Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia
1.2 Kedudukan Morfologi dalam Linguistik
Pendahuluan
| Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia |
Dalam kajian linguistik modern, bahasa dipahami sebagai sebuah sistem yang kompleks dan berlapis. Setiap lapisan bahasa saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Morfologi, sebagai salah satu cabang utama linguistik, menempati posisi yang sangat penting karena berfungsi sebagai penghubung antara bunyi bahasa dan struktur kalimat. Kedudukan morfologi dalam linguistik tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga fungsional, sebab melalui morfologi, makna leksikal dan makna gramatikal direalisasikan dalam bentuk kata.
Dalam konteks Bahasa Indonesia, morfologi memiliki kedudukan yang semakin strategis. Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang produktif secara morfologis, terutama melalui proses afiksasi dan reduplikasi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kedudukan morfologi dalam linguistik menjadi penting untuk memahami bagaimana Bahasa Indonesia bekerja sebagai sistem bahasa, baik dari sisi teoretis maupun praktis, khususnya dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa.
Morfologi sebagai Cabang Ilmu Linguistik
Linguistik sebagai ilmu bahasa memiliki beberapa cabang utama, antara lain fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Setiap cabang memiliki objek kajian yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Morfologi menempati posisi di antara fonologi dan sintaksis. Fonologi mengkaji bunyi bahasa, sedangkan sintaksis mengkaji hubungan antarkata dalam kalimat. Morfologi berfungsi menjembatani keduanya dengan mengkaji bagaimana bunyi-bunyi bahasa membentuk kata dan bagaimana kata tersebut siap digunakan dalam struktur sintaksis.
Menurut Verhaar (2016), morfologi merupakan bidang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan hubungannya dengan satuan linguistik lain. Pandangan ini menegaskan bahwa morfologi tidak dapat dipisahkan dari cabang linguistik lainnya. Tanpa morfologi, fonologi hanya akan menghasilkan deretan bunyi tanpa makna gramatikal, sementara sintaksis tidak memiliki satuan kata yang siap dirangkai menjadi kalimat.
Sebagai contoh, bunyi /makan/ secara fonologis hanyalah rangkaian fonem. Namun, melalui kajian morfologi, bunyi tersebut dipahami sebagai kata dasar yang dapat mengalami proses morfologis menjadi memakan, dimakan, makanan, dan pemakan. Setiap bentuk tersebut memiliki fungsi sintaktis dan makna gramatikal yang berbeda.
Kedudukan Morfologi dalam Struktur Linguistik
Dalam struktur linguistik, morfologi menempati posisi sentral karena berkaitan langsung dengan pembentukan kata. Kata merupakan satuan yang sangat penting dalam bahasa, sebab kata menjadi penghubung antara makna dan struktur. Tanpa kata, tidak mungkin terbentuk frasa, klausa, dan kalimat.
Kridalaksana (2008) menyatakan bahwa kata adalah satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. Definisi ini menempatkan morfologi sebagai dasar bagi kajian sintaksis. Artinya, sintaksis bergantung pada hasil proses morfologis. Oleh karena itu, morfologi sering disebut sebagai fondasi struktural dalam linguistik.
Dalam Bahasa Indonesia, kedudukan morfologi semakin menonjol karena peran afiks yang sangat menentukan fungsi kata dalam kalimat. Prefiks me- misalnya, menandai verba aktif, sedangkan prefiks di- menandai verba pasif. Perbedaan ini bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga memengaruhi struktur sintaksis kalimat secara keseluruhan.
Contoh:
1. Guru menjelaskan materi kepada siswa.
2. Materi dijelaskan oleh guru kepada siswa.
Kedua kalimat tersebut memiliki struktur sintaksis yang berbeda akibat perbedaan bentuk morfologis pada kata kerja.
Hubungan Morfologi dengan Fonologi
Kedudukan morfologi dalam linguistik juga dapat dilihat dari hubungannya dengan fonologi. Morfologi memanfaatkan satuan bunyi yang dikaji oleh fonologi untuk membentuk satuan bermakna. Dalam Bahasa Indonesia, hubungan ini tampak jelas pada proses morfofonemik, yaitu perubahan bunyi yang terjadi akibat proses morfologis.
Sebagai contoh, prefiks me- mengalami variasi bentuk menjadi mem-, men-, meng-, dan meny- tergantung pada fonem awal kata dasar. Proses ini menunjukkan bahwa morfologi tidak dapat dilepaskan dari fonologi, sebab pembentukan kata dipengaruhi oleh kaidah bunyi bahasa.
Ramlan (2009) menegaskan bahwa kajian morfologi Bahasa Indonesia harus selalu mempertimbangkan aspek fonologis agar dapat menjelaskan perubahan bentuk kata secara utuh. Dengan demikian, morfologi berperan sebagai penghubung antara sistem bunyi dan sistem makna.
Hubungan Morfologi dengan Sintaksis
Selain dengan fonologi, morfologi memiliki hubungan yang sangat erat dengan sintaksis. Morfologi menyediakan kata dengan kategori dan ciri gramatikal tertentu, sedangkan sintaksis mengatur hubungan antarkata tersebut dalam kalimat.
Dalam Bahasa Indonesia, perubahan kelas kata melalui proses morfologis sangat berpengaruh terhadap struktur sintaksis. Kata ajar sebagai verba dasar dapat berubah menjadi pengajar (nomina) atau pelajaran (nomina abstrak). Perubahan ini menentukan posisi dan fungsi kata dalam kalimat.
Contoh:
· Guru mengajar di kelas.
· Pengajar itu sangat berpengalaman.
Perbedaan bentuk morfologis menyebabkan perbedaan fungsi sintaktis, meskipun berasal dari kata dasar yang sama.
Chaer (2015) menyebutkan bahwa morfologi dan sintaksis merupakan dua cabang linguistik yang sulit dipisahkan, karena keduanya sama-sama mengkaji struktur gramatikal bahasa. Namun, perbedaannya terletak pada satuan kajian, morfologi pada kata, dan sintaksis pada kalimat.
Morfologi dalam Linguistik Teoretis dan Terapan
Kedudukan morfologi dalam linguistik tidak hanya penting dalam kajian teoretis, tetapi juga dalam linguistik terapan. Dalam linguistik teoretis, morfologi berperan dalam merumuskan kaidah pembentukan kata dan sistem morfem dalam suatu bahasa. Kajian ini penting untuk memahami tipologi bahasa, termasuk karakteristik Bahasa Indonesia sebagai bahasa aglutinatif.
Dalam linguistik terapan, morfologi memiliki peran praktis dalam pembelajaran bahasa, penyusunan kamus, penerjemahan, dan pengolahan bahasa alami (natural language processing). Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman morfologi membantu peserta didik memahami makna kata, memperluas kosakata, serta menggunakan kata secara tepat dalam konteks kalimat.
Sebagai contoh, kesalahan penggunaan afiks sering terjadi pada pembelajar bahasa. Kata memperbaiki sering disalahgunakan menjadi memperbaik. Kesalahan ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kaidah morfologi Bahasa Indonesia.
Morfologi sebagai Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam dunia pendidikan, kedudukan morfologi sangat strategis. Morfologi menjadi dasar dalam pembelajaran membaca, menulis, dan memahami teks. Dengan memahami struktur kata, peserta didik dapat menebak makna kata baru dan memahami hubungan makna antarkata dalam teks.
Dalam kurikulum Bahasa Indonesia, materi morfologi biasanya terintegrasi dalam pembelajaran kebahasaan. Guru tidak hanya mengajarkan bentuk kata, tetapi juga fungsi dan makna gramatikalnya. Oleh karena itu, morfologi berperan sebagai jembatan antara teori linguistik dan praktik pembelajaran bahasa.
Penutup
Kedudukan morfologi dalam linguistik sangatlah fundamental. Morfologi menempati posisi sentral sebagai penghubung antara fonologi dan sintaksis, serta sebagai dasar pembentukan makna gramatikal dalam bahasa. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfologi semakin penting karena kekayaan proses pembentukan kata yang dimilikinya.
Pemahaman yang baik tentang kedudukan morfologi dalam linguistik akan membantu pembelajar bahasa, pendidik, dan peneliti untuk memahami bahasa secara lebih utuh dan sistematis. Dengan demikian, morfologi tidak hanya dipandang sebagai cabang linguistik yang bersifat teknis, tetapi juga sebagai kunci dalam memahami hakikat bahasa itu sendiri.
Daftar Pustaka
Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar