Artikel ini membahas secara mendalam Bab 4 tentang Aspek Mikro
Kebahasaan II, khususnya syarat-syarat kalimat efektif, dalam konteks Buku Ajar
Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di perguruan
tinggi. Fokus pembahasan mencakup lima syarat utama: kesepadanan struktur,
keparalelan bentuk, ketegasan penekanan, kehematan kata, dan kelogisan
penalaran, dilengkapi dengan contoh konkret dan analisis temuan penelitian
terkini.
Bab 4: Aspek Mikro
Kebahasaan II: Kalimat Efektif dalam Tulisan Ilmiah
4.2 Syarat-Syarat
Kalimat Efektif: Kesepadanan Struktur, Keparalelan Bentuk, Ketegasan Penekanan,
Kehematan Kata, dan Kelogisan Penalaran
Pendahuluan: Membangun Kalimat yang Benar dan Efektif
Setelah memahami konsep dasar dan urgensi kalimat efektif dalam
karya ilmiah, mahasiswa perlu mendalami syarat-syarat yang harus dipenuhi agar
kalimat yang disusun benar-benar efektif. Sebuah kalimat dikatakan efektif
apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, atau perasaan penulis kepada
pembaca secara tepat, sesuai dengan maksud yang diinginkan . Untuk mencapai
tujuan tersebut, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Berdasarkan berbagai sumber acuan, syarat-syarat kalimat efektif
mencakup kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan penekanan,
kehematan kata, dan kelogisan penalaran . Penelitian pada artikel jurnal
ilmiah mahasiswa menunjukkan bahwa kesalahan paling umum terjadi pada aspek
kesatuan gagasan, koherensi, dan penekanan . Sementara itu, penelitian
pada skripsi mahasiswa menemukan bahwa aspek kepaduan dan kebernalaran merupakan
dua aspek tertinggi yang tidak terpenuhi dalam kalimat tidak efektif .
Fakta ini menunjukkan bahwa penguasaan syarat-syarat kalimat efektif masih
menjadi tantangan bagi mahasiswa.
4.2.1 Kesepadanan Struktur
Syarat pertama kalimat efektif adalah kesepadanan struktur, yaitu
keseimbangan antara gagasan dengan struktur bahasa yang dipakai .
Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan
kepaduan pikiran yang baik. Beberapa ciri kesepadanan struktur adalah sebagai
berikut :
a. Kalimat Memiliki Subjek dan Predikat yang Jelas
Setiap kalimat minimal harus memiliki subjek dan predikat yang
jelas. Ketidakjelasan subjek dan predikat akan membuat kalimat menjadi tidak
efektif. Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan menghindarkan
pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang,
mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek .
Contoh kalimat yang tidak sepadan: "Di rumah saya selalu
belajar dengan giat agar mendapatkan materi dan ilmu yang bermanfaat."
Pada kalimat ini, kata depan *di-* mendahului subjek sehingga makna
menjadi kabur; subjek berubah menjadi keterangan . Perbaikannya: "Saya
selalu belajar dengan giat agar mendapatkan materi dan ilmu yang bermanfaat."
b. Tidak Terdapat Subjek Ganda
Kalimat efektif tidak boleh memiliki subjek ganda dalam satu
kalimat . Contoh yang salah: "Penyusunan laporan penelitian ini
saya dibantu oleh tenaga kependidikan." . Perbaikannya: "Dalam
menyusun laporan penelitian ini, saya dibantu oleh tenaga kependidikan."
Contoh lain: "Saya terlambat sehingga saya dihukum oleh guru BP berdiri
dan hormat ke tiang bendera." Pada kalimat ini terjadi subjek ganda
yang sama fungsinya; sebaiknya digabungkan atau dihilangkan salah
satunya . Perbaikannya: "Saya terlambat sehingga dihukum oleh guru
BP berdiri dan hormat ke tiang bendera."
c. Kata Penghubung Intrakalimat Tidak Digunakan pada Kalimat Tunggal
Kata seperti sehingga dan sedangkan adalah
kata yang selalu dipakai dalam kalimat majemuk . Contoh yang salah: "Kami
datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama." .
Perbaikannya: "Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat
mengikuti acara pertama." Kata-kata lain yang tidak boleh mengawali
kalimat tunggal adalah agar, ketika, karena, sebelum, sesudah, walaupun,
dan meskipun .
d. Predikat Tidak Didahului Kata yang
Contoh yang salah: "Putri yang berasal dari Gunung Kidul." .
Perbaikannya: "Putri berasal dari Gunung Kidul." .
4.2.2 Keparalelan Bentuk
Syarat kedua kalimat efektif adalah keparalelan atau kesejajaran
bentuk. Keparalelan adalah adanya unsur-unsur yang sama derajat, pola, atau
susunan kata dan frasa yang digunakan dalam suatu kalimat . Jika bentuk
pertama menggunakan kata benda (nomina), maka bentuk berikutnya juga harus
menggunakan kata benda. Jika menggunakan kata kerja (verba), bentuk berikutnya
juga harus menggunakan kata kerja .
Contoh kalimat yang tidak paralel: "Tahap terakhir
penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan,
pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang." Kalimat
ini tidak memiliki kesejajaran karena bentuk kata yang mewakili predikat
terjadi dari bentuk yang berbeda: pengecatan (nomina), memasang (verba), pengujian (nomina),
dan pengaturan (nomina) . Perbaikannya: "Tahap
terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang." .
Contoh lain: "Ibu menyuruh saya untuk menghemat dan punya
tabungan agar kelak saya dapat kuliah." Bentuk pertama menghemat (verba)
tidak sejajar dengan tabungan (nomina). Perbaikannya: "Ibu
menyuruh saya untuk menghemat dan menabung agar kelak saya dapat kuliah." .
4.2.3 Ketegasan Penekanan
Syarat ketiga adalah ketegasan atau penekanan, yaitu perlakuan
penonjolan pada ide pokok kalimat . Kalimat yang efektif harus jelas
menunjukkan ide, gagasan, atau informasi apa yang ingin disampaikan kepada
pembaca. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat :
a. Meletakkan Kata yang Ditonjolkan di Awal Kalimat
Contoh: "Presiden mengharapkan agar rakyat membangun
bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya."
Penekanannya adalah Presiden mengharapkan .
b. Membuat Urutan Kata yang Bertahap
Contoh yang salah: "Bukan seribu, sejuta, atau seratus,
tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar." .
Perbaikannya: "Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta
rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar." .
c. Melakukan Pengulangan Kata (Repetisi)
Contoh: "Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan
kelembutan mereka." .
d. Melakukan Pertentangan terhadap Ide yang Ditonjolkan
Contoh: "Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan
jujur." .
e. Mempergunakan Partikel Penekanan
Contoh: "Saudaralah yang harus bertanggung jawab." .
4.2.4 Kehematan Kata
Syarat keempat adalah kehematan kata, yaitu menggunakan kata-kata
secara hemat, tetapi tidak mengurangi makna atau mengubah informasi .
Kehematan berarti menghindari kata-kata yang tidak perlu, tidak menggunakan
kata yang mubazir, tidak mengulang pokok bahasan, dan tidak membagi jamak
dengan kata yang sudah jamak . Beberapa kriteria kehematan adalah sebagai
berikut :
a. Menghilangkan Pengulangan Subjek
Contoh yang salah: "Karena dia tidak diundang, dia tidak
datang ke tempat itu." . Perbaikannya: "Karena tidak
diundang, dia tidak datang ke tempat itu." . Atau: "Karena
dia datang terlambat, dia tidak sempat mengikuti acara pembukaan."
Perbaikannya: "Karena datang terlambat, dia tidak sempat mengikuti
acara pembukaan." .
b. Menghindari Penjamakan Kata yang Sudah Jamak
Contoh yang salah: "Seluruh anak-anak berlarian di taman
dengan gembira." Kata seluruh merujuk pada jumlah
banyak (jamak), sedangkan anak-anak sudah merujuk pada jumlah
yang lebih dari satu. Perbaikannya: "Anak-anak berlarian di taman
dengan gembira." .
c. Menghindari Kesinoniman Kata dalam Kalimat
Contoh yang salah: "Saya sangat suka sekali memakan
buah-buahan..." Kata sangat dan sekali memiliki
fungsi yang sama, sehingga salah satunya dapat dihilangkan . Perbaikannya:
"Saya suka memakan buah-buahan..." .
4.2.5 Kelogisan Penalaran
Syarat kelima adalah kelogisan bahasa, yaitu kalimat yang disusun
harus memiliki makna yang logis atau masuk akal . Ide dalam kalimat harus
dapat diterima oleh akal sehat dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang
berlaku . Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Kalimat Pasif dan Aktif Harus Jelas
Contoh yang tidak logis: "Yanuar dimakan bakso saat hujan
turun hari ini." . Perbaikannya: "Yanuar memakan bakso
saat hujan turun hari ini." .
b. Subjek dan Keterangan Harus Jelas
Contoh yang tidak logis: "Di sekolahan para guru sedang
mendiskusikan masalah pengajaran yang terjadi." . Perbaikannya:
"Para guru mendiskusikan masalah pengajaran yang terjadi di sekolahan." .
c. Pengantar Kalimat dan Predikat Harus Jelas
Contoh yang tidak tepat: "Untuk mempersingkat waktu, kami
teruskan acara ini." Karena waktu tidak dapat dipersingkat,
perbaikannya: "Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini." .
Penutup: Menguasai Syarat Kalimat Efektif sebagai Kunci Tulisan Ilmiah Berkualitas
Pemahaman dan penguasaan terhadap lima syarat kalimat
efektif—kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan penekanan,
kehematan kata, dan kelogisan penalaran—merupakan kunci untuk menghasilkan
karya tulis ilmiah yang berkualitas. Penelitian secara konsisten menunjukkan
bahwa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan syarat-syarat
ini .
Kesalahan dalam kesepadanan struktur, seperti penggunaan kata
depan di depan subjek atau subjek ganda, menyebabkan kalimat kehilangan
kejelasan. Ketidakparalelan bentuk membuat kalimat menjadi rancu dan sulit
dipahami. Lemahnya penekanan gagasan utama menyebabkan pembaca kesulitan
menangkap inti pesan. Pemborosan kata melalui pengulangan subjek atau
penggunaan sinonim ganda membuat kalimat bertele-tele. Sementara itu,
ketidaklogisan penalaran, seperti kalimat pasif yang tidak masuk akal, merusak
kredibilitas argumen ilmiah .
Oleh karena itu, pembelajaran syarat-syarat kalimat efektif dalam
MKWK Bahasa Indonesia perlu dirancang secara intensif, dengan pelatihan menulis
dan penyuntingan yang berkelanjutan. Dengan menguasai syarat-syarat ini,
mahasiswa akan mampu menghasilkan tulisan yang tidak hanya benar secara
gramatikal, tetapi juga jelas, padu, dan logis—ciri-ciri tulisan ilmiah yang
berkualitas.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Tasai, S. A. (2008). Cermat Berbahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo.
Nababan, E. B., Rianto, Kusuma, D., Rizkina, T., &
Sastromihardjo, A. (2025). Analisis kesalahan sintaksis pada artikel jurnal
ilmiah mahasiswa. Polyglot: Jurnal Ilmiah, 21(1), 51-68.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2016). Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Jakarta: Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa.
Ridhahani, F. (2020). Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa.
Banjarmasin: UIN Antasari Press.
Suherli. (2010). Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
Jakarta: Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional.