Sabtu, 05 September 2026

Praktik Analisis Linguistik Forensik


Analisis Linguistik pada Kasus Penipuan Online

Keyword: bahasa penipuan online

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Pesan singkat, WhatsApp, email, media sosial, dan berbagai platform digital memungkinkan seseorang berinteraksi dengan cepat tanpa harus bertemu secara langsung. Kondisi ini memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus membuka ruang bagi munculnya berbagai bentuk kejahatan berbasis komunikasi, salah satunya penipuan online.

Dalam banyak kasus, penipuan online tidak semata-mata bergantung pada teknologi. Bahasa justru menjadi salah satu instrumen utama untuk membangun kepercayaan, menciptakan kepanikan, memengaruhi keputusan, dan mendorong korban melakukan tindakan tertentu. Pelaku dapat menyamar sebagai pegawai bank, petugas ekspedisi, administrator platform digital, teman, anggota keluarga, bahkan pejabat atau lembaga resmi. Bahasa kemudian digunakan untuk membuat identitas palsu tersebut terlihat meyakinkan.

Di sinilah linguistik forensik memiliki peranan penting. Linguistik forensik merupakan penerapan ilmu bahasa pada persoalan yang berkaitan dengan hukum, penyidikan, dan proses peradilan. Dalam konteks penipuan online, ahli atau analis linguistik forensik dapat memeriksa pilihan kata, struktur kalimat, gaya bahasa, tindak tutur, strategi persuasi, pola interaksi, hingga karakteristik kebahasaan yang mungkin membantu mengidentifikasi pola komunikasi pelaku (Coulthard & Johnson, 2007; Gibbons, 2003).

Penelitian mengenai pesan scam menunjukkan adanya pola berulang seperti penyamaran otoritas, ungkapan urgensi, strategi kesantunan, dan perintah untuk melakukan tindakan tertentu. Pola tersebut digunakan untuk menciptakan kepercayaan atau ketakutan sehingga korban terdorong mengambil keputusan dengan cepat.

 

A. Apa yang Dimaksud dengan Bahasa Penipuan Online?

Bahasa penipuan online adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi digital untuk menyesatkan, memanipulasi, atau membujuk seseorang agar melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.

Misalnya, seseorang menerima pesan:

“Selamat! Nomor Anda terpilih sebagai penerima hadiah Rp10.000.000. Untuk menghindari pembatalan otomatis, segera konfirmasi data melalui link berikut dalam waktu 30 menit.”

Jika diperhatikan secara sederhana, pesan tersebut terlihat seperti informasi biasa. Namun, dari perspektif linguistik forensik, terdapat beberapa unsur menarik:

  1. “Selamat!” → membangun suasana positif.
  2. “terpilih” → menciptakan kesan bahwa penerima mendapatkan sesuatu secara khusus.
  3. “Rp10.000.000” → memberikan daya tarik ekonomi.
  4. “menghindari pembatalan” → menciptakan ancaman kehilangan.
  5. “segera” → membangun urgensi.
  6. “30 menit” → membatasi waktu berpikir.
  7. “konfirmasi data” → memberikan instruksi.
  8. “link berikut” → mengarahkan korban pada tindakan konkret.

Dengan demikian, satu pesan pendek sebenarnya dapat memiliki struktur komunikasi yang kompleks.

 

B. Praktik Analisis Linguistik Forensik pada Penipuan Online

Analisis linguistik forensik tidak cukup dilakukan dengan mengatakan bahwa sebuah pesan “terlihat seperti penipuan”. Analisis harus dilakukan secara sistematis berdasarkan bukti bahasa.

Secara praktis, proses analisis dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.

1. Mengumpulkan dan Mendokumentasikan Data

Tahap pertama adalah memperoleh data komunikasi yang relevan, misalnya:

  • pesan WhatsApp;
  • SMS;
  • email;
  • percakapan media sosial;
  • komentar;
  • pesan marketplace;
  • transkrip percakapan telepon;
  • pesan suara yang telah ditranskripsikan.

Data harus dipertahankan dalam bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Waktu pengiriman, urutan pesan, nama akun, penggunaan emoji, tanda baca, typo, dan perubahan pesan dapat menjadi bagian dari konteks analisis.

Dalam penelitian tentang phishing, tahapan penelitian juga mencakup dokumentasi, klasifikasi, analisis, interpretasi bentuk dan makna, kemudian penarikan kesimpulan.

Ilustrasi:

Misalnya penyidik memperoleh percakapan:

Pelaku: “Selamat sore Bapak, kami dari bagian keamanan bank.”
Korban: “Ada apa ya?”
Pelaku: “Terdeteksi transaksi mencurigakan pada rekening Bapak.”
Korban: “Transaksi apa?”
Pelaku: “Untuk mencegah rekening diblokir, mohon verifikasi data sekarang.”

Data tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa seseorang adalah pelaku. Percakapan tersebut terlebih dahulu harus dianalisis secara linguistik dan dikaitkan dengan bukti lainnya.

 

2. Mengidentifikasi Pola Persuasi

Salah satu karakteristik utama bahasa penipuan online adalah penggunaan persuasi.

Pelaku biasanya tidak langsung mengatakan:

“Berikan uang Anda kepada saya.”

Bahasa yang digunakan jauh lebih halus. Pelaku membangun situasi tertentu sehingga korban merasa bahwa tindakan yang diminta adalah pilihan yang masuk akal.

Misalnya:

“Bapak tidak perlu khawatir. Kami hanya perlu melakukan verifikasi agar rekening tetap aman.”

Kalimat tersebut secara linguistik mengandung strategi reassurance atau pemberian rasa aman. Menariknya, kata “aman” digunakan ketika sebenarnya pelaku sedang mengarahkan korban pada tindakan yang berpotensi membahayakan.

Penelitian terbaru terhadap ratusan ribu pesan scam menunjukkan bahwa komunikasi penipuan dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membangun kepercayaan, menciptakan risiko, melakukan persuasi, mendorong kepatuhan, hingga eksploitasi berulang (Li et al., 2026).

Dengan demikian, analis tidak hanya bertanya:

“Apa yang dikatakan pelaku?”

tetapi juga:

“Apa yang ingin dilakukan pelaku melalui bahasa tersebut?”

Pertanyaan kedua membawa analisis ke wilayah pragmatik dan tindak tutur.

 

C. Analisis Urgensi Palsu

Salah satu ciri yang sangat penting dalam bahasa penipuan online adalah urgensi palsu.

Urgensi palsu merupakan strategi bahasa yang membuat korban merasa harus mengambil keputusan segera.

Contohnya:

“Segera lakukan verifikasi.”
“Batas waktu hanya 10 menit.”
“Jika tidak dikonfirmasi hari ini, akun akan diblokir.”
“Kesempatan terakhir.”
“Mohon segera dibalas.”
“Transaksi akan dibatalkan otomatis.”

Secara linguistik, kata-kata seperti segera, sekarang, terakhir, hari ini, 10 menit, diblokir, dibatalkan, dan gagal berfungsi sebagai penanda tekanan waktu atau konsekuensi.

Penelitian mengenai komunikasi scam menunjukkan bahwa urgensi bukan sekadar ekspresi emosi, tetapi dapat berfungsi sebagai strategi persuasi untuk mengurangi waktu deliberasi korban dan meningkatkan kemungkinan korban mematuhi instruksi.

Ilustrasi sederhana

Bandingkan dua pesan berikut.

Pesan A:

“Silakan melakukan verifikasi rekening melalui aplikasi resmi apabila diperlukan.”

Pesan B:

“SEGERA verifikasi rekening Anda dalam 15 menit. Jika tidak, rekening akan DIBLOKIR!”

Pesan B memiliki tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi. Penggunaan huruf kapital, batas waktu, dan ancaman konsekuensi menciptakan situasi seolah-olah korban tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.

Dalam analisis forensik, unsur tersebut dapat dikategorikan sebagai strategi linguistik untuk mendorong compliance atau kepatuhan.

 

D. Analisis Kesalahan Bahasa Khas Scam

Kesalahan bahasa juga dapat menjadi objek penelitian linguistik forensik.

Pesan penipuan terkadang menunjukkan:

  • salah ejaan;
  • struktur kalimat yang tidak alami;
  • penggunaan tanda baca yang tidak konsisten;
  • campuran bahasa;
  • terjemahan mesin;
  • penggunaan istilah yang tidak lazim dalam institusi tertentu;
  • pemilihan kata yang tidak sesuai dengan konteks;
  • sapaan yang terlalu umum;
  • repetisi tertentu.

Contoh:

“Pelanggan yang terhormat, rekening anda telah di blokir sementara dikarenakan aktifitas mencurigakan. Harap segera klik link untuk aktifkan kembali.”

Beberapa aspek dapat diperiksa:

Unsur

Temuan

“di blokir”

bentuk penulisan tidak baku; seharusnya “diblokir”

“aktifitas”

bentuk baku adalah “aktivitas”

“aktifkan kembali”

dapat dianalisis dari konteks instruksi

struktur kalimat

cenderung menyerupai terjemahan langsung

“klik link”

konstruksi campuran yang lazim dalam komunikasi digital

Namun, kesalahan bahasa tidak boleh otomatis dianggap sebagai bukti bahwa sebuah pesan adalah scam. Penutur asli juga dapat melakukan kesalahan ejaan. Oleh karena itu, kesalahan bahasa harus dilihat sebagai salah satu indikator dan dibandingkan dengan karakteristik lainnya.

Anafo dan Ngula (2020), misalnya, menunjukkan bahwa struktur gramatikal dalam email scam dapat dianalisis secara sistematis, termasuk bagaimana struktur klausa digunakan untuk merepresentasikan tindakan dan hubungan antara pelaku dengan korban.

 

E. Analisis Tindak Tutur

Analisis tindak tutur merupakan salah satu metode yang sangat relevan dalam kasus penipuan online.

Menurut teori tindak tutur, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan tindakan tertentu (Austin, 1962; Searle, 1969).

Dalam pesan scam, kita dapat menemukan beberapa jenis tindak tutur.

1. Tindak tutur direktif

Bertujuan membuat korban melakukan sesuatu.

Contoh:

“Klik link berikut.”
“Kirim kode OTP Anda.”
“Isi formulir ini.”
“Transfer ke rekening tersebut.”

2. Tindak tutur asertif

Pelaku menyampaikan informasi yang dikonstruksi seolah-olah benar.

Contoh:

“Rekening Anda terdeteksi melakukan transaksi mencurigakan.”

3. Tindak tutur komisif

Pelaku memberikan janji.

Contoh:

“Dana akan masuk dalam waktu 10 menit setelah biaya administrasi dibayar.”

4. Tindak tutur ekspresif

Pelaku dapat menggunakan bahasa yang menunjukkan simpati atau perhatian.

Contoh:

“Kami memahami kekhawatiran Bapak.”

Padahal, fungsi sebenarnya bisa saja untuk meningkatkan kepercayaan.

Dengan demikian, analisis tindak tutur membantu peneliti memahami fungsi komunikatif sebuah kalimat, bukan hanya bentuk gramatikalnya.

 

F. Analisis Struktur Wacana Penipuan

Selain kata dan kalimat, linguistik forensik dapat melihat struktur wacana.

Pesan scam sering mempunyai pola tertentu. Berdasarkan penelitian mengenai karakteristik pesan scam, pola yang sering ditemukan antara lain sapaan → klaim → tekanan waktu → ajakan bertindak.

Pola tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Sapaan

Membangun identitas/otoritas

Menyampaikan masalah atau keuntungan

Menciptakan rasa takut/harapan

Menciptakan urgensi

Memberikan instruksi

Mendorong korban melakukan tindakan

Contoh

“Selamat siang, kami dari layanan keamanan [nama lembaga].”

“Kami mendeteksi aktivitas tidak biasa pada akun Anda.”

“Untuk keamanan, akun Anda akan dibatasi.”

“Mohon segera melakukan verifikasi dalam waktu 15 menit.”

“Klik link berikut dan masukkan data Anda.”

Dari perspektif wacana, pesan tersebut bukan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri. Setiap bagian mempunyai fungsi untuk mengarahkan korban menuju tindakan tertentu.

 

G. Analisis Pilihan Kata dan Identitas Palsu

Pelaku penipuan juga dapat menggunakan leksikon institusional untuk menciptakan kesan profesional.

Contohnya:

  • “verifikasi”;
  • “keamanan”;
  • “sistem”;
  • “aktivitas mencurigakan”;
  • “validasi”;
  • “administrasi”;
  • “konfirmasi”;
  • “pemblokiran”;
  • “prosedur”.

Kata-kata tersebut sebenarnya merupakan kata yang normal. Persoalannya bukan terletak pada kata itu sendiri, melainkan bagaimana kata tersebut digunakan dalam konstruksi penipuan.

Misalnya:

“Sesuai prosedur keamanan, mohon kirimkan kode OTP Anda.”

Secara linguistik, frasa “sesuai prosedur keamanan” memberikan legitimasi terhadap instruksi berikutnya. Padahal, instruksi meminta informasi yang semestinya tidak diberikan.

Penelitian Kasiya et al. (2025) menunjukkan pentingnya konsep believability dalam bahasa penipuan: pesan fraud dibangun sedemikian rupa agar dapat dipercaya oleh penerima.

 

H. Analisis Pola Interaksi

Dalam penipuan online berbasis percakapan, analisis tidak berhenti pada satu pesan. Peneliti dapat mengamati bagaimana pelaku merespons korban.

Misalnya:

Korban:

“Saya takut ini penipuan.”

Pelaku:

“Bapak benar, harus hati-hati. Karena itu kami melakukan verifikasi keamanan.”

Menariknya, pelaku justru mengakui kekhawatiran korban. Secara pragmatik, respons tersebut dapat berfungsi sebagai strategi untuk mengurangi kecurigaan.

Penelitian tentang komunikasi fraud menunjukkan bahwa pelaku dapat menggunakan bahasa yang tampaknya memberi korban waktu, tetapi sebenarnya mengalihkan perhatian korban dari proses pengambilan keputusan menuju pelaksanaan instruksi.

Oleh karena itu, dalam analisis percakapan, peneliti dapat melihat:

  1. siapa yang memulai percakapan;
  2. bagaimana identitas diperkenalkan;
  3. bagaimana pelaku membangun kepercayaan;
  4. bagaimana korban menunjukkan keraguan;
  5. bagaimana pelaku merespons keraguan;
  6. kapan tekanan mulai meningkat;
  7. kapan instruksi diberikan;
  8. bagaimana pelaku merespons penolakan.

 

I. Prosedur Praktis Analisis Linguistik Forensik

Untuk penelitian atau penyidikan, praktik analisis dapat dirumuskan menjadi delapan langkah utama:

Langkah 1 — Dokumentasi

Mengumpulkan seluruh pesan dan mempertahankan konteks aslinya.

Langkah 2 — Transkripsi

Jika data berupa suara atau video, komunikasi ditranskripsikan secara sistematis.

Langkah 3 — Segmentasi

Data dibagi berdasarkan pesan, kalimat, klausa, atau giliran bicara.

Langkah 4 — Klasifikasi Linguistik

Peneliti mengidentifikasi:

  • kata;
  • frasa;
  • struktur kalimat;
  • kesalahan bahasa;
  • tindak tutur;
  • sapaan;
  • metafora;
  • modalitas;
  • penanda urgensi;
  • strategi kesantunan.

Langkah 5 — Analisis Pragmatik

Ditentukan maksud dan fungsi setiap ujaran dalam konteks interaksi.

Langkah 6 — Analisis Wacana

Peneliti mengidentifikasi pola keseluruhan komunikasi, misalnya:

trust-building → fear/reward → urgency → instruction → compliance.

Langkah 7 — Perbandingan

Jika tersedia beberapa pesan atau tersangka komunikasi, karakteristik bahasa dapat dibandingkan secara sistematis.

Langkah 8 — Interpretasi Forensik

Hasil linguistik kemudian dihubungkan dengan bukti lain. Kesimpulan harus disampaikan secara hati-hati karena ciri bahasa tidak selalu identik dengan identitas pelaku.

 

J. Contoh Analisis Kasus

Misalkan terdapat pesan:

“Pelanggan Yth, sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan pada rekening Anda. Untuk menghindari pemblokiran permanen, segera lakukan verifikasi melalui link berikut dalam 10 menit. Abaikan pesan ini jika Anda sudah melakukan verifikasi.”

Analisis sederhana dapat dibuat sebagai berikut:

Aspek

Temuan

Fungsi

Sapaan

“Pelanggan Yth”

menciptakan kesan formal

Otoritas

“sistem mendeteksi”

menciptakan legitimasi

Ancaman

“pemblokiran permanen”

menimbulkan rasa takut

Urgensi

“10 menit”

membatasi waktu berpikir

Direktif

“segera lakukan verifikasi”

mendorong kepatuhan

CTA

“link berikut”

mengarahkan tindakan

Strategi perlindungan

“Abaikan pesan ini...”

memberi kesan prosedural

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa bahasa penipuan online bekerja secara berlapis. Pelaku tidak hanya menyampaikan informasi palsu, tetapi merancang komunikasi agar korban merasa percaya, takut, terburu-buru, kemudian bertindak.

 

K. Kesimpulan

Praktik analisis linguistik forensik pada kasus penipuan online menunjukkan bahwa bahasa merupakan bagian penting dari mekanisme kejahatan digital. Penipuan tidak selalu dilakukan melalui teknologi yang rumit; sering kali keberhasilannya bergantung pada kemampuan pelaku menggunakan bahasa untuk memengaruhi perilaku korban.

Pola persuasi, urgensi palsu, klaim otoritas, pilihan kata yang menciptakan ketakutan, perintah langsung, janji keuntungan, serta kesalahan bahasa tertentu dapat menjadi objek analisis linguistik. Penelitian kontemporer bahkan menunjukkan bahwa komunikasi scam dapat berkembang melalui beberapa tahap, mulai dari membangun kepercayaan hingga mendorong korban melakukan tindakan dan kemudian mengeksploitasinya kembali (Li et al., 2026).

Namun, penting ditegaskan bahwa satu ciri bahasa tidak cukup untuk membuktikan seseorang sebagai pelaku penipuan. Kesalahan ejaan, penggunaan bahasa informal, atau struktur kalimat tertentu dapat ditemukan pula dalam komunikasi normal. Karena itu, analisis linguistik forensik harus dilakukan secara sistematis, kontekstual, dan sedapat mungkin dikombinasikan dengan bukti digital serta bukti hukum lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, linguistik forensik tidak sekadar menjawab pertanyaan “apa yang dikatakan pelaku?”, tetapi juga membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahasa digunakan untuk membangun kepercayaan, menciptakan ketakutan, menghasilkan urgensi, dan mendorong korban melakukan tindakan tertentu? Inilah yang menjadikan analisis bahasa penipuan online sebagai salah satu praktik penting dalam perkembangan linguistik forensik di era digital.

 

Daftar Pustaka

Anafo, C., & Ngula, R. S. (2020). On the grammar of scam: Transitivity, manipulation and deception in scam emails. WORD, 66(1), 16–39. https://doi.org/10.1080/00437956.2019.1708557

Austin, J. L. (1962). How to do things with words. Oxford University Press.

Chiluwa, I., & Ajiboye, E. (2016). A speech act analysis of fraudulent emails. GEMA Online Journal of Language Studies, 16(3), 31–46.

Coulthard, M., & Johnson, A. (2007). An introduction to forensic linguistics: Language in evidence. Routledge.

Gibbons, J. (2003). Forensic linguistics: An introduction to language in the justice system. Blackwell.

Kasiya, C., Kondowe, W., & Ndalama-Mtawali, D. (2025). The principle of believability in the language of fraud text messages in Malawi: A forensic linguistic analysis. Journal of Investigative Psychology and Offender Profiling, 22(2), e70001. https://doi.org/10.1002/jip.70001

Li, D., Zheng, R., Liu, X. F., Ma, B., Sun, H., & Jiang, L. C. (2026). Linguistic dynamics of online scam conversations: A multi-stage analysis based on the COLD framework. Humanities and Social Sciences Communications, 13, 698. https://doi.org/10.1057/s41599-026-07052-y

Pradesi, D. W., & Marlianingsih, N. (2025). Linguistic features of online scam messages: A forensic analysis of deceptive communication language. JEdu: Journal of English Education, 5(2), 65–74. https://doi.org/10.30998/jedu.v5i2.14352

Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.

Toma, C. L., & Hancock, J. T. (2012). What lies beneath: The linguistic traces of deception in online dating profiles. Journal of Communication, 62(1), 78–97.

Vrij, A. (2008). Detecting lies and deceit: Pitfalls and opportunities (2nd ed.). John Wiley & Sons.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Praktik Analisis Linguistik Forensik

Analisis Linguistik pada Kasus Penipuan Online Keyword: bahasa penipuan online Pendahuluan Perkembangan teknologi digital telah meng...