Bab 4: Aspek Mikro
Kebahasaan II: Kalimat Efektif dalam Tulisan Ilmiah
4.3 Kesalahan Umum
dalam Kalimat Ilmiah: Kalimat Rancu, Kalimat Menggantung, dan Pleonasme
Artikel ini membahas secara mendalam tiga kesalahan paling sering ditemukan dalam tulisan ilmiah mahasiswa dan peneliti: kalimat rancu, kalimat menggantung, serta pleonasme. Disertai definisi, penyebab, contoh, perbaikan, dan sitasi referensi terbaru sesuai gaya APA, materi ini mendukung keterampilan menulis ilmiah yang baku dan efektif.
Pendahuluan
Dalam kerangka Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Bahasa Indonesia, kemampuan menyusun kalimat efektif menjadi kompetensi inti yang harus dikuasai setiap mahasiswa. Kalimat efektif didefinisikan sebagai kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara jelas, tepat, ringkas, logis, dan sesuai kaidah bahasa baku tanpa menimbulkan penafsiran ganda (Rahayu & Sari, 2023). Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan struktural kalimat masih menjadi masalah dominan dalam karya tulis ilmiah perguruan tinggi, bahkan hingga 30–40% dari total kesalahan kebahasaan yang ditemukan (Dewi dkk., 2021; Ristiani, 2025).
Bagian ini akan menguraikan tiga jenis kesalahan paling umum: kalimat rancu, kalimat menggantung, dan pleonasme. Pemahaman mendalam terhadap ketiganya sangat penting karena kesalahan ini dapat mengurangi kejelasan argumen, merusak objektivitas tulisan, serta menurunkan kredibilitas penulis di mata pembaca akademik (Saputra & Wijaya, 2022).
4.3.1 Kalimat Rancu
Definisi
Kalimat rancu atau sering disebut juga kalimat terkontaminasi adalah kalimat yang terbentuk dari percampuran dua pola susunan kalimat atau dua ungkapan yang masing-masing sebenarnya benar, namun jika digabungkan menjadi satu kesatuan menjadi tidak logis dan maknanya kabur (Alwi dkk., 2022; Kurniawan, 2024). Secara sintaksis, kerancuan terjadi karena penulis tidak konsisten memilih satu pola kalimat, sehingga terjadi ketidaksesuaian antarunsur kalimat.
Penyebab Terjadinya
Menurut penelitian Hidayat dan Lestari (2023), penyebab utama kalimat rancu antara lain:
· Kurang teliti dalam menyusun struktur kalimat;
· Terbiasa menggunakan bahasa lisan yang tidak baku;
· Terlalu terburu-buru dalam penulisan tanpa melakukan penyuntingan ulang;
· Belum memahami secara mendalam pola-pola kalimat baku dalam ragam ilmiah.
Contoh dan Perbaikan
Berikut adalah contoh kasus yang sering ditemukan dalam tulisan ilmiah beserta solusinya:
Contoh 1:
❌ “Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.”
✅ “Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti dapat mengetahui bahwa tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.”
✅ “Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.”
Analisis: Terjadi percampuran pola “berdasarkan... dapat diketahui” yang tidak memiliki subjek jelas.
Contoh 2:
❌ “Faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas air sungai disebabkan oleh limbah industri.”
✅ “Faktor penyebab terjadinya penurunan kualitas air sungai adalah limbah industri.”
✅ “Penurunan kualitas air sungai disebabkan oleh limbah industri.”
Analisis: Kata “penyebab” dan “disebabkan” memiliki makna serupa sehingga jika digabungkan menyebabkan kerancuan makna.
Contoh 3:
❌ “Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta mencari solusi dari permasalahan tersebut.”
✅ “Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mencari solusi atas permasalahan tersebut.”
Analisis: Kerancuan terjadi karena pencampuran preposisi “dari” dan “atas” yang seharusnya hanya satu yang dipakai.
4.3.2 Kalimat Menggantung
Definisi
Kalimat menggantung adalah kalimat yang tidak lengkap unsur pembentuknya, yaitu tidak memiliki subjek, tidak memiliki predikat, atau keduanya, sehingga gagasan yang disampaikan tidak utuh dan pembaca sulit menangkap maknanya secara pasti (Rahman & Wulandari, 2021; Pratama, 2024). Dalam kaidah tata bahasa baku, kalimat yang utuh sekurang-kurangnya harus memiliki subjek dan predikat sebagai inti struktur.
Penyebab Terjadinya
Menurut studi oleh Dewi dkk. (2021), kesalahan ini sering muncul karena:
· Penggunaan kata penghubung atau frasa depan yang menutupi subjek kalimat;
· Menganggap subjek sudah jelas padahal belum disebutkan secara eksplisit;
· Terbiasa dengan gaya bahasa percakapan yang sering menghilangkan unsur kalimat demi kepraktisan.
Contoh dan Perbaikan
Contoh 1:
❌ “Melalui pengamatan selama tiga bulan ini menunjukkan adanya perubahan pola pertumbuhan tanaman.”
✅ “Pengamatan selama tiga bulan ini menunjukkan adanya perubahan pola pertumbuhan tanaman.”
✅ “Melalui pengamatan selama tiga bulan ini, peneliti menemukan adanya perubahan pola pertumbuhan tanaman.”
Analisis: Frasa depan “melalui...” menghilangkan posisi subjek, sehingga kalimat menjadi menggantung.
Contoh 2:
❌ “Dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria.”
✅ “Peneliti menyebarkan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria.”
✅ “Data dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden yang memenuhi kriteria.”
Analisis: Kalimat hanya berisi keterangan cara, tidak ada subjek dan predikat utama.
Contoh 3:
❌ “Selama proses pengolahan data yang dilakukan secara sistematis dan objektif.”
✅ “Selama proses pengolahan data, peneliti bekerja secara sistematis dan objektif.”
✅ “Proses pengolahan data dilakukan secara sistematis dan objektif.”
4.3.3 Pleonasme
Definisi
Pleonasme adalah kesalahan penggunaan kata yang bersifat mubazir atau berlebihan, di mana terdapat dua atau lebih kata yang maknanya sudah saling terkandung atau bersinonim, sehingga jika salah satu dihilangkan makna kalimat tetap utuh dan jelas (Suryani, 2022; Wibowo, 2023). Dalam tulisan ilmiah, prinsip kehematan bahasa sangat dijunjung tinggi, sehingga pleonasme dianggap melanggar kaidah kalimat efektif.
Penyebab Terjadinya
Menurut penelitian Setiawan (2024), pleonasme sering muncul karena:
· Kurang peka terhadap makna kata yang digunakan;
· Kebiasaan berbahasa sehari-hari yang cenderung mempertegas makna secara berlebihan;
· Kurang memahami makna kata depan, imbuhan, dan bentuk jamak dalam Bahasa Indonesia baku.
Contoh dan Perbaikan
Contoh Bentuk Jamak:
❌ “Banyak masalah-masalah yang muncul dalam penelitian ini.”
✅ “Banyak masalah yang muncul dalam penelitian ini.”
✅ “Masalah-masalah yang muncul dalam penelitian ini.”
Analisis: Kata “banyak” sudah menyatakan jumlah jamak, sehingga pengulangan dengan akhiran “-masalah” menjadi mubazir.
Contoh Kata Depan:
❌ “Didalam penelitian ini terdapat dua variabel utama.”
✅ “Dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama.”
❌ “Mulai dari awal tahun penelitian telah dilakukan persiapan.”
✅ “Mulai awal tahun penelitian telah dilakukan persiapan.” atau “Dari awal tahun penelitian telah dilakukan persiapan.”
Contoh Kata Penegas:
❌ “Hasil penelitian ini sangat bermanfaat sekali bagi pengembangan ilmu pengetahuan.”
✅ “Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.”
✅ “Hasil penelitian ini bermanfaat sekali bagi pengembangan ilmu pengetahuan.”
Contoh Lain yang Sering Terjadi:
· ❌ “Naik ke atas” → ✅ “Naik”
· ❌ “Turun ke bawah” → ✅ “Turun”
· ❌ “Para peserta hadirin” → ✅ “Para peserta” atau “Hadirin”
· ❌ “Bersama-sama dengan” → ✅ “Bersama dengan” atau “Bersama-sama”
Dampak dan Strategi Penghindaran
Ketiga kesalahan ini jika dibiarkan akan berdampak serius: makna menjadi kabur, kalimat terasa panjang tanpa isi, dan kesulitan pembaca memahami inti pembahasan (Ristiani, 2025). Berikut strategi menghindarinya:
1. Pahami unsur kalimat: Pastikan setiap kalimat memiliki subjek dan predikat yang jelas;
2. Hindari pengulangan makna: Cek kembali apakah ada kata yang maknanya sudah terkandung dalam kata lain;
3. Baca ulang secara perlahan: Lakukan penyuntingan setelah selesai menulis;
4. Gunakan panduan baku: Rujuk ke PUEBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia;
5. Latihan rutin: Semakin sering berlatih menyusun kalimat baku, semakin terbiasa menghindari kesalahan.
Daftar Referensi
Alwi, H., dkk. (2022). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Dewi, R., Rasna, I. W., & Sudiara, I. W. (2021). Kajian kesalahan berbahasa Indonesia pada karya ilmiah mahasiswa perguruan tinggi. Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 4(2), 145–158.
Hidayat, A., & Lestari, D. (2023). Analisis kesalahan sintaksis dalam artikel ilmiah mahasiswa. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 8(1), 33–47.
Kurniawan, E. (2024). Penulisan Karya Ilmiah: Panduan Praktis dan Baku. Bandung: Pustaka Setia.
Pratama, B. (2024). Keefektifan struktur kalimat dalam skripsi mahasiswa. Semantik: Jurnal Riset Bahasa dan Pendidikan, 7(2), 89–102.
Rahayu, S., & Sari, P. (2023). Kalimat efektif sebagai penunjang kualitas tulisan akademik. Jurnal Literasi dan Pembelajaran, 5(1), 22–35.
Rahman, A., & Wulandari, T. (2021). Kesalahan penggunaan kalimat dalam karya tulis ilmiah mahasiswa. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 9(2), 112–125.
Ristiani, R. (2025). Analisis keefektifan kalimat pada teks esai ilmiah sebagai bahan ajar. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, 9(1), 45–58.
Saputra, J., & Wijaya, R. (2022). Dampak kesalahan kebahasaan terhadap kualitas karya ilmiah. Jurnal Penelitian dan Pengajaran Bahasa, 6(2), 78–92.
Setiawan, D. (2024). Gejala pleonasme dalam tulisan akademik mahasiswa: Penyebab dan solusinya. Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan, 12(1), 56–70.
Suryani, M. (2022). Keterampilan Menulis Ilmiah: Pendekatan Sintaksis dan Semantik. Jakarta: Rajawali Pers.
Wibowo, A. (2023). Prinsip kehematan bahasa dalam ragam tulisan ilmiah. Jurnal Bahasa Indonesia dan Pembelajarannya, 10(2), 44–57.