Jumat, 02 Januari 2026

Morfem dan Satuan Gramatikal / Jenis-Jenis Morfem

 Morfem dan Satuan Gramatikal



2.2 Jenis-Jenis Morfem

Pendahuluan

Morfem dan Satuan Gramatikal

Dalam kajian morfologi, morfem merupakan satuan terkecil yang memiliki makna dan menjadi unsur pembentuk kata. Namun, morfem bukanlah satuan yang bersifat tunggal dan seragam. Morfem memiliki berbagai jenis dan klasifikasi berdasarkan ciri, fungsi, serta perilaku gramatikalnya. Oleh karena itu, pemahaman tentang jenis-jenis morfem menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana kata dibentuk dan bagaimana makna gramatikal diwujudkan dalam bahasa.

Dalam Bahasa Indonesia, keragaman jenis morfem mencerminkan kekayaan sistem morfologis yang dimilikinya. Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang produktif dalam pembentukan kata, terutama melalui proses afiksasi. Keberagaman ini tidak dapat dipahami secara utuh tanpa pemahaman yang jelas tentang jenis-jenis morfem.

Artikel ini membahas berbagai jenis morfem dalam Bahasa Indonesia berdasarkan beberapa sudut pandang utama, seperti kebebasan bentuk, fungsi makna, keutuhan bentuk, dan distribusinya dalam struktur kata.

 

Morfem Bebas dan Morfem Terikat

Klasifikasi morfem yang paling dasar adalah pembagian antara morfem bebas dan morfem terikat. Pembagian ini didasarkan pada kemampuan morfem untuk berdiri sendiri sebagai kata.

Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan memiliki makna leksikal yang jelas. Contoh morfem bebas dalam Bahasa Indonesia antara lain buku, rumah, makan, dan jalan. Morfem-morfem ini dapat digunakan secara mandiri dalam tuturan tanpa harus bergabung dengan morfem lain.

Sebaliknya, morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain untuk membentuk kata. Contoh morfem terikat adalah me-, di-, ber-, -kan, dan -an. Morfem terikat ini tidak memiliki makna leksikal yang utuh, tetapi memiliki makna gramatikal yang penting.

Kridalaksana (2008) menyatakan bahwa morfem terikat berfungsi untuk membentuk kata turunan dan menandai hubungan gramatikal tertentu dalam bahasa. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfem terikat sangat dominan, sehingga pemahaman terhadap jenis morfem ini menjadi kunci dalam kajian morfologi.

 

Morfem Leksikal dan Morfem Gramatikal

Berdasarkan jenis makna yang dikandungnya, morfem dapat dibedakan menjadi morfem leksikal dan morfem gramatikal.

Morfem leksikal adalah morfem yang mengandung makna konseptual atau makna kamus. Morfem ini biasanya berupa morfem bebas, seperti air, tanam, lari, dan indah. Makna morfem leksikal bersifat relatif stabil dan dapat dipahami tanpa konteks gramatikal tertentu.

Morfem gramatikal, sebaliknya, adalah morfem yang mengandung makna struktural atau makna tata bahasa. Makna morfem gramatikal baru dapat dipahami dalam hubungan dengan morfem lain. Contoh morfem gramatikal adalah prefiks me- yang menandai verba aktif, prefiks di- yang menandai verba pasif, serta sufiks -kan dan -i yang menandai hubungan gramatikal tertentu.

Chaer (2015) menegaskan bahwa morfem gramatikal berfungsi untuk membentuk struktur bahasa dan menentukan relasi antarsatuan bahasa dalam kalimat. Oleh karena itu, meskipun tidak memiliki makna leksikal yang konkret, morfem gramatikal memiliki peran yang sangat penting dalam sistem bahasa.

 

Morfem Utuh dan Morfem Terbagi

Ditinjau dari keutuhan bentuknya, morfem dapat dibedakan menjadi morfem utuh dan morfem terbagi.

Morfem utuh adalah morfem yang hadir secara lengkap dan tidak terpisah dalam pembentukan kata. Contoh morfem utuh adalah me-, ber-, dan -an. Morfem ini muncul sebagai satu kesatuan bentuk yang jelas.

Morfem terbagi atau morfem discontinuous adalah morfem yang hadir dalam bentuk terpisah tetapi berfungsi sebagai satu kesatuan makna. Dalam Bahasa Indonesia, morfem terbagi dapat ditemukan pada konfiks seperti ke- -an dan pe- -an. Meskipun terpisah secara bentuk, kedua bagian konfiks tersebut berfungsi sebagai satu morfem.

Sebagai contoh, kata kebersihan terdiri atas konfiks ke- -an dan morfem dasar bersih. Konfiks tersebut berfungsi membentuk nomina abstrak yang menyatakan keadaan.

Ramlan (2009) menyebutkan bahwa pengenalan morfem terbagi penting untuk menghindari kesalahan analisis morfologis, terutama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

 

Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental

Dalam kajian linguistik yang lebih luas, morfem juga dapat dibedakan menjadi morfem segmental dan morfem suprasegmental, meskipun klasifikasi ini tidak terlalu dominan dalam Bahasa Indonesia.

Morfem segmental adalah morfem yang diwujudkan dalam bentuk segmen bunyi yang dapat diidentifikasi secara jelas, seperti afiks dan kata dasar. Hampir seluruh morfem dalam Bahasa Indonesia termasuk dalam kategori ini.

Morfem suprasegmental adalah morfem yang diwujudkan melalui unsur suprasegmental seperti tekanan, nada, atau intonasi. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfem suprasegmental relatif terbatas dibandingkan dengan bahasa tonal. Namun, dalam tuturan lisan, perbedaan intonasi dapat memengaruhi makna gramatikal atau pragmatik.

Verhaar (2016) menyatakan bahwa meskipun Bahasa Indonesia bukan bahasa tonal, unsur suprasegmental tetap berperan dalam membedakan makna dalam konteks tertentu.

 

Morfem Dasar dan Morfem Afiks

Klasifikasi lain yang penting dalam morfologi Bahasa Indonesia adalah pembagian antara morfem dasar dan morfem afiks.

Morfem dasar adalah morfem yang menjadi inti pembentukan kata dan memiliki makna leksikal utama. Contohnya adalah ajar, tulis, dan baca.

Morfem afiks adalah morfem terikat yang melekat pada morfem dasar untuk membentuk kata turunan. Morfem afiks meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.

Contoh:

·         tulismenulis

·         ajarpengajaran

·         gigigerigi

Morfem afiks berfungsi memperluas makna dan fungsi morfem dasar sesuai kaidah Bahasa Indonesia.

 

Relevansi Jenis-Jenis Morfem dalam Pembelajaran Bahasa

Pemahaman tentang jenis-jenis morfem memiliki relevansi yang besar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memahami klasifikasi morfem, peserta didik dapat menganalisis struktur kata secara sistematis dan memahami hubungan makna antarkata.

Selain itu, pemahaman jenis morfem membantu peserta didik menghindari kesalahan berbahasa, terutama dalam penggunaan afiks. Kesalahan seperti diambilkan yang digunakan tidak sesuai konteks atau terlambatkan yang tidak baku dapat diminimalkan melalui pemahaman morfologi yang baik.

Chaer (2015) menegaskan bahwa pembelajaran morfologi yang menekankan analisis jenis morfem akan meningkatkan kesadaran berbahasa peserta didik.

 

Penutup

Jenis-jenis morfem menunjukkan bahwa morfem bukanlah satuan yang homogen, melainkan memiliki variasi bentuk dan fungsi yang kompleks. Dalam Bahasa Indonesia, klasifikasi morfem berdasarkan kebebasan bentuk, fungsi makna, keutuhan bentuk, dan perannya dalam pembentukan kata memberikan gambaran yang jelas tentang sistem morfologis bahasa.

Pemahaman yang komprehensif tentang jenis-jenis morfem menjadi dasar penting bagi kajian morfologi, baik dalam konteks linguistik teoretis maupun pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan memahami jenis morfem, pembelajar bahasa dapat menguasai struktur kata secara lebih sistematis dan aplikatif.

 

Daftar Pustaka

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 



 

 

Kamis, 01 Januari 2026

Morfem dan Satuan Gramatikal

 Morfem dan Satuan Gramatikal



2.1 Pengertian Morfem

Pendahuluan

Morfem dan Satuan Gramatikal

 


Dalam kajian morfologi, istilah morfem menempati posisi yang sangat sentral. Jika fonologi membahas bunyi bahasa dan sintaksis membahas hubungan antarkata dalam kalimat, maka morfologi berfokus pada struktur internal kata. Pada titik inilah morfem menjadi objek kajian utama, sebab morfem merupakan satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Tanpa memahami konsep morfem, pembahasan tentang pembentukan kata akan kehilangan pijakan teoretisnya.

Dalam Bahasa Indonesia, morfem memainkan peran penting dalam menjelaskan kekayaan bentuk kata dan variasi makna yang dihasilkan melalui proses morfologis. Banyak kata dalam Bahasa Indonesia tidak berdiri sebagai bentuk tunggal, melainkan sebagai hasil gabungan beberapa morfem yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tertentu. Oleh karena itu, pemahaman tentang pengertian morfem menjadi fondasi awal untuk mengkaji morfologi secara lebih mendalam.

Artikel ini akan membahas pengertian morfem secara komprehensif, mencakup definisi menurut para ahli, ciri-ciri morfem, serta posisi morfem sebagai satuan gramatikal dalam Bahasa Indonesia.

Pengertian Morfem Secara Etimologis dan Konseptual

Secara etimologis, istilah morfem berasal dari bahasa Yunani morphe yang berarti ‘bentuk’. Dalam linguistik, istilah ini digunakan untuk menyebut satuan bahasa terkecil yang memiliki makna. Makna yang dimaksud tidak selalu berupa makna leksikal, tetapi juga dapat berupa makna gramatikal.

Bloomfield (1933) mendefinisikan morfem sebagai bentuk linguistik terkecil yang memiliki makna dan tidak dapat dibagi lagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa menghilangkan makna tersebut. Definisi ini menegaskan dua ciri utama morfem, yaitu memiliki makna dan bersifat minimal.

Dalam konteks linguistik Indonesia, Kridalaksana (2008) mendefinisikan morfem sebagai satuan gramatikal terkecil yang bermakna, yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut ke dalam satuan yang lebih kecil. Definisi ini menempatkan morfem sebagai dasar pembentukan kata dan sebagai unsur penting dalam sistem gramatikal bahasa.

Chaer (2015) menyatakan bahwa morfem adalah satuan bahasa terkecil yang mengandung makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal, serta menjadi bahan dasar dalam proses pembentukan kata. Dengan demikian, morfem dapat berupa kata dasar maupun unsur terikat yang berfungsi membentuk makna gramatikal tertentu.

Berdasarkan berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfem adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna dan berfungsi sebagai unsur pembentuk kata dalam sistem bahasa.

Morfem sebagai Satuan Gramatikal

Sebagai satuan gramatikal, morfem memiliki peran penting dalam membentuk struktur bahasa. Morfem tidak hanya membentuk kata, tetapi juga menentukan fungsi gramatikal kata tersebut dalam kalimat. Dalam Bahasa Indonesia, makna gramatikal sering kali diwujudkan melalui morfem terikat seperti afiks.

Sebagai contoh, kata baca merupakan satu morfem yang memiliki makna leksikal. Ketika ditambahkan prefiks me-, terbentuk kata membaca yang menunjukkan aktivitas atau perbuatan. Dalam hal ini, prefiks me- merupakan morfem gramatikal yang berfungsi menandai verba aktif.

Ramlan (2009) menegaskan bahwa morfem merupakan satuan gramatikal karena berperan dalam pembentukan makna gramatikal, seperti waktu, aspek, pelaku, dan relasi sintaktis. Oleh karena itu, morfem tidak dapat dilepaskan dari kajian tata bahasa secara keseluruhan.

Ciri-Ciri Morfem

Untuk membedakan morfem dari satuan bahasa lainnya, terdapat beberapa ciri utama yang melekat pada morfem.

Pertama, morfem merupakan satuan terkecil yang bermakna. Artinya, jika satuan tersebut dibagi lagi, maka maknanya akan hilang atau berubah. Sebagai contoh, kata rumah terdiri atas satu morfem. Jika dibagi menjadi ru dan mah, kedua bentuk tersebut tidak memiliki makna dalam Bahasa Indonesia.

Kedua, morfem dapat berupa bentuk bebas maupun terikat. Morfem bebas dapat berdiri sendiri sebagai kata, sedangkan morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain.

Ketiga, morfem memiliki fungsi gramatikal atau leksikal. Morfem leksikal mengandung makna konseptual, seperti air, tulis, dan jalan. Morfem gramatikal mengandung makna struktural, seperti me-, di-, dan -kan.

Keempat, morfem bersifat produktif, artinya dapat digunakan untuk membentuk kata-kata baru sesuai kaidah bahasa. Produktivitas ini menjadi salah satu ciri khas morfologi Bahasa Indonesia.

Ilustrasi Morfem dalam Bahasa Indonesia

Untuk memperjelas konsep morfem, berikut beberapa ilustrasi dalam Bahasa Indonesia.

Kata bermain terdiri atas dua morfem, yaitu ber- dan main. Morfem main merupakan morfem bebas dengan makna leksikal, sedangkan ber- merupakan morfem terikat yang memberikan makna gramatikal ‘melakukan aktivitas’.

Kata ketidakhadiran terdiri atas beberapa morfem, yaitu ke-, tidak, hadir, dan -an. Setiap morfem memiliki fungsi masing-masing dalam membentuk makna keseluruhan kata tersebut. Tanpa memahami struktur morfemisnya, makna kata kompleks seperti ini akan sulit dipahami secara mendalam.

Ilustrasi lain dapat dilihat pada kata pengajaran yang terdiri atas morfem pe-, ajar, dan -an. Ketiga morfem tersebut membentuk nomina yang merujuk pada proses atau hasil mengajar.

Perbedaan Morfem dan Kata

Dalam kajian linguistik, sering terjadi kebingungan antara konsep morfem dan kata. Meskipun keduanya berkaitan erat, morfem dan kata bukanlah konsep yang sama. Kata merupakan satuan gramatikal yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan, sedangkan morfem adalah unsur pembentuk kata.

Sebagai contoh, kata menuliskan merupakan satu kata, tetapi terdiri atas tiga morfem, yaitu me-, tulis, dan -kan. Dengan demikian, satu kata dapat terdiri atas satu atau lebih morfem.

Kridalaksana (2008) menekankan bahwa tidak semua morfem adalah kata, tetapi setiap kata pasti terdiri atas satu atau lebih morfem. Pernyataan ini memperjelas kedudukan morfem sebagai satuan dasar dalam morfologi.

Morfem dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman tentang morfem memiliki implikasi praktis yang signifikan. Dengan memahami morfem, peserta didik dapat memperluas kosakata, memahami makna kata secara lebih mendalam, serta menghindari kesalahan penggunaan imbuhan.

Pemahaman morfem juga membantu peserta didik dalam membaca teks ilmiah yang banyak menggunakan kata-kata kompleks dan abstrak. Dengan menguraikan struktur morfemis suatu kata, peserta didik dapat menafsirkan makna kata tersebut secara lebih akurat.

Chaer (2015) menyatakan bahwa pembelajaran morfologi yang berfokus pada morfem akan membantu peserta didik memahami sistem bahasa secara lebih logis dan sistematis.

Penutup

Pengertian morfem merupakan konsep dasar yang sangat penting dalam kajian morfologi dan tata bahasa Bahasa Indonesia. Morfem sebagai satuan bahasa terkecil yang bermakna menjadi unsur utama dalam pembentukan kata dan makna gramatikal. Dengan memahami morfem, pembelajar bahasa dapat memahami struktur kata secara lebih mendalam dan sistematis.

Sebagai satuan gramatikal, morfem memiliki peran strategis dalam membentuk makna dan fungsi bahasa. Oleh karena itu, penguasaan konsep morfem tidak hanya penting bagi kajian linguistik teoretis, tetapi juga memiliki relevansi praktis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Daftar Pustaka

Bloomfield, L. (1933). Language. New York, NY: Holt, Rinehart and Winston.

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

 

Morfologi



 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...