Minggu, 01 Februari 2026

Kajian Kasus dan Proyek Analisis Morfologi

 

Bab 10. Kajian Kasus dan Proyek Analisis Morfologi

10.2 Analisis Morfologi Teks Siswa

Kajian Kasus dan Proyek Analisis Morfologi


Morfologi sebagai cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya memiliki peran penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penguasaan morfologi membantu siswa memahami relasi antara bentuk dan makna, meningkatkan kosakata, serta menghasilkan tuturan dan tulisan yang lebih tepat. Namun, dalam praktiknya, teks yang ditulis siswa sering kali menunjukkan berbagai fenomena morfologis, baik yang sesuai dengan kaidah maupun yang menyimpang.

Analisis morfologi terhadap teks siswa merupakan langkah penting dalam memahami perkembangan kompetensi kebahasaan peserta didik. Melalui kajian kasus ini, guru atau peneliti dapat mengidentifikasi pola kesalahan, tingkat kesadaran morfologis, serta strategi pembentukan kata yang digunakan siswa. Pendekatan ini sejalan dengan teori analisis kesalahan (error analysis), yang memandang kesalahan sebagai bagian alami dari proses pembelajaran bahasa (Ellis, 1997).

Dalam konteks Bahasa Indonesia, sistem morfologi yang produktif—terutama dalam afiksasi—sering menjadi sumber kesalahan sekaligus kreativitas siswa. Kridalaksana (2008) menegaskan bahwa afiksasi dalam Bahasa Indonesia memiliki fungsi semantis dan gramatikal yang kompleks. Oleh karena itu, analisis morfologi teks siswa tidak hanya menilai benar atau salah, tetapi juga mengkaji proses pembentukan makna.

 

Urgensi Analisis Morfologi Teks Siswa

Analisis morfologi teks siswa memiliki beberapa tujuan utama:

1.      Mengidentifikasi tingkat penguasaan sistem morfologi Bahasa Indonesia.

2.      Menemukan pola kesalahan morfologis yang dominan.

3.      Mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif.

4.      Meningkatkan kesadaran morfologis siswa.

Kesadaran morfologis (morphological awareness) terbukti berkontribusi terhadap kemampuan membaca dan menulis (Carlisle, 2000; Nation, 2013). Siswa yang mampu menganalisis struktur kata secara sistematis cenderung memiliki kosakata lebih luas dan pemahaman bacaan yang lebih baik.

Dalam teks siswa, bentuk-bentuk seperti ketidaknyamanan, di kerjakan, menbaca, atau penguploadan sering muncul. Bentuk-bentuk tersebut mencerminkan proses morfologis yang belum sepenuhnya dipahami atau dipengaruhi oleh analogi dan interferensi bahasa lain.

 

Kerangka Analisis Morfologi Teks Siswa

Untuk melakukan analisis morfologi terhadap teks siswa, diperlukan langkah-langkah sistematis berikut:

 

1. Pengumpulan Data

Data diperoleh dari teks autentik yang ditulis siswa, seperti:

·         Karangan narasi

·         Teks eksposisi

·         Laporan hasil observasi

·         Esai argumentatif

Teks dipilih tanpa intervensi koreksi terlebih dahulu agar mencerminkan penggunaan bahasa alami siswa.

 

2. Identifikasi Kata Kompleks

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi kata-kata yang mengandung proses morfologis, seperti:

·         Afiksasi

·         Reduplikasi

·         Komposisi

·         Serapan berimbuhan

Misalnya, dalam teks siswa ditemukan kalimat berikut:

Pemerintah harus melakukan peningkatan kualitas pendidikan agar masyarakat tidak mengalami ketertinggalan.

Kata peningkatan dan ketertinggalan merupakan bentuk turunan yang dapat dianalisis lebih lanjut.

 

3. Analisis Struktur Morfem

Setiap kata kompleks diuraikan menjadi morfem penyusunnya.

Contoh:

Peningkatan
pe- + tingkat + -an

Konfiks pe- -an membentuk nomina yang menyatakan proses.

Ketertinggalan
ke- + tertinggal + -an

Konfiks ke- -an membentuk nomina abstrak yang menyatakan keadaan.

Analisis ini membantu menentukan apakah pembentukan kata sesuai dengan kaidah morfologi Bahasa Indonesia.

 

4. Klasifikasi Kesalahan Morfologis

Jika ditemukan bentuk yang menyimpang, kesalahan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Kesalahan Afiksasi

Contoh:

·         di kerjakan (seharusnya: dikerjakan)

·         menbaca (seharusnya: membaca)

Kesalahan ini berkaitan dengan aturan morfofonemik dan ejaan.

b. Kesalahan Pemilihan Afiks

Contoh:

·         memberikan bantuan kepada siswa-siswa (penggunaan redundan)

·         menghadiahi kepada (struktur tidak tepat)

Kesalahan ini menunjukkan kurangnya pemahaman fungsi semantis afiks.

c. Pembentukan Kata Tidak Baku

Contoh:

·         penguploadan

·         memforward

Fenomena ini sering dipengaruhi oleh bahasa asing atau media digital.

Menurut Booij (2005), produktivitas morfologi memungkinkan pembentukan kata baru, tetapi tetap berada dalam batas sistem aturan bahasa. Ketika pembentukan melampaui sistem tersebut, muncul bentuk tidak baku.

 

Contoh Kajian Kasus

Berikut contoh analisis singkat terhadap potongan teks siswa:

Banyak masyarakat yang tidak menyadari pentingnya kebersihan. Mereka sering membuang sampah sembarangan sehingga terjadi penumpukan sampah yang menyebabkan ketidaknyamanan lingkungan.

Analisis:

1.      Kebersihan
ke- + bersih + -an
Nomina abstrak yang menyatakan keadaan.

2.      Penumpukan
pe- + tumpuk + -an
Nomina proses atau hasil.

3.      Ketidaknyamanan
ke- + tidak + nyaman + -an
Nomina abstrak yang menyatakan keadaan negatif.

Dalam contoh ini, penggunaan bentuk morfologis sudah sesuai dengan kaidah. Namun, jika siswa menulis ketidak nyamanan atau penumpukkan, maka dapat diidentifikasi sebagai kesalahan ejaan dan morfofonemik.

 

Proyek Analisis Morfologi Teks Siswa

Untuk mengembangkan pembelajaran yang reflektif, guru dapat merancang proyek analisis morfologi berbasis teks siswa.

 

1. Tujuan Proyek

·         Meningkatkan kesadaran morfologis siswa.

·         Mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan morfologis.

·         Melatih kemampuan analisis linguistik sederhana.

 

2. Langkah Pelaksanaan

a. Pengumpulan Teks

Siswa diminta menulis esai pendek (300–500 kata).

b. Identifikasi Kata Kompleks

Siswa saling bertukar teks dan menandai kata-kata berimbuhan.

c. Analisis dan Diskusi

Setiap kata dianalisis berdasarkan:

·         Jenis afiks

·         Struktur morfem

·         Makna yang dihasilkan

d. Refleksi

Siswa mendiskusikan kesalahan yang ditemukan dan memperbaikinya.

Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran berbasis proyek yang mendorong partisipasi aktif siswa.

 

Manfaat Analisis Morfologi Teks Siswa

1.      Meningkatkan Ketepatan Berbahasa
Siswa lebih sadar terhadap struktur kata.

2.      Mengembangkan Kemampuan Menyunting
Analisis kesalahan melatih kemampuan editing.

3.      Mendukung Pengembangan Kosakata
Siswa memahami relasi antara bentuk dasar dan turunannya.

4.      Meningkatkan Literasi Akademik
Pemahaman kata kompleks membantu membaca teks ilmiah.

Carlisle (2000) menunjukkan bahwa latihan analisis morfologis secara eksplisit berdampak positif terhadap pemahaman bacaan siswa. Dengan demikian, proyek ini memiliki implikasi langsung terhadap peningkatan literasi.

 

Implikasi Pedagogis

Analisis morfologi teks siswa tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi, tetapi juga sebagai alat diagnostik. Guru dapat mengetahui area yang perlu diperkuat, misalnya:

·         Aturan peluluhan bunyi pada prefiks me-

·         Perbedaan fungsi -kan dan -i

·         Penulisan imbuhan yang benar

Selain itu, kegiatan ini dapat membangun sikap reflektif siswa terhadap penggunaan bahasa. Bahasa tidak lagi dipandang sebagai kumpulan aturan kaku, melainkan sebagai sistem yang dapat dianalisis dan dipahami secara logis.

 

Kesimpulan

Analisis morfologi teks siswa merupakan bagian penting dari kajian kasus dalam pembelajaran linguistik. Melalui analisis sistematis terhadap struktur kata, guru dapat mengidentifikasi tingkat penguasaan morfologi serta pola kesalahan yang muncul.

Pendekatan berbasis proyek memungkinkan siswa terlibat aktif dalam menganalisis dan memperbaiki teks mereka sendiri. Dengan demikian, pembelajaran morfologi menjadi lebih kontekstual, reflektif, dan aplikatif.

Pada akhirnya, penguasaan morfologi yang baik akan meningkatkan kompetensi kebahasaan siswa secara menyeluruh, khususnya dalam membaca dan menulis teks akademik.

 

Daftar Pustaka

Booij, G. (2005). The grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing: An Interdisciplinary Journal, 12(3–4), 169–190.

Ellis, R. (1997). Second language acquisition. Oxford University Press.

Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Lieber, R. (2010). Introducing morphology. Cambridge University Press.

Nation, I. S. P. (2013). Learning vocabulary in another language (2nd ed.). Cambridge University Press.

 

 

Morfologi

 



  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...