Kamis, 18 Juni 2026

Menentukan Tujuan Pembicaraan

 

Seni Berbicara: Panduan Praktis untuk Pelajar dan Pemula Menjadi Komunikator yang Percaya Diri

BAGIAN IV: MENYUSUN PESAN YANG MENARIK

Bab 14. Menentukan Tujuan Pembicaraan

Pernahkah Anda mendengarkan seseorang berbicara selama lima belas menit, lalu setelah selesai, Anda termenung dan bertanya-tanya: "Sebenarnya, apa yang ingin dia sampaikan?" Atau sebaliknya, pernahkah Anda sendiri maju ke depan kelas, mengalirkan kata-kata dengan lancar, namun di akhir presentasi merasa pesan Anda mengambang tanpa arah?

Jika Bab 13 sebelumnya mengajak kita untuk memetakan "siapa" yang mendengarkan, maka Bab 14 ini menuntut kita untuk menjawab pertanyaan yang tidak kalah krusial: Untuk apa kita berbicara?

Banyak pembicara pemula mengira bahwa modal utama public speaking hanyalah keberanian dan kelancaran lidah. Padahal, berbicara tanpa tujuan yang jelas ibarat menyetir mobil tanpa destinasi; Anda hanya membuang bensin dan membuat penumpang kebingungan. Dalam studi retorika dan komunikasi publik, tujuan ini dikenal sebagai general purpose (tujuan umum) pembicaraan. Menurut Lucas (2020), menetapkan tujuan sejak awal adalah kompas utama yang menentukan bagaimana Anda mengumpulkan bahan, menyusun struktur kalimat, hingga memilih gaya penyampaian.

Secara garis besar, tujuan pembicaraan dalam komunikasi publik diklasifikasikan menjadi tiga pilar utama: menginformasikan (to inform), menghibur (to entertain), dan membujuk (to persuade). Mari kita bedah satu per satu secara praktis.

1. Menginformasikan (To Inform): Menjadi Jembatan Ilmu

Tujuan pertama dan yang paling sering dihadapi oleh pelajar adalah berbicara untuk menginformasikan. Saat Anda melakukan presentasi makalah di kelas, menjelaskan hasil praktikum laboratorium, atau memaparkan program kerja organisasi, Anda sedang bertindak sebagai seorang pendidik atau jembatan informasi.

Menurut Beebe dan Beebe (2020), esensi dari pembicara yang bertujuan menginformasikan adalah bertindak sebagai pengajar (teacher) yang netral. Tugas utama Anda adalah memperluas cakrawala pengetahuan audiens, menjelaskan konsep yang rumit menjadi sederhana, atau mendemonstrasikan sebuah prosedur kerja tanpa berniat mengubah keyakinan mereka.

Agar pesan informatif Anda menarik dan tidak membosankan, ada tiga prinsip linguistik dan retorika yang harus diterapkan:

·         Kejelasan dan Akurasi: Jangan biarkan audiens menebak-nebak makna kata Anda. Pilih kosakata yang spesifik. Jika Anda menjelaskan fenomena linguistik seperti code-switching (alih kode), definisikan dengan bahasa sehari-hari sebelum masuk ke teori yang rumit.

·         Menghindari Informasi Berlebih (Information Overload): Pembicara pemula sering kali ingin menjejalkan semua hal yang mereka ketahui ke dalam satu presentasi pendek. O'Hair dkk. (2021) mengingatkan bahwa memori jangka pendek manusia memiliki batasan. Fokuslah pada 3 hingga 4 poin utama yang paling penting, lalu urai dengan jelas.

·         Gunakan Alat Bantu Visual yang Relevan: Informasi yang sifatnya data atau prosedural akan jauh lebih mudah dicerna jika didukung oleh infografis atau bagan yang bersih, bukan slide penuh teks yang dibaca seperti koran.

Ketika Anda berhasil menginformasikan sesuatu dengan baik, indikator keberhasilannya adalah: Audiens pulang dengan pemahaman baru yang tidak mereka miliki sebelum masuk ke dalam ruangan.

2. Menghibur (To Entertain): Memikat Hati Melalui Rasa

Tujuan kedua adalah menghibur. Pembicaran yang bertujuan menghibur tidak selalu berarti Anda harus menjadi seorang komedian tunggal (stand-up comedian) yang memancing tawa setiap tiga puluh detik. Dalam konteks formal maupun semi-formal—seperti pidato pernikahan (toast), sambutan perpisahan sekolah, atau penyampaian cerita inspiratif (storytelling) dalam sebuah seminar—menghibur berarti menyentuh emosi audiens agar mereka merasa santai, terhubung, dan menikmati momen tersebut.

Verderber dkk. (2018) menyatakan bahwa pembicaraan yang menghibur berfokus pada pengalaman kolektif audiens. Anda membawa mereka masuk ke dalam sebuah suasana perasaan—bisa berupa kegembiraan, nostalgia, haru, atau kekaguman.

Bagi pelajar dan pemula, menyisipkan unsur hiburan dalam berbicara adalah keterampilan "mahal" yang bisa dilatih melalui langkah-langkah berikut:

·         Kekuatan Narasi dan Humor Refleksif: Jangan gunakan lelucon yang menjatuhkan orang lain atau humor yang terlalu dipaksakan. Humor terbaik adalah humor yang lahir dari refleksi diri sendiri atau situasi lucu yang jamak dialami semua orang (misalnya: drama begadang mengerjakan tugas akhir).

·         Permainan Intonasi dan Tempo (Vokalik): Pembicaraan yang menghibur menuntut fleksibilitas vokal yang tinggi. Kapan Anda harus mempercepat tempo untuk membangun ketegangan cerita, dan kapan Anda harus berhenti sejenak (pause) demi memberikan kesempatan bagi audiens untuk tertawa atau merenung (Floyd, 2021).

·         Ekspresi Wajah yang Hangat: Komunikasi nonverbal Anda harus memancarkan energi positif. Kontak mata yang ramah dan senyuman yang tulus adalah magnet alami yang membuat audiens betah mendengarkan Anda.

Ingat, pembicaraan informatif yang disisipi unsur hiburan yang proporsional sering kali menjadi jenis presentasi yang paling membekas dalam ingatan.

3. Membujuk (To Persuade): Menggerakkan Pikiran dan Tindakan

Tujuan ketiga, dan bisa dibilang yang paling menantang, adalah membujuk atau persuasi. Ketika Anda berkampanye menjadi ketua OSIS/BEM, mengajak teman sekelas untuk ikut dalam proyek sosial, atau mempertahankan argumen debat ilmiah, Anda sedang melakukan komunikasi persuasif.

Berbeda dengan pembicaraan informatif yang menempatkan Anda sebagai guru yang netral, dalam pembicaraan persuasif Anda bertindak sebagai seorang advokat atau pembela suatu gagasan (Lucas, 2020). Tugas Anda adalah mengubah, memperkuat, atau membentuk keyakinan, sikap, nilai, atau tindakan audiens Anda.

Sejak abad ke-4 SM, Aristoteles telah merumuskan tiga pilar persuasi yang hingga kini tetap menjadi fondasi utama dalam retorika modern (Gallo, 2019):

·         Ethos (Kredibilitas): Audiens harus memercayai Anda terlebih dahulu sebelum mereka memercayai kata-kata Anda. Tunjukkan bahwa Anda menguasai topik tersebut dengan menyertakan data ilmiah dan menyampaikannya dengan penuh percaya diri tanpa terkesan menggurui.

·         Logos (Logika/Argumen): Struktur penalaran Anda harus masuk akal. Gunakan data statistik, analogi yang valid, dan sitasi dari para ahli untuk mendukung klaim Anda. Jangan biarkan argumen Anda rapuh karena asumsi tanpa bukti.

·         Pathos (Emosi): Logika saja jarang bisa menggerakkan manusia; Anda perlu menyentuh hati mereka. Ketuk empati, rasa keadilan, atau harapan masa depan mereka melalui pilihan kata yang menggugah (emotional appeal).

Membujuk membutuhkan perencanaan linguistik yang matang. Pilihlah kata-kata tindakan (action verbs) dan kalimat persuasif yang inklusif, seperti kata "kita" alih-alih "saya", untuk membangun rasa kebersamaan dalam mencapai tujuan (Perloff, 2020).

Kesimpulan: Menyelaraskan Tujuan untuk Kepercayaan Diri

Sebagai komunikator pemula, memahami ketiga tujuan pembicaraan ini akan menghilangkan separuh dari rasa cemas Anda di atas panggung. Mengapa? Karena Anda tahu persis apa "tugas" Anda hari itu.

Jika tugas Anda adalah menginformasikan, Anda tidak perlu terbebani untuk melucu. Jika tugas Anda adalah menghibur, Anda bebas melepaskan kekakuan data matematis. Dan jika tugas Anda adalah membujuk, Anda tahu Anda harus berjuang menyusun argumen yang kokoh demi memenangkan hati audiens.

Sebelum melangkah ke panggung atau menulis draf pesan Anda, selesaikan kalimat ini di dalam pikiran Anda: "Setelah mendengar pembicaraan saya, saya ingin audiens saya tahu tentang... (Informatif), merasakan... (Menghibur), atau melakukan... (Persuasif)." Ketika kompas tujuan ini telah Anda tetapkan dengan tegas, pesan yang Anda susun akan mengalir dengan kuat, memikat, dan penuh rasa percaya diri.

Referensi 

·         Beebe, S. A., & Beebe, S. J. (2020). Public speaking: An audience-centered approach (10th ed.). Pearson.

·         Floyd, K. (2021). Interpersonal communication (4th ed.). McGraw-Hill Education.

·         Gallo, C. (2019). Five stars: The communication secrets to get from good to great. St. Martin's Press.

·         Lucas, S. E. (2020). The art of public speaking (13th ed.). McGraw-Hill Education.

·         O'Hair, D., Stewart, R., & Rubenstein, H. (2021). A pocket guide to public speaking (7th ed.). Bedford/St. Martin's.

·         Perloff, R. M. (2020). The dynamics of persuasion: Communication and attitudes in the twenty-first century (7th ed.). Routledge.

·         Verderber, K. S., Verderber, R. F., & Sellnow, D. D. (2018). Communicate! (15th ed.). Cengage Learning.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi

  Bab 5: Pengembangan Paragraf Akademik 5.3 Pola Pengembangan Paragraf: Deduktif, Induktif, Campuran, Ekspositori, Kausalitas, dan Analogi...