Memilih Kata yang Tepat: Merajut Diksi dan Kesederhanaan Menjadi Kekuatan
Berbicara
Pernahkah Anda mendengar seseorang berbicara menggunakan
istilah-istilah langit yang sangat tinggi, namun setelah dia selesai, Anda
justru bingung dan bertanya-tanya, "Dia sebenarnya sedang bicara tentang apa,
ya?" Sebaliknya, kita pasti pernah bertemu dengan pembicara yang
membawakan topik sangat rumit—seperti sains atau hukum ekonomi—tetapi
menyampaikannya dengan kata-kata yang begitu bersahaja, sehingga seorang anak
sekolah pun bisa langsung paham.
Di sinilah letak sihir dari komunikasi. Kekuatan sejati
seorang pembicara tidak diukur dari seberapa tebal kamus yang ia pindahkan ke
dalam pidatonya, melainkan dari kemampuannya memilih kata yang tepat untuk
mengetuk pintu pemahaman pendengar.
Bagi pelajar dan pemula, ada sebuah miskonsepsi umum
bahwa menjadi komunikator yang keren berarti harus terdengar
"canggih" dengan menjejalkan istilah asing atau jargon teknis.
Padahal, esensi dari daya tarik berbicara (the art of persuasion) terletak pada kejelasan
makna. Dalam Bab 20 ini, kita akan membedah dua instrumen linguistik paling
krusial untuk memikat audiens: ketepatan
diksi dan penggunaan bahasa
yang mudah dipahami.
1. Diksi: Seni Memilih Senjata Verbal yang Presisi
Secara sederhana, diksi adalah pilihan kata. Namun,
dalam lanskap public speaking,
diksi bukan sekadar urusan memilih kata dari daftar sinonim di dalam kamus.
Diksi adalah cerminan dari ketajaman berpikir dan empati seorang pembicara
terhadap audiensnya. Kata-kata yang kita pilih memiliki muatan energi, rasa,
dan citra visual yang berbeda, meskipun secara denotatif artinya mirip.
Dalam ilmu linguistik dan komunikasi, pemilihan diksi
yang efektif harus mempertimbangkan dua dimensi utama:
A. Dimensi Denotatif vs. Konotatif
Makna denotatif adalah makna kamus yang objektif,
sedangkan makna konotatif adalah asosiasi emosional yang melekat pada kata
tersebut. Sebagai pembicara, Anda harus peka terhadap nuansa ini.
·
Misalnya, kata "keras kepala" dan "teguh pendirian"
secara denotatif memiliki kemiripan arti. Namun, secara konotatif, "keras kepala"
membawa energi negatif (tidak mau mendengar), sementara "teguh pendirian"
memancarkan energi positif (prinsipil dan kuat).
Pilihan diksi Anda akan menentukan bagaimana audiens
mempersepsikan karakter Anda (ethos)
di atas panggung.
B. Kekuatan Kata Kerja Aktif dan Kata Konkret
Pembicara yang memikat cenderung menghindari kata-kata
yang terlalu abstrak dan menggantinya dengan kata-kata konkret yang bisa
diimajinasikan oleh indra manusia. Daripada mengatakan, "Kita perlu melakukan
peningkatan kualitas pendidikan secara signifikan," diksi tersebut
akan jauh lebih bertenaga jika diubah menjadi, "Kita harus melatih para guru, memperbarui buku
bacaan di perpustakaan, dan memperbaiki atap-atap kelas yang bocor."
Studi dalam psikolinguistik modern menunjukkan bahwa
pemilihan diksi yang mampu memicu bayangan visual (imagery-evoking words) di otak pendengar akan
membuat pesan tersebut diproses lebih cepat oleh korteks visual mereka
(Sadoski, 2018). Ketika Anda memilih kata yang konkret, Anda sedang melukis
sebuah gambar di dalam benak audiens, dan gambar itulah yang akan mereka bawa
pulang.
2. Bahasa yang Mudah Dipahami: Karena Komunikasi Bukan
Ajang Pamer Jargon
Bagi seorang pelajar atau pemula, tantangan terbesar
saat menyusun materi berbicara adalah melawan ego untuk terlihat pintar.
Akibatnya, presentasi sering kali dipenuhi dengan istilah-istilah akademis yang
kering atau jargon-jargon yang asing bagi telinga orang awam.
Prinsip utama yang harus dipegang oleh setiap
komunikator ulung adalah: Kejelasan
harus mendahului kepintaran.
Mengapa menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami justru membuat daya tarik berbicara Anda meningkat?
A. Menurunkan Beban Kognitif (Cognitive Load) Audiens
Otak manusia memiliki kapasitas terbatas dalam
memproses informasi baru dalam satu waktu. Ketika seorang pembicara menggunakan
bahasa yang berbelit-belit atau penuh jargon tanpa penjelasan, otak audiens
harus bekerja ekstra keras hanya untuk mengartikan kata demi kata. Akibatnya,
mereka akan mengalami kelelahan mental (cognitive fatigue) dan memilih untuk berhenti
mendengarkan.
Penelitian oleh Sweller et al. (2019) mengenai teori
beban kognitif menegaskan bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang
berhasil meminimalkan beban kognitif luar (extraneous cognitive load). Dengan menggunakan
bahasa yang jernih, sederhana, dan langsung pada sasaran, Anda sedang membantu
otak audiens menghemat energi mereka untuk fokus memahami esensi pesan Anda.
B. Inklusivitas dan Jembatan Hubungan (Rapport)
Saat Anda berbicara menggunakan bahasa yang membumi,
Anda sedang mengirimkan pesan tersirat kepada audiens: "Saya menghargai waktu Anda, dan saya ingin kita
setara dalam memahami hal ini." Bahasa yang mudah dipahami bersifat
inklusif—ia merangkul semua orang di dalam ruangan, bukan hanya segelintir
orang yang kebetulan memahami istilah teknis tersebut. Hal ini secara instan
akan membangun kehangatan dan rasa percaya (trust) antara Anda dan pendengar (Meyer, 2018).
3. Strategi Praktis Membumikan Bahasa Tanpa Kehilangan
Bobot
Bagaimana cara praktis melatih diri agar bisa memilih
kata yang tepat dan menyajikan materi yang mudah dipahami? Berikut adalah
beberapa panduan taktis yang bisa langsung Anda terapkan:
Langkah 1: Kenali "Kutukan Pengetahuan" (The Curse of Knowledge)
The Curse
of Knowledge adalah sebuah bias kognitif di mana ketika kita sudah
mengetahui suatu hal, kita berasumsi bahwa orang lain juga memiliki latar
belakang pengetahuan yang sama untuk memahaminya (Pinker, 2015). Sebagai
pelajar yang baru membaca jurnal ilmiah, Anda mungkin menganggap istilah
seperti “regulasi diri” atau
“disonansi kognitif” sebagai
hal biasa. Namun bagi audiens umum, itu adalah bahasa planet lain. Selalu
posisikan diri Anda di kursi pendengar yang paling awam saat menyusun draf
pembicaraan.
Langkah 2: Gunakan Aturan "Nenek dan Anak Berumur
10 Tahun"
Jika Anda ingin menguji apakah pilihan kata dan materi
Anda sudah cukup mudah dipahami, cobalah jelaskan topik Anda kepada anak
berusia 10 tahun atau kepada nenek Anda. Jika mereka bisa menangkap inti sari
dari apa yang Anda bicarakan tanpa mengerutkan dahi, berarti diksi dan bahasa
yang Anda gunakan sudah berada pada jalur yang tepat.
Langkah 3: Teknik Define and Substitute (Definisikan atau Ganti)
Jika Anda memang harus menggunakan sebuah istilah teknis karena tidak
ada padanan kata lainnya dalam bahasa Indonesia, gunakan aturan emas: Definisikan segera setelah Anda
mengucapkannya.
·
Contoh: "Dalam dunia digital, kita mengenal
istilah phishing—yaitu
metode penipuan online yang menjebak kita untuk memberikan data pribadi melalui
tautan palsu."
Dengan teknik ini, Anda tetap terlihat kompeten tanpa
membuat audiens merasa terasing.
Langkah 4: Pilih Kata yang Pendek dan Akrab
Dalam bahasa lisan, kata-kata yang pendek dan sering
didengar (high-frequency words)
jauh lebih mudah dicerna daripada kata yang panjang dan jarang digunakan.
Daripada menggunakan kata "mengimplementasikan",
sering kali kata "menjalankan"
atau "menerapkan"
terasa jauh lebih mengalir dan akrab di telinga pendengar saat diucapkan secara
langsung.
Kesimpulan
Daya tarik berbicara tidak lahir dari kemewahan
kosakata yang membuat orang terperangah, melainkan dari ketepatan kata yang
membuat orang tercerahkan. Bagi pelajar dan pemula yang ingin membangun rasa
percaya diri di atas panggung, kuasailah seni memilih diksi yang hidup dan
bertenaga, serta milikilah kerendahan hati untuk selalu menggunakan bahasa yang
mudah dipahami.
Ingatlah selalu petuah linguistik bahwa tugas seorang
pembicara bukan untuk menunjukkan seberapa tinggi menara ilmu yang telah ia
daki, melainkan untuk membawa turun ilmu tersebut agar dapat dinikmati dan
mengubah kehidupan orang banyak. Pilihlah kata Anda dengan bijak, karena
kata-kata adalah jendela menuju pikiran Anda!
Daftar Pustaka
Meyer, K. (2018). Impact of plain language on audience engagement and trust
in public communication. Academic Press.
Pinker, S. (2015). The sense of style: The thinking person's guide to
writing in the 21st century. Penguin Books.
Sadoski, M. (2018). Evaluation of dual coding theory in
reading and writing. Scientific
Studies of Reading, 22(1), 73-84.
Sweller, J., van Merriënboer, J. J., & Paas, F.
(2019). Cognitive architecture and instructional design: 20 years later. Educational Psychology Review,
31(2), 261-292.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar