Bab 8. Morfologi dan Makna
| Morfologi dan Makna |
Morfologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Dalam kajian bahasa, morfologi tidak hanya berurusan dengan bentuk, tetapi juga dengan makna yang dihasilkan dari proses pembentukan kata tersebut. Setiap perubahan bentuk, baik melalui afiksasi, reduplikasi, komposisi, maupun proses morfologis lainnya, berimplikasi langsung terhadap makna. Oleh karena itu, hubungan antara morfologi dan makna menjadi aspek penting dalam memahami sistem bahasa secara menyeluruh.
Secara umum, makna dalam linguistik dapat dibedakan menjadi makna leksikal
dan makna gramatikal. Makna leksikal merujuk pada makna dasar yang dimiliki
oleh sebuah leksem sebagaimana tercatat dalam kamus, sedangkan makna gramatikal
muncul akibat hubungan gramatikal atau proses morfologis tertentu
(Kridalaksana, 2008). Dalam konteks bahasa Indonesia, proses morfologis seperti
prefiksasi (me-, di-, ber-, ter-), sufiksasi (-kan, -i, -an), konfiksasi (ke-
-an, pe- -an), serta reduplikasi memainkan peran signifikan dalam membentuk
variasi makna.
Kajian mengenai morfologi dan makna menunjukkan bahwa perubahan bentuk kata
bukan sekadar fenomena formal, melainkan bagian dari sistem semantik yang
terstruktur. Bauer (2003) menegaskan bahwa morfologi derivatif sangat erat
kaitannya dengan perluasan atau pergeseran makna, sedangkan morfologi
infleksional lebih berkaitan dengan fungsi gramatikal tanpa mengubah makna dasar
secara signifikan. Dalam bahasa Indonesia, yang lebih menonjol adalah sistem
derivatif dibanding infleksional, sehingga dampak perubahan makna akibat proses
morfologis menjadi sangat penting untuk dikaji.
8.1 Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat hubungan antarkata
dalam struktur sintaksis atau karena proses morfologis tertentu. Makna ini
tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada konteks gramatikal (Chaer,
2014).
Sebagai contoh, kata buku
memiliki makna leksikal sebagai ‘kumpulan kertas berjilid’. Namun, ketika
mengalami proses afiksasi menjadi membukukan,
muncul makna gramatikal berupa ‘menjadikan sesuatu sebagai buku’ atau ‘mencatat
secara resmi’. Prefiks me-
dan sufiks -kan
memberikan fungsi gramatikal berupa verba kausatif atau transitif.
Dalam bahasa Indonesia, makna gramatikal dapat muncul melalui beberapa
proses berikut:
1. Afiksasi
Afiksasi adalah proses penambahan afiks pada bentuk dasar. Misalnya:
·
ajar → mengajar
(melakukan kegiatan memberi pelajaran)
·
ajar → pelajar
(orang yang belajar)
·
ajar → pelajaran
(hasil atau materi yang diajarkan)
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa satu bentuk dasar dapat menghasilkan
berbagai makna gramatikal tergantung pada jenis afiks yang digunakan. Setiap
afiks memiliki fungsi semantis tertentu.
2. Reduplikasi
Reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat menyatakan makna jamak, intensitas,
atau variasi.
·
buku → buku-buku
(jamak)
·
besar → besar-besar
(intensitas atau kolektif)
Makna jamak dalam contoh tersebut bukan makna leksikal baru, tetapi makna
gramatikal yang muncul akibat proses morfologis.
3. Komposisi
Komposisi atau pemajemukan juga menghasilkan makna gramatikal tertentu.
Misalnya:
·
rumah sakit
·
kambing hitam
Pada contoh kedua, makna tidak lagi bersifat komposisional secara literal,
melainkan idiomatis.
Menurut Booij (2005), makna gramatikal bersifat sistemik karena merupakan
bagian dari aturan tata bahasa yang produktif. Artinya, penutur bahasa dapat
secara kreatif membentuk kata baru berdasarkan pola yang telah ada.
8.2 Perubahan Makna akibat Proses Morfologis
Proses morfologis sering kali menimbulkan perubahan makna yang signifikan.
Perubahan ini dapat berupa perluasan makna, penyempitan makna, pergeseran
makna, atau bahkan pembentukan makna baru sama sekali.
1. Derivasi dan Pembentukan Makna Baru
Derivasi merupakan proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru
dengan makna yang berbeda dari bentuk dasarnya (Lieber, 2010).
Contoh:
·
tulis → penulis
(orang yang menulis)
·
tulis → tertulis
(sudah ditulis)
·
tulis → tulisan
(hasil menulis)
Setiap bentuk turunan memiliki makna baru yang tidak identik dengan makna
dasar tulis.
Perubahan ini menunjukkan relasi sistematis antara bentuk dan makna.
2. Pergeseran Kategori dan Dampaknya terhadap Makna
Afiksasi sering mengubah kategori gramatikal kata. Misalnya:
·
indah (adjektiva) → keindahan (nomina)
·
kuat (adjektiva) → menguatkan (verba)
Perubahan kategori ini diikuti perubahan fungsi semantis. Nominalisasi
melalui konfiks ke- -an
cenderung menghasilkan makna abstrak, sedangkan prefiks me- dengan sufiks -kan sering menunjukkan
tindakan kausatif.
3. Reduplikasi dan Nuansa Semantis
Reduplikasi tidak selalu bermakna jamak. Dalam beberapa kasus, reduplikasi
dapat menyatakan makna distributif atau intensif:
·
lari-lari (melakukan kegiatan lari secara
santai atau berulang)
·
hijau-hijau (berwarna hijau dalam jumlah
banyak atau bervariasi)
Makna yang muncul bergantung pada konteks dan kelas kata.
4. Gramatikalisasi
Dalam perkembangan bahasa, beberapa bentuk morfologis mengalami proses
gramatikalisasi, yaitu perubahan dari makna leksikal menjadi makna gramatikal
(Bybee, 2010). Misalnya, dalam beberapa bahasa, bentuk yang awalnya bermakna
‘memiliki’ berkembang menjadi penanda aspek atau waktu.
Dalam bahasa Indonesia, proses ini dapat diamati pada penggunaan akan sebagai penanda
futuritas yang awalnya bermakna ‘keinginan’ atau ‘niat’.
8.3 Ambiguitas Morfologis
Ambiguitas morfologis terjadi ketika suatu bentuk kata dapat ditafsirkan
lebih dari satu makna atau struktur morfologis. Ambiguitas ini bisa bersumber
dari struktur afiksasi maupun dari relasi antarunsur dalam kata majemuk.
1. Ambiguitas Afiksasi
Contoh:
·
beruang
Kata ini dapat ditafsirkan sebagai:
1. ber- + uang
(memiliki uang)
2. bentuk dasar beruang
(nama hewan)
Perbedaan ini menunjukkan adanya potensi ambiguitas akibat kemiripan bentuk
morfologis.
2. Ambiguitas Struktur Derivatif
Contoh lain adalah:
·
penulisan ulang
Frasa ini bisa bermakna:
1. proses menulis ulang
2. proses penulisan yang bersifat ulang
Perbedaan interpretasi muncul karena struktur morfologis dan sintaktis yang
dapat dianalisis lebih dari satu cara.
3. Ambiguitas pada Kata Majemuk
Kata majemuk seperti orang
tua dapat bermakna ‘ayah dan ibu’ atau ‘orang yang sudah tua’.
Ambiguitas ini berkaitan dengan apakah bentuk tersebut ditafsirkan sebagai satu
kesatuan leksikal atau sebagai frasa deskriptif.
Menurut Aronoff dan Fudeman (2011), ambiguitas morfologis merupakan fenomena
alami dalam bahasa karena sistem morfologi bersifat produktif dan terbuka
terhadap interpretasi kontekstual.
Penutup
Kajian tentang morfologi dan makna menunjukkan bahwa struktur kata tidak
dapat dipisahkan dari aspek semantisnya. Makna gramatikal muncul sebagai hasil
interaksi antara bentuk dan fungsi dalam sistem bahasa. Proses morfologis
seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi tidak hanya membentuk kata baru,
tetapi juga mengubah, memperluas, atau menggeser makna.
Perubahan makna akibat proses morfologis memperlihatkan dinamika bahasa yang
kreatif dan produktif. Sementara itu, ambiguitas morfologis menunjukkan bahwa
interpretasi makna sangat bergantung pada konteks dan analisis struktural.
Dengan memahami hubungan antara morfologi dan makna, kita dapat melihat
bagaimana bahasa bekerja secara sistematis sekaligus fleksibel. Kajian ini
menjadi landasan penting dalam linguistik teoretis maupun terapan, termasuk
dalam pengajaran bahasa, penerjemahan, dan pengembangan leksikografi.
Daftar Pustaka
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What
is morphology? Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing
linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Booij, G. (2005). The
grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford
University Press.
Bybee, J. (2010). Language,
usage and cognition. Cambridge University Press.
Chaer, A. (2014). Linguistik
umum. Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan
kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
Lieber, R. (2010). Introducing
morphology. Cambridge University Press.
