Dari Kata Menjadi Paragraf
Proses Poles (Self-Editing untuk Paragraf Anda)
• 8.1. Memangkas Lemak Kata: Menghilangkan kata-kata mubazir yang membuat
paragraf terasa membosankan.
Setiap penulis, baik pemula maupun profesional, pasti pernah
mengalami momen ketika sebuah paragraf terasa “berat”, bertele-tele, atau
membosankan meskipun idenya sebenarnya bagus. Penyebab utamanya sering kali
bukan pada struktur kalimat, melainkan pada keberadaan kata-kata
mubazir—yang dalam dunia kepenulisan dikenal sebagai “lemak kata” (word
fat). Seperti lemak berlebih pada tubuh yang menghambat gerak lincah, lemak
kata membuat tulisan Anda lamban, tidak efisien, dan melelahkan pembaca. Proses
memangkas lemak kata ini adalah inti dari self-editing tingkat
paragraf.
Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana mengidentifikasi,
memangkas, dan mengganti kata-kata mubazir sehingga paragraf Anda menjadi
padat, hidup, dan berdaya hantam tinggi.
Mengapa Kata Mubazir Berbahaya?
Dalam studi retorika modern, kejelasan dan keringkasan
adalah dua pilar utama tulisan nonfiksi yang efektif. Williams & Bizup
(2017) dalam Style: Lessons in Clarity and Grace menegaskan
bahwa “kalimat yang baik adalah kalimat yang tidak memaksa pembaca bekerja
ekstra untuk memahami maksud penulis”. Kata-kata mubazir memaksa pembaca
menyaring informasi yang tidak perlu—proses mental yang menguras energi dan
menurunkan minat baca.
Bayangkan Anda sedang menyantap sup ayam. Jika kuahnya
terlalu berlemak, Anda akan cepat enek. Kata mubazir adalah lemak itu.
Memangkasnya membuat tulisan Anda terasa “ringan di lidah” meskipun muatan
informasinya padat.
Secara spesifik, kata mubazir menyebabkan tiga masalah
fatal:
- Kehilangan
momentum: Pembaca kehilangan benang merah karena terlalu banyak
kata penyela.
- Melemahkan
otoritas: Tulisan yang bertele-tele terlihat tidak percaya diri.
- Membosankan: Pola
kata yang sama berulang kali tanpa fungsi menciptakan monotoni.
Jenis-Jenis Lemak Kata yang Harus Dipangkas
Berdasarkan panduan self-editing dari para
ahli linguistik terapan, setidaknya ada enam kategori utama lemak kata yang
paling sering ditemukan dalam tulisan berbahasa Indonesia (dan berlaku pula
untuk terjemahan dari bahasa asing).
1. Kata Pengisi (Fillers) Tanpa Makna Leksikal
Ini adalah kata-kata yang hadir hanya karena kebiasaan lisan
penulis, bukan karena kebutuhan semantik. Contoh: “bahwa”, “adalah”,
“untuk”, “daripada”, “sebenarnya”, “semacam”, “agak”, “cukup” dalam
konteks tertentu.
Contoh berlemak: “Saya berpikir bahwa sebenarnya
ide tersebut adalah cukup menarik untuk kita coba.”
Setelah dipangkas: “Ide itu menarik untuk dicoba.”
Kata “bahwa” dan “sebenarnya” tidak
menambah informasi. “Adalah” sering hanya menjadi kata kerja
kopula yang bisa diganti dengan struktur aktif. “Cukup” di
sini ambigu—menarik atau tidak? Lebih tegas tanpa “cukup”.
2. Kata Sifat atau Kata Keterangan yang Berlebihan (Adverb/Adjective
Overload)
Strunk & White (2000) dalam The Elements of
Style memberi nasihat klasik: “Tulis dengan kata benda dan kata kerja,
bukan dengan kata sifat dan kata keterangan.” Kata keterangan seperti “sangat”,
“benar-benar”, “sungguh”, “amat”, “terlalu” justru melemahkan kata
yang diterangkannya.
Contoh berlemak: “Dia sangat marah dan
benar-benar kecewa dengan hasil yang sangat buruk itu.”
Setelah dipangkas: “Dia marah dan kecewa dengan hasil buruk itu.”
Atau lebih kuat lagi: “Dia membenci hasil itu.” Satu kata
kerja kuat (membenci) menggantikan dua kata sifat lemah (sangat
marah, benar-benar kecewa). Prinsip ini disebut “strong verb principle” dalam
linguistik kognitif (Pinker, 2014).
3. Redundansi (Pengulangan Makna yang Tidak Perlu)
Redundansi adalah lemak paling gemuk karena ia mengulang
informasi yang sudah jelas dari kata lain. Banyak ungkapan populer di Indonesia
yang sebenarnya redundan, misalnya: “ulang lagi” (ulang sudah
berarti lagi), “naik ke atas” (naik selalu ke atas), “turun
ke bawah”, “saling bekerja sama” (sama sudah bermakna
timbal balik), “sebab akibatnya”.
Contoh berlemak: “Para hadirin semua dimohon
untuk bersama-sama secara kolektif berdiri.”
Setelah dipangkas: “Hadirin dimohon berdiri.”
“Para” dan “semua” redundan; “bersama-sama” dan “secara
kolektif” juga redundan. Cukup “hadirin” dan “berdiri”.
4. Frasa Panjang yang Bisa Diganti Satu Kata
Banyak penulis pemula menggunakan frasa preposisional
panjang karena terbiasa dengan gaya birokratis. Frasa-frasa ini bisa dipangkas
menjadi satu atau dua kata tanpa kehilangan makna.
|
Frasa
Berlemak |
Satu
Kata Pengganti |
|
dalam
rangka untuk |
guna,
untuk |
|
disebabkan
oleh karena |
karena |
|
pada
saat yang bersamaan |
ketika,
saat |
|
sebagian
besar dari |
kebanyakan |
|
melakukan
suatu tindakan |
bertindak,
melakukan |
|
dengan
cara yang demikian |
demikian |
Contoh berlemak: “Dia melakukan suatu tindakan
perbaikan dengan cara yang demikian efektif dalam rangka untuk menyelesaikan
masalah.”
Setelah dipangkas: “Dia memperbaiki masalah secara efektif.”
Lihat bagaimana “melakukan suatu tindakan perbaikan” menjadi
hanya “memperbaiki” (satu kata kerja aktif). “Dalam
rangka untuk” hilang karena maknanya sudah terserap ke konteks.
5. Kalimat Negatif Berbelit (Roundabout Negation)
Terkadang kita menulis “tidak tidak” atau “bukan tanpa” yang
sebenarnya bisa menjadi positif langsung. Psikolinguistik menunjukkan bahwa
kalimat negatif membutuhkan waktu pemrosesan 30-50% lebih lama di otak pembaca
(Clark & Clark, 1977).
Contoh berlemak: “Dia tidak tidak setuju dengan
usulan yang tidak masuk akal itu.”
Setelah dipangkas: “Dia menolak usulan itu.”
Atau: “Itu bukan tanpa manfaat” → “Itu bermanfaat.” Lebih
pendek, lebih jelas.
6. Kata Bernas tetapi Lemah (Weak Intensifiers)
Kata seperti “sangat unik” adalah kesalahan
karena unik sudah berarti satu-satunya, tidak bertingkat.
Tidak ada “agak unik” atau “sangat unik”. Demikian
pula “sangat sempurna” (sempurna sudah mutlak), “sangat
mati” (mati mutlak). Zinsser (2016) dalam On Writing Well menyebutnya “insult
to the adjective”—penghinaan terhadap kata sifat itu sendiri.
Strategi Memangkas Lemak Kata: Teknik “The 4 Cuts”
Berikut adalah metode praktis yang bisa Anda terapkan
saat self-editing paragraf, berdasarkan rekomendasi The
Chicago Guide to Copyediting Fiction (Bourland, 2019).
Cut 1: Baca dengan Keras
Bacalah paragraf Anda dengan suara nyaring. Setiap kali Anda
merasa “tersendat”, “merasa tidak alami”, atau “bernafas terlalu panjang”, di
situlah letak lemak kata. Telinga lebih peka terhadap redundansi daripada mata.
Cut 2: Lingkari Setiap Kata “yang”, “bahwa”, “adalah”, “untuk”
Kata-kata ini adalah penyebab paling umum kalimat panjang
tak berfungsi. Coba hapus satu per satu. Jika kalimat masih bermakna, biarkan
hilang.
Contoh: “Buku yang aku yang baca itu adalah novel.”
→ “Aku membaca novel.” (Empat kata hilang, makna tetap utuh).
Cut 3: Terapkan “Aturan 30%”
Targetkan untuk mengurangi jumlah kata dalam paragraf Anda
sebesar 30% tanpa menghilangkan satu informasi pun. Jika paragraf Anda 100
kata, coba jadi 70 kata. Jika berhasil, Anda telah memangkas lemak secara
signifikan.
Cut 4: Ganti Frasa dengan Kata Kerja Kuat
Ubah frasa nominal (kata benda) menjadi frasa verbal (kata
kerja). Bandingkan:
- Melakukan
pengurangan → mengurangi
- Memberikan
penjelasan → menjelaskan
- Melaksanakan
pendataan → mendata
Ilustrasi Paragraf: Sebelum dan Sesudah Poles
Mari kita terapkan semua prinsip di atas pada satu paragraf
utuh.
Paragraf Awal (Penuh Lemak Kata – 112 kata):
“Pada dasarnya, apa yang saya ingin sampaikan di sini
adalah bahwa proses dari penulisan yang baik itu sebenarnya tidak hanya sekadar
tentang bagaimana caranya kita merangkai kata-kata yang indah-indah belaka.
Akan tetapi, yang lebih penting daripada itu adalah bahwa kita juga harus
melakukan suatu tindakan pemangkasan terhadap kata-kata yang dirasa mubazir dan
tidak terlalu diperlukan. Hal ini disebabkan oleh karena jika kita tidak
melakukannya, maka pembaca akan cenderung menjadi bosan dan kehilangan minat
untuk melanjutkan bacaannya sampai selesai.”
Setelah dipoles (Self-Editing – 43 kata):
“Menulis dengan baik bukan hanya merangkai kata indah,
tetapi juga memangkas kata mubazir. Jika tidak, pembaca akan bosan dan berhenti
di tengah jalan.”
Analisis perubahan:
- “Pada
dasarnya, apa yang saya ingin sampaikan di sini adalah bahwa” →
dihilangkan (pengisi tanpa makna).
- “proses
dari penulisan yang baik itu sebenarnya tidak hanya sekadar tentang
bagaimana caranya kita merangkai” → disederhanakan menjadi “Menulis
dengan baik bukan hanya merangkai”.
- “Akan
tetapi, yang lebih penting daripada itu adalah bahwa kita juga harus
melakukan suatu tindakan pemangkasan terhadap” → menjadi “tetapi
juga memangkas”.
- “kata-kata
yang dirasa mubazir dan tidak terlalu diperlukan” → “kata
mubazir” (redundansi dihilangkan).
- “Hal
ini disebabkan oleh karena jika kita tidak melakukannya, maka” → “Jika
tidak”.
- “pembaca
akan cenderung menjadi bosan” → “pembaca akan bosan” (hilangkan “cenderung
menjadi”).
- “kehilangan
minat untuk melanjutkan bacaannya sampai selesai” → “berhenti
di tengah jalan” (lebih konkret dan imajinatif).
Paragraf hasil poles tidak hanya lebih pendek (hemat 62%
kata), tetapi juga lebih hidup dan mudah diingat.
Peringatan: Jangan Memotong Terlalu Keras
Memangkas lemak kata bukan berarti membuat tulisan Anda
seperti telegram atau pesan singkat yang kaku. Beberapa kata mubazir secara
sadar bisa dipertahankan untuk tujuan gaya bahasa, misalnya untuk menciptakan
irama, nada santai, atau penekanan retoris. Pinker (2014) mengingatkan
dalam The Sense of Style bahwa “kesederhanaan yang elegan”
berbeda dengan “kekeringan yang kosong”. Jika Anda memangkas hingga
kehilangan voice penulis, pembaca akan merasa membaca laporan
mesin.
Contoh kalimat yang sengaja menyisakan kata
mubazir untuk efek gaya:
“Dan pada akhirnya, di ujung malam yang lengang itu, ia
hanya tersenyum kecil.”
Kata “pada akhirnya” dan “kecil” sebenarnya
bisa dipangkas (“Di ujung malam, ia tersenyum”), tetapi ia memberikan
nuansa puitis dan tempo lambat. Dalam fiksi sastra, lemak kata tidak selalu
musuh—ia adalah bumbu. Namun dalam tulisan ilmiah populer, blog, esai, dan
laporan bisnis, pangkaslah tanpa ampun.
Kesimpulan: Paragraf Ramping adalah Paragraf Ramah Pembaca
Memangkas lemak kata adalah keterampilan dasar yang
membedakan penulis amatir dari penulis profesional. Dengan menghilangkan kata
pengisi, redundansi, frasa berlebihan, dan kelemahan kata keterangan, Anda
memberi hadiah kepada pembaca: kejelasan, kecepatan pemahaman, dan
kenikmatan membaca. Mulailah kebiasaan self-editing dengan
membaca keras, menerapkan aturan 30%, dan mengganti frasa panjang dengan kata
kerja kuat. Paragraf Anda akan berubah dari gumpalan daging berlemak menjadi
potongan daging tanpa lemak—padat bergizi dan mudah dikunyah.
Seperti yang diingatkan oleh William Zinsser (2016, p.
23), “The secret of good writing is to strip every sentence to its
cleanest components.” Rahasia tulisan yang baik adalah mengupas setiap
kalimat hingga komponennya yang paling bersih. Selamat memangkas!
Daftar Pustaka
Clark, H. H., & Clark, E. V. (1977). Psychology
and language: An introduction to psycholinguistics. Harcourt Brace
Jovanovich.
Pinker, S. (2014). The sense of style: The thinking
person’s guide to writing in the 21st century. Viking.
Strunk, W., Jr., & White, E. B. (2000). The
elements of style (4th ed.). Longman.
Williams, J. M., & Bizup, J. (2017). Style:
Lessons in clarity and grace (12th ed.). Pearson.
Zinsser, W. (2016). On writing well: The classic
guide to writing nonfiction (30th anniversary ed.). Harper Perennial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar