Pendahuluan
Bagaimana Bayi Belajar Bunyi? |
Salah satu pertanyaan paling menarik dalam kajian linguistik dan neurolinguistik adalah: bagaimana bayi belajar bunyi bahasa? Sebelum mampu mengucapkan kata pertama, bahkan sebelum memahami makna ujaran orang dewasa, bayi telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengenali dan membedakan bunyi bahasa (speech sounds). Penelitian selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kemampuan ini sudah muncul sejak lahir — bahkan sejak dalam kandungan.
Kemampuan membedakan bunyi terkecil dalam bahasa, yang dikenal sebagai fonem, merupakan fondasi utama bagi perkembangan bahasa selanjutnya. Fonem adalah unit bunyi terkecil yang dapat membedakan makna, seperti perbedaan antara /p/ dan /b/ dalam kata “paku” dan “baku”. Tanpa kemampuan membedakan fonem, mustahil seorang anak dapat membangun kosakata, tata bahasa, dan sistem komunikasi yang kompleks.
Artikel ini membahas bagaimana bayi mengenali bunyi bahasa sejak lahir, bagaimana kemampuan tersebut berkembang dalam tahun pertama kehidupan, serta bagaimana faktor biologis dan lingkungan bekerja bersama dalam proses ini.
Kemampuan Auditori Sejak Dalam Kandungan
Perkembangan sistem pendengaran manusia dimulai sejak masa prenatal. Sekitar usia kehamilan 25–28 minggu, sistem auditori janin mulai berfungsi. Pada trimester terakhir, janin sudah mampu merespons suara dari luar rahim, terutama suara ibu.
Penelitian menunjukkan bahwa bayi baru lahir dapat mengenali suara ibunya dan bahkan menunjukkan preferensi terhadap bahasa yang sering mereka dengar selama dalam kandungan (DeCasper & Spence, 1986). Hal ini menunjukkan bahwa paparan bunyi bahasa dimulai sebelum kelahiran.
Meskipun suara yang didengar di dalam rahim teredam dan tidak jelas secara fonetik, ritme, intonasi, dan pola prosodi bahasa tetap dapat dipersepsi. Ini menjadi dasar awal bagi perkembangan fonologis setelah bayi lahir.
Bayi sebagai “Warga Dunia Fonetik”
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian fonologi perkembangan adalah bahwa bayi pada awal kehidupannya merupakan pendengar universal. Artinya, mereka mampu membedakan hampir semua kontras fonem dari berbagai bahasa di dunia, bukan hanya bahasa ibu mereka.
Penelitian klasik oleh Eimas dan koleganya (1971) menunjukkan bahwa bayi berusia satu hingga empat bulan dapat membedakan kontras bunyi seperti /ba/ dan /pa/ berdasarkan perbedaan voice onset time (VOT). Yang menarik, kemampuan ini muncul jauh sebelum bayi memahami makna kata.
Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa bayi berusia enam bulan dapat membedakan kontras fonem yang tidak terdapat dalam bahasa lingkungan mereka. Misalnya, bayi penutur bahasa Inggris dapat membedakan kontras bunyi dalam bahasa Hindi atau bahasa Salish yang tidak ada dalam bahasa Inggris (Werker & Tees, 1984).
Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem persepsi bunyi bayi bersifat sangat fleksibel dan belum terikat pada satu sistem bahasa tertentu.
Penyempitan Persepsi (Perceptual Narrowing)
Namun, kemampuan universal ini tidak bertahan selamanya. Sekitar usia 9–12 bulan, bayi mulai mengalami fenomena yang disebut perceptual narrowing atau penyempitan persepsi.
Dalam periode ini:
· Bayi menjadi semakin sensitif terhadap kontras bunyi dalam bahasa ibu mereka.
· Kemampuan membedakan kontras bunyi yang tidak relevan dalam bahasa lingkungan mulai menurun.
Werker dan Tees (1984) menunjukkan bahwa bayi berusia 10–12 bulan tidak lagi mampu membedakan kontras fonem asing yang sebelumnya dapat mereka bedakan pada usia 6 bulan.
Proses ini bukan kehilangan kemampuan, melainkan spesialisasi sistem persepsi. Otak bayi menyesuaikan diri dengan pola bunyi yang paling sering mereka dengar, sehingga menjadi lebih efisien dalam memproses bahasa ibu.
Peran Statistik dalam Pembelajaran Bunyi
Bagaimana bayi mengetahui bunyi mana yang relevan dalam bahasa mereka?
Penelitian menunjukkan bahwa bayi menggunakan mekanisme statistical learning, yaitu kemampuan untuk mendeteksi pola distribusi bunyi dalam input bahasa (Kuhl, 2004).
Sebagai contoh:
Jika bayi sering mendengar variasi bunyi antara /r/ dan /l/ dalam bahasa Jepang yang tidak membedakan makna secara fonemik, maka sistem mereka akan mengelompokkan kedua bunyi tersebut sebagai satu kategori. Sebaliknya, dalam bahasa Inggris, perbedaan /r/ dan /l/ memiliki nilai fonemik yang penting.
Dengan mendengarkan distribusi frekuensi bunyi, bayi membangun kategori fonemik secara bertahap.
Mekanisme Neurologis dalam Persepsi Bunyi
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa otak bayi telah memiliki jaringan saraf yang siap memproses bunyi bahasa sejak lahir.
Beberapa temuan penting:
1. Bayi menunjukkan respons berbeda dalam gelombang otak (melalui EEG) ketika mendengar bunyi yang berbeda.
2. Area temporal otak yang berkaitan dengan pemrosesan bahasa sudah aktif sejak usia sangat dini.
3. Paparan bahasa memengaruhi penguatan koneksi neural dalam tahun pertama kehidupan.
Kuhl (2004) menyebut fenomena ini sebagai neural commitment, yaitu proses di mana otak bayi “berkomitmen” pada pola fonetik bahasa yang sering mereka dengar.
Dengan kata lain, pengalaman linguistik membentuk arsitektur neural otak bayi.
Peran Interaksi Sosial
Meskipun kemampuan membedakan bunyi bersifat biologis, interaksi sosial memainkan peran krusial dalam mempertahankan dan mengembangkan kemampuan tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa:
· Bayi belajar lebih efektif melalui interaksi langsung dibandingkan melalui rekaman audio atau video.
· Kontak mata, ekspresi wajah, dan respons emosional memperkuat pembelajaran fonetik.
Kuhl (2007) menemukan bahwa bayi yang berinteraksi langsung dengan penutur bahasa asing menunjukkan peningkatan kemampuan diskriminasi fonem, sementara bayi yang hanya mendengar rekaman tidak menunjukkan peningkatan signifikan.
Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya fenomena akustik, tetapi juga sosial.
Dari Persepsi ke Produksi
Kemampuan membedakan bunyi mendahului kemampuan memproduksi bunyi.
Urutan perkembangan biasanya sebagai berikut:
1. Persepsi fonem (0–6 bulan)
2. Babbling universal (6–9 bulan)
3. Babbling spesifik bahasa (9–12 bulan)
4. Kata pertama (sekitar 12 bulan)
Menariknya, pola babbling mulai mencerminkan fonologi bahasa ibu sekitar usia 10 bulan. Ini menunjukkan bahwa sistem persepsi yang telah terspesialisasi mulai memengaruhi produksi ujaran.
Faktor Bilingualisme
Bayi yang tumbuh dalam lingkungan bilingual menunjukkan pola perkembangan yang sedikit berbeda.
Penelitian menunjukkan bahwa bayi bilingual dapat mempertahankan sensitivitas terhadap dua sistem fonemik lebih lama dibandingkan bayi monolingual. Ini menunjukkan fleksibilitas sistem kognitif dalam menyesuaikan diri dengan lebih dari satu bahasa.
Namun, proses ini tidak menyebabkan kebingungan bahasa. Sebaliknya, sistem kognitif bayi mampu memisahkan dua sistem fonologis secara efektif.
Implikasi bagi Pendidikan dan Pengasuhan
Pemahaman tentang bagaimana bayi belajar bunyi memiliki implikasi penting:
1. Paparan dini penting – Semakin awal bayi terpapar bahasa, semakin optimal perkembangan fonologisnya.
2. Interaksi langsung lebih efektif daripada media pasif.
3. Lingkungan kaya bahasa mendukung perkembangan neural optimal.
Bagi orang tua dan pendidik, ini berarti bahwa berbicara secara aktif kepada bayi sejak lahir bukanlah hal sia-sia, melainkan investasi penting bagi perkembangan bahasa mereka.
Kesimpulan
Kemampuan bayi dalam membedakan fonem sejak lahir merupakan salah satu bukti paling kuat bahwa manusia memiliki kesiapan biologis untuk bahasa. Pada awal kehidupan, bayi adalah “warga dunia fonetik” yang mampu membedakan hampir semua bunyi bahasa manusia.
Namun, melalui proses penyempitan persepsi dan pembelajaran statistik, sistem fonologis mereka menjadi terspesialisasi sesuai bahasa lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi kompleks antara predisposisi biologis, pengalaman auditori, dan interaksi sosial.
Dari sinilah fondasi bahasa manusia dibangun — jauh sebelum kata pertama diucapkan.
Referensi
DeCasper, A. J., & Spence, M. J. (1986). Prenatal maternal speech influences newborns’ perception of speech sounds. Infant Behavior and Development, 9(2), 133–150.
Eimas, P. D., Siqueland, E. R., Jusczyk, P., & Vigorito, J. (1971). Speech perception in infants. Science, 171(3968), 303–306.
Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.
Kuhl, P. K. (2007). Is speech learning ‘gated’ by the social brain? Developmental Science, 10(1), 110–120.
Werker, J. F., & Tees, R. C. (1984). Cross-language speech perception: Evidence for perceptual reorganization during the first year of life. Infant Behavior and Development, 7(1), 49–63.
