Seni Berbicara: Panduan Praktis untuk Pelajar dan Pemula Menjadi
Komunikator yang Percaya Diri
BAGIAN IV: MENYUSUN PESAN YANG MENARIK
Bab 14. Menentukan Tujuan Pembicaraan
Pernahkah Anda mendengarkan seseorang berbicara selama
lima belas menit, lalu setelah selesai, Anda termenung dan bertanya-tanya: "Sebenarnya, apa yang ingin dia
sampaikan?" Atau sebaliknya, pernahkah Anda sendiri maju ke depan
kelas, mengalirkan kata-kata dengan lancar, namun di akhir presentasi merasa
pesan Anda mengambang tanpa arah?
Jika Bab 13 sebelumnya mengajak kita untuk memetakan
"siapa" yang mendengarkan, maka Bab 14 ini menuntut kita untuk
menjawab pertanyaan yang tidak kalah krusial: Untuk apa kita berbicara?
Banyak pembicara pemula mengira bahwa modal utama public speaking hanyalah
keberanian dan kelancaran lidah. Padahal, berbicara tanpa tujuan yang jelas
ibarat menyetir mobil tanpa destinasi; Anda hanya membuang bensin dan membuat
penumpang kebingungan. Dalam studi retorika dan komunikasi publik, tujuan ini
dikenal sebagai general purpose
(tujuan umum) pembicaraan. Menurut Lucas (2020), menetapkan tujuan sejak awal
adalah kompas utama yang menentukan bagaimana Anda mengumpulkan bahan, menyusun
struktur kalimat, hingga memilih gaya penyampaian.
Secara garis besar, tujuan pembicaraan dalam komunikasi
publik diklasifikasikan menjadi tiga pilar utama: menginformasikan (to inform), menghibur (to entertain), dan membujuk (to
persuade). Mari kita bedah satu per satu secara praktis.
1. Menginformasikan (To Inform): Menjadi Jembatan Ilmu
Tujuan pertama dan yang paling sering dihadapi oleh
pelajar adalah berbicara untuk menginformasikan. Saat Anda melakukan presentasi
makalah di kelas, menjelaskan hasil praktikum laboratorium, atau memaparkan
program kerja organisasi, Anda sedang bertindak sebagai seorang pendidik atau
jembatan informasi.
Menurut Beebe dan Beebe (2020), esensi dari pembicara
yang bertujuan menginformasikan adalah bertindak sebagai pengajar (teacher) yang netral. Tugas
utama Anda adalah memperluas cakrawala pengetahuan audiens, menjelaskan konsep
yang rumit menjadi sederhana, atau mendemonstrasikan sebuah prosedur kerja
tanpa berniat mengubah keyakinan mereka.
Agar pesan informatif Anda menarik dan tidak
membosankan, ada tiga prinsip linguistik dan retorika yang harus diterapkan:
·
Kejelasan dan Akurasi: Jangan biarkan audiens
menebak-nebak makna kata Anda. Pilih kosakata yang spesifik. Jika Anda
menjelaskan fenomena linguistik seperti code-switching (alih kode), definisikan dengan
bahasa sehari-hari sebelum masuk ke teori yang rumit.
·
Menghindari Informasi Berlebih (Information Overload):
Pembicara pemula sering kali ingin menjejalkan semua hal yang mereka ketahui ke
dalam satu presentasi pendek. O'Hair dkk. (2021) mengingatkan bahwa memori
jangka pendek manusia memiliki batasan. Fokuslah pada 3 hingga 4 poin utama
yang paling penting, lalu urai dengan jelas.
·
Gunakan Alat Bantu Visual yang Relevan: Informasi yang
sifatnya data atau prosedural akan jauh lebih mudah dicerna jika didukung oleh
infografis atau bagan yang bersih, bukan slide penuh teks yang dibaca seperti
koran.
Ketika Anda berhasil menginformasikan sesuatu dengan
baik, indikator keberhasilannya adalah: Audiens pulang dengan pemahaman baru yang tidak mereka
miliki sebelum masuk ke dalam ruangan.
2. Menghibur (To Entertain): Memikat Hati Melalui Rasa
Tujuan kedua adalah menghibur. Pembicaran yang
bertujuan menghibur tidak selalu berarti Anda harus menjadi seorang komedian
tunggal (stand-up comedian)
yang memancing tawa setiap tiga puluh detik. Dalam konteks formal maupun
semi-formal—seperti pidato pernikahan (toast), sambutan perpisahan sekolah, atau
penyampaian cerita inspiratif (storytelling)
dalam sebuah seminar—menghibur berarti menyentuh emosi audiens agar mereka
merasa santai, terhubung, dan menikmati momen tersebut.
Verderber dkk. (2018) menyatakan bahwa pembicaraan yang
menghibur berfokus pada pengalaman kolektif audiens. Anda membawa mereka masuk
ke dalam sebuah suasana perasaan—bisa berupa kegembiraan, nostalgia, haru, atau
kekaguman.
Bagi pelajar dan pemula, menyisipkan unsur hiburan
dalam berbicara adalah keterampilan "mahal" yang bisa dilatih melalui
langkah-langkah berikut:
·
Kekuatan Narasi dan Humor Refleksif: Jangan gunakan
lelucon yang menjatuhkan orang lain atau humor yang terlalu dipaksakan. Humor
terbaik adalah humor yang lahir dari refleksi diri sendiri atau situasi lucu
yang jamak dialami semua orang (misalnya: drama begadang mengerjakan tugas
akhir).
·
Permainan Intonasi dan Tempo (Vokalik): Pembicaraan
yang menghibur menuntut fleksibilitas vokal yang tinggi. Kapan Anda harus
mempercepat tempo untuk membangun ketegangan cerita, dan kapan Anda harus
berhenti sejenak (pause)
demi memberikan kesempatan bagi audiens untuk tertawa atau merenung (Floyd,
2021).
·
Ekspresi Wajah yang Hangat: Komunikasi nonverbal Anda
harus memancarkan energi positif. Kontak mata yang ramah dan senyuman yang
tulus adalah magnet alami yang membuat audiens betah mendengarkan Anda.
Ingat, pembicaraan informatif yang disisipi unsur
hiburan yang proporsional sering kali menjadi jenis presentasi yang paling
membekas dalam ingatan.
3. Membujuk (To Persuade): Menggerakkan Pikiran dan Tindakan
Tujuan ketiga, dan bisa dibilang yang paling menantang,
adalah membujuk atau persuasi. Ketika Anda berkampanye menjadi ketua OSIS/BEM,
mengajak teman sekelas untuk ikut dalam proyek sosial, atau mempertahankan
argumen debat ilmiah, Anda sedang melakukan komunikasi persuasif.
Berbeda dengan pembicaraan informatif yang menempatkan
Anda sebagai guru yang netral, dalam pembicaraan persuasif Anda bertindak
sebagai seorang advokat atau pembela suatu gagasan (Lucas, 2020). Tugas Anda
adalah mengubah, memperkuat, atau membentuk keyakinan, sikap, nilai, atau tindakan
audiens Anda.
Sejak abad ke-4 SM, Aristoteles telah merumuskan tiga
pilar persuasi yang hingga kini tetap menjadi fondasi utama dalam retorika
modern (Gallo, 2019):
·
Ethos (Kredibilitas): Audiens harus memercayai Anda
terlebih dahulu sebelum mereka memercayai kata-kata Anda. Tunjukkan bahwa Anda
menguasai topik tersebut dengan menyertakan data ilmiah dan menyampaikannya
dengan penuh percaya diri tanpa terkesan menggurui.
·
Logos (Logika/Argumen): Struktur penalaran Anda harus
masuk akal. Gunakan data statistik, analogi yang valid, dan sitasi dari para
ahli untuk mendukung klaim Anda. Jangan biarkan argumen Anda rapuh karena
asumsi tanpa bukti.
·
Pathos (Emosi): Logika saja jarang bisa menggerakkan
manusia; Anda perlu menyentuh hati mereka. Ketuk empati, rasa keadilan, atau
harapan masa depan mereka melalui pilihan kata yang menggugah (emotional appeal).
Membujuk membutuhkan perencanaan linguistik yang
matang. Pilihlah kata-kata tindakan (action verbs) dan kalimat persuasif yang inklusif,
seperti kata "kita" alih-alih "saya", untuk membangun rasa
kebersamaan dalam mencapai tujuan (Perloff, 2020).
Kesimpulan: Menyelaraskan Tujuan untuk Kepercayaan
Diri
Sebagai komunikator pemula, memahami ketiga tujuan
pembicaraan ini akan menghilangkan separuh dari rasa cemas Anda di atas
panggung. Mengapa? Karena Anda tahu persis apa "tugas" Anda hari itu.
Jika tugas Anda adalah menginformasikan, Anda tidak perlu terbebani untuk
melucu. Jika tugas Anda adalah menghibur,
Anda bebas melepaskan kekakuan data matematis. Dan jika tugas Anda adalah membujuk, Anda tahu Anda harus
berjuang menyusun argumen yang kokoh demi memenangkan hati audiens.
Sebelum melangkah ke panggung atau menulis draf pesan
Anda, selesaikan kalimat ini di dalam pikiran Anda: "Setelah mendengar pembicaraan saya, saya ingin
audiens saya tahu tentang...
(Informatif), merasakan...
(Menghibur), atau melakukan...
(Persuasif)." Ketika kompas tujuan ini telah Anda tetapkan dengan
tegas, pesan yang Anda susun akan mengalir dengan kuat, memikat, dan penuh rasa
percaya diri.
Referensi
·
Beebe, S. A., & Beebe, S. J. (2020). Public speaking: An
audience-centered approach (10th ed.). Pearson.
·
Floyd, K. (2021). Interpersonal communication (4th ed.). McGraw-Hill
Education.
·
Gallo, C. (2019). Five stars: The communication secrets to get from good to
great. St. Martin's Press.
·
Lucas, S. E. (2020). The art of public speaking
(13th ed.). McGraw-Hill Education.
·
O'Hair, D., Stewart, R., & Rubenstein, H.
(2021). A pocket guide to
public speaking (7th ed.). Bedford/St. Martin's.
·
Perloff, R. M. (2020). The dynamics of persuasion:
Communication and attitudes in the twenty-first century (7th ed.).
Routledge.
·
Verderber, K. S., Verderber, R. F., &
Sellnow, D. D. (2018). Communicate!
(15th ed.). Cengage Learning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar