Bab 9. Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
| Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia |
Morfologi merupakan salah satu cabang utama linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, morfologi memiliki peran yang sangat strategis karena menjadi fondasi bagi keterampilan berbahasa, baik dalam aspek membaca, menulis, berbicara, maupun menyimak. Pemahaman terhadap proses pembentukan kata membantu peserta didik memahami makna kata secara lebih mendalam, memperkaya kosakata, serta meningkatkan ketepatan berbahasa.
Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang kaya akan proses morfologis,
terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Proses-proses tersebut sangat
produktif dan berfungsi membentuk makna gramatikal maupun makna leksikal baru
(Kridalaksana, 2008). Oleh karena itu, penguasaan morfologi bukan sekadar
kemampuan mengenali imbuhan, tetapi juga memahami hubungan sistematis antara
bentuk dan makna.
Dalam pembelajaran bahasa, morfologi berkaitan erat dengan pengembangan
kompetensi literasi. Nation (2013) menegaskan bahwa kesadaran morfologis
(morphological awareness) berkontribusi signifikan terhadap perkembangan
kosakata dan pemahaman bacaan. Peserta didik yang memahami struktur kata
cenderung lebih mudah menafsirkan kata-kata baru berdasarkan unsur
pembentuknya. Dengan demikian, morfologi tidak hanya menjadi materi teoretis,
tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam pengajaran Bahasa Indonesia.
Peran Morfologi dalam Pengembangan Kompetensi Berbahasa
1. Pengayaan Kosakata
Salah satu manfaat utama pembelajaran morfologi adalah memperluas kosakata
siswa. Dengan memahami pola afiksasi, siswa dapat menurunkan berbagai bentuk
kata dari satu bentuk dasar. Misalnya, dari kata dasar ajar, siswa dapat
mengenali bentuk mengajar,
pelajar, pelajaran, pengajaran, dan terpelajar. Setiap bentuk
memiliki fungsi dan makna berbeda, tetapi tetap berakar pada konsep dasar yang
sama.
Menurut Lieber (2010), proses derivasi memungkinkan pembentukan leksem baru
yang memperkaya sistem leksikal suatu bahasa. Dalam konteks pembelajaran,
pemahaman ini membantu siswa memahami relasi makna antar kata secara
sistematis, bukan sekadar menghafal bentuk-bentuk lepas.
2. Peningkatan Kemampuan Membaca
Kesadaran morfologis berkontribusi terhadap kemampuan membaca pemahaman.
Siswa yang mampu memecah kata kompleks menjadi morfem-morfem penyusunnya akan
lebih mudah memahami teks akademik yang sering menggunakan kata turunan.
Carlisle (2000) menyatakan bahwa kemampuan menganalisis struktur morfologis
berkorelasi positif dengan pemahaman bacaan pada siswa sekolah.
Dalam Bahasa Indonesia, teks ilmiah dan buku pelajaran sering memuat
kata-kata seperti pengembangan,
ketidaksesuaian,
pertanggungjawaban,
atau keberlanjutan.
Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata tersebut dapat menjadi hambatan dalam
proses membaca.
3. Ketepatan Berbahasa dalam Menulis
Kesalahan penggunaan imbuhan merupakan salah satu bentuk kesalahan berbahasa
yang sering ditemukan dalam tulisan siswa. Misalnya, penggunaan prefiks di- yang sering tertukar
dengan preposisi di.
Pemahaman morfologi membantu siswa membedakan fungsi gramatikal dan ejaan
secara tepat.
Chaer (2014) menekankan bahwa kesalahan morfologis dapat memengaruhi
kejelasan makna dan ketepatan struktur kalimat. Oleh sebab itu, pembelajaran
morfologi harus diintegrasikan dalam latihan menulis agar siswa terbiasa
menggunakan bentuk kata secara benar dan kontekstual.
4. Pembentukan Kesadaran Struktur Bahasa
Pembelajaran morfologi juga menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa memiliki
sistem dan pola yang teratur. Booij (2005) menjelaskan bahwa morfologi merupakan
bagian dari sistem tata bahasa yang produktif. Ketika siswa memahami pola
pembentukan kata, mereka akan lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa
secara kreatif.
9.1 Morfologi dalam Kurikulum Sekolah
Dalam kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah, materi morfologi biasanya
terintegrasi dalam kompetensi kebahasaan. Kurikulum menekankan penguasaan
struktur kata melalui pembelajaran imbuhan, kata ulang, dan kata majemuk.
Namun, pendekatan pembelajarannya sering kali masih bersifat mekanis dan
berfokus pada penghafalan jenis-jenis afiks.
1. Integrasi dalam Kompetensi Dasar
Materi morfologi biasanya tercantum dalam kompetensi dasar yang berkaitan
dengan:
·
Mengidentifikasi penggunaan
imbuhan dalam teks.
·
Menyunting kesalahan
penggunaan kata berimbuhan.
·
Menghasilkan teks dengan
memperhatikan kaidah kebahasaan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa morfologi diajarkan tidak secara terpisah,
melainkan sebagai bagian dari keterampilan berbahasa terpadu.
2. Tantangan dalam Implementasi
Meskipun morfologi telah menjadi bagian dari kurikulum, terdapat beberapa
tantangan dalam pelaksanaannya:
a. Pendekatan
Teoretis yang Dominan
Pembelajaran sering menekankan klasifikasi afiks (prefiks, sufiks, konfiks)
tanpa mengaitkannya dengan fungsi makna dalam konteks nyata.
b. Kurangnya Latihan
Kontekstual
Siswa lebih banyak mengerjakan soal identifikasi bentuk daripada menganalisis
makna dalam teks autentik.
c. Minimnya
Pengembangan Kesadaran Morfologis
Pembelajaran belum sepenuhnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan analitis
siswa dalam membedah struktur kata kompleks.
Menurut Nation (2013), pembelajaran kosakata yang efektif harus mencakup
strategi analisis morfologis, bukan sekadar pemberian daftar kata.
3. Strategi Pembelajaran Morfologi yang Efektif
Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran morfologi dalam kurikulum
sekolah, beberapa strategi dapat diterapkan:
a. Pendekatan
Kontekstual
Guru dapat menggunakan teks nyata sebagai sumber analisis morfologis. Misalnya,
siswa diminta mengidentifikasi kata turunan dalam artikel berita dan
menjelaskan fungsi maknanya.
b.
Pembelajaran Berbasis Proyek
Siswa dapat diminta membuat “pohon kata” dari satu bentuk dasar untuk melihat
produktivitas morfologisnya.
c.
Integrasi dengan Literasi Digital
Pemanfaatan korpus daring atau kamus digital dapat membantu siswa memahami
variasi penggunaan kata dalam berbagai konteks.
d.
Analisis Kesalahan Berbahasa
Guru dapat menggunakan contoh kesalahan nyata sebagai bahan diskusi untuk
meningkatkan kesadaran morfologis.
Pendekatan-pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis
kompetensi yang menekankan pemahaman mendalam dan keterampilan aplikatif.
Morfologi dan Penguatan Literasi Nasional
Dalam konteks pendidikan nasional, penguasaan morfologi mendukung penguatan
literasi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan memerlukan
penguasaan kosakata akademik yang sebagian besar dibentuk melalui proses
morfologis.
Bybee (2010) menyatakan bahwa struktur morfologis berkembang melalui
penggunaan yang berulang dalam konteks sosial. Oleh karena itu, pembelajaran
morfologi harus memberi ruang bagi praktik berbahasa yang autentik dan
bermakna.
Selain itu, pemahaman morfologi juga penting dalam menghadapi perkembangan
istilah baru, terutama dalam bidang teknologi dan sains. Proses pembentukan istilah
dalam Bahasa Indonesia banyak memanfaatkan afiksasi dan komposisi. Siswa yang
memiliki kesadaran morfologis akan lebih mudah memahami dan membentuk istilah
baru secara tepat.
Kesimpulan
Morfologi memiliki peran sentral dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena
berkaitan langsung dengan pengembangan kosakata, kemampuan membaca, ketepatan
menulis, dan kesadaran struktur bahasa. Proses morfologis seperti afiksasi,
reduplikasi, dan komposisi tidak hanya membentuk kata, tetapi juga membentuk
pemahaman makna yang sistematis.
Dalam kurikulum sekolah, morfologi telah menjadi bagian integral dari
kompetensi kebahasaan. Namun, tantangan masih terdapat pada pendekatan
pembelajaran yang cenderung mekanis dan kurang kontekstual. Oleh karena itu,
diperlukan strategi pembelajaran yang menekankan analisis makna, penggunaan
teks autentik, serta pengembangan kesadaran morfologis.
Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran morfologi tidak hanya membantu
siswa memahami struktur kata, tetapi juga meningkatkan literasi dan kemampuan
berpikir analitis. Pada akhirnya, penguasaan morfologi menjadi fondasi penting
dalam membangun kompetensi berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Daftar Pustaka
Booij, G. (2005). The
grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford
University Press.
Bybee, J. (2010). Language,
usage and cognition. Cambridge University Press.
Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of
morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing: An Interdisciplinary Journal, 12(3–4),
169–190.
Chaer, A. (2014). Linguistik
umum. Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan
kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
Lieber, R. (2010). Introducing
morphology. Cambridge University Press.
Nation, I. S. P. (2013). Learning
vocabulary in another language (2nd ed.). Cambridge University
Press.
