Senin, 16 Februari 2026

Overregularization: Mengapa Anak Kecil Bilang “makaned” atau “pergi-ed”?

Overregularization: Mengapa Anak Kecil Bilang “makaned” atau “pergi-ed”?

Pendahuluan

Overregularization:


Saat anak belajar berbicara, orang dewasa sering mendengar kalimat lucu seperti “makaned” atau “pergi-ed”. Di satu sisi, bentuk-bentuk ini salah menurut tata bahasa standar; namun di sisi lain, fenomena ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting tentang bagaimana bahasa dipelajari. Fenomena linguistik ini dikenal sebagai overregularization — ketika anak menerapkan aturan tata bahasa secara berlebihan ke bentuk-bentuk yang tidak seharusnya. Misalnya, menambahkan –ed pada semua verba untuk membentuk bentuk lampau atau menerapkan aturan jamak biasa pada kata-kata yang tidak biasa.

Artikel ini akan membahas secara mendalam:

·         apa itu overregularization,

·         dasar psikologisnya,

·         contoh-contoh nyata,

·         mengapa hal ini terjadi dalam pemerolehan bahasa anak,

·         dan implikasinya dalam teori linguistik serta pendidikan bahasa.

 

Apa Itu Overregularization?

Overregularization adalah fenomena ketika pembelajar bahasa, terutama anak kecil, menerapkan aturan tata bahasa secara luas atau berlebihan, bahkan ketika aturan itu tidak berlaku pada semua kasus. Contohnya:

·         “goed” alih-alih “went”

·         “mouses” alih-alih “mice”

·         “tooths” alih-alih “teeth”

·         “makaned” / “pergi-ed” alih-alih “makan” / “pergi”

Kesalahan semacam ini bukan sekadar kesalahan acak — tetapi menunjukkan bahwa anak telah menyadari adanya aturan linguistik dan mencoba menerapkannya secara sistematis (Brown, 1973; Marcus, 1995).

 

Asal-usul Istilah dan Sejarah Studi

Istilah overregularization pertama kali diperkenalkan dalam studi klasik tentang pemerolehan bahasa oleh Roger Brown dan rekan-rekannya pada tahun 1970-an. Mereka memperhatikan bahwa anak-anak kecil bukan hanya meniru kosakata, tetapi mengembangkan aturan internal tentang bagaimana bahasa bekerja (Brown, 1973).

Kemudian, Steven Pinker dan Mark Aronoff menjelaskan fenomena ini sebagai bukti bahwa bahasa bukan sederhana sekadar perilaku yang ditiru, tetapi produk dari sistem kognitif internal yang mampu menangkap pola dan membuat generalisasi aturan secara aktif (Pinker & Ullman, 2002).

Contoh-Contoh Overregularization

Mari kita telaah contoh-contoh nyata dalam bahasa Inggris:

Bentuk Anak

Bentuk Dewasa

Jenis Kesalahan

goed

went

Lampau verba tidak beraturan

foots

feet

Jamak tidak beraturan

holded

held

Lampau verba tidak beraturan

sheeps

sheep

Jamak tidak berubah

Dalam bahasa Indonesia, meskipun struktur verba tidak berubah dengan sufiks, eksplisitnya anak bisa menunjukkan pola yang mirip ketika menerapkan asumsi aturan yang belum tepat:

Contoh Anak

Bentuk Standar

pergi-ed

pergi

makaned

makan

ambiling

mengambil

Kesalahan ini mencerminkan internalisasi pola tata bahasa yang sedang berkembang — anak tidak hanya meniru, tetapi menggeneralisasi aturan dari contoh yang mereka dengar.

 

Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

1. Anak Memahami dan Generalisasi Pola

Anak bukan mesin peniru. Mereka mencoba memahami pola-pola dalam bahasa yang mereka dengar. Ketika anak sering mendengar bentuk lampau beraturan dengan –ed, mereka membentuk aturan internal:

Jika verba dalam bahasa menggunakan –ed untuk lampau, maka semua verba untuk lampau juga harus menggunakan –ed.

Ini adalah bentuk generalization — kemampuan kognitif dasar manusia untuk membuat aturan dari contoh.

2. Model Input yang Tidak Lengkap

Input yang diterima anak sering didominasi oleh bentuk beraturan (contoh: walked, played, jumped). Karena anak belum memiliki sistem yang lengkap tentang semua verba tidak beraturan, mereka cenderung menerapkan aturan yang paling sering mereka dengar (–ed). Hal ini mirip dengan fenomena statistik pembelajaran di mana pembelajar menghitung frekuensi pola dan membuat aturan berdasarkan pola dominan (Plunkett & Marchman, 1993).

3. Tahapan Perkembangan Bahasa

Overregularization sering muncul pada periode tertentu dalam pemerolehan bahasa — tepat ketika anak sedang memperoleh aturan-aturan tata bahasa dan kosakata dengan cepat. Hal ini menunjukkan fase perkembangan bahasa di mana anak aktif membangun model tata bahasa internal mereka.

Menurut beberapa penelitian, fenomena ini puncaknya terjadi antara usia 2,5 sampai 4 tahun (Marcus, 1998). Pada tahap ini, anak membangun representasi abstrak terhadap aturan grammar, yang pada awalnya mungkin belum sempurna.

Apa Makna Linguistik dari Overregularization?

1. Bukti Internal Grammar

Overregularization memberikan bukti kuat bahwa anak tidak sekadar mengimitasi kata demi kata — sebaliknya mereka membangun representasi internal grammar yang mengandung aturan dan generalisasi. Ini sejalan dengan pandangan generative grammar bahwa manusia memiliki kemampuan bawaan untuk memproses dan membentuk struktur bahasa (Chomsky, 1965; Pinker, 1994).

2. Peranan Generalisasi Dalam Proses Belajar

Anak menciptakan aturan internal yang generatif — mereka tidak hanya meniru tetapi juga menerapkan aturan tersebut untuk menghasilkan bentuk yang benar maupun salah. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa berbeda dengan sekadar penguatan stimulus–respon, melainkan proses kognitif aktif.

3. Integrasi Memori dan Proses Linguistik

Penelitian neurolinguistik menunjukkan bahwa overregularization terjadi karena kompetisi memoris antara bentuk lemma (kata dasar) dan bentuk aturan produktif. Verba tidak beraturan mungkin tersimpan sebagai exceptional items, tetapi aturan –ed lebih produktif sehingga cenderung diterapkan secara berlebihan pada tahap awal (Ullman, 2004).

 

Bagaimana Perkembangan Overregularization Dalam Waktu?

Seiring waktu, kemampuan anak akan meningkat dan kesalahan overregularization akan berkurang seiring:

·         meningkatnya jumlah verba tidak beraturan yang didengar anak,

·         penguatan bentuk-bentuk yang benar melalui interaksi sosial,

·         konsolidasi representasi mental antar bentuk.

Ini berarti bahwa overregularization bukanlah kekurangan dalam pemerolehan bahasa, tetapi tanda proses belajar yang sehat dan aktif.

Teori-Teori yang Menjelaskan Overregularization

1. Teori Nativis

Menurut Chomsky dan pendukung linguistik generatif, anak memiliki perangkat internal yang memandu pemerolehan grammar. Overregularization mencerminkan kerja internal dari Language Acquisition Device (LAD) yang aktif membangun dan menguji aturan tata bahasa (Chomsky, 1965).

2. Teori Connectionist

Model connectionist (neural-network) menjelaskan bahwa aturan tata bahasa muncul melalui transfer statistik dalam jaringan saraf internal. Kesalahan overregularization terjadi karena jaringan mencoba menyesuaikan pola dari sejumlah besar contoh beraturan (Plunkett & Marchman, 1993).

3. Pendekatan Interaksionis

Pendekatan ini menekankan bahwa overregularization muncul dalam konteks interaksi sosial — anak mendapatkan masukan dari lingkungan, kemudian menerapkan generalisasi berdasarkan pola linguistik yang didengar (Vygotsky, 1978).

 

Perbedaan Antara Anak dan Pembelajar Dewasa

Menariknya, overregularization lebih umum dijumpai pada anak dibandingkan pembelajar dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa anak lebih cepat membangun aturan internal sedangkan pembelajar dewasa cenderung mengandalkan memori frasa atau borrowing dari bahasa pertama mereka.

Dalam pembelajaran bahasa kedua, overregularization bisa muncul dalam bentuk lain, seperti menerapkan aturan kata jamak bahasa pertama ke dalam bahasa kedua yang tidak sesuai. Namun, fenomena ini biasanya lebih jarang dan lebih dipengaruhi oleh transfer antarbahasa (Ellis, 2008).

 

Implikasi dalam Pendidikan dan Pengajaran Bahasa

1. Menjadi Bagian Normal dari Perkembangan

Guru dan orang tua seharusnya menyadari bahwa kesalahan overregularization bukanlah kegagalan, tetapi tanda bahwa anak sedang membangun representasi aturan bahasa. Oleh karena itu, respons yang positif dan penguatan bentuk yang benar jauh lebih efektif daripada koreksi yang bersifat menghukum.

2. Fokus pada Pola, Bukan Hanya Kata

Dalam mengajarkan bahasa, penting untuk menekankan pola tata bahasa (misalnya aturan lampau atau jamak), sambil memberikan jumlah input yang cukup dari bentuk tak beraturan juga diperlukan agar anak dapat mengkonsolidasinya dalam memorinya.

3. Mengintegrasikan Interaksi Sosial

Interaksi bahasa yang bermakna, percakapan dua arah, dan kesempatan untuk menggunakan bahasa secara kontekstual dapat membantu menyeimbangkan antara aturan dan pengecualian.

 

Kesimpulan

Fenomena overregularization — seperti ketika anak mengatakan “makaned” atau “pergi-ed” — bukanlah kesalahan yang memalukan, melainkan cermin dari proses kognitif aktif dalam pemerolehan bahasa. Ketika anak belajar bahasa, mereka tidak sekadar meniru; mereka membangun aturan internal, mengevaluasi pola berdasarkan input yang mereka dengar, dan kemudian menerapkan aturan tersebut secara konsisten.

Fenomena ini memperlihatkan betapa rumitnya perkembangan sistem linguistik internal pada anak dan memberikan bukti bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses kognitif yang dinamis, kreatif, dan produktif.

 

Referensi

Brown, R. (1973). A first language: The early stages. Harvard University Press.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition (2nd ed.). Oxford University Press.

Marcus, G. F. (1995). Grammaticality and learning. University of Chicago Press.

Plunkett, K., & Marchman, V. A. (1993). From rote learning to system building: A connectionist account of early vocabulary development. Cognitive Psychology, 25(1), 1–48.

Pinker, S., & Ullman, M. T. (2002). The past and future of the past tense. Trends in Cognitive Sciences, 6(11), 456–463.

Ullman, M. T. (2004). Contributions of memory circuits to language: The declarative/procedural model. Cognition, 92(1–2), 231–270.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...