Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak: Dari Babbling hingga Kalimat Sempurna
Pendahuluan
Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak |
Bahasa merupakan salah satu kemampuan paling menakjubkan dalam perkembangan manusia. Dalam rentang waktu hanya beberapa tahun, seorang anak berkembang dari sekadar mengeluarkan suara tangisan menjadi individu yang mampu menyusun kalimat kompleks, mengungkapkan pikiran abstrak, serta memahami struktur tata bahasa yang rumit. Proses ini disebut pemerolehan bahasa anak (child language acquisition).
Pertanyaannya adalah: bagaimana proses ini terjadi? Apakah anak belajar bahasa melalui peniruan semata? Apakah mereka diajarkan secara eksplisit? Ataukah terdapat mekanisme biologis bawaan yang memungkinkan perkembangan bahasa berlangsung secara sistematis?
Artikel ini membahas secara komprehensif tahapan pemerolehan bahasa anak — mulai dari fase pralinguistik seperti babbling, tahap satu kata (holophrastic stage), dua kata (two-word stage), hingga kemampuan membentuk kalimat kompleks. Pembahasan ini juga akan dikaitkan dengan teori-teori linguistik dan psikologi perkembangan yang relevan.
Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak
Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa formal. Pemerolehan bahasa pertama (L1 acquisition) terjadi secara alami, tanpa instruksi tata bahasa eksplisit, dan berlangsung dalam interaksi sosial sehari-hari (Clark, 2009).
Penelitian menunjukkan bahwa proses ini bersifat:
· Universal (terjadi pada semua anak normal di berbagai budaya),
· Sistematis (mengikuti pola perkembangan yang relatif konsisten),
· Kreatif (anak mampu menghasilkan kalimat baru yang belum pernah mereka dengar).
Menurut teori nativis yang dipopulerkan oleh Noam Chomsky, manusia dilahirkan dengan perangkat bawaan untuk bahasa yang memungkinkan anak menyerap struktur linguistik dari input yang terbatas (Chomsky, 1965). Namun, teori interaksionis menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam perkembangan tersebut (Bruner, 1983).
Dengan memahami kerangka ini, kita dapat menelusuri tahapan pemerolehan bahasa secara lebih terstruktur.
Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak
1. Tahap Pralinguistik (0–12 Bulan)
Tahap ini disebut pralinguistik karena anak belum menghasilkan kata yang bermakna secara leksikal, tetapi telah menunjukkan perkembangan fonologis yang penting.
a. Tangisan dan Refleks Vokal (0–2 bulan)
Sejak lahir, bayi berkomunikasi melalui tangisan. Meskipun tampak sederhana, tangisan memiliki fungsi komunikatif yang jelas (lapar, tidak nyaman, sakit). Pada tahap ini, produksi suara masih bersifat refleks.
b. Cooing (2–4 bulan)
Bayi mulai menghasilkan suara vokal seperti “ooo” atau “aaa”. Fase ini menunjukkan bahwa bayi mulai bereksperimen dengan alat ucap mereka.
c. Babbling (6–10 bulan)
Tahap babbling merupakan fase penting dalam perkembangan fonologi. Bayi mulai menghasilkan suku kata berulang seperti “bababa” atau “mamama”. Menariknya, bayi di seluruh dunia menunjukkan pola babbling yang relatif sama pada awalnya.
Menjelang akhir tahun pertama, babbling mulai mencerminkan pola fonologi bahasa lingkungan. Misalnya, bayi yang terpapar bahasa Indonesia akan mulai menunjukkan ritme dan pola intonasi khas bahasa tersebut (Kuhl, 2004).
Tahap ini menunjukkan bahwa sistem fonologis anak berkembang sebelum kosakata muncul.
2. Tahap Satu Kata (Holophrastic Stage) (12–18 Bulan)
Sekitar usia satu tahun, anak mulai mengucapkan kata pertama yang bermakna. Tahap ini disebut tahap holophrastic karena satu kata dapat mewakili satu kalimat penuh.
Contoh:
· “Mama” → Bisa berarti “Mama datang ke sini.”
· “Susu” → Bisa berarti “Saya mau susu.”
Ciri-ciri tahap ini:
· Kosakata masih terbatas (sekitar 10–50 kata),
· Kata yang digunakan biasanya nomina (orang, benda, makanan),
· Intonasi berperan penting dalam menyampaikan makna.
Fenomena menarik pada tahap ini adalah:
· Overextension: Anak menggunakan satu kata untuk merujuk pada banyak objek (misalnya “kucing” untuk semua hewan berkaki empat).
· Underextension: Anak menggunakan kata terlalu sempit (misalnya “botol” hanya untuk botol susu miliknya sendiri).
Menurut Clark (2009), kesalahan ini bukanlah tanda kebingungan, tetapi bukti bahwa anak sedang membangun sistem kategorisasi konseptual.
3. Tahap Dua Kata (Two-Word Stage) (18–24 Bulan)
Pada tahap ini, anak mulai menggabungkan dua kata menjadi struktur sederhana.
Contoh:
· “Mama pergi”
· “Mau susu”
· “Kucing tidur”
Ciri utama tahap ini:
· Tidak ada kata fungsi (seperti “yang”, “di”, “ke”),
· Struktur menyerupai telegram, sehingga disebut telegraphic speech,
· Urutan kata sudah menunjukkan aturan sintaksis dasar bahasa.
Menariknya, meskipun kalimat masih sederhana, urutan kata mengikuti pola tata bahasa bahasa ibu anak tersebut. Ini menunjukkan bahwa pemahaman sintaksis mulai terbentuk.
4. Tahap Kalimat Sederhana (2–3 Tahun)
Pada usia sekitar dua tahun, terjadi ledakan kosakata (vocabulary spurt). Anak dapat mempelajari beberapa kata baru setiap hari.
Ciri tahap ini:
· Mulai menggunakan kata kerja dan kata sifat,
· Menggunakan bentuk jamak dan imbuhan sederhana,
· Muncul kesalahan gramatikal seperti overregularization.
Contoh overregularization:
· “Pergi” menjadi “pergi-ed”
· “Makan” menjadi “makankan”
Fenomena ini menunjukkan bahwa anak telah memahami pola aturan tata bahasa, tetapi belum sepenuhnya menguasai pengecualian (Berko, 1958).
Kesalahan semacam ini justru menjadi bukti bahwa anak tidak sekadar meniru, melainkan membangun sistem tata bahasa internal.
5. Tahap Kalimat Kompleks (3–5 Tahun)
Pada usia prasekolah, kemampuan bahasa anak berkembang pesat.
Ciri tahap ini:
· Menggunakan kalimat majemuk,
· Memahami konsep waktu (lampau, sekarang, akan datang),
· Menggunakan kata hubung (karena, tetapi, jika),
· Mampu bertanya dan menjawab pertanyaan kompleks.
Contoh:
· “Aku tidak mau pergi karena hujan.”
· “Kalau Mama datang, aku senang.”
Pada tahap ini, struktur sintaksis menjadi semakin mendekati struktur orang dewasa. Anak juga mulai memahami makna pragmatik — seperti kapan harus berbicara, bagaimana bergiliran dalam percakapan, dan bagaimana menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara.
Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa
1. Faktor Biologis
Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa terkait erat dengan maturasi neurologis. Area otak seperti Broca dan Wernicke berperan penting dalam produksi dan pemahaman bahasa.
Hipotesis periode kritis menyatakan bahwa ada rentang usia optimal untuk pemerolehan bahasa (Lenneberg, 1967).
2. Faktor Lingkungan
Interaksi sosial sangat penting. Anak yang mendapatkan respons verbal aktif dari orang tua menunjukkan perkembangan kosakata yang lebih cepat (Bruner, 1983).
Kualitas input lebih penting daripada kuantitas semata. Percakapan dua arah lebih efektif dibandingkan paparan pasif seperti televisi.
3. Faktor Kognitif
Perkembangan bahasa berjalan seiring dengan perkembangan kognitif. Menurut teori Piaget, bahasa mencerminkan perkembangan konsep mental anak.
Apakah Semua Anak Mengikuti Tahapan yang Sama?
Secara umum, tahapan pemerolehan bahasa bersifat universal. Namun, kecepatan perkembangan dapat berbeda tergantung pada:
· Paparan bahasa,
· Status bilingual,
· Kondisi neurologis,
· Lingkungan sosial.
Anak bilingual mungkin menunjukkan distribusi kosakata yang berbeda, tetapi total kosakata gabungan biasanya setara dengan anak monolingual.
Kesimpulan
Pemerolehan bahasa anak merupakan proses kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor biologis, kognitif, dan sosial. Dari tangisan pertama, fase babbling, tahap satu kata, dua kata, hingga kalimat kompleks, setiap tahap menunjukkan perkembangan sistem linguistik yang semakin matang.
Kesalahan-kesalahan yang muncul bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa anak sedang membangun sistem tata bahasa internal secara aktif dan kreatif.
Memahami tahapan ini penting bagi orang tua, pendidik, dan peneliti linguistik untuk mendukung perkembangan bahasa anak secara optimal. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi bagi perkembangan kognitif dan sosial manusia.
Referensi
Berko, J. (1958). The child’s learning of English morphology. Word, 14(2–3), 150–177.
Bruner, J. (1983). Child’s talk: Learning to use language. Oxford University Press.
Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.
Clark, E. V. (2009). First language acquisition (2nd ed.). Cambridge University Press.
Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.
Lenneberg, E. H. (1967). Biological foundations of language. Wiley.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar