Minggu, 15 Februari 2026

Bagaimana Bayi Belajar Bunyi? Kemampuan Membedakan Fonem Sejak Lahir

Pendahuluan

Bagaimana Bayi Belajar Bunyi?


Salah satu pertanyaan paling menarik dalam kajian linguistik dan neurolinguistik adalah: bagaimana bayi belajar bunyi bahasa? Sebelum mampu mengucapkan kata pertama, bahkan sebelum memahami makna ujaran orang dewasa, bayi telah menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengenali dan membedakan bunyi bahasa (speech sounds). Penelitian selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kemampuan ini sudah muncul sejak lahir — bahkan sejak dalam kandungan.

Kemampuan membedakan bunyi terkecil dalam bahasa, yang dikenal sebagai fonem, merupakan fondasi utama bagi perkembangan bahasa selanjutnya. Fonem adalah unit bunyi terkecil yang dapat membedakan makna, seperti perbedaan antara /p/ dan /b/ dalam kata “paku” dan “baku”. Tanpa kemampuan membedakan fonem, mustahil seorang anak dapat membangun kosakata, tata bahasa, dan sistem komunikasi yang kompleks.

Artikel ini membahas bagaimana bayi mengenali bunyi bahasa sejak lahir, bagaimana kemampuan tersebut berkembang dalam tahun pertama kehidupan, serta bagaimana faktor biologis dan lingkungan bekerja bersama dalam proses ini.

 

Kemampuan Auditori Sejak Dalam Kandungan

Perkembangan sistem pendengaran manusia dimulai sejak masa prenatal. Sekitar usia kehamilan 25–28 minggu, sistem auditori janin mulai berfungsi. Pada trimester terakhir, janin sudah mampu merespons suara dari luar rahim, terutama suara ibu.

Penelitian menunjukkan bahwa bayi baru lahir dapat mengenali suara ibunya dan bahkan menunjukkan preferensi terhadap bahasa yang sering mereka dengar selama dalam kandungan (DeCasper & Spence, 1986). Hal ini menunjukkan bahwa paparan bunyi bahasa dimulai sebelum kelahiran.

Meskipun suara yang didengar di dalam rahim teredam dan tidak jelas secara fonetik, ritme, intonasi, dan pola prosodi bahasa tetap dapat dipersepsi. Ini menjadi dasar awal bagi perkembangan fonologis setelah bayi lahir.

 

Bayi sebagai “Warga Dunia Fonetik”

Salah satu temuan paling penting dalam penelitian fonologi perkembangan adalah bahwa bayi pada awal kehidupannya merupakan pendengar universal. Artinya, mereka mampu membedakan hampir semua kontras fonem dari berbagai bahasa di dunia, bukan hanya bahasa ibu mereka.

Penelitian klasik oleh Eimas dan koleganya (1971) menunjukkan bahwa bayi berusia satu hingga empat bulan dapat membedakan kontras bunyi seperti /ba/ dan /pa/ berdasarkan perbedaan voice onset time (VOT). Yang menarik, kemampuan ini muncul jauh sebelum bayi memahami makna kata.

Penelitian lanjutan menunjukkan bahwa bayi berusia enam bulan dapat membedakan kontras fonem yang tidak terdapat dalam bahasa lingkungan mereka. Misalnya, bayi penutur bahasa Inggris dapat membedakan kontras bunyi dalam bahasa Hindi atau bahasa Salish yang tidak ada dalam bahasa Inggris (Werker & Tees, 1984).

Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem persepsi bunyi bayi bersifat sangat fleksibel dan belum terikat pada satu sistem bahasa tertentu.

 

Penyempitan Persepsi (Perceptual Narrowing)

Namun, kemampuan universal ini tidak bertahan selamanya. Sekitar usia 9–12 bulan, bayi mulai mengalami fenomena yang disebut perceptual narrowing atau penyempitan persepsi.

Dalam periode ini:

·         Bayi menjadi semakin sensitif terhadap kontras bunyi dalam bahasa ibu mereka.

·         Kemampuan membedakan kontras bunyi yang tidak relevan dalam bahasa lingkungan mulai menurun.

Werker dan Tees (1984) menunjukkan bahwa bayi berusia 10–12 bulan tidak lagi mampu membedakan kontras fonem asing yang sebelumnya dapat mereka bedakan pada usia 6 bulan.

Proses ini bukan kehilangan kemampuan, melainkan spesialisasi sistem persepsi. Otak bayi menyesuaikan diri dengan pola bunyi yang paling sering mereka dengar, sehingga menjadi lebih efisien dalam memproses bahasa ibu.

 

Peran Statistik dalam Pembelajaran Bunyi

Bagaimana bayi mengetahui bunyi mana yang relevan dalam bahasa mereka?

Penelitian menunjukkan bahwa bayi menggunakan mekanisme statistical learning, yaitu kemampuan untuk mendeteksi pola distribusi bunyi dalam input bahasa (Kuhl, 2004).

Sebagai contoh:

Jika bayi sering mendengar variasi bunyi antara /r/ dan /l/ dalam bahasa Jepang yang tidak membedakan makna secara fonemik, maka sistem mereka akan mengelompokkan kedua bunyi tersebut sebagai satu kategori. Sebaliknya, dalam bahasa Inggris, perbedaan /r/ dan /l/ memiliki nilai fonemik yang penting.

Dengan mendengarkan distribusi frekuensi bunyi, bayi membangun kategori fonemik secara bertahap.

 

Mekanisme Neurologis dalam Persepsi Bunyi

Penelitian neurosains menunjukkan bahwa otak bayi telah memiliki jaringan saraf yang siap memproses bunyi bahasa sejak lahir.

Beberapa temuan penting:

1.      Bayi menunjukkan respons berbeda dalam gelombang otak (melalui EEG) ketika mendengar bunyi yang berbeda.

2.      Area temporal otak yang berkaitan dengan pemrosesan bahasa sudah aktif sejak usia sangat dini.

3.      Paparan bahasa memengaruhi penguatan koneksi neural dalam tahun pertama kehidupan.

Kuhl (2004) menyebut fenomena ini sebagai neural commitment, yaitu proses di mana otak bayi “berkomitmen” pada pola fonetik bahasa yang sering mereka dengar.

Dengan kata lain, pengalaman linguistik membentuk arsitektur neural otak bayi.

 

Peran Interaksi Sosial

Meskipun kemampuan membedakan bunyi bersifat biologis, interaksi sosial memainkan peran krusial dalam mempertahankan dan mengembangkan kemampuan tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa:

·         Bayi belajar lebih efektif melalui interaksi langsung dibandingkan melalui rekaman audio atau video.

·         Kontak mata, ekspresi wajah, dan respons emosional memperkuat pembelajaran fonetik.

Kuhl (2007) menemukan bahwa bayi yang berinteraksi langsung dengan penutur bahasa asing menunjukkan peningkatan kemampuan diskriminasi fonem, sementara bayi yang hanya mendengar rekaman tidak menunjukkan peningkatan signifikan.

Ini menunjukkan bahwa bahasa bukan hanya fenomena akustik, tetapi juga sosial.

 

Dari Persepsi ke Produksi

Kemampuan membedakan bunyi mendahului kemampuan memproduksi bunyi.

Urutan perkembangan biasanya sebagai berikut:

1.      Persepsi fonem (0–6 bulan)

2.      Babbling universal (6–9 bulan)

3.      Babbling spesifik bahasa (9–12 bulan)

4.      Kata pertama (sekitar 12 bulan)

Menariknya, pola babbling mulai mencerminkan fonologi bahasa ibu sekitar usia 10 bulan. Ini menunjukkan bahwa sistem persepsi yang telah terspesialisasi mulai memengaruhi produksi ujaran.

 

Faktor Bilingualisme

Bayi yang tumbuh dalam lingkungan bilingual menunjukkan pola perkembangan yang sedikit berbeda.

Penelitian menunjukkan bahwa bayi bilingual dapat mempertahankan sensitivitas terhadap dua sistem fonemik lebih lama dibandingkan bayi monolingual. Ini menunjukkan fleksibilitas sistem kognitif dalam menyesuaikan diri dengan lebih dari satu bahasa.

Namun, proses ini tidak menyebabkan kebingungan bahasa. Sebaliknya, sistem kognitif bayi mampu memisahkan dua sistem fonologis secara efektif.

 

Implikasi bagi Pendidikan dan Pengasuhan

Pemahaman tentang bagaimana bayi belajar bunyi memiliki implikasi penting:

1.      Paparan dini penting – Semakin awal bayi terpapar bahasa, semakin optimal perkembangan fonologisnya.

2.      Interaksi langsung lebih efektif daripada media pasif.

3.      Lingkungan kaya bahasa mendukung perkembangan neural optimal.

Bagi orang tua dan pendidik, ini berarti bahwa berbicara secara aktif kepada bayi sejak lahir bukanlah hal sia-sia, melainkan investasi penting bagi perkembangan bahasa mereka.

 

Kesimpulan

Kemampuan bayi dalam membedakan fonem sejak lahir merupakan salah satu bukti paling kuat bahwa manusia memiliki kesiapan biologis untuk bahasa. Pada awal kehidupan, bayi adalah “warga dunia fonetik” yang mampu membedakan hampir semua bunyi bahasa manusia.

Namun, melalui proses penyempitan persepsi dan pembelajaran statistik, sistem fonologis mereka menjadi terspesialisasi sesuai bahasa lingkungan. Proses ini melibatkan interaksi kompleks antara predisposisi biologis, pengalaman auditori, dan interaksi sosial.

Dari sinilah fondasi bahasa manusia dibangun — jauh sebelum kata pertama diucapkan.

 

Referensi

DeCasper, A. J., & Spence, M. J. (1986). Prenatal maternal speech influences newborns’ perception of speech sounds. Infant Behavior and Development, 9(2), 133–150.

Eimas, P. D., Siqueland, E. R., Jusczyk, P., & Vigorito, J. (1971). Speech perception in infants. Science, 171(3968), 303–306.

Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.

Kuhl, P. K. (2007). Is speech learning ‘gated’ by the social brain? Developmental Science, 10(1), 110–120.

Werker, J. F., & Tees, R. C. (1984). Cross-language speech perception: Evidence for perceptual reorganization during the first year of life. Infant Behavior and Development, 7(1), 49–63.

 

 


 

Sabtu, 14 Februari 2026

Nature vs Nurture: Debat antara Skinner (Perilaku) dan Chomsky (Biologis)

Nature vs Nurture: Debat antara Skinner (Perilaku) dan Chomsky (Biologis)

Pendahuluan

Nature vs Nurture:


Salah satu perdebatan paling berpengaruh dalam sejarah linguistik dan psikologi adalah perdebatan antara pendekatan nature (bawaan biologis) dan nurture (lingkungan/pembelajaran) dalam menjelaskan pemerolehan bahasa manusia. Apakah bahasa diperoleh semata-mata melalui proses belajar dari lingkungan, ataukah manusia memiliki perangkat biologis bawaan yang secara khusus dirancang untuk bahasa?

Perdebatan ini mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20 melalui dua tokoh besar: B. F. Skinner, pelopor behaviorisme, dan Noam Chomsky, penggagas linguistik generatif. Skinner berargumen bahwa bahasa dipelajari melalui mekanisme stimulus–respon dan penguatan. Sebaliknya, Chomsky menegaskan bahwa bahasa bersifat bawaan secara biologis dan manusia dilengkapi dengan perangkat khusus untuk mempelajari bahasa.

Artikel ini membahas secara komprehensif akar teoretis kedua pendekatan, argumen utama masing-masing tokoh, kritik yang muncul, serta implikasi debat ini terhadap studi linguistik dan pendidikan bahasa.

 

Skinner dan Pendekatan Behaviorisme (Nurture)

Dasar Teoretis Behaviorisme

Behaviorisme berkembang dalam psikologi awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap pendekatan introspektif yang dianggap tidak ilmiah. Skinner, sebagai tokoh utama behaviorisme radikal, berpendapat bahwa perilaku manusia — termasuk bahasa — dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip pengkondisian operan (operant conditioning) (Skinner, 1957).

Dalam pandangan ini:

·         Perilaku dibentuk oleh stimulus dari lingkungan.

·         Respon yang diperkuat (diberi reward) akan cenderung diulang.

·         Bahasa bukan sistem mental internal, melainkan perilaku verbal yang dipelajari.

Bahasa sebagai Perilaku Verbal

Dalam bukunya Verbal Behavior (1957), Skinner menjelaskan bahwa bahasa berkembang melalui:

1.      Imitasi – Anak meniru ujaran orang dewasa.

2.      Penguatan (reinforcement) – Ketika ujaran anak benar atau mendekati benar, orang tua memberikan respons positif.

3.      Pengulangan dan pembiasaan – Pola bahasa diperkuat melalui latihan berulang.

Contoh sederhana:
Seorang anak mengatakan “ma-ma”. Orang tua tersenyum dan merespons secara positif. Respon ini memperkuat perilaku verbal tersebut sehingga anak mengulanginya.

Menurut Skinner, seluruh sistem bahasa — termasuk tata bahasa — dapat dijelaskan melalui rantai perilaku yang diperkuat secara bertahap.

Kekuatan Pendekatan Skinner

Pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan:

·         Menekankan pentingnya lingkungan sosial.

·         Memberikan model yang dapat diuji secara empiris.

·         Berpengaruh besar dalam metode pembelajaran bahasa berbasis pengulangan dan latihan (drill).

Namun, pendekatan ini menghadapi kritik serius, terutama dari Chomsky.

 

Chomsky dan Pendekatan Nativisme (Nature)

Kritik terhadap Skinner

Pada tahun 1959, Chomsky menulis ulasan kritis terhadap buku Verbal Behavior karya Skinner. Dalam kritik tersebut, Chomsky menyatakan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan kreativitas bahasa manusia (Chomsky, 1959).

Beberapa kritik utama Chomsky:

1.      Bahasa bersifat kreatif dan produktif
Manusia mampu menghasilkan kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

2.      Kemiskinan rangsangan (poverty of the stimulus)
Input bahasa yang diterima anak terbatas dan sering tidak sempurna, tetapi anak tetap dapat membentuk tata bahasa kompleks.

3.      Kesalahan sistematis anak
Anak menghasilkan bentuk seperti “goed” alih-alih “went”. Ini menunjukkan bahwa mereka membangun aturan, bukan sekadar meniru.

Language Acquisition Device (LAD)

Chomsky mengajukan gagasan bahwa manusia memiliki perangkat bawaan yang disebut Language Acquisition Device (LAD), yaitu mekanisme mental yang memungkinkan anak mempelajari bahasa secara alami (Chomsky, 1965).

Menurut pendekatan ini:

·         Bahasa adalah bagian dari struktur biologis manusia.

·         Semua bahasa memiliki prinsip universal yang sama (Universal Grammar).

·         Otak manusia secara genetik diprogram untuk mengenali struktur bahasa.

Universal Grammar

Chomsky juga mengembangkan konsep Universal Grammar (UG), yakni seperangkat prinsip dasar yang berlaku pada semua bahasa manusia. Perbedaan antarbahasa hanya terletak pada parameter tertentu.

Pendekatan ini memandang bahasa sebagai sistem kognitif yang kompleks dan unik pada manusia.

 

Perbandingan Konseptual: Skinner vs Chomsky

Aspek

Skinner (Nurture)

Chomsky (Nature)

Dasar Teoretis

Behaviorisme

Nativisme

Peran Lingkungan

Dominan

Penting tetapi bukan utama

Peran Biologi

Minimal

Sentral

Mekanisme Belajar

Penguatan dan imitasi

Perangkat bawaan (LAD)

Kreativitas Bahasa

Hasil pembiasaan

Bukti struktur mental internal

Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan metode, tetapi perbedaan paradigma tentang hakikat manusia dan bahasa.

Dampak Debat terhadap Linguistik dan Psikologi

1. Revolusi Kognitif

Kritik Chomsky terhadap behaviorisme dianggap sebagai salah satu pemicu revolusi kognitif dalam psikologi. Fokus penelitian bergeser dari perilaku yang dapat diamati ke proses mental internal.

2. Perkembangan Linguistik Generatif

Teori Chomsky melahirkan tradisi linguistik generatif yang menekankan analisis struktur sintaksis dan representasi mental bahasa.

3. Implikasi dalam Pendidikan Bahasa

Pendekatan behavioris memengaruhi metode pembelajaran berbasis latihan dan pengulangan (misalnya metode audiolingual).

Sebaliknya, pendekatan nativis mendorong pemahaman bahwa anak secara alami siap untuk bahasa dan membutuhkan input bermakna, bukan sekadar pengulangan mekanis.

Kritik terhadap Kedua Pendekatan

Meskipun berpengaruh, kedua teori ini tidak lepas dari kritik.

Kritik terhadap Skinner

·         Tidak mampu menjelaskan kreativitas bahasa.

·         Mengabaikan struktur internal tata bahasa.

·         Tidak cukup menjelaskan pemerolehan cepat pada anak.

Kritik terhadap Chomsky

·         Konsep LAD sulit diuji secara langsung.

·         Universal Grammar dianggap terlalu abstrak.

·         Kurang memperhatikan variasi sosial dan budaya.

Pendekatan Interaksionis: Jalan Tengah?

Sebagai respons terhadap dikotomi nature vs nurture, muncul pendekatan interaksionis yang menekankan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara faktor biologis dan lingkungan sosial (Bruner, 1983).

Pendekatan ini mengakui:

·         Ada kapasitas biologis bawaan.

·         Lingkungan sosial menyediakan konteks dan input.

·         Interaksi orang tua–anak berperan besar.

Dengan demikian, perdebatan nature vs nurture tidak lagi dipandang sebagai pilihan “salah satu”, melainkan sebagai spektrum yang saling melengkapi.

 

Perspektif Modern dalam Ilmu Bahasa

Penelitian neurolinguistik menunjukkan bahwa:

·         Otak memiliki area khusus untuk bahasa.

·         Paparan lingkungan memengaruhi perkembangan jaringan neural.

·         Pembelajaran bahasa melibatkan interaksi kompleks antara gen dan pengalaman.

Pendekatan kontemporer dalam linguistik dan psikologi perkembangan cenderung melihat bahasa sebagai hasil koordinasi antara predisposisi biologis dan pengalaman sosial.

 

Kesimpulan

Perdebatan antara Skinner dan Chomsky mengenai nature vs nurture dalam pemerolehan bahasa merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah linguistik modern.

Skinner menekankan bahwa bahasa adalah perilaku yang dipelajari melalui penguatan lingkungan. Chomsky, sebaliknya, berargumen bahwa bahasa adalah kapasitas bawaan biologis yang unik pada manusia.

Walaupun kedua pendekatan memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa kemungkinan besar merupakan hasil interaksi antara faktor biologis dan lingkungan.

Dengan memahami debat ini, kita tidak hanya memahami teori bahasa, tetapi juga memperoleh wawasan lebih dalam tentang hakikat manusia sebagai makhluk berbahasa.

 

Referensi

Bruner, J. (1983). Child’s talk: Learning to use language. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1959). Review of B. F. Skinner’s Verbal behavior. Language, 35(1), 26–58.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Skinner, B. F. (1957). Verbal behavior. Appleton-Century-Crofts.

 


 

 

 

 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...