Morfem dan Satuan Gramatikal
2.2 Jenis-Jenis Morfem
Pendahuluan
| Morfem dan Satuan Gramatikal |
Dalam kajian morfologi, morfem merupakan satuan terkecil yang memiliki makna dan menjadi unsur pembentuk kata. Namun, morfem bukanlah satuan yang bersifat tunggal dan seragam. Morfem memiliki berbagai jenis dan klasifikasi berdasarkan ciri, fungsi, serta perilaku gramatikalnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang jenis-jenis morfem menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana kata dibentuk dan bagaimana makna gramatikal diwujudkan dalam bahasa.
Dalam Bahasa Indonesia, keragaman jenis morfem mencerminkan kekayaan sistem morfologis yang dimilikinya. Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang produktif dalam pembentukan kata, terutama melalui proses afiksasi. Keberagaman ini tidak dapat dipahami secara utuh tanpa pemahaman yang jelas tentang jenis-jenis morfem.
Artikel ini membahas berbagai jenis morfem dalam Bahasa Indonesia berdasarkan beberapa sudut pandang utama, seperti kebebasan bentuk, fungsi makna, keutuhan bentuk, dan distribusinya dalam struktur kata.
Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Klasifikasi morfem yang paling dasar adalah pembagian antara morfem bebas dan morfem terikat. Pembagian ini didasarkan pada kemampuan morfem untuk berdiri sendiri sebagai kata.
Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan memiliki makna leksikal yang jelas. Contoh morfem bebas dalam Bahasa Indonesia antara lain buku, rumah, makan, dan jalan. Morfem-morfem ini dapat digunakan secara mandiri dalam tuturan tanpa harus bergabung dengan morfem lain.
Sebaliknya, morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain untuk membentuk kata. Contoh morfem terikat adalah me-, di-, ber-, -kan, dan -an. Morfem terikat ini tidak memiliki makna leksikal yang utuh, tetapi memiliki makna gramatikal yang penting.
Kridalaksana (2008) menyatakan bahwa morfem terikat berfungsi untuk membentuk kata turunan dan menandai hubungan gramatikal tertentu dalam bahasa. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfem terikat sangat dominan, sehingga pemahaman terhadap jenis morfem ini menjadi kunci dalam kajian morfologi.
Morfem Leksikal dan Morfem Gramatikal
Berdasarkan jenis makna yang dikandungnya, morfem dapat dibedakan menjadi morfem leksikal dan morfem gramatikal.
Morfem leksikal adalah morfem yang mengandung makna konseptual atau makna kamus. Morfem ini biasanya berupa morfem bebas, seperti air, tanam, lari, dan indah. Makna morfem leksikal bersifat relatif stabil dan dapat dipahami tanpa konteks gramatikal tertentu.
Morfem gramatikal, sebaliknya, adalah morfem yang mengandung makna struktural atau makna tata bahasa. Makna morfem gramatikal baru dapat dipahami dalam hubungan dengan morfem lain. Contoh morfem gramatikal adalah prefiks me- yang menandai verba aktif, prefiks di- yang menandai verba pasif, serta sufiks -kan dan -i yang menandai hubungan gramatikal tertentu.
Chaer (2015) menegaskan bahwa morfem gramatikal berfungsi untuk membentuk struktur bahasa dan menentukan relasi antarsatuan bahasa dalam kalimat. Oleh karena itu, meskipun tidak memiliki makna leksikal yang konkret, morfem gramatikal memiliki peran yang sangat penting dalam sistem bahasa.
Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Ditinjau dari keutuhan bentuknya, morfem dapat dibedakan menjadi morfem utuh dan morfem terbagi.
Morfem utuh adalah morfem yang hadir secara lengkap dan tidak terpisah dalam pembentukan kata. Contoh morfem utuh adalah me-, ber-, dan -an. Morfem ini muncul sebagai satu kesatuan bentuk yang jelas.
Morfem terbagi atau morfem discontinuous adalah morfem yang hadir dalam bentuk terpisah tetapi berfungsi sebagai satu kesatuan makna. Dalam Bahasa Indonesia, morfem terbagi dapat ditemukan pada konfiks seperti ke- -an dan pe- -an. Meskipun terpisah secara bentuk, kedua bagian konfiks tersebut berfungsi sebagai satu morfem.
Sebagai contoh, kata kebersihan terdiri atas konfiks ke- -an dan morfem dasar bersih. Konfiks tersebut berfungsi membentuk nomina abstrak yang menyatakan keadaan.
Ramlan (2009) menyebutkan bahwa pengenalan morfem terbagi penting untuk menghindari kesalahan analisis morfologis, terutama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental
Dalam kajian linguistik yang lebih luas, morfem juga dapat dibedakan menjadi morfem segmental dan morfem suprasegmental, meskipun klasifikasi ini tidak terlalu dominan dalam Bahasa Indonesia.
Morfem segmental adalah morfem yang diwujudkan dalam bentuk segmen bunyi yang dapat diidentifikasi secara jelas, seperti afiks dan kata dasar. Hampir seluruh morfem dalam Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori ini.
Morfem suprasegmental adalah morfem yang diwujudkan melalui unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, atau intonasi. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfem suprasegmental relatif terbatas dibandingkan dengan bahasa tonal. Namun, dalam tuturan lisan, perbedaan intonasi dapat memengaruhi makna gramatikal atau pragmatik.
Verhaar (2016) menyatakan bahwa meskipun Bahasa Indonesia bukan bahasa tonal, unsur suprasegmental tetap berperan dalam membedakan makna dalam konteks tertentu.
Morfem Dasar dan Morfem Afiks
Klasifikasi lain yang penting dalam morfologi Bahasa Indonesia adalah pembagian antara morfem dasar dan morfem afiks.
Morfem dasar adalah morfem yang menjadi inti pembentukan kata dan memiliki makna leksikal utama. Contohnya adalah ajar, tulis, dan baca.
Morfem afiks adalah morfem terikat yang melekat pada morfem dasar untuk membentuk kata turunan. Morfem afiks meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.
Contoh:
· tulis → menulis
· ajar → pengajaran
· gigi → gerigi
Morfem afiks berfungsi memperluas makna dan fungsi morfem dasar sesuai kaidah Bahasa Indonesia.
Relevansi Jenis-Jenis Morfem dalam Pembelajaran Bahasa
Pemahaman tentang jenis-jenis morfem memiliki relevansi yang besar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memahami klasifikasi morfem, peserta didik dapat menganalisis struktur kata secara sistematis dan memahami hubungan makna antarkata.
Selain itu, pemahaman jenis morfem membantu peserta didik menghindari kesalahan berbahasa, terutama dalam penggunaan afiks. Kesalahan seperti diambilkan yang digunakan tidak sesuai konteks atau terlambatkan yang tidak baku dapat diminimalkan melalui pemahaman morfologi yang baik.
Chaer (2015) menegaskan bahwa pembelajaran morfologi yang menekankan analisis jenis morfem akan meningkatkan kesadaran berbahasa peserta didik.
Penutup
Jenis-jenis morfem menunjukkan bahwa morfem bukanlah satuan yang homogen, melainkan memiliki variasi bentuk dan fungsi yang kompleks. Dalam Bahasa Indonesia, klasifikasi morfem berdasarkan kebebasan bentuk, fungsi makna, keutuhan bentuk, dan perannya dalam pembentukan kata memberikan gambaran yang jelas tentang sistem morfologis bahasa.
Pemahaman yang komprehensif tentang jenis-jenis morfem menjadi dasar penting bagi kajian morfologi, baik dalam konteks linguistik teoretis maupun pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memahami jenis morfem, pembelajar bahasa dapat menguasai struktur kata secara lebih sistematis dan aplikatif.
Daftar Pustaka
Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

