Senin, 12 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.5 Konfiks

Pendahuluan

Konfiks


Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, afiksasi tidak hanya melibatkan prefiks, sufiks, dan infiks secara terpisah, tetapi juga kombinasi afiks yang bekerja secara simultan. Salah satu bentuk kombinasi tersebut dikenal dengan istilah konfiks. Konfiks merupakan ciri khas penting bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara, karena penggunaannya sangat produktif dan berperan besar dalam pembentukan kata turunan, terutama dalam ragam formal, akademik, dan ilmiah.

Kata-kata seperti keindahan, kesehatan, pelaksanaan, ketidakhadiran, dan pengajaran merupakan contoh nyata bagaimana konfiks bekerja sebagai satu kesatuan morfologis. Tanpa pemahaman konfiks, analisis morfologi bahasa Indonesia akan terasa timpang, karena sebagian besar kosakata abstrak dan istilah konseptual dibentuk melalui proses ini.

Bagian ini membahas konfiks secara komprehensif, mencakup pengertian, karakteristik, jenis-jenis konfiks utama dalam bahasa Indonesia, fungsi semantis dan gramatikalnya, tingkat produktivitas, serta implikasinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 '

4.5.1 Pengertian Konfiks

Konfiks adalah gabungan dua afiks atau lebih yang dilekatkan secara bersamaan pada bentuk dasar, biasanya berupa prefiks dan sufiks, yang berfungsi sebagai satu kesatuan morfologis. Prefiks dan sufiks dalam konfiks tidak dapat dipisahkan tanpa menghilangkan atau mengubah makna kata.

Menurut Alwi et al. (2014), konfiks adalah imbuhan yang terdiri atas dua bagian yang secara serentak mengapit bentuk dasar. Dengan kata lain, konfiks bukan sekadar prefiks + sufiks biasa, melainkan satu unit afiksasi yang utuh.

Sebagai contoh, pada kata keindahan, konfiks ke-…-an harus hadir secara bersamaan. Bentuk keindah atau indahan tidak memiliki makna yang sama atau bahkan tidak gramatikal.

 

4.5.2 Ciri-Ciri Konfiks

Konfiks memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari afiks tunggal dan kombinasi afiks bebas.

1.      Bersifat simultan
Prefiks dan sufiks muncul bersamaan dalam satu proses pembentukan kata.

2.      Tidak dapat dipisahkan
Salah satu unsur konfiks tidak dapat berdiri sendiri tanpa mengubah makna.

3.      Produktif
Konfiks sangat produktif dalam bahasa Indonesia modern.

4.      Dominan dalam pembentukan nomina abstrak
Banyak istilah konseptual dan akademik dibentuk melalui konfiks.

Bauer (2003) menegaskan bahwa konfiks dalam bahasa Indonesia merupakan contoh proses morfologis yang sangat sistematis dan stabil.

 

4.5.3 Perbedaan Konfiks dan Kombinasi Afiks

Penting untuk membedakan antara konfiks dan kombinasi afiks biasa. Kombinasi afiks biasa terjadi secara bertahap dan masing-masing afiks tetap memiliki makna independen.

Contoh:

·         me- + -kan pada menuliskan → proses bertahap

Sebaliknya, konfiks bekerja sebagai satu kesatuan:

·         ke-…-an pada kebersihan

Menurut Aronoff dan Fudeman (2011), perbedaan ini bersifat struktural dan semantis, bukan sekadar posisi afiks.

 

4.5.4 Jenis-Jenis Konfiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki beberapa konfiks utama yang sangat produktif. Berikut pembahasannya.

 

1. Konfiks ke-…-an

Konfiks ke-…-an merupakan konfiks paling produktif dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

·         indahkeindahan

·         sehatkesehatan

·         hadirkehadiran

Fungsi utama konfiks ini adalah membentuk nomina abstrak dari adjektiva atau verba.

 

2. Konfiks pe-…-an

Konfiks pe-…-an membentuk nomina yang berhubungan dengan proses, hasil, atau tempat terjadinya suatu perbuatan.

Contoh:

·         ajarpengajaran

·         bangunpembangunan

·         laksanapelaksanaan

Konfiks ini sangat dominan dalam bahasa administrasi, pendidikan, dan kebijakan publik.

 

3. Konfiks per-…-an

Konfiks per-…-an sering membentuk nomina yang bermakna kolektif, abstrak, atau institusional.

Contoh:

·         aturanperaturan

·         kampungperkampungan

Menurut Sneddon et al. (2010), konfiks ini memiliki nuansa formal yang kuat.

 

4. Konfiks ber-…-an

Konfiks ber-…-an membentuk verba resiprokal atau menyatakan keadaan saling melakukan.

Contoh:

·         pelukberpelukan

·         pandanganberpandangan

Konfiks ini menandai hubungan timbal balik antarpartisipan.

 

5. Konfiks ter-…-kan / ter-…-i

Dalam beberapa analisis, bentuk seperti ter-…-kan dianggap sebagai konfiks karena bekerja secara simultan.

Contoh:

·         terkendalikan

·         terhubungi

Namun, klasifikasi ini masih menjadi perdebatan dalam kajian linguistik.

 

4.5.5 Fungsi Semantis dan Gramatikal Konfiks

Konfiks memiliki fungsi utama sebagai:

1.      Pembentuk nomina abstrak

2.      Penanda proses atau keadaan

3.      Pengubah kelas kata

4.      Penanda relasi sintaktis tertentu

Halliday (2004) menekankan bahwa konfiks berperan penting dalam nominalisasi, terutama dalam bahasa ilmiah dan akademik.

 

4.5.6 Produktivitas Konfiks dalam Bahasa Modern

Konfiks tergolong sangat produktif dan terus berkembang. Kata-kata baru dalam bahasa Indonesia sering kali dibentuk menggunakan konfiks, terutama dalam:

·         Bahasa kebijakan publik

·         Bahasa pendidikan

·         Bahasa media

Contoh:

·         digitalisasipendigitalisasian

·         globalpengglobalan

Fenomena ini menunjukkan fleksibilitas sistem konfiks bahasa Indonesia.

 

4.5.7 Konfiks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dalam pembelajaran bahasa, konfiks memiliki nilai pedagogis yang tinggi karena:

·         Membantu memahami struktur kata kompleks

·         Mengembangkan kosakata akademik

·         Meningkatkan kemampuan menulis formal

Kesadaran terhadap konfiks terbukti meningkatkan literasi akademik mahasiswa (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Konfiks merupakan salah satu ciri paling menonjol dalam sistem afiksasi bahasa Indonesia. Dengan produktivitas yang tinggi dan fungsi semantis yang kaya, konfiks menjadi tulang punggung pembentukan kata abstrak dan istilah ilmiah. Pemahaman konfiks tidak hanya penting bagi kajian linguistik, tetapi juga krusial dalam pengajaran bahasa dan pengembangan kemampuan literasi akademik.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.


 

 

Minggu, 11 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.4 Infiks

Pendahuluan

Infiks


Dalam kajian morfologi bahasa Indonesia, infiks menempati posisi yang unik dan menarik. Berbeda dengan prefiks dan sufiks yang secara produktif digunakan dalam pembentukan kata sehari-hari, infiks cenderung memiliki keterbatasan dalam jumlah dan produktivitas. Meskipun demikian, infiks tetap merupakan bagian penting dari sistem afiksasi bahasa Indonesia karena merepresentasikan jejak historis, kekhasan tipologis bahasa, serta dinamika perubahan bahasa dari masa ke masa.

Kata-kata seperti gemetar, telunjuk, gerigi, dan leluhur sering dikutip sebagai contoh penggunaan infiks dalam bahasa Indonesia. Walaupun tidak selalu disadari oleh penutur modern, bentuk-bentuk tersebut menunjukkan bahwa infiks pernah memiliki peran morfologis yang lebih signifikan dalam sejarah bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya.

Bagian ini membahas infiks secara mendalam, meliputi pengertian infiks, ciri-ciri morfologisnya, jenis-jenis infiks dalam bahasa Indonesia, fungsi dan maknanya, tingkat produktivitasnya, serta relevansinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

4.4.1 Pengertian Infiks

Infiks adalah afiks yang disisipkan di dalam bentuk dasar, bukan di awal (prefiks) maupun di akhir (sufiks). Dengan kata lain, infiks berada di tengah-tengah morfem dasar dan membentuk kata turunan melalui proses penyisipan.

Katamba (1993) mendefinisikan infiks sebagai morfem terikat yang secara struktural diselipkan ke dalam morfem dasar dan berfungsi membentuk kata baru atau memberi nuansa makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia, infiks bersifat terbatas dan tidak lagi produktif secara sinkronis.

Menurut Alwi et al. (2014), infiks dalam bahasa Indonesia umumnya ditemukan pada kata-kata yang telah membeku secara leksikal, sehingga penutur modern sering kali tidak lagi menyadari proses afiksasi yang terjadi.

 

4.4.2 Posisi dan Karakteristik Infiks

Infiks memiliki karakteristik morfologis yang membedakannya dari jenis afiks lain, antara lain:

1.      Posisi internal
Infiks disisipkan setelah konsonan awal bentuk dasar.

2.      Terikat secara morfologis
Infiks tidak dapat berdiri sendiri dan selalu bergantung pada bentuk dasar.

3.      Produktivitas rendah
Infiks jarang digunakan untuk membentuk kata baru dalam bahasa Indonesia modern.

4.      Bersifat historis
Banyak bentuk berinfiks berasal dari bahasa Melayu Kuno atau bahasa daerah.

Sneddon et al. (2010) menyatakan bahwa secara sinkronis, infiks dalam bahasa Indonesia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari bentuk leksikal daripada sebagai proses morfologis yang aktif.

 

4.4.3 Jenis-Jenis Infiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mengenal beberapa jenis infiks utama, yaitu -el-, -em-, -er-, dan -in-. Masing-masing infiks memiliki ciri dan contoh penggunaan tertentu.

 

1. Infiks -el-

Infiks -el- merupakan salah satu infiks yang paling dikenal dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

·         tunjuktelunjuk

·         patukpelatuk

Infiks -el- umumnya disisipkan setelah konsonan awal dan sering menghasilkan kata benda. Secara semantis, infiks ini tidak selalu membawa makna yang jelas dan sering dianggap sebagai pembentuk leksikal semata.

 

2. Infiks -em-

Infiks -em- juga ditemukan pada sejumlah kata yang cukup umum.

Contoh:

·         getargemetar

·         guruhgemuruh

Kata-kata yang mengandung infiks -em- sering berhubungan dengan makna intensitas, pengulangan, atau keadaan yang berkelanjutan. Namun, makna ini tidak selalu konsisten dan bergantung pada konteks leksikal.

 

3. Infiks -er-

Infiks -er- sering muncul dalam pembentukan kata benda.

Contoh:

·         gigigerigi

·         sabutserabut

Infiks ini cenderung membentuk kata dengan makna kolektif atau berhubungan dengan bentuk fisik tertentu.

 

4. Infiks -in-

Infiks -in- relatif jarang dan banyak ditemukan dalam kata serapan atau bentuk tidak produktif.

Contoh:

·         kerjakinerja (secara historis sering dikaitkan, meskipun analisis ini diperdebatkan)

Beberapa ahli berpendapat bahwa infiks -in- dalam bahasa Indonesia modern lebih bersifat etimologis daripada morfologis aktif (Aronoff & Fudeman, 2011).

 

4.4.4 Infiks dan Produktivitas Morfologis

Salah satu ciri paling menonjol dari infiks dalam bahasa Indonesia adalah rendahnya produktivitas. Berbeda dengan prefiks me- atau sufiks -an, infiks hampir tidak pernah digunakan untuk membentuk kata baru secara spontan dalam bahasa modern.

Bauer (2003) menjelaskan bahwa suatu afiks dikatakan produktif apabila dapat digunakan penutur untuk membentuk kata baru tanpa hambatan leksikal. Berdasarkan kriteria ini, infiks bahasa Indonesia tergolong tidak produktif.

Akibatnya, kata-kata berinfiks lebih sering dipelajari sebagai entri kosakata daripada sebagai hasil proses morfologis aktif.

 

4.4.5 Infiks dalam Perspektif Historis dan Tipologis

Dalam bahasa Melayu Kuno dan sejumlah bahasa daerah di Indonesia, infiks memiliki peran yang lebih aktif. Bahasa Jawa, Sunda, dan Tagalog (di Filipina) menunjukkan produktivitas infiks yang lebih tinggi dibandingkan bahasa Indonesia modern.

Hal ini menunjukkan bahwa berkurangnya penggunaan infiks dalam bahasa Indonesia merupakan hasil dari proses penyederhanaan morfologis dan standarisasi bahasa (Sneddon et al., 2010).

 

4.4.6 Infiks dalam Bahasa Pendidikan

Dalam konteks pendidikan, infiks sering menjadi materi yang menantang bagi peserta didik karena:

1.      Jumlah contoh terbatas

2.      Sulit dibedakan dari bentuk dasar

3.      Tidak produktif secara aktif

Namun, pembelajaran infiks tetap penting untuk:

·         Memahami sejarah bahasa

·         Mengembangkan kesadaran morfologis

·         Menganalisis struktur kata secara ilmiah

Guru bahasa Indonesia perlu menekankan bahwa infiks lebih bersifat leksikal daripada generatif.

 

4.4.7 Implikasi Linguistik dan Pedagogis

Kajian infiks memiliki implikasi penting dalam:

·         Analisis morfologi sinkronis dan diakronis

·         Penyusunan kamus dan deskripsi bahasa

·         Pembelajaran linguistik di perguruan tinggi

Kesadaran akan keterbatasan infiks membantu mahasiswa linguistik memahami perbedaan antara proses morfologis aktif dan bentuk yang telah membeku secara leksikal.

 

Penutup

Infiks merupakan salah satu jenis afiks dalam bahasa Indonesia yang memiliki karakteristik khas, terutama dari segi posisi dan produktivitas. Meskipun tidak lagi produktif dalam pembentukan kata baru, infiks tetap memiliki nilai penting dalam kajian linguistik, baik sebagai bukti historis perkembangan bahasa maupun sebagai objek analisis morfologis.

Pemahaman infiks membantu memperkaya wawasan tentang struktur kata bahasa Indonesia dan mempertegas bahwa sistem morfologi bahasa bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.

 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...