Rabu, 09 September 2026

Bahasa dan Ideologi: Mengapa Pilihan Kata Tidak Pernah Netral?


Keyword: bahasa dan ideologi

Pendahuluan

Bahasa sering dipahami sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Ketika seseorang mengatakan “Dia mencuri uang perusahaan”, misalnya, secara sederhana kita memahami bahwa orang tersebut dituduh mengambil uang milik perusahaan tanpa hak. Namun, dalam kajian linguistik, persoalannya tidak berhenti pada apa yang dikatakan. Kita juga dapat bertanya: mengapa kata “mencuri” yang dipilih? Mengapa bukan “mengambil”, “menggunakan”, atau “mengalihkan”? Siapa yang mengatakan? Kepada siapa? Dalam konteks apa? Dan kepentingan apa yang mungkin dibangun melalui pilihan kata tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang mempertemukan linguistik dengan kajian ideologi, kekuasaan, identitas, dan hukum.

Dalam perspektif analisis wacana kritis, bahasa tidak dipandang sebagai medium yang sepenuhnya netral. Pilihan kata, struktur kalimat, metafora, pronomina, modalitas, bahkan cara suatu peristiwa diberi nama dapat berhubungan dengan cara tertentu dalam melihat dunia. Fairclough (1992), misalnya, menekankan pentingnya analisis tekstual yang sistematis untuk memahami bagaimana makna dibangun dalam wacana. Sementara itu, van Dijk (1995) menjelaskan bahwa ideologi berhubungan dengan sistem kognisi sosial kelompok dan dapat memengaruhi bagaimana suatu peristiwa direpresentasikan dalam wacana.

Dalam konteks linguistik forensik, persoalan ini menjadi semakin penting. Bahasa dapat menjadi barang bukti linguistik ketika digunakan dalam ancaman, penghinaan, pencemaran nama baik, propaganda, ujaran kebencian, penipuan, interogasi, atau komunikasi yang berkaitan dengan suatu tindak pidana. Linguistik forensik sendiri menggunakan bukti dari penggunaan bahasa untuk kepentingan yang berkaitan dengan persoalan hukum dan investigasi.

Dengan demikian, memahami hubungan antara bahasa dan ideologi membantu ahli bahasa melihat bahwa sebuah kata bukan sekadar rangkaian bunyi atau huruf. Kata dapat menjadi penanda identitas, alat legitimasi kekuasaan, sarana membangun kelompok, bahkan bagian dari strategi kriminal.

 

A. Apa yang Dimaksud dengan Bahasa dan Ideologi?

Ideologi dalam kajian bahasa tidak selalu berarti doktrin politik atau paham negara. Dalam pengertian yang lebih luas, ideologi dapat dipahami sebagai seperangkat keyakinan, nilai, asumsi, dan cara pandang yang dimiliki atau dibangun oleh kelompok sosial tertentu.

Phillips (2015) menjelaskan bahwa kajian ideologi bahasa berkaitan dengan gagasan manusia mengenai bahasa dan penggunaan bahasa. Gagasan tersebut dapat memengaruhi bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana kelompok sosial tertentu diposisikan.

Dengan kata lain, ideologi dapat memengaruhi cara seseorang:

  • memilih kata;
  • menyebut suatu kelompok;
  • menggambarkan suatu peristiwa;
  • menentukan siapa yang dianggap “kita” dan “mereka”;
  • menentukan tindakan mana yang dianggap baik atau buruk;
  • memberikan legitimasi terhadap suatu tindakan;
  • dan membangun citra seseorang atau kelompok.

Hubungan tersebut dapat digambarkan secara sederhana:

Ideologi → memengaruhi cara memandang realitas → memengaruhi pilihan bahasa → membentuk interpretasi pembaca/pendengar.

Karena itu, bahasa bukan hanya menggambarkan realitas. Dalam kondisi tertentu, bahasa juga ikut membentuk cara masyarakat memahami realitas.

 

B. Mengapa Pilihan Kata Tidak Pernah Sepenuhnya Netral?

Perhatikan tiga kalimat berikut:

1.     “Polisi membubarkan demonstrasi.”

2.     “Polisi mengendalikan massa.”

3.     “Polisi melakukan tindakan represif terhadap demonstran.”

Ketiganya mungkin merujuk pada satu peristiwa yang sama, tetapi masing-masing memberikan perspektif berbeda.

Kata membubarkan menekankan tindakan penghentian.

Kata mengendalikan memberikan kesan bahwa massa merupakan sesuatu yang harus dikontrol.

Sementara kata represif memberikan evaluasi negatif terhadap tindakan polisi.

Inilah yang disebut sebagai representasi linguistik. Peristiwa yang sama dapat direpresentasikan secara berbeda melalui pilihan leksikal.

Dalam analisis wacana kritis, pilihan kata semacam ini dapat menjadi objek analisis untuk melihat bagaimana suatu wacana membangun kekuasaan, ideologi, dan identitas. Penelitian mengenai wacana politik juga menunjukkan bahwa pilihan leksikal, metafora, modalitas, dan perangkat retoris dapat digunakan untuk menaturalisasi ideologi serta membangun identitas kolektif.

Ilustrasi sederhana

Bayangkan dua kelompok sedang berhadapan.

Kelompok A menyebut kelompok B sebagai:

“pejuang”

Sementara kelompok B menyebut kelompok A sebagai:

“pemberontak”.

Apakah kedua istilah tersebut sama?

Secara referensial, mungkin keduanya menunjuk kelompok yang sama. Tetapi secara ideologis, keduanya berbeda.

“Pejuang” membawa asosiasi keberanian, perjuangan, dan legitimasi.

“Pemberontak” membawa asosiasi pelanggaran, ketidaktaatan, dan ancaman terhadap ketertiban.

Artinya, satu kelompok dapat membangun citra positif terhadap dirinya sendiri sekaligus citra negatif terhadap kelompok lain melalui pilihan kata.

 

C. Diksi sebagai Instrumen Kekuasaan

Salah satu wilayah penting dalam hubungan bahasa dan ideologi adalah diksi, yaitu pilihan kata yang digunakan dalam suatu komunikasi.

Dalam konteks kekuasaan, diksi dapat digunakan untuk:

1.     melegitimasi tindakan;

2.     mendiskreditkan lawan;

3.     membangun solidaritas;

4.     menciptakan ketakutan;

5.     menyederhanakan persoalan;

6.     menyembunyikan pelaku tindakan;

7.     dan mengarahkan cara publik memahami suatu peristiwa.

Misalnya:

“Pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar.”

Kalimat tersebut terdengar berbeda dengan:

“Pemerintah menaikkan harga bahan bakar.”

Kata penyesuaian cenderung terdengar administratif dan teknokratis. Sementara menaikkan secara langsung menunjukkan adanya peningkatan harga.

Tidak berarti kata pertama selalu salah. Persoalannya adalah bahwa setiap pilihan kata membawa nuansa makna dan perspektif tertentu.

Dalam analisis forensik, ahli bahasa tidak boleh langsung mengatakan bahwa penggunaan suatu kata membuktikan ideologi seseorang. Ahli harus melihat pola penggunaan bahasa, konteks, lawan tutur, genre teks, situasi komunikasi, serta bukti linguistik lainnya.

 

D. Bahasa Membentuk Identitas Kelompok

Ideologi juga berhubungan erat dengan identitas kelompok.

Perhatikan penggunaan pronomina:

“Kita harus mempertahankan tanah ini.”

Kata kita tampaknya sederhana. Namun, siapa yang termasuk kita?

Apakah:

  • seluruh warga?
  • kelompok tertentu?
  • anggota organisasi?
  • kelompok etnis?
  • kelompok politik?
  • atau hanya orang-orang yang memiliki pandangan yang sama?

Pronomina kami dan kita juga dapat memiliki fungsi berbeda.

Kami biasanya tidak memasukkan pendengar.

Kita cenderung memasukkan pendengar.

Misalnya:

“Kami akan mengambil keputusan.”

Berbeda dengan:

“Kita akan mengambil keputusan.”

Kalimat kedua menciptakan kesan partisipasi bersama.

Dalam wacana kelompok, strategi semacam ini dapat digunakan untuk membangun solidaritas.

Van Dijk (1995) menunjukkan bahwa ideologi berhubungan dengan representasi sosial kelompok dan dapat memengaruhi struktur semantik wacana. Karena itu, penggunaan bahasa dapat membantu membangun perbedaan antara ingroup dan outgroup, yaitu kelompok “kita” dan kelompok “mereka”.

 

E. Strategi “Kita” dan “Mereka”

Salah satu pola yang menarik dalam wacana ideologis adalah kecenderungan:

“Kita” → positif

“Mereka” → negatif

Sebagai ilustrasi:

“Kita adalah masyarakat yang cinta damai. Mereka selalu membuat kekacauan.”

Perhatikan konstruksinya.

Kelompok sendiri diberi atribut positif:

  • cinta damai;
  • tertib;
  • bertanggung jawab.

Sementara kelompok lain diberi atribut negatif:

  • membuat kekacauan;
  • tidak tertib;
  • berbahaya.

Pola tersebut dapat ditemukan dalam berbagai jenis wacana, termasuk politik, media, konflik sosial, dan komunikasi kelompok.

Namun, analisis linguistik harus berhati-hati. Ahli tidak boleh hanya mengambil satu kalimat lalu menyimpulkan bahwa penuturnya memiliki ideologi tertentu. Yang lebih kuat adalah menemukan pola yang berulang.

 

F. Bahasa, Ideologi, dan Stilistika

Hubungan antara bahasa dan ideologi juga dapat dianalisis melalui stilistika.

Stilistika pada dasarnya mempelajari gaya penggunaan bahasa. Dalam konteks linguistik forensik, gaya bahasa dapat menjadi petunjuk mengenai bagaimana seseorang atau kelompok membangun makna.

Beberapa unsur yang dapat dianalisis antara lain:

Unsur stilistika

Pertanyaan analisis

Diksi

Kata apa yang sering dipilih?

Metafora

Realitas digambarkan sebagai apa?

Repetisi

Gagasan apa yang terus diulang?

Pronomina

Siapa yang disebut “kita” dan “mereka”?

Modalitas

Seberapa kuat suatu pernyataan?

Kalimat

Aktif, pasif, pendek, atau panjang?

Evaluasi

Siapa yang diberi penilaian positif/negatif?

Eufemisme

Apakah istilah kasar disamarkan?

Disfemisme

Apakah seseorang sengaja diberi label negatif?

Misalnya seseorang menulis:

“Mereka adalah parasit yang hidup dari penderitaan masyarakat.”

Kata “parasit” bukan sekadar deskripsi biologis. Dalam konteks manusia, kata tersebut merupakan metafora yang memberikan evaluasi sangat negatif.

Orang yang disebut parasit diposisikan sebagai pihak yang:

  • tidak produktif;
  • mengambil keuntungan;
  • merugikan pihak lain;
  • dan tidak memiliki kontribusi positif.

Dalam analisis stilistika-forensik, metafora semacam ini dapat dikaji untuk melihat bagaimana seseorang atau kelompok direpresentasikan.

 

G. Bahasa Ideologis dalam Konteks Hukum Pidana

Hubungan bahasa dan ideologi menjadi semakin sensitif ketika masuk ke dalam wilayah hukum pidana.

Dalam perkara pidana yang melibatkan komunikasi, pertanyaan hukum sering kali berhubungan dengan bahasa:

  • Apakah pernyataan tersebut merupakan ancaman?
  • Apakah pernyataan tersebut merupakan penghinaan?
  • Apakah seseorang benar-benar menghasut?
  • Apakah teks tersebut menyerang kelompok tertentu?
  • Apakah sebuah pesan menunjukkan niat melakukan tindakan tertentu?
  • Apakah sebuah pernyataan merupakan fakta, opini, sindiran, atau tuduhan?

Di sinilah linguistik forensik dapat memberikan kontribusi.

Kajian linguistik forensik tidak menggantikan tugas hakim. Ahli bahasa tidak menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak. Tugas ahli adalah menjelaskan aspek linguistik dari bukti bahasa secara metodologis dan objektif.

Kajian mutakhir tentang linguistik forensik juga menempatkan bahasa sebagai bukti yang dapat dianalisis untuk tujuan hukum, termasuk data digital dan komunikasi yang berkaitan dengan tindak pidana.

 

H. Contoh Ilustrasi: “Kritik atau Penghinaan?”

Bayangkan seseorang menulis di media sosial:

“Pejabat itu tidak kompeten dan hanya menjadi beban masyarakat.”

Apakah kalimat tersebut otomatis merupakan penghinaan?

Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu kata.

Ahli linguistik perlu melihat beberapa aspek.

1. Diksi

Kata tidak kompeten merupakan evaluasi negatif terhadap kemampuan seseorang.

2. Struktur kalimat

Pernyataan tersebut disusun sebagai proposisi deklaratif.

3. Referensi

Siapa yang dimaksud dengan pejabat itu?

4. Konteks

Apakah kalimat tersebut muncul dalam:

  • kritik kebijakan;
  • perdebatan politik;
  • percakapan pribadi;
  • kampanye;
  • atau serangan personal?

5. Fungsi pragmatik

Apakah penutur sedang:

  • menyampaikan kritik;
  • mengejek;
  • menuduh;
  • merendahkan;
  • atau mengajak orang lain membenci orang tersebut?

6. Konteks sosial

Bagaimana hubungan antara penutur dan orang yang menjadi sasaran?

Semua aspek tersebut penting.

Karena itu, analisis linguistik forensik tidak boleh bekerja dengan prinsip:

“Satu kata = satu kesimpulan hukum.”

Justru yang diperlukan adalah analisis terhadap jaringan makna dalam konteks.

 

I. Ideologi dalam Bahasa Hukum

Bahasa hukum sendiri juga tidak terlepas dari persoalan ideologi dan kekuasaan.

Bahasa hukum memiliki karakteristik tertentu:

  • formal;
  • teknis;
  • institusional;
  • hierarkis;
  • dan sering kali tidak mudah dipahami masyarakat awam.

Bahasa dalam institusi hukum dapat mencerminkan hubungan kekuasaan antara hakim, jaksa, pengacara, saksi, terdakwa, dan pihak lain.

Penelitian mengenai bahasa dalam ruang persidangan menunjukkan bahwa ideologi bahasa dapat memengaruhi bagaimana kesaksian diproduksi, dipahami, dan dievaluasi dalam proses hukum.

Ilustrasi

Bayangkan seorang saksi mengatakan:

“Saya melihat dia pergi sekitar pukul delapan.”

Kemudian dalam pemeriksaan, pertanyaan diarahkan:

“Jadi, Anda memastikan bahwa terdakwa berada di lokasi pada pukul delapan?”

Kedua kalimat tersebut tidak identik.

Pernyataan pertama mengandung:

sekitar pukul delapan

yang menunjukkan ketidakpastian.

Pertanyaan kedua menggunakan:

memastikan

yang mengandung tuntutan kepastian.

Perubahan kecil dalam bahasa dapat mengubah cara informasi diposisikan.

Dalam konteks hukum, perubahan semacam itu dapat menjadi penting karena kesaksian merupakan bagian dari proses pembuktian.

 

J. Bagaimana Ahli Linguistik Menganalisis Bahasa dan Ideologi?

Analisis bahasa dan ideologi dalam konteks forensik sebaiknya dilakukan secara sistematis.

Langkah 1: Mengidentifikasi data

Data dapat berupa:

  • pesan WhatsApp;
  • unggahan media sosial;
  • email;
  • rekaman percakapan;
  • surat;
  • dokumen;
  • komentar;
  • transkrip wawancara;
  • atau pernyataan di media.

Langkah 2: Menentukan konteks

Pertanyaan yang perlu diajukan:

Siapa yang berbicara?

Kepada siapa?

Kapan?

Dalam situasi apa?

Apa hubungan sosial para pihak?

Langkah 3: Menganalisis pilihan kata

Cari kata-kata yang menunjukkan:

  • evaluasi;
  • penghormatan;
  • penghinaan;
  • ancaman;
  • solidaritas;
  • eksklusi;
  • atau pelabelan kelompok.

Langkah 4: Menganalisis pronomina

Perhatikan penggunaan:

saya – kami – kita – mereka – kalian – orang-orang itu.

Pronomina dapat menjadi indikator pembentukan identitas dan jarak sosial.

Langkah 5: Menganalisis metafora dan gaya bahasa

Misalnya:

“Mereka adalah virus.”

“Negara ini sedang sakit.”

“Kelompok itu adalah benalu.”

Metafora tersebut perlu dianalisis berdasarkan konteks, bukan secara terpisah.

Langkah 6: Menganalisis struktur wacana

Tanyakan:

  • siapa yang diberi suara?
  • siapa yang tidak diberi suara?
  • siapa yang ditempatkan sebagai korban?
  • siapa yang ditempatkan sebagai pelaku?
  • tindakan siapa yang dijelaskan secara rinci?
  • tindakan siapa yang disembunyikan?

Fairclough (1992) menekankan pentingnya menghubungkan analisis tekstual dengan praktik diskursif dan konteks sosial yang lebih luas.

Langkah 7: Membandingkan pola

Jika memungkinkan, ahli tidak hanya menganalisis satu teks, tetapi membandingkannya dengan:

  • tulisan lain dari penulis yang sama;
  • komunikasi dalam situasi serupa;
  • korpus pembanding;
  • atau teks lain yang relevan.

Hal ini dapat membantu membedakan antara kebiasaan bahasa individual dan strategi bahasa yang muncul karena konteks tertentu.

 

K. Contoh Analisis Mini

Misalnya terdapat tiga unggahan:

Data A

“Kita harus menjaga lingkungan dari mereka.”

Data B

“Mereka tidak peduli dengan masa depan anak-anak kita.”

Data C

“Kelompok mereka selalu mengambil keuntungan.”

Dari tiga data tersebut dapat ditemukan pola:

Unsur

Temuan

“kita”

Membentuk identitas kelompok sendiri

“mereka”

Membentuk kelompok luar

“selalu”

Generalisasi

“tidak peduli”

Evaluasi negatif

“mengambil keuntungan”

Representasi negatif

“anak-anak kita”

Membangun solidaritas emosional

Secara linguistik, pola tersebut dapat menunjukkan adanya pembedaan kelompok.

Namun, apakah pola tersebut membuktikan adanya ideologi tertentu?

Belum tentu.

Ahli harus mencari konteks tambahan.

Misalnya, jika ternyata semua unggahan tersebut dibuat dalam kampanye politik, maka konteks politik menjadi relevan. Jika dibuat dalam konflik antarorganisasi, konteks konflik kelompok menjadi penting. Jika muncul dalam perkara pidana, pertanyaan hukum yang spesifik harus menjadi dasar analisis.

 

L. Jangan Terjebak pada Kesimpulan “Bahasa = Ideologi”

Salah satu kesalahan dalam analisis bahasa adalah menganggap bahwa setiap kata tertentu secara otomatis menunjukkan ideologi tertentu.

Misalnya:

“Saya menggunakan kata mereka, berarti saya membenci mereka.”

Kesimpulan tersebut terlalu jauh.

Satu kata tidak cukup untuk membuktikan sikap ideologis seseorang.

Dalam linguistik forensik, interpretasi harus mempertimbangkan:

teks + konteks + situasi + pola penggunaan + hubungan sosial + bukti pendukung.

Hal ini penting karena bahasa merupakan fenomena yang sangat kontekstual. Makna suatu ujaran dapat berubah tergantung siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam situasi apa, dan untuk tujuan apa.

Kajian mengenai bahasa, identitas, dan ideologi dalam konteks hukum juga menunjukkan bahwa interpretasi wacana dapat dipengaruhi oleh identitas sosial dan ideologi komunitas penutur.

 

M. Bahasa dan Ideologi sebagai Bukti dalam Linguistik Forensik

Dalam konteks forensik, bahasa dan ideologi dapat membantu menjawab pertanyaan seperti:

1.     Bagaimana seseorang atau kelompok direpresentasikan dalam suatu teks?

2.     Apakah terdapat pola pelabelan terhadap kelompok tertentu?

3.     Apakah teks membangun oposisi “kita” versus “mereka”?

4.     Bagaimana pilihan kata membentuk citra korban atau pelaku?

5.     Apakah terdapat pola evaluasi positif atau negatif?

6.     Bagaimana kekuasaan direpresentasikan melalui bahasa?

7.     Apakah bentuk bahasa tertentu berfungsi sebagai ancaman, penghinaan, ajakan, atau legitimasi?

8.     Bagaimana konteks sosial memengaruhi interpretasi suatu pernyataan?

Dalam kasus pidana, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu aparat penegak hukum memahami makna dan fungsi bahasa sebagai bagian dari bukti.

Namun, penting ditegaskan bahwa analisis linguistik tidak dengan sendirinya menentukan unsur pidana. Penentuan apakah suatu perbuatan memenuhi unsur tindak pidana tetap merupakan persoalan hukum yang menjadi kewenangan aparat penegak hukum dan pengadilan.


N. Mengapa Kajian Ini Penting di Era Media Sosial?

Media sosial membuat persoalan bahasa dan ideologi menjadi semakin kompleks.

Satu kata dapat:

  • menjadi viral;
  • dipotong dari konteks;
  • disebarkan ulang;
  • diberi komentar baru;
  • diterjemahkan;
  • diparodikan;
  • atau digunakan sebagai bukti dalam perkara hukum.

Akibatnya, sebuah teks digital tidak boleh dianalisis hanya berdasarkan tangkapan layar yang terisolasi.

Ahli perlu mempertimbangkan:

  • teks asli;
  • tanggal dan waktu;
  • konteks percakapan;
  • respons terhadap unggahan;
  • hubungan antarpenutur;
  • penggunaan emoji atau simbol;
  • hashtag;
  • gambar;
  • video;
  • dan perubahan teks jika tersedia.

Dalam konteks forensik modern, bahasa digital merupakan salah satu wilayah penting karena bukti linguistik dapat muncul dalam berbagai bentuk elektronik. Literatur mutakhir menempatkan analisis bahasa digital dan bahasa sebagai bukti dalam ruang lingkup linguistik forensik.

 

O. Kesimpulan

Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi. Bahasa juga dapat menjadi sarana untuk membangun identitas, mempertahankan kekuasaan, membentuk solidaritas, mendiskreditkan kelompok lain, dan merepresentasikan realitas berdasarkan perspektif tertentu.

Pilihan kata menjadi penting karena kata-kata membawa makna sosial. Istilah pejuang dan pemberontak, misalnya, dapat merujuk kelompok yang sama tetapi menghasilkan representasi ideologis yang berbeda. Demikian pula penggunaan kita dan mereka dapat membangun batas antara kelompok sendiri dan kelompok luar.

Dalam linguistik forensik, pemahaman terhadap bahasa dan ideologi membantu ahli membaca bukti bahasa secara lebih kritis. Analisis tidak cukup hanya bertanya “apa yang dikatakan?”, tetapi juga perlu bertanya:

“Bagaimana sesuatu dikatakan, mengapa pilihan bahasa tersebut digunakan, siapa yang diuntungkan atau dirugikan oleh representasi tersebut, dan bagaimana konteks memengaruhi maknanya?”

Namun, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama. Ahli linguistik tidak boleh mengubah interpretasi linguistik menjadi vonis hukum. Tugasnya adalah memberikan analisis yang transparan, berbasis data, dapat diuji, dan menjelaskan batas-batas kesimpulannya.

Dengan demikian, hubungan antara bahasa, ideologi, stilistika, dan hukum pidana memperlihatkan bahwa kata-kata dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar makna kamus. Dalam ruang hukum, sebuah kata dapat menjadi petunjuk mengenai identitas, sikap, relasi kekuasaan, maksud komunikatif, bahkan strategi wacana yang relevan dengan suatu perkara.

Bahasa memang tidak selalu secara langsung menunjukkan ideologi. Akan tetapi, cara seseorang memilih, menyusun, dan menggunakan bahasa dapat membuka jejak mengenai cara tertentu dalam memandang dunia. Jejak inilah yang menjadi salah satu wilayah penting untuk dikaji dalam linguistik forensik.

Daftar Pustaka

Coulthard, M., Johnson, A., & Wright, D. (2017). An introduction to forensic linguistics: Language in evidence (2nd ed.). Routledge.

Eades, D. (2012). The social consequences of language ideologies in courtroom cross-examination. Language in Society, 41(4), 471–493.

Fairclough, N. (1992). Discourse and text: Linguistic and intertextual analysis within discourse analysis. Discourse & Society, 3(2), 193–217. https://doi.org/10.1177/0957926592003002004.

Fobbe, E. (2026). Language as a trace: The challenges of applying linguistics in the legal sphere. In 60 years of applied linguistics: Toward more engaged research (pp. 61–83). John Benjamins.

Guillén-Nieto, V., & Stein, D. (Eds.). (2021). Language as evidence: Doing forensic linguistics. Springer.

Habiburrahim, H., Rahmiati, Z., Muluk, S., Akmal, S., & Aziz, Z. A. (2019). Language, identity, and ideology: Analysing discourse in Aceh sharia law implementation. Indonesian Journal of Applied Linguistics, 9(3). https://doi.org/10.17509/ijal.v9i3.23210.

Phillips, S. U. (2015). Language ideologies. In D. Tannen, H. E. Hamilton, & D. Schiffrin (Eds.), The handbook of discourse analysis. Wiley.

Shuy, R. W. (2007). Language in the American courtroom. Language and Linguistics Compass, 1(1–2), 100–114. https://doi.org/10.1111/j.1749-818X.2007.00002.x.

van Dijk, T. A. (1995). Discourse semantics and ideology. Discourse & Society, 6(2), 243–289. https://doi.org/10.1177/0957926595006002006.

Wright, D., & Picornell, I. (2024). Semiotic perspectives on forensic and legal linguistics: Unifying approaches in the language of the legal process and language in evidence. International Journal for the Semiotics of Law, 37, 293–304. https://doi.org/10.1007/s11196-023-10094-z.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bahasa dan Ideologi: Mengapa Pilihan Kata Tidak Pernah Netral?

Keyword: bahasa dan ideologi Pendahuluan Bahasa sering dipahami sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Ketika seseorang mengatakan...