![]() |
Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah |
Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa
Indonesia dan Daerah: Konsep, Jenis, dan Ilustrasi Praktis
Pendahuluan
Dalam kajian Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah, kohesi merupakan
salah satu unsur penting yang menentukan apakah suatu teks dapat dipahami
sebagai satu kesatuan yang utuh. Tanpa kohesi, teks hanya akan menjadi kumpulan
kalimat yang terpisah dan tidak memiliki keterkaitan makna yang jelas.
Secara umum, kohesi berkaitan dengan hubungan formal antarunsur dalam teks,
baik melalui perangkat gramatikal maupun pilihan kata (leksikal). Kohesi inilah
yang memungkinkan pembaca atau pendengar memahami keterkaitan antarbagian dalam
suatu wacana.
Menurut Halliday dan Hasan (1976), kohesi adalah hubungan semantik dalam
teks yang membuatnya menjadi satu kesatuan (unity), dan kohesi ini
direalisasikan melalui perangkat gramatikal dan leksikal . Oleh karena itu,
pembahasan kohesi selalu mencakup dua aspek utama, yaitu kohesi gramatikal dan
kohesi leksikal.
Pengertian Kohesi dalam Wacana
Kohesi adalah keterkaitan antarunsur dalam wacana yang ditandai oleh
hubungan bentuk dan makna, sehingga membentuk struktur yang padu dan utuh .
Kohesi menjadi aspek internal dari wacana yang menghubungkan kata, frasa,
klausa, dan kalimat.
Dengan kata lain, kohesi berfungsi sebagai “lem” yang menyatukan
bagian-bagian teks agar saling terkait dan dapat dipahami secara logis.
Contoh sederhana:
Ani membeli buku. Dia membacanya di rumah.
Kata “Dia” merujuk pada “Ani”,
sehingga kedua kalimat tersebut menjadi kohesif.
Jenis-Jenis Kohesi
Kohesi dalam wacana dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
- Kohesi Gramatikal
- Kohesi Leksikal
Kedua jenis kohesi ini bekerja bersama-sama untuk menciptakan kepaduan dalam
teks.
1.
Kohesi Gramatikal
Pengertian Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana yang diwujudkan
melalui sistem tata bahasa . Kohesi ini berkaitan dengan struktur kalimat dan
penggunaan perangkat gramatikal tertentu.
Menurut Halliday dan Hasan, kohesi gramatikal terdiri dari empat jenis
utama:
- Referensi (pengacuan)
- Substitusi (penyulihan)
- Elipsis (pelesapan)
- Konjungsi (perangkaian)
a.
Referensi (Pengacuan)
Referensi adalah hubungan antara suatu unsur dengan unsur lain yang menjadi
acuannya dalam teks.
Jenis referensi:
- Persona (dia, mereka)
- Demonstratif (ini, itu)
- Komparatif (lebih, sama)
Contoh:
Budi membeli sepeda baru. Ia sangat senang.
Kata “ia” mengacu pada “Budi”.
Ilustrasi dalam bahasa daerah:
“Aco lao di pasar. Ia melo' beli bale.”
(= Aco pergi ke pasar. Ia ingin membeli ikan.)
Referensi membantu menghindari pengulangan kata yang berlebihan.
b. Substitusi (Penyulihan)
Substitusi adalah penggantian suatu unsur dengan unsur lain untuk
menghindari pengulangan.
Contoh:
Saya ingin membeli buku itu. Apakah kamu juga ingin membeli yang
sama?
Frasa “yang sama” menggantikan
“buku itu”.
c.
Elipsis (Pelesapan)
Elipsis adalah penghilangan unsur tertentu yang dapat dipahami dari konteks.
Contoh:
A: Kamu sudah makan?
B: Sudah.
Jawaban lengkapnya sebenarnya:
“Saya sudah makan.”
Namun, unsur “makan” tidak diulang karena sudah dipahami.
d. Konjungsi (Perangkaian)
Konjungsi adalah kata penghubung yang mengaitkan bagian-bagian dalam teks.
Jenis konjungsi:
- Aditif: dan, juga
- Adversatif: tetapi, namun
- Kausal: karena, sehingga
- Temporal: kemudian, setelah
itu
Contoh:
Ia belajar dengan giat, sehingga ia lulus dengan
nilai tinggi.
Analisis Singkat Kohesi
Gramatikal
Teks:
Siti pergi ke sekolah. Ia membawa buku dan
pensil, kemudian belajar di
kelas.
Analisis:
- “Ia” → referensi
- “dan” → konjungsi aditif
- “kemudian” → konjungsi
temporal
2.
Kohesi Leksikal
Pengertian Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana yang dibentuk
melalui pemilihan kata atau hubungan makna antar kata .
Kohesi ini berfungsi menjaga kesinambungan topik dalam teks melalui
penggunaan kosakata yang saling terkait.
Jenis-Jenis Kohesi Leksikal
a. Repetisi (Pengulangan)
Pengulangan kata yang sama untuk menegaskan makna.
Contoh:
Bahasa daerah harus dilestarikan. Bahasa daerah
adalah identitas budaya.
b. Sinonimi (Persamaan Makna)
Penggunaan kata yang memiliki makna sama atau mirip.
Contoh:
Anak itu sangat cerdas. Ia memang pintar
sejak kecil.
c. Antonimi (Lawan Kata)
Penggunaan kata yang berlawanan makna.
Contoh:
Kehidupan di desa sangat tenang, berbeda dengan
kota yang ramai.
d. Hiponimi (Hubungan Umum-Khusus)
Hubungan antara kata umum dan kata khusus.
Contoh:
Ia membeli buah-buahan seperti apel,
jeruk, dan mangga.
e. Kolokasi (Sanding Kata)
Kata-kata yang sering muncul bersama dalam konteks tertentu.
Contoh:
“hujan deras”, “angin kencang”, “matahari terbit”
Ilustrasi
Kohesi Leksikal
Teks:
Indonesia memiliki banyak bahasa daerah. Bahasa-bahasa tersebut
merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Oleh karena itu, bahasa
lokal perlu dilestarikan.
Analisis:
- “bahasa daerah” →
“bahasa-bahasa tersebut” → “bahasa lokal”
→ menunjukkan sinonimi dan repetisi makna
Perbandingan Kohesi Gramatikal dan Leksikal
|
Aspek |
Kohesi
Gramatikal |
Kohesi
Leksikal |
|
Dasar |
Tata bahasa |
Pilihan kata |
|
Bentuk |
Referensi, substitusi, elipsis, konjungsi |
Repetisi, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi |
|
Fungsi |
Menghubungkan struktur kalimat |
Menjaga kesinambungan makna |
Contoh
Analisis Wacana Lengkap
Teks:
“Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas bangsa. Bahasa
tersebut mencerminkan budaya lokal. Oleh karena itu, masyarakat
harus menjaga bahasa itu agar tidak
punah.”
Analisis:
Kohesi Gramatikal:
- “bahasa tersebut” →
referensi
- “bahasa itu” → referensi
- “oleh karena itu” →
konjungsi kausal
Kohesi Leksikal:
- “bahasa daerah” → “bahasa
tersebut” → “bahasa itu” (repetisi makna)
Peran Kohesi dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah
Kohesi memiliki peran penting dalam:
1. Membangun Keutuhan Teks
Tanpa kohesi, teks akan terfragmentasi dan sulit dipahami.
2. Mempermudah Pemahaman
Pembaca dapat mengikuti alur pemikiran secara logis.
3. Menjaga Konsistensi Makna
Kohesi leksikal membantu menjaga topik tetap konsisten.
4. Mendukung Komunikasi Efektif
Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, kohesi memastikan pesan
tersampaikan dengan jelas.
Kesimpulan
Kohesi merupakan unsur penting dalam pembentukan wacana yang utuh dan
bermakna. Kohesi terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu kohesi gramatikal dan
kohesi leksikal. Kohesi gramatikal berkaitan dengan struktur bahasa, sedangkan
kohesi leksikal berkaitan dengan hubungan makna antar kata.
Keduanya bekerja secara simultan dalam membangun teks yang padu, baik dalam
bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Oleh karena itu, pemahaman terhadap
kohesi sangat penting dalam pembelajaran linguistik, terutama dalam analisis
wacana.
Daftar
Pustaka
Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1976). Cohesion in English.
London: Longman.
Mulyana. (2005). Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Sumarlam. (2003). Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta:
Pustaka Cakra.
Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
%20dalam%20Wacana%20Bahasa%20Indonesia%20dan%20Daerah.jpg)