinya: memerintah, meminta, menyarankan.
3. Komisif (Commissives)
Digunakan untuk menyatakan komitmen
penutur terhadap tindakan di masa depan.
Contoh:
- “Saya janji akan datang.”
- “Saya akan membantu kamu.”
Fungsinya: berjanji, bersumpah,
menawarkan.
4. Ekspresif (Expressives)
Digunakan untuk mengekspresikan
perasaan atau sikap penutur.
Contoh:
- “Terima kasih banyak.”
- “Maaf ya.”
Fungsinya: menunjukkan emosi seperti
senang, sedih, marah, atau bersyukur.
5. Deklaratif (Declarations)
Digunakan untuk mengubah status atau
keadaan secara langsung.
Contoh:
- “Saya nyatakan Anda lulus.”
- “Dengan ini saya menikahkan kalian.”
Fungsinya: menciptakan perubahan
nyata melalui ujaran (biasanya dalam konteks formal).
Penutup
Tindak tutur mengajarkan kita bahwa
berbicara itu bukan sekadar mengeluarkan kata-kata. Setiap ujaran punya tujuan,
fungsi, dan dampak.
Dengan memahami tindak tutur, kita
jadi lebih:
- Peka terhadap maksud orang lain
- Tepat dalam menyampaikan pesan
- Bijak dalam berkomunikasi
Jadi, lain kali kamu berbicara,
ingat ya—kamu bukan cuma “ngomong”, tapi juga sedang melakukan sesuatu
lewat bahasa 😉

Tidak ada komentar:
Posting Komentar