Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia
1.3 Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pendahuluan
| Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia |
Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang struktur bahasa itu sendiri. Salah satu aspek struktural yang paling fundamental adalah morfologi. Morfologi berperan penting dalam membantu peserta didik memahami bagaimana kata dibentuk, bagaimana makna kata berubah, serta bagaimana kata digunakan secara tepat dalam konteks kalimat dan wacana. Oleh karena itu, morfologi memiliki kedudukan strategis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, baik sebagai materi kebahasaan maupun sebagai alat untuk meningkatkan keterampilan berbahasa.
Dalam praktik pembelajaran, morfologi sering kali dipandang sekadar sebagai materi teknis yang membahas imbuhan, pengulangan, atau kata majemuk. Padahal, secara substantif, morfologi merupakan pintu masuk untuk memahami logika bahasa, hubungan bentuk dan makna, serta sistem gramatikal Bahasa Indonesia. Tanpa pemahaman morfologi yang memadai, peserta didik cenderung mengalami kesulitan dalam membaca teks, menulis secara efektif, dan memahami makna kata secara kontekstual.
Hakikat Morfologi dalam Konteks Pembelajaran Bahasa
Morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan deklaratif, tetapi juga sebagai pengetahuan prosedural yang mendukung keterampilan berbahasa. Menurut Chaer (2015), penguasaan morfologi memungkinkan penutur memahami bagaimana sebuah kata dapat berubah bentuk tanpa kehilangan identitas maknanya, serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi fungsi kata dalam kalimat.
Dalam konteks pendidikan, morfologi berfungsi sebagai sarana untuk:
1. memperluas kosakata peserta didik,
2. meningkatkan pemahaman makna kata,
3. mengembangkan kemampuan menulis yang efektif,
4. meningkatkan ketepatan penggunaan bahasa dalam komunikasi lisan dan tulis.
Dengan demikian, morfologi bukanlah tujuan akhir pembelajaran, melainkan alat untuk mencapai kompetensi berbahasa yang lebih tinggi.
Morfologi sebagai Dasar Penguasaan Kosakata
Salah satu kontribusi utama morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dalam penguasaan kosakata. Kosakata Bahasa Indonesia sebagian besar dibentuk melalui proses morfologis, terutama afiksasi. Dengan memahami pola pembentukan kata, peserta didik dapat mengenali dan menafsirkan makna kata baru secara mandiri.
Sebagai contoh, dari kata dasar ajar, peserta didik dapat memahami hubungan makna antara mengajar, pengajar, pelajaran, dan pembelajaran. Pemahaman ini tidak hanya bersifat hafalan, tetapi bersifat analitis, karena peserta didik memahami peran setiap afiks dalam membentuk makna.
Kridalaksana (2008) menegaskan bahwa morfologi memberikan kerangka sistematis bagi pengembangan kosakata, karena setiap proses morfologis mengikuti kaidah tertentu. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman kaidah ini membantu peserta didik untuk menebak makna kata yang belum pernah mereka temui sebelumnya, khususnya dalam teks bacaan akademik atau ilmiah.
Peran Morfologi dalam Keterampilan Membaca
Dalam keterampilan membaca, morfologi berperan penting dalam membantu pembaca memahami makna teks. Pemahaman morfologis memungkinkan pembaca mengenali struktur kata dan hubungan makna antarkata dalam sebuah teks. Hal ini sangat penting dalam membaca teks informatif dan ilmiah yang banyak menggunakan kata turunan dan istilah abstrak.
Sebagai ilustrasi, kata ketidakberdayaan dapat diuraikan menjadi ke-, tidak, berdaya, dan -an. Dengan memahami struktur ini, pembaca dapat memahami makna kata tersebut secara lebih cepat dan akurat. Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata kompleks semacam ini dapat menjadi hambatan dalam memahami isi bacaan.
Ramlan (2009) menyatakan bahwa penguasaan morfologi dapat meningkatkan kemampuan inferensi makna dalam membaca, karena pembaca mampu memanfaatkan petunjuk bentuk kata untuk menafsirkan makna leksikal dan gramatikal.
Morfologi dan Keterampilan Menulis
Dalam keterampilan menulis, morfologi berperan dalam menentukan ketepatan dan keefektifan penggunaan kata. Kesalahan morfologis sering kali menyebabkan tulisan menjadi tidak baku atau bahkan menimbulkan ambiguitas makna. Contoh kesalahan yang sering ditemukan adalah penggunaan afiks yang tidak tepat, seperti memperbaiki yang ditulis menjadi memperbaik atau di jelaskan yang seharusnya ditulis dijelaskan.
Dalam pembelajaran menulis, penguasaan morfologi membantu peserta didik:
1. memilih bentuk kata yang sesuai dengan konteks,
2. membedakan fungsi afiks gramatikal,
3. menghasilkan kalimat yang efektif dan baku.
Chaer (2015) menekankan bahwa kemampuan menulis yang baik tidak hanya ditentukan oleh ide dan struktur kalimat, tetapi juga oleh ketepatan penggunaan bentuk kata. Oleh karena itu, morfologi menjadi salah satu fondasi penting dalam pembelajaran menulis Bahasa Indonesia.
Morfologi dalam Pembelajaran Tata Bahasa Kontekstual
Pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini cenderung menekankan pembelajaran tata bahasa secara kontekstual, bukan secara terpisah. Dalam pendekatan ini, morfologi diajarkan melalui penggunaan bahasa dalam konteks nyata, seperti teks narasi, eksposisi, dan argumentasi.
Morfologi dalam pembelajaran kontekstual tidak diajarkan sebagai daftar imbuhan semata, tetapi sebagai bagian dari makna dan fungsi bahasa. Misalnya, penggunaan prefiks di- dalam teks prosedur dapat dikaitkan dengan kalimat pasif yang menekankan proses, bukan pelaku. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya memahami bentuk, tetapi juga memahami alasan penggunaan bentuk tersebut.
Menurut Verhaar (2016), pembelajaran morfologi yang kontekstual akan lebih bermakna karena peserta didik melihat langsung fungsi morfologi dalam komunikasi nyata. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan kompetensi komunikatif.
Morfologi dan Pembelajaran Berbasis Teks
Dalam kurikulum Bahasa Indonesia berbasis teks, morfologi memiliki peran strategis dalam membantu peserta didik memahami karakteristik kebahasaan setiap jenis teks. Setiap teks memiliki kecenderungan penggunaan bentuk morfologis tertentu. Misalnya, teks laporan banyak menggunakan nomina abstrak seperti pengamatan, pengukuran, dan pengelompokan, sedangkan teks prosedur banyak menggunakan verba imperatif dan pasif.
Dengan memahami ciri morfologis tersebut, peserta didik dapat:
1. mengenali jenis teks melalui ciri kebahasaannya,
2. memproduksi teks sesuai kaidah kebahasaan,
3. meningkatkan kesadaran berbahasa secara kritis.
Dalam hal ini, morfologi berfungsi sebagai alat analisis teks sekaligus sebagai panduan produksi teks.
Tantangan Pembelajaran Morfologi Bahasa Indonesia
Meskipun memiliki peran penting, pembelajaran morfologi Bahasa Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan pembelajaran yang bersifat mekanis dan berorientasi hafalan. Peserta didik sering diminta menghafal jenis imbuhan tanpa memahami fungsi dan maknanya dalam konteks penggunaan.
Selain itu, perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis juga sering menimbulkan kesulitan morfologis. Dalam bahasa lisan, bentuk-bentuk tidak baku sering digunakan dan dianggap wajar, tetapi dalam bahasa tulis akademik, ketepatan morfologis menjadi tuntutan utama.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran morfologi yang integratif, kontekstual, dan aplikatif agar peserta didik dapat memahami morfologi sebagai bagian hidup dari penggunaan bahasa.
Penutup
Morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat fundamental dan strategis. Morfologi tidak hanya berfungsi sebagai materi kebahasaan, tetapi juga sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan membaca, menulis, dan memahami teks secara kritis. Pemahaman morfologi membantu peserta didik menguasai kosakata, memahami makna kata secara kontekstual, serta menggunakan bahasa secara tepat dan efektif.
Dengan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis teks, morfologi dapat diajarkan secara lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, morfologi perlu ditempatkan sebagai bagian integral dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, bukan sebagai materi pelengkap, melainkan sebagai fondasi penguasaan bahasa yang utuh.
Daftar Pustaka
Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar