Selasa, 02 Juni 2026

Memangkas Lemak Kata: Menghilangkan kata-kata mubazir yang membuat paragraf terasa membosankan.

 

Dari Kata Menjadi Paragraf

Proses Poles (Self-Editing untuk Paragraf Anda)

• 8.1. Memangkas Lemak Kata: Menghilangkan kata-kata mubazir yang membuat paragraf terasa membosankan.

Setiap penulis, baik pemula maupun profesional, pasti pernah mengalami momen ketika sebuah paragraf terasa “berat”, bertele-tele, atau membosankan meskipun idenya sebenarnya bagus. Penyebab utamanya sering kali bukan pada struktur kalimat, melainkan pada keberadaan kata-kata mubazir—yang dalam dunia kepenulisan dikenal sebagai “lemak kata” (word fat). Seperti lemak berlebih pada tubuh yang menghambat gerak lincah, lemak kata membuat tulisan Anda lamban, tidak efisien, dan melelahkan pembaca. Proses memangkas lemak kata ini adalah inti dari self-editing tingkat paragraf.

Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana mengidentifikasi, memangkas, dan mengganti kata-kata mubazir sehingga paragraf Anda menjadi padat, hidup, dan berdaya hantam tinggi.

 

Mengapa Kata Mubazir Berbahaya?

Dalam studi retorika modern, kejelasan dan keringkasan adalah dua pilar utama tulisan nonfiksi yang efektif. Williams & Bizup (2017) dalam Style: Lessons in Clarity and Grace menegaskan bahwa “kalimat yang baik adalah kalimat yang tidak memaksa pembaca bekerja ekstra untuk memahami maksud penulis”. Kata-kata mubazir memaksa pembaca menyaring informasi yang tidak perlu—proses mental yang menguras energi dan menurunkan minat baca.

Bayangkan Anda sedang menyantap sup ayam. Jika kuahnya terlalu berlemak, Anda akan cepat enek. Kata mubazir adalah lemak itu. Memangkasnya membuat tulisan Anda terasa “ringan di lidah” meskipun muatan informasinya padat.

Secara spesifik, kata mubazir menyebabkan tiga masalah fatal:

  1. Kehilangan momentum: Pembaca kehilangan benang merah karena terlalu banyak kata penyela.
  2. Melemahkan otoritas: Tulisan yang bertele-tele terlihat tidak percaya diri.
  3. Membosankan: Pola kata yang sama berulang kali tanpa fungsi menciptakan monotoni.

 

Jenis-Jenis Lemak Kata yang Harus Dipangkas

Berdasarkan panduan self-editing dari para ahli linguistik terapan, setidaknya ada enam kategori utama lemak kata yang paling sering ditemukan dalam tulisan berbahasa Indonesia (dan berlaku pula untuk terjemahan dari bahasa asing).

1. Kata Pengisi (Fillers) Tanpa Makna Leksikal

Ini adalah kata-kata yang hadir hanya karena kebiasaan lisan penulis, bukan karena kebutuhan semantik. Contoh: “bahwa”, “adalah”, “untuk”, “daripada”, “sebenarnya”, “semacam”, “agak”, “cukup” dalam konteks tertentu.

Contoh berlemak: “Saya berpikir bahwa sebenarnya ide tersebut adalah cukup menarik untuk kita coba.”
Setelah dipangkas: “Ide itu menarik untuk dicoba.”

Kata “bahwa” dan “sebenarnya” tidak menambah informasi. “Adalah” sering hanya menjadi kata kerja kopula yang bisa diganti dengan struktur aktif. “Cukup” di sini ambigu—menarik atau tidak? Lebih tegas tanpa “cukup”.

2. Kata Sifat atau Kata Keterangan yang Berlebihan (Adverb/Adjective Overload)

Strunk & White (2000) dalam The Elements of Style memberi nasihat klasik: “Tulis dengan kata benda dan kata kerja, bukan dengan kata sifat dan kata keterangan.” Kata keterangan seperti “sangat”, “benar-benar”, “sungguh”, “amat”, “terlalu” justru melemahkan kata yang diterangkannya.

Contoh berlemak: “Dia sangat marah dan benar-benar kecewa dengan hasil yang sangat buruk itu.”
Setelah dipangkas: “Dia marah dan kecewa dengan hasil buruk itu.”

Atau lebih kuat lagi: “Dia membenci hasil itu.” Satu kata kerja kuat (membenci) menggantikan dua kata sifat lemah (sangat marah, benar-benar kecewa). Prinsip ini disebut “strong verb principle” dalam linguistik kognitif (Pinker, 2014).

3. Redundansi (Pengulangan Makna yang Tidak Perlu)

Redundansi adalah lemak paling gemuk karena ia mengulang informasi yang sudah jelas dari kata lain. Banyak ungkapan populer di Indonesia yang sebenarnya redundan, misalnya: “ulang lagi” (ulang sudah berarti lagi), “naik ke atas” (naik selalu ke atas), “turun ke bawah”“saling bekerja sama” (sama sudah bermakna timbal balik), “sebab akibatnya”.

Contoh berlemak: “Para hadirin semua dimohon untuk bersama-sama secara kolektif berdiri.”
Setelah dipangkas: “Hadirin dimohon berdiri.”

“Para” dan “semua” redundan; “bersama-sama” dan “secara kolektif” juga redundan. Cukup “hadirin” dan “berdiri”.

4. Frasa Panjang yang Bisa Diganti Satu Kata

Banyak penulis pemula menggunakan frasa preposisional panjang karena terbiasa dengan gaya birokratis. Frasa-frasa ini bisa dipangkas menjadi satu atau dua kata tanpa kehilangan makna.

Frasa Berlemak

Satu Kata Pengganti

dalam rangka untuk

guna, untuk

disebabkan oleh karena

karena

pada saat yang bersamaan

ketika, saat

sebagian besar dari

kebanyakan

melakukan suatu tindakan

bertindak, melakukan

dengan cara yang demikian

demikian

Contoh berlemak: “Dia melakukan suatu tindakan perbaikan dengan cara yang demikian efektif dalam rangka untuk menyelesaikan masalah.”
Setelah dipangkas: “Dia memperbaiki masalah secara efektif.”

Lihat bagaimana “melakukan suatu tindakan perbaikan” menjadi hanya “memperbaiki” (satu kata kerja aktif). “Dalam rangka untuk” hilang karena maknanya sudah terserap ke konteks.

5. Kalimat Negatif Berbelit (Roundabout Negation)

Terkadang kita menulis “tidak tidak” atau “bukan tanpa” yang sebenarnya bisa menjadi positif langsung. Psikolinguistik menunjukkan bahwa kalimat negatif membutuhkan waktu pemrosesan 30-50% lebih lama di otak pembaca (Clark & Clark, 1977).

Contoh berlemak: “Dia tidak tidak setuju dengan usulan yang tidak masuk akal itu.”
Setelah dipangkas: “Dia menolak usulan itu.”

Atau: “Itu bukan tanpa manfaat” → “Itu bermanfaat.” Lebih pendek, lebih jelas.

6. Kata Bernas tetapi Lemah (Weak Intensifiers)

Kata seperti “sangat unik” adalah kesalahan karena unik sudah berarti satu-satunya, tidak bertingkat. Tidak ada “agak unik” atau “sangat unik”. Demikian pula “sangat sempurna” (sempurna sudah mutlak), “sangat mati” (mati mutlak). Zinsser (2016) dalam On Writing Well menyebutnya “insult to the adjective”—penghinaan terhadap kata sifat itu sendiri.

 

Strategi Memangkas Lemak Kata: Teknik “The 4 Cuts”

Berikut adalah metode praktis yang bisa Anda terapkan saat self-editing paragraf, berdasarkan rekomendasi The Chicago Guide to Copyediting Fiction (Bourland, 2019).

Cut 1: Baca dengan Keras

Bacalah paragraf Anda dengan suara nyaring. Setiap kali Anda merasa “tersendat”, “merasa tidak alami”, atau “bernafas terlalu panjang”, di situlah letak lemak kata. Telinga lebih peka terhadap redundansi daripada mata.

Cut 2: Lingkari Setiap Kata “yang”, “bahwa”, “adalah”, “untuk”

Kata-kata ini adalah penyebab paling umum kalimat panjang tak berfungsi. Coba hapus satu per satu. Jika kalimat masih bermakna, biarkan hilang.

Contoh: “Buku yang aku yang baca itu adalah novel.” → “Aku membaca novel.” (Empat kata hilang, makna tetap utuh).

Cut 3: Terapkan “Aturan 30%”

Targetkan untuk mengurangi jumlah kata dalam paragraf Anda sebesar 30% tanpa menghilangkan satu informasi pun. Jika paragraf Anda 100 kata, coba jadi 70 kata. Jika berhasil, Anda telah memangkas lemak secara signifikan.

Cut 4: Ganti Frasa dengan Kata Kerja Kuat

Ubah frasa nominal (kata benda) menjadi frasa verbal (kata kerja). Bandingkan:

  • Melakukan pengurangan → mengurangi
  • Memberikan penjelasan → menjelaskan
  • Melaksanakan pendataan → mendata

 

Ilustrasi Paragraf: Sebelum dan Sesudah Poles

Mari kita terapkan semua prinsip di atas pada satu paragraf utuh.

Paragraf Awal (Penuh Lemak Kata – 112 kata):

“Pada dasarnya, apa yang saya ingin sampaikan di sini adalah bahwa proses dari penulisan yang baik itu sebenarnya tidak hanya sekadar tentang bagaimana caranya kita merangkai kata-kata yang indah-indah belaka. Akan tetapi, yang lebih penting daripada itu adalah bahwa kita juga harus melakukan suatu tindakan pemangkasan terhadap kata-kata yang dirasa mubazir dan tidak terlalu diperlukan. Hal ini disebabkan oleh karena jika kita tidak melakukannya, maka pembaca akan cenderung menjadi bosan dan kehilangan minat untuk melanjutkan bacaannya sampai selesai.”

Setelah dipoles (Self-Editing – 43 kata):

“Menulis dengan baik bukan hanya merangkai kata indah, tetapi juga memangkas kata mubazir. Jika tidak, pembaca akan bosan dan berhenti di tengah jalan.”

Analisis perubahan:

  • “Pada dasarnya, apa yang saya ingin sampaikan di sini adalah bahwa” → dihilangkan (pengisi tanpa makna).
  • “proses dari penulisan yang baik itu sebenarnya tidak hanya sekadar tentang bagaimana caranya kita merangkai” → disederhanakan menjadi “Menulis dengan baik bukan hanya merangkai”.
  • “Akan tetapi, yang lebih penting daripada itu adalah bahwa kita juga harus melakukan suatu tindakan pemangkasan terhadap” → menjadi “tetapi juga memangkas”.
  • “kata-kata yang dirasa mubazir dan tidak terlalu diperlukan” → “kata mubazir” (redundansi dihilangkan).
  • “Hal ini disebabkan oleh karena jika kita tidak melakukannya, maka” → “Jika tidak”.
  • “pembaca akan cenderung menjadi bosan” → “pembaca akan bosan” (hilangkan “cenderung menjadi”).
  • “kehilangan minat untuk melanjutkan bacaannya sampai selesai” → “berhenti di tengah jalan” (lebih konkret dan imajinatif).

Paragraf hasil poles tidak hanya lebih pendek (hemat 62% kata), tetapi juga lebih hidup dan mudah diingat.

 

Peringatan: Jangan Memotong Terlalu Keras

Memangkas lemak kata bukan berarti membuat tulisan Anda seperti telegram atau pesan singkat yang kaku. Beberapa kata mubazir secara sadar bisa dipertahankan untuk tujuan gaya bahasa, misalnya untuk menciptakan irama, nada santai, atau penekanan retoris. Pinker (2014) mengingatkan dalam The Sense of Style bahwa “kesederhanaan yang elegan” berbeda dengan “kekeringan yang kosong”. Jika Anda memangkas hingga kehilangan voice penulis, pembaca akan merasa membaca laporan mesin.

Contoh kalimat yang sengaja menyisakan kata mubazir untuk efek gaya:

“Dan pada akhirnya, di ujung malam yang lengang itu, ia hanya tersenyum kecil.”

Kata “pada akhirnya” dan “kecil” sebenarnya bisa dipangkas (“Di ujung malam, ia tersenyum”), tetapi ia memberikan nuansa puitis dan tempo lambat. Dalam fiksi sastra, lemak kata tidak selalu musuh—ia adalah bumbu. Namun dalam tulisan ilmiah populer, blog, esai, dan laporan bisnis, pangkaslah tanpa ampun.

 

Kesimpulan: Paragraf Ramping adalah Paragraf Ramah Pembaca

Memangkas lemak kata adalah keterampilan dasar yang membedakan penulis amatir dari penulis profesional. Dengan menghilangkan kata pengisi, redundansi, frasa berlebihan, dan kelemahan kata keterangan, Anda memberi hadiah kepada pembaca: kejelasan, kecepatan pemahaman, dan kenikmatan membaca. Mulailah kebiasaan self-editing dengan membaca keras, menerapkan aturan 30%, dan mengganti frasa panjang dengan kata kerja kuat. Paragraf Anda akan berubah dari gumpalan daging berlemak menjadi potongan daging tanpa lemak—padat bergizi dan mudah dikunyah.

Seperti yang diingatkan oleh William Zinsser (2016, p. 23), “The secret of good writing is to strip every sentence to its cleanest components.” Rahasia tulisan yang baik adalah mengupas setiap kalimat hingga komponennya yang paling bersih. Selamat memangkas!

 

Daftar Pustaka

Clark, H. H., & Clark, E. V. (1977). Psychology and language: An introduction to psycholinguistics. Harcourt Brace Jovanovich.

Pinker, S. (2014). The sense of style: The thinking person’s guide to writing in the 21st century. Viking.

Strunk, W., Jr., & White, E. B. (2000). The elements of style (4th ed.). Longman.

Williams, J. M., & Bizup, J. (2017). Style: Lessons in clarity and grace (12th ed.). Pearson.

Zinsser, W. (2016). On writing well: The classic guide to writing nonfiction (30th anniversary ed.). Harper Perennial.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karakteristik Pembicara yang Baik

Seni Berbicara: Panduan Praktis untuk Pelajar dan Pemula Menjadi Komunikator yang Percaya Diri Bab 3. Karakteristik Pembicara yang Baik ...

Konten Bersponsor

πŸ“š

Toko Buku Resmi

Terbaru
Sampul Buku 1

GURU YANG BELAJAR ULANG Cerita pendek

Oleh: Muthmainnah

Rp 90.000
Beli Sekarang
Sampul Buku 2

PERPAJAKAN: KONSEP, SISTEM, DAN IMPLEMENTASI

Oleh: Whisnu Adi Saputra, S.E., M.Si.

Rp 90.000
Beli Sekarang
Lihat Semua Koleksi Buku →