Kamis, 07 Mei 2026

Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah: Konsep, Jenis, dan Ilustrasi Praktis

 

Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah

Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah


Kohesi (Leksikal dan Gramatikal) dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah: Konsep, Jenis, dan Ilustrasi Praktis

Pendahuluan

Dalam kajian Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah, kohesi merupakan salah satu unsur penting yang menentukan apakah suatu teks dapat dipahami sebagai satu kesatuan yang utuh. Tanpa kohesi, teks hanya akan menjadi kumpulan kalimat yang terpisah dan tidak memiliki keterkaitan makna yang jelas.

Secara umum, kohesi berkaitan dengan hubungan formal antarunsur dalam teks, baik melalui perangkat gramatikal maupun pilihan kata (leksikal). Kohesi inilah yang memungkinkan pembaca atau pendengar memahami keterkaitan antarbagian dalam suatu wacana.

Menurut Halliday dan Hasan (1976), kohesi adalah hubungan semantik dalam teks yang membuatnya menjadi satu kesatuan (unity), dan kohesi ini direalisasikan melalui perangkat gramatikal dan leksikal . Oleh karena itu, pembahasan kohesi selalu mencakup dua aspek utama, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.

 

Pengertian Kohesi dalam Wacana

Kohesi adalah keterkaitan antarunsur dalam wacana yang ditandai oleh hubungan bentuk dan makna, sehingga membentuk struktur yang padu dan utuh . Kohesi menjadi aspek internal dari wacana yang menghubungkan kata, frasa, klausa, dan kalimat.

Dengan kata lain, kohesi berfungsi sebagai “lem” yang menyatukan bagian-bagian teks agar saling terkait dan dapat dipahami secara logis.

Contoh sederhana:

Ani membeli buku. Dia membacanya di rumah.

Kata “Dia” merujuk pada “Ani”, sehingga kedua kalimat tersebut menjadi kohesif.

 

Jenis-Jenis Kohesi

Kohesi dalam wacana dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

  1. Kohesi Gramatikal
  2. Kohesi Leksikal

Kedua jenis kohesi ini bekerja bersama-sama untuk menciptakan kepaduan dalam teks.

 

1. Kohesi Gramatikal

Pengertian Kohesi Gramatikal

Kohesi gramatikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana yang diwujudkan melalui sistem tata bahasa . Kohesi ini berkaitan dengan struktur kalimat dan penggunaan perangkat gramatikal tertentu.

Menurut Halliday dan Hasan, kohesi gramatikal terdiri dari empat jenis utama:

  1. Referensi (pengacuan)
  2. Substitusi (penyulihan)
  3. Elipsis (pelesapan)
  4. Konjungsi (perangkaian)

 

a. Referensi (Pengacuan)

Referensi adalah hubungan antara suatu unsur dengan unsur lain yang menjadi acuannya dalam teks.

Jenis referensi:

  • Persona (dia, mereka)
  • Demonstratif (ini, itu)
  • Komparatif (lebih, sama)

Contoh:

Budi membeli sepeda baru. Ia sangat senang.

Kata “ia” mengacu pada “Budi”.

Ilustrasi dalam bahasa daerah:

“Aco lao di pasar. Ia melo' beli bale.”
(= Aco pergi ke pasar. Ia ingin membeli ikan.)

Referensi membantu menghindari pengulangan kata yang berlebihan.

 

b. Substitusi (Penyulihan)

Substitusi adalah penggantian suatu unsur dengan unsur lain untuk menghindari pengulangan.

Contoh:

Saya ingin membeli buku itu. Apakah kamu juga ingin membeli yang sama?

Frasa “yang sama” menggantikan “buku itu”.

 

c. Elipsis (Pelesapan)

Elipsis adalah penghilangan unsur tertentu yang dapat dipahami dari konteks.

Contoh:

A: Kamu sudah makan?
B: Sudah.

Jawaban lengkapnya sebenarnya:

“Saya sudah makan.”

Namun, unsur “makan” tidak diulang karena sudah dipahami.

 

d. Konjungsi (Perangkaian)

Konjungsi adalah kata penghubung yang mengaitkan bagian-bagian dalam teks.

Jenis konjungsi:

  • Aditif: dan, juga
  • Adversatif: tetapi, namun
  • Kausal: karena, sehingga
  • Temporal: kemudian, setelah itu

Contoh:

Ia belajar dengan giat, sehingga ia lulus dengan nilai tinggi.

 

Analisis Singkat Kohesi Gramatikal

Teks:

Siti pergi ke sekolah. Ia membawa buku dan pensil, kemudian belajar di kelas.

Analisis:

  • “Ia” → referensi
  • “dan” → konjungsi aditif
  • “kemudian” → konjungsi temporal

 

2. Kohesi Leksikal

Pengertian Kohesi Leksikal

Kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana yang dibentuk melalui pemilihan kata atau hubungan makna antar kata .

Kohesi ini berfungsi menjaga kesinambungan topik dalam teks melalui penggunaan kosakata yang saling terkait.

 

Jenis-Jenis Kohesi Leksikal

a. Repetisi (Pengulangan)

Pengulangan kata yang sama untuk menegaskan makna.

Contoh:

Bahasa daerah harus dilestarikan. Bahasa daerah adalah identitas budaya.

 

b. Sinonimi (Persamaan Makna)

Penggunaan kata yang memiliki makna sama atau mirip.

Contoh:

Anak itu sangat cerdas. Ia memang pintar sejak kecil.

 

c. Antonimi (Lawan Kata)

Penggunaan kata yang berlawanan makna.

Contoh:

Kehidupan di desa sangat tenang, berbeda dengan kota yang ramai.

 

d. Hiponimi (Hubungan Umum-Khusus)

Hubungan antara kata umum dan kata khusus.

Contoh:

Ia membeli buah-buahan seperti apel, jeruk, dan mangga.

 

e. Kolokasi (Sanding Kata)

Kata-kata yang sering muncul bersama dalam konteks tertentu.

Contoh:

“hujan deras”, “angin kencang”, “matahari terbit”

 

Ilustrasi Kohesi Leksikal

Teks:

Indonesia memiliki banyak bahasa daerah. Bahasa-bahasa tersebut merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Oleh karena itu, bahasa lokal perlu dilestarikan.

Analisis:

  • “bahasa daerah” → “bahasa-bahasa tersebut” → “bahasa lokal”
    → menunjukkan sinonimi dan repetisi makna

 

Perbandingan Kohesi Gramatikal dan Leksikal

Aspek

Kohesi Gramatikal

Kohesi Leksikal

Dasar

Tata bahasa

Pilihan kata

Bentuk

Referensi, substitusi, elipsis, konjungsi

Repetisi, sinonim, antonim, hiponim, kolokasi

Fungsi

Menghubungkan struktur kalimat

Menjaga kesinambungan makna

 

Contoh Analisis Wacana Lengkap

Teks:

“Bahasa daerah merupakan bagian dari identitas bangsa. Bahasa tersebut mencerminkan budaya lokal. Oleh karena itu, masyarakat harus menjaga bahasa itu agar tidak punah.”

Analisis:

Kohesi Gramatikal:

  • “bahasa tersebut” → referensi
  • “bahasa itu” → referensi
  • “oleh karena itu” → konjungsi kausal

Kohesi Leksikal:

  • “bahasa daerah” → “bahasa tersebut” → “bahasa itu” (repetisi makna)

 

Peran Kohesi dalam Wacana Bahasa Indonesia dan Daerah

Kohesi memiliki peran penting dalam:

1. Membangun Keutuhan Teks

Tanpa kohesi, teks akan terfragmentasi dan sulit dipahami.

2. Mempermudah Pemahaman

Pembaca dapat mengikuti alur pemikiran secara logis.

3. Menjaga Konsistensi Makna

Kohesi leksikal membantu menjaga topik tetap konsisten.

4. Mendukung Komunikasi Efektif

Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah, kohesi memastikan pesan tersampaikan dengan jelas.

 

Kesimpulan

Kohesi merupakan unsur penting dalam pembentukan wacana yang utuh dan bermakna. Kohesi terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal berkaitan dengan struktur bahasa, sedangkan kohesi leksikal berkaitan dengan hubungan makna antar kata.

Keduanya bekerja secara simultan dalam membangun teks yang padu, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kohesi sangat penting dalam pembelajaran linguistik, terutama dalam analisis wacana.

 

Daftar Pustaka

Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1976). Cohesion in English. London: Longman.

Mulyana. (2005). Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sumarlam. (2003). Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.

Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.

Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Teknik Jembatan Kata (Kata Transisi)

Dari Kata Menjadi Paragraf Seni Menyusun Kata Menjadi Paragraf yang Mengalir 5.1. Teknik Jembatan Kata (Kata Transisi) Dalam dunia men...